Twilight Saga: New Moon
Twilight Saga: New Moon
Stephenie Meyer
Twilight Buku ke 2
New moon
PENDAHULUAN
AKU merasa bagai terperangkap dalam mimpi
buruk mengerikan. Dalam mimpi itu kau harus
berlari, berlari terus sampai paru-parumu pecah,
tapi kau tak sanggup memacu tubuhmu untuk
bergerak cukup cepat. Kakiku rasanya makin lama
makin lambat sementara aku berjuang menembus
kerumunan orang yang tidak memiliki perasaan,
tapi jarum di menara jam tak juga melambat. Tak
peduli dan tanpa belas kasihan, jarum jam itu
terus bergerak menuju akhir—akhir segalanya.
Tapi ini bukan mimpi, dan, tidak seperti mimpi
buruk, aku tidak berlari menyelamatkan nyawaku;
aku berlari untuk menyelamatkan sesuatu yang
jauh lebih berharga. Hidupku nyaris tak ada
artinya bagiku hari ini.
Menurut Alice tadi, besar kemungkinan kami
bakal mati di sini. Mungkin hasil akhirnya akan
lain bila ia tidak terperangkap cahaya matahari
yang menyilaukan; hanya akulah yang bisa berlari
melintasi lapangan terbuka yang terang benderang
dan padat ini.
Tapi aku tidak bisa berlari cukup cepat.
Jadi tak ada artinya bagiku, kami dikelilingi
musuh-musuh kami yang luar biasa berbahaya.
Saat jam mulai berdentang, bergetar di bawah sol
sepatuku yang terasa berat, tahulah aku bahwa
aku terlambat – dan aku senang sesuatu yang
haus darah menungguku di sayap bangunan.
Karena bila aku gagal dalam misiku ini, aku tidak
lagi memiliki keinginan untuk hidup.
Jam kembali berdentang, dan matahari
memancarkan cahayanya yang terik tepat dari titik
di tengah langit.
1. PESTA
AKU 99,9% yakin sedang bermimpi.
Alasan mengapa aku begitu yakin sedang
bermimpi adalah, pertama, aku berdiri di bawah
cahaya matahari yang terang benderang—sorot
matahari yang menyilaukan, sesuatu yang tak
pernah terjadi di Forks, Washington, kampung
halamanku yang selalu berhujan—dan kedua, aku
sedang menatap nenekku, Grandma Marie.
Padahal Gran sudah meninggal enam tahun lalu,
jadi itu bukti solid untuk menguatkan teoriku
tentang mimpi ini.
Gran tak banyak berubah; wajahnya masih tepat
seperti yang kuingat. Kulitnya lembut dan layu,
terlipat-lipat membentuk ribuan keriput kecil yang
menggelantung lembut pada tulang di bawahnya.
Seperti aprikot kering, tapi dengan gumpalan
rambut putih tebal yang mengelilingi wajahnya
bagaikan awan.
Mulut kami—mulut Gran berupa kerutan
keriput—mengembang membentuk senyum
terkejut pada saat bersamaan. Ternyata Gran juga
tidak menyangka akan bertemu denganku.
Aku baru saja hendak bertanya kepadanya;
begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam
benakku—Apa yang Gran lakukan di sini dalam
mimpiku? Ke mana saja Gran selama enam tahun
terakhir ini? Apakah Pop baik-baik saja, dan
apakah mereka sudah bertemu, di mana pun
mereka berada sekarang—tapi Gran membuka
mulut saat aku juga membuka mulut, jadi aku
berhenti untuk memberinya kesempatan lebih
dulu. Gran juga terdiam, kemudian kami samasama
tersenyum melihat kecanggungan kami.
"Bella?"
Bukan Gran yang memanggil namaku, dan kami
pun sama-sama menoleh untuk melihat siapa
gerangan yang bergabung dalam reuni kecil kami.
Sebenarnya tanpa melihat pun aku sudah tahu
siapa dia; itu suara yang pasti akan kukenali di
mana pun—kukenal dan kurespons, tak peduli
apakah aku sedang bangun atau tidur... atau
bahkan mati, aku yakin. Suara yang untuknya aku
rela berjalan melintasi api—atau, agar tidak
terdengar terlalu dramatis, mengarungi hujan dan
sengatan hawa dingin yang selalu datang setiap
hari.
Edward.
Walaupun aku selalu senang bertemu
dengannya—baik sadar maupun tidak—dan
walaupun aku hampir yakin aku sedang bermimpi,
tak urung aku panik juga saat Edward berjalan
menghampiri kami di bawah terik matahari yang
menyengat.
Aku panik karena Gran tak tahu aku mencintai
vampir—tak seorang pun mengetahuinya—jadi
bagaimana aku bisa menjelaskan fakta bahwa
sorot matahari yang benderang memantul di kulit
Edward dalam bentuk ribuan keping pelangi,
membuatnya terlihat seakan-akan terbuat dari
kristal atau berlian?
Well, Gran, kau pasti sudah melihat pacarku
berkilau kilau. Memang begitulah dia kalau berada
di bawah sinar matahari. Jangan khawatir...
Apa yang Edward lakukan? Alasan utama ia
tinggal di Forks, kota yang curah hujannya
tertinggi di dunia, adalah supaya ia bisa berada di
luar rumah pada siang hari tanpa takut rahasia
keluarganya terbongkar. Tapi sekarang ia malah
melenggang santai menghampiriku—senyum
termanis menghiasi wajahnya yang rupawan—
seakan-akan hanya ada aku di sini.
Detik itu juga, aku berharap bukan aku satusatunya
yang terkecualikan oleh bakat
misteriusnya; biasanya aku justru bersyukur
menjadi satu-satunya orang yang pikirannya tak
bisa dibaca Edward. Tapi sekarang aku malah
berharap ia bisa membaca pikiranku juga, supaya
ia bisa mendengar peringatan yang kuteriakkan
dalam pikiranku.
Aku melayangkan pandangan panik kepada
Gran, dan melihat ternyata itu sudah terlambat.
Gran sudah berpaling menatapku, dan sorot
matanya sama terkejutnya dengan sorot mataku.
Edward—masih menyunggingkan senyumnya
yang begitu menawan hingga membuat hatiku
bagai menggelembung dan meledak memecahkan
dada—merangkul bahuku dan membalikkan
tubuhku sehingga aku berdiri berhadap-hadapan
dengan nenekku.
Ekspresi Gran membuatku terkejut. Alih-alih
tampak ngeri, ia malah menatapku takut-takut,
seperti menunggu disemprot. Dan ia berdiri dengan
posisi sangat aneh—sebelah tangan terangkat
canggung menjauhi tubuhnya, terulur, dan
kemudian tertekuk di udara. Seperti merangkul
seseorang yang tidak bisa kulihat, seseorang yang
tidak tampak...
Barulah kemudian, saat melihat gambaran yang
lebih besar, aku menyadari ada pigura emas yang
membingkai sosok nenekku. Tidak mengerti, aku
mengangkat tangan yang tidak memeluk pinggang
Edward dan mengulurkannya untuk menyentuh
nenekku. Gran meniru gerakanku dengan tepat,
seperti cermin. Tapi di mana jari-jari kami
seharusnya bertemu, tak ada apa-apa kecuali kaca
yang dingin...
Dengan keterkejutan memusingkan, mimpiku
sekonyong-konyong berubah jadi mimpi buruk.
Tak ada Gran.
Itu aku. Bayanganku dalam cermin. Aku—tua,
keriput, dan layu.
Edward berdiri di sampingku, bayangannya
tidak terpantul dalam cermin, begitu rupawan, dan
selamanya berumur tujuh belas tahun.
Edward menempelkan bibirnya yang sempurna
dan sedingin es ke pipiku yang keriput.
“Selamat ulang tahun,” bisiknya.
Aku terbangun kaget—kelopak mataku terbuka
lebar—dan terkesiap. Cahaya kelabu muram,
cahaya matahari yang seperti biasa selalu tersaput
mendung, menggantikan cahaya matahari yang
terang benderang dalam mimpiku.
Hanya mimpi, kataku dalam hati. Itu tadi hanya
mimpi. Aku menarik napas dalam-dalam,
kemudian terlonjak lagi waktu alarmku berbunyi.
Kalender kecil di sudut permukaan jam
menginformasikan padaku hari ini tanggal tiga
belas September.
Hanya mimpi, tapi di satu sisi setidaknya mimpi
itu cukup meramalkan apa yang bakal terjadi di
masa mendatang. Hari ini hari ulang tahunku. Aku
genap delapan belas tahun.
Berbulan-bulan lamanya aku sangat takut
menantikan datangnya hari ini.
Sepanjang musim panas yang sempurna—
musim panas paling membahagiakan yang pernah
kualami, musim panas paling membahagiakan
yang pernah dialami siapa pun di mana pun,
sekaligus juga musim panas paling berhujan
sepanjang sejarah kawasan Semenanjung
Olympic—tanggal muram ini bergentayangan
dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk
menyerang.
Dan kini setelah itu terjadi, ternyata jauh lebih
buruk daripada yang kutakutkan bakal terjadi.
Aku bisa merasakannya—aku lebih tua. Setiap hari
aku bertambah tua, tapi ini lain, lebih parah,
pertambahan usiaku diukur sekarang. Aku sudah
delapan belas tahun.
Sementara Edward tidak akan pernah jadi
delapan belas tahun.
Ketika sedang menggosok gigi, aku nyaris
terkejut karena wajah yang terpantul di cermin
tidak berubah. Kupandangi diriku, mencari tandatanda
bakal munculnya keriput di kulitku yang
seputih gading. Tapi satu-satunya kerutan yang
ada hanya di dahi, dan aku tahu kalau aku bisa
rileks, kerutan itu akan hilang. Tapi aku tidak bisa.
Alisku tetap terpatri membentuk garis khawatir di
atas mata cokelatku yang waswas.
Itu hanya mimpi, aku mengingatkan diriku lagi.
Hanya mimpi... tapi juga mimpi burukku yang
terburuk.
Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin
meninggalkan rumah secepat mungkin. Tapi aku
tak sepenuhnya bisa menghindari ayahku, jadi
terpaksalah aku meluangkan beberapa menit
berlagak riang. Aku benar-benar berusaha
menunjukkan kegembiraan mendapat kado-kado
yang sudah kuminta untuk tidak usah dibelikan,
tapi setiap kali tersenyum, rasanya seakan-akan
tangisku hendak pecah.
Aku bersusah-payah menahan diri saat
mengendarai truk menuju sekolah. Sosok Gran
tadi–aku tidak mau berpikir itu aku–sulit
dienyahkan dari kepalaku. Aku tak bisa merasakan
perasaan lain selain putus asa saat berbelok
memasuki lapangan parkir di belakang gedung
Forks High School dan melihat Edward bersandar
tanpa bergerak di Volvo-nya yang mengkilat,
bagaikan patung marmer dewa berhala keindahan
yang telah lama dilupakan orang. Ia bahkan lebih
tampan daripada dalam mimpiku tadi. Dan ia di
sana menungguku, seperti biasa setiap hari.
Perasaan putus asa itu sesaat lenyap; digantikan
rasa takjub. Bahkan setelah setengah tahun
pacaran dengannya, aku masih belum percaya aku
pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini.
Saudara perempuannya, Alice, berdiri di
sebelahnya, menungguku juga.
Tentu saja Edward dan Alice bukan saudara
kandung (di Forks ceritanya adalah, semua anak
keluarga Cullen diadopsi dr. Carlisle Cullen dan
istrinya, Esme, karena keduanya jelas terlalu muda
untuk mempunyai anak remaja), tapi mereka
sama-sama berkulit putih pucat, mata mereka juga
sama-sama memiliki secercah warna keemasan
yang aneh, dengan bayangan gelap menyerupai
memar di bawahnya. Wajah Alice sama seperti
Edward, juga sangat indah. Bagi orang yang tahu—
seperti aku—kemiripan itu menunjukkan siapa
mereka sesungguhnya.
Melihat Alice menunggu di sana—mata
cokelatnya bersinat-sinar girang, tangannya
menggenggam benda segi empat kecil terbungkus
kertas warna perak—membuat keningku berkerut.
Aku sudah memberi tahu Alice aku tidak
menginginkan apa-apa, apa pun, baik itu kado
maupun perhatian, untuk hari ulang tahunku.
Jelas, keinginanku ternyata diabaikan.
Kubanting pintu Chevy '53 milikku—kepingan
kecil karat beterbangan mengotori baju hitamku
yang basah—dan berjalan lambat-lambat
menghampiri mereka. Alice berlari cepat
menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di
bawah rambut hitamnya yang jabrik.
"Selamat ulang tahun, Bella!"
"Ssstt!" desisku, memandang berkeliling untuk
memastikan tak ada yang mendengar
perkataannya barusan. Hal terakhir yang
kuinginkan adalah perayaan dalam bentuk apa
pun untuk memperingati hari muram ini.
Alice tak menggubrisku. "Kau mau membuka
kadonya sekarang atau nanti saja?" tanyanya
penuh semangat sementara kami menghampiri
Edward yang masih menunggu.
"Tidak ada kado-kadoan," protesku.
Sepertinya Alice akhirnya bisa mencerna
suasana hatiku yang buruk. "Oke... nanti saja,
kalau begitu. Kau suka album kiriman ibumu? Dan
kamera dari Charlie?"
Aku mendesah. Tentu saja ia tahu aku dapat
kado apa saja. Bukan hanya Edward satu-satunya
anggota keluarga mereka yang memiliki
kemampuan istimewa. Alice pasti bisa "melihat"
apa yang ingin diberikan kedua orangtuaku begitu
mereka memutuskannya sendiri.
"Yeah. Kadonya bagus-bagus."
"Menurutku idenya bagus sekali. Kau kan hanya
satu kali jadi murid senior seumur hidupmu. Jadi
ada baiknya pengalaman itu didokumentasikan "
"Kau sendiri, sudah berapa kali jadi murid
senior?"
"Itu lain."
Saat itu kami sudah sampai di tempat Edward,
dan ia mengulurkan tangan padaku. Aku
menyambutnya dengan penuh semangat, sejenak
melupakan suasana hariku yang muram.
Kulit Edwatd, seperti biasa. licin, keras, dan
sangat dingin. Dengan lembut diremasnya jarijariku.
Kutatap mata topaz-nya yang berkilauan,
dan hatiku bagai diremas keras-keras. Mendengar
detak jantungku yang kencang, Edward tersenyum
lagi.
Ia mengangkat tangannya yang bebas dan
menelusuri bagian luar bibirku dengan ujung
jarinya yang dingin sambil bicara "Jadi, sesuai
hasil pembicaraan, aku tak boleh mengucapkan
selamat ulang tahun padamu, benar begitu?"
"Ya. Itu benar," Aku tidak pernah bisa
menirukan cara bicaranya yang mengalun serta
artikulasinya yang sempurna dan formal.
Kemampuan yang hanya bisa dipelajari pada abad
lalu.
"Hanya mengecek," Edward menyurukkan jarijarinya
ke rambut perunggunya yang berantakan.
"Siapa tahu kau berubah pikiran. Kebanyakan
orang sepertinya menikmati hari ulang tahun dan
hadiah."
Alice tertawa, suaranya bergemerincing, seperti
genta angin. "Tentu saja kau akan menikmatinya.
Semua orang akan bersikap baik padamu hari ini
dan menuruti kemauanmu, Bella. Hal terburuk apa
yang bisa terjadi?" Itu pertanyaan retoris yang tak
perlu dijawab.
"Bertambah tua," aku tetap menjawab, dan
suaraku kedengarannya tidak semantap yang
kuinginkan.
Di sampingku, senyum Edward mengejang kaku.
"Delapan belas kan tidak terlalu tua," sergah
Alice. "Bukankah wanita biasanya menunggu
sampai mereka berumur 29 baru merasa tua?"
"Delapan belas berarti lebih tua daripada
Edward," aku bergumam.
Edward mendesah.
"Teknisnya begitu," sambung Alice, menjaga
nadanya tetap ringan. "Tapi kan, hanya setahun
lebih tua."
Dan kupikir... kalau aku bisa merasa yakin akan
masa depan yang kuinginkan, yakin aku bisa
bersama Edward selamanya, juga Alice dan semua
anggota keluarga Cullen yang lain (lebih disukai
tidak sebagai wanita tua yang keriputan)... maka
satu atau dua tahun lebih tua takkan terlalu
masalah bagiku. Tapi tekad Edward sudah bulat
bahwa tidak akan ada perubahan bagiku di masa
depan. Masa depan yang membuatku jadi seperti
dia—membuatku abadi juga.
Kebuntuan, begitulah ia menyebutnya.
Jujur saja, aku tidak benar-benar bisa
memahami jalan pikiran Edward. Apa enaknya bisa
mati? Menjadi vampir tampaknya bukan hal yang
tidak enak—setidaknya kalau melihat bagaimana
keluarga Cullen menjalaninya.
"Jam berapa kau akan datang ke rumah?"
sambung Alice, mengganti topik. Dari ekspresinya,
ia merencanakan sesuatu yang justru ingin
kuhindari.
"Aku tidak tahu aku punya rencana datang ke
sana."
"Oh, yang benar saja, Bella!" keluh Alice. "Kau
tidak akan merusak kegembiraan kami, kan?"
"Lho, kusangka di hari ulang tahunku aku
berhak menentukan apa yang aku inginkan."
"Aku akan menjemputnya di rumah Charlie usai
sekolah," kata Edward pada Alice, tak
menggubrisku sama sekali.
"Aku harus kerja," protesku.
"Ah, siapa bilang," tukas Alice dengan nada
menang. "Aku sudah bicara dengan Mrs. Newton
mengenainya. Dia mau kok mengganti jadwal shiftmu.
Dia kirim salam 'Selamat Ulang Tahun'."
"Aku—aku tetap tidak bisa datang," kataku
terbata-bata, gelagapan mencari alasan. "Aku, Well
belum sempat nonton Romeo and Juliet untuk
kelas bahasa Inggris."
Alice mendengus. "Ah, kau sudah hafal Romeo
and Juliet!'
"Tapi kata Mr. Berty, kami harus melihat
sandiwara itu dilakonkan untuk bisa sepenuhnya
menghargainya—karena begitulah yang diinginkan
Shakespeare."
Edward memutar bola matanya.
"Kau kan sudah nonton filmnya," tuduh Alice.
"Tapi versi yang 1960-an belum. Kata Mr. Berty,
versi itulah yang terbaik."
Akhirnya, Alice menghapus senyum kemenangan
itu dari wajahnya dan memelototiku. "Ini bisa
mudah, atau bisa juga sulit, Bella, tapi pokoknya—
"
Edward memotong ancamannya. "Rileks, Alice.
Kalau Bella ingin nonton film. dia boleh nonton
film. Ini kan hari ulang tahunnya."
"Nah, kan," imbuhku.
"Aku akan membawanya ke sana sekitar jam
tujuh," sambung Edward. "Kau punya banyak
waktu untuk menyiapkan semuanya."
Tawa Alice kembali berderai. "Kedengarannya
asyik. Sampai nanti malam, Bella! Bakalan asyik,
lihat saja nanti" Ia nyengir—senyum lebarnya
menampakkan sederet giginya yang sempurna dan
mengilat—lalu mengecup pipiku dan berlari
menuju kelas pertamanya sebelum aku sempat
merespons.
“Edward, please—" aku mulai memohon, tapi
Edward menempelkan jarinya yang dingin ke
bibirku.
"Nanti saja kita diskusikan. Kita bisa terlambat
masuk kelas.”
Tidak ada yang repot-repot memandangi kami
saat kami sepera biasa mengambil tempat di
bagian belakang kelas (sekarang hampir semua
kelas kami sama—luar biasa bagaimana Edward
bisa membuat para pegawai tata usaha yang
wanita mau membantunya). Edward dan aku
sudah bersama-sama cukup lama sehingga tak lagi
menjadi sasaran gosip. Bahkan Mike Newton sudah
tak lagi melayangkan pandangan muram yang dulu
sempat membuatku merasa sedikit bersalah.
Sekarang ia malah tersenyum, dan aku senang
karena sepertinya ia bisa menerima bahwa kami
hanya bisa berteman. Mike banyak berubah selama
liburan musim panas kemarin—wajahnya kini
tidak lagi bulat tembam, membuat tulang pipinya
tampak semakin menonjol, dan rambut pirang
pucatnya pun dipotong model baru; kini
rambutnya tidak jabrik lagi, melainkan sedikit
lebih panjang dan di-gel hati-hati untuk
menimbulkan kesan agak berantakan. Mudah saja
mengetahui dari mana ia mendapatkan inspirasi
model rambut itu—tapi penampilan Edward bukan
sesuatu yang bisa diperoleh dengan cara meniru.
Seiring dengan berjalannya hari, aku
mempertimbangkan beberapa cara untuk mangkir
dari entah acara apa yang akan dilangsungkan di
rumah keluarga Cullen malam ini. Pasti
menyebalkan jika harus mengikuti perayaan
padahal suasana hatiku justru sedang ingin
berduka. Tapi, yang lebih parah lagi, pasti akan
ada perhatian dan hadiah-hadiah di sana.
Perhatian bukan sesuatu yang diinginkan orang
kikuk yang gampang cedera seperti aku. Tak ada
yang ingin menjadi sorotan bila besar
kemungkinan kau bakal jatuh terjerembab.
Dan aku sudah terang-terangan meminta—Well,
memerintahkan, lebih tepatnya—agar tidak ada
yang memberiku kado tahun ini. Kelihatannya
bukan hanya Charlie dan Renee yang memutuskan
untuk tidak menggubrisnya.
Aku tidak pernah punya banyak uang, tapi itu
bukan masalah bagiku. Renee membesarkan aku
dengan gaji guru TK. Pekerjaan Charlie juga tidak
memberinya gaji besar—dia kepala polisi di sini, di
Forks yang hanya kota kecil. Satu-satunya
pendapatan pribadiku hanya didapat dari hasil
bekerja tiga kali seminggu di toko perlengkapan
olahraga setempat. Di kota sekecil ini, bisa
mendapat pekerjaan saja sudah untung. Setiap sen
yang kuhasilkan langsung masuk ke tabungan
untuk biaya kuliah nanti. (Kuliah itu Rencana B.
Aku masih berharap bisa menjalankan Rencana A,
tapi Edward ngotot ingin tetap mempertahankan
aku sebagai manusia...)
Edward punya banyak uang—aku bahkan tidak
ingin membayangkan jumlahnya. Uang hampir tak
ada artinya bagi Edward atau anggota keluarga
Cullen lainnya. Itu hanya sesuatu yang semakin
bertambah karena mereka memiliki waktu tak
terbatas dan saudara perempuan dengan
kemampuan ajaib memprediksi tren pasar modal.
Edward sepertinya tidak mengerti mengapa aku
tidak ingin ia menghabiskan uangnya untukku—
mengapa aku justru merasa tidak enak bila diajak
makan di restoran mahal di Seattle, mengapa ia
tidak diizinkan membelikan aku mobil yang bisa
melaju di atas kecepatan 88 kilometer per jam,
atau mengapa aku tidak membiarkan ia membayar
uang kuliahku (konyolnya, ia sangat antusias
terhadap Rencana B). Edward menganggapku
senang bersikap sulit padahal sebenarnya tidak
perlu.
Tapi bagaimana aku bisa membiarkannya
memberiku banyak hal sementara aku tidak bisa
membalasnya? Ia, entah untuk alasan apa, ingin
bersamaku. Jika ia memberiku hal lain lagi, itu
hanya akan membuat kami makin tidak seimbang.
Waktu terus berjalan, baik Edward maupun
Alice tak lagi mengungkit masalah hari ulang
tahunku, jadi aku mulai merasa sedikit rileks.
Kami duduk di meja kami yang biasa saat
makan siang.
Ada semacam gencatan senjata aneh di meja
kami. Kami bertiga—Edward, Alice, dan aku—
duduk di sisi meja paling selatan. Karena sekarang
anggota keluarga Cullen lain yang "lebih tua" dan
lebih mengerikan (dalam kasus Emmett, jelas)
sudah lulus, Alice dan Edward tidak terlihat terlalu
mengancam, jadi bukan hanya kami yang duduk di
meja ini. Teman-temanku yang lain, Mike dan
Jessica (yang sedang dalam fase canggung sehabis
putus), Angela dan Ben (yang hubungannya
berhasil melewati musim panas dengan selamat),
Eric, Conner, Tyler, dan Lauren (walaupun yang
terakhir itu tidak termasuk kategori teman) semua
duduk di meja yang sama, di seberang garis
pemisah yang tak kasatmata. Garis itu lenyap di
hari-hari cerah saat Edward dan Alice bolos
sekolah, dan pada hari seperti itu, obrolan bisa
berlangsung sangat lancar dan melibatkan aku.
Edward dan Alice tidak menganggap sikap
teman-temanku yang agak mengasingkan mereka
itu aneh atau menyinggung perasaan, seperti yang
pasti bakal kurasakan kalau itu terjadi padaku.
Mereka nyaris tidak memerhatikannya. Orangorang
selalu merasa agak canggung berdekatan
dengan keluarga Cullen, malah bisa dibilang nyaris
takut, untuk alasan yang mereka sendiri tak bisa
jelaskan. Aku pengecualian yang jarang dalam hal
itu. Terkadang justru Edward yang merasa
terganggu melihat betapa nyaman aku di dekatnya.
Menurutnya itu berbahaya bagi kesehatanku—
pendapat yang selalu kutolak mentah-mentah
setiap kali ia mengutarakannya.
Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan
seperti biasa, Edward mengantarku ke truk. Tapi
kali ini, ia membukakan pintu penumpang. Alice
pasti membawa mobilnya pulang supaya Edward
bisa memastikan aku tidak kabur.
Aku bersedekap dan tidak menunjukkan tandatanda
bakal segera berteduh dari hujan yang
menderas. "Sekarang kan hari ulang tahunku, jadi
boleh dong aku yang menyetir?"
"Aku berpura-pura hari ini bukan hari ulang
tahunmu, seperti yang kauinginkan.”
"Kalau ini bukan hari ulang tahunku, berarti
aku tidak harus pergi ke rumahmu malam ini...”
"Baiklah," Edward menutup pintu dan berjalan
melewatiku untuk membuka pintu pengemudi.
"Selamat ulang tahun."
"Ssst," desahku setengah hati. Aku naik
melewati pintu yang sudah terbuka, dalam hati
berharap Edward menerima tawaranku yang lain.
Edward mengotak-atik radio sementara aku
menyetir, menggeleng sebal.
"Sinyal radiomu jelek sekali."
Keningku berkerut. Aku tidak suka Edward
menjelek-jelekkan trukku. Trukku bagus kok—
punya kepribadian.
"Kepingin stereo yang bagus? Naik mobilmu
saja." Aku begitu gugup menghadapi rencana Alice,
ditambah suasana hatiku yang memang sudah
muram, jadi kata-kata yang keluar dari mulutku
terdengar lebih tajam daripada yang sebenarnya
kumaksudkan. Aku jarang marah kepada Edward,
dan nadaku yang ketus membuat Edward
mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum.
Setelah aku memarkir trukku di depan rumah
Charlie, Edward merengkuh wajahku dengan
kedua tangan. Ia memegangku sangat hati-hati,
hanya ujung-ujung jarinya yang menempel lembut
di pelipis, tulang pipi, dan daguku. Seolah-olah
aku gampang pecah. Dan itu benar—bila
dibandingkan dengan dia, paling tidak.
“Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik
dibanding kan hari-hari lain" bisiknya. Aroma
napasnya yang manis membelai wajahku.
"Dan kalau suasana hatiku jelek?" tanyaku,
napasku tidak teratur.
Bola mata Edward yang keemasan menyalanyala.
"Sayang sekali."
Kepalaku sudah berputar-putar saat Edward
mendekatkan kepalanya ke wajahku dan
menempelkan bibirnya yang sedingin es ke bibirku.
Tepat seperti yang ia inginkan, sudah pasti, aku
langsung melupakan semua kekhawatiranku dan
berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan
mengeluarkannya.
Bibir Edward terus menempel di bibirku, dingin,
licin, dan lembut, sampai aku merangkulkan
kedua tanganku ke lehernya dan membiarkan
diriku hanyut dalam ciumannya, agak terlalu
antusias malah. Aku bisa merasakan bibirnya
tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahku dan
melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya
erat-erat.
Edward sangat berhati-hati dalam utusan
hubungan fisik, karena ia ingin aku tetap hidup.
Meski tahu aku harus memberi jarak aman antara
kulitku dengan gigi Edward yang setajam silet dan
berlapis racun itu, aku cenderung melupakan halhal
remeh semacam itu saat ia menciumku.
"Jangan nakal," desahnya di pipiku. Edward
menempelkan bibirnya sekali lagi dengan lembut
ke bibirku, kemudian melepaskan pelukannya,
melipat kedua lenganku di perut.
Denyut nadi menggemuruh di telingaku.
Kutempelkan sebelah tanganku ke dada.
Jantungku berdebar sangat keras di bawah telapak
tangan.
"Menurutmu, apakah aku bisa jadi semakin baik
dalam hal ini?" tanyaku, menujukannya pada
diriku sendiri. "Bahwa jantungku suatu saat nanti
akan berhenti mencoba melompat keluar dari
dadaku setiap kali kau menyentuhku?"
"Aku benar-benar berharap itu tidak akan
terjadi," jawab Edward, sedikit puas pada diri
sendiri.
Kuputar bola mataku. "Ayo kita nonton keluarga
Capulet dan Montague saling menghabisi,
bagaimana?"
"Your wish, my command"
Edward duduk berselonjor di sofa sementara aku
menyetel film, mempercepat bagian pembukaan.
Waktu aku duduk di pinggir sofa di depannya,
Edward merangkul pinggangku dan menarikku ke
dadanya. Memang tidak senyaman bersandar di
punggung sofa, karena dada Edward keras dan
dingin—dan sempurna—seperti pahatan es, tapi
aku jelas lebih menyukainya. Edward menarik
selimut tua yang tersampir di punggung sofa dan
menghamparkannya menutupi tubuhku, supaya
aku tidak membeku karena bersentuhan dengan
tubuhnya.
"Kau tahu, sebenarnya aku kurang suka pada
Romeo," Edward berkomentar saat filmnya mulai.
"Memangnya Romeo kenapa?" tanyaku, agak
tersinggung. Romeo salah satu karakter fiksi
favoritku. Sampai aku bertemu Edward, aku
sempat agak-agak naksir padanya.
"Well, pertama-tama, dia mencintai Rosaline
ini—apa menurutmu itu bukan plin-plan
namanya? Kemudian, beberapa menit setelah
pernikahan mereka, dia membunuh sepupu Juliet.
Itu sangat tidak cerdas. Kesalahan demi kesalahan.
Masa menghancurkan kebahagiaannya sendiri?"
Aku mendesah. "Kau mau aku menontonnya
sendirian?"
“Tidak, toh aku akan lebih banyak
menontonmu." Jari-jarinya menyusur membentuk
pola di kulit lenganku, membuat bulu kudukku
meremang. "Kau bakal menangis, tidak?"
"Kemungkinan besar," aku mengakui, "kalau aku
memerhatikan."
"Aku tidak akan mengganggumu kalau begitu."
Tapi aku merasakan bibirnya di rambutku, dan itu
sangat mengganggu.
Akhirnya film itu berhasil menyita perhatianku,
sebagian besar berkat “jasa" Edward membisikkan
dialog-dialog Romeo di telingaku—suaranya yang
merdu bak beledu membuat suara si aktor
terdengar lemah dan kasar. Dan aku benar-benar
menangis, membuat Edward geli, saat Juliet
terbangun dan menemukan suami barunya sudah
meninggal.
"Harus kuakui, aku agak iri padanya dalam hal
ini," kata Edward, mengeringkan air mataku
dengan seberkas rambutku.
"Dia cantik sekali."
Edward mengeluarkan suara seperti jijik. "Aku
bukan iri karena ceweknya—tapi karena mudahnya
dia bunuh diri," Edward mengklarifikasi dengan
nada menyindir. "Kalian manusia gampang sekali
mati! Tinggal menelan setabung kecil ekstrak
tumbuhan..."
"Apa?" aku kaget.
"Itu pernah terpikir olehku, dan aku tahu dari
pengalaman Carlisle, prosesnya tidak sesederhana
itu. Aku bahkan tidak tahu berapa kali dia
mencoba bunuh diri awalnya... begitu sadar dia
sudah berubah menjadi..." Suara Edward, yang
sempat berubah serius, kini ceria lagi. "Dan sampai
sekarang ternyata dia masih sehat walafiat."
Aku berbalik supaya bisa membaca ekspresi
wajahnya. "Ngomong apa sih kau?" tuntutku. "Apa
maksudmu, itu pernah terpikir olehmu?"
"Musim semi lalu, waktu kau... nyaris
terbunuh..." Edward terdiam sejenak untuk
menarik napas dalam-dalam, berusaha keras
kembali memperdengarkan nada menggoda. "Tentu
saja aku berusaha fokus untuk menemukanmu
hidup-hidup, tapi sebagian otakku menyusun
rencana cadangan. Seperti kataku tadi, tak
semudah yang bisa dilakukan manusia."
Sedetik, kenangan akan perjalanan terakhirku
ke Phoenix membanjiri otakku dan membuatku
merasa pusing. Aku bisa melihat semuanya dengan
sangat jelas—terik matahari yang menyilaukan,
gelombang panas yang menguap dari beton saat
aku berlari sekuat tenaga, tergesa-gesa, dan putus
asa, untuk menemukan vampir sadis yang ingin
menyiksaku sampai mati. James, menunggu di
ruang cermin bersama ibuku sebagai sandera—
atau aku menyangka begitu. Aku tidak tahu itu
hanya tipuan. Sama halnya James juga tidak tahu
saat itu Edward sedang lari untuk menyelamatkan
aku; Edward tiba tepat waktu, meski nyaris
terlambat. Tanpa berpikir, jari-jariku meraba bekas
luka berbentuk bulan sabit di tanganku yang
suhunya selalu beberapa derajat lebih rendah
daripada bagian kulitku yang lain.
Aku menggeleng—seolah ingin menepis
kenangan buruk itu jauh-jauh—dan berusaha
mencerna maksud Edward. Perutku melilit.
"Rencana cadangan?" ulangku.
"Well, aku tidak mau hidup tanpa kau," Edward
memutar bola matanya, seolah-olah jawaban itu
sudah sangat jelas, tak perlu ditanyakan lagi. "Tapi
aku tak tahu bagaimana melakukannya—aku tahu
Emmett dan Jasper tidak akan mau membantu...
jadi kupikir mungkin aku akan pergi ke Italia dan
melakukan sesuatu untuk memprovokasi Volturi."
Aku tidak ingin percaya bahwa Edward serius,
tapi matanya terlihat muram, terfokus pada
sesuatu di kejauhan saat ia mempertimbangkan
berbagai cara untuk menghabisi nyawanya sendiri.
Seketika aku marah.
"Apa itu Volturi?" tuntutku.
"Volturi itu nama sebuah keluarga," Edward
menjelaskan, matanya masih tampak muram.
"Keluarga sejenis kami, sangat tua dan berkuasa.
Di dunia kami, mereka bisa dianggap keluarga
bangsawan, kurasa. Carlisle pernah tinggal
sebentar dengan mereka dulu, di Italia, sebelum
kemudian menetap di Amerika—kau ingat
ceritanya?"
"Tentu saja aku ingat."
Aku tidak akan pernah lupa saat pertama kali
aku ke rumah Edward, mansion putih besar jauh
di pelosok hutan, di tepi sungai, atau kamar
tempat Carlisle—yang bisa dianggap ayah
Edward—menyimpan koleksi lukisan yang
menggambarkan sejarah pribadinya. Lukisan yang
paling meriah, paling berwarna-warni, sekaligus
yang paling besar yang ada di sana,
menggambarkan kehidupan Carlisle di Italia. Tentu
saja aku ingat potret diri kwartet lelaki kalem,
masing-masing berwajah memesona seperti
malaikat serafin, berdiri di balkon paling tinggi, di
tengah pusaran berbagai warna yang bercampur
aduk. Walaupun lukisan itu sudah berabad-abad
usianya, Carlisle—si malaikat pirang—tetap tak
berubah. Dan aku ingat ketiga malaikat lain,
kenalan Carlisle dari masa awal hidupnya. Edward
tak pernah menyebut nama Volturi untuk trio
rupawan itu, dua berambut hitam, satu berambut
seputih salju. Ia menyebut mereka Aro, Caius, dan
Marcus, malaikat malam penjaga seni...
"Intinya, kau tidak boleh membuat kesal
keluarga Volturi," sambung Edward, memutus
lamunanku. "Kecuali kau memang ingin mati—
atau apa sajalah istilahnya untuk kami." Suaranya
sangat tenang, sehingga terkesan ia nyaris bosan
oleh kemungkinan itu.
Kemarahanku berubah menjadi kengerian.
Kurengkuh wajahnya yang seperti marmer dan
kuremas kuat-kuat.
"Kau jangan sekali-kali, jangan sekali-kali,
berpikir seperti itu lagi!" sergahku. "Tak peduli apa
pun yang terjadi padaku, kau tidak boleh
mencelakakan dirimu sendiri!"
"Aku tidak akan pernah membahayakan dirimu
lagi, jadi itu tidak perlu diperdebatkan lagi."
"Membahayakan aku! Kusangka kita sudah
sepakat semua ketidakberuntungan itu adalah
salahku?" Amarahku menjadi-jadi. "Beraniberaninya
kau berpikir begitu?" Pikiran bahwa
Edward tak mau hidup lagi, bahkan walaupun aku
sudah mati, terasa sangat menyakitkan.
"Apa yang akan kaulakukan, bila situasinya
dibalik?"
"Itu lain."
Tampaknya Edward tidak mengerti di mana letak
perbedaannya. Ia berdecak.
"Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu?" Aku
pucat memikirkan kemungkinan itu. "Kau mau
aku menghabisi nyawaku sendiri?''
Secercah kepedihan menyaput garis-garis
wajahnya yang sempurna.
"Kurasa aku bisa mengerti maksudmu... sedikit,"
Edward mengakui. "Tapi apa yang bisa kulakukan
tanpa kau?"
"Apa pun yang sudah kaulakukan selama ini
sebelum aku datang dan memperumit
keberadaanmu."
Edward mendesah. "Kau membuatnya terdengar
sangat mudah."
Seharusnya memang begitu. Aku toh tidak
semenarik itu.”
Edward sudah hendak membantah, tapi lalu
mengurungkan niatnya. "Tidak perlu
diperdebatkan," ia mengingatkan aku. Mendadak,
ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih
formal, menggeserku ke samping sehingga kami
tak lagi berdempetan.
"Charlie?" tebakku.
Edward tersenyum. Sejurus kemudian aku
mendengar suara mobil polisi menderu memasuki
halaman. Aku mengulurkan tangan, meraih tangan
Edward dan menggenggamnya erat-erat. Hanya itu
yang bisa ditolerir ayahku.
Charlie masuk sambil menenteng kardus pizza.
"Hai, Anak-anak." Ia nyengir padaku. "Kupikir,
sekali-sekali boleh juga kau dibebaskan dari tugas
memasak dan mencuri piring di hari ulang
tahunmu. Lapar?"
"Tentu. Trims, Dad."
Charlie tak pernah mengomentari kondisi
Edward yang kelihatannya tak punya selera
makan. Ia sudah terbiasa melihat Edward
melewatkan makan malam.
"Anda tidak keberatan saya mengajak Bella
keluar malam ini, kan?" tanya Edward setelah
Charlie dan aku selesai makan.
Kupandangi Charlie penuh harap. Siapa tahu
ayahku memiliki konsep bahwa ulang tahun
adalah acara keluarga, jadi aku harus tinggal di
rumah—ini ulang tahun pertamaku bersamanya,
ulang tahun pertama sejak ibuku, Renee, menikah
lagi dan pindah ke Florida, jadi aku tidak tahu
bagaimana ayahku menyikapinya.
"Boleh saja—malam ini Mariners main lawan
Sox," Charlie menjelaskan, dan harapanku
langsung musnah. "Jadi aku tidak bisa
menemani... Ini" Charlie meraup kamera yang ia
belikan atas saran Renee (karena aku
membutuhkan foto-foto untuk mengisi albumku)
dan melemparnya ke arahku.
Seharusnya Dad tidak melemparkan kamera itu
padaku— sejak dulu aku memiliki kelemahan
dalam hal koordinasi. Kamera itu menyapu ujungujung
jariku, dan terpental k lantai. Edward
menyambarnya sebelum benda itu jatuh
membentur lantai linoleum.
"Gesit juga kau," komentar Charlie. "Kalau
malam ini ada acara seru di rumah keluarga
Cullen, Bella, jangan lupa memotret. Kau tahu
sendiri bagaimana ibumu—dia pasti sudah tak
sabar ingin segera melihat foto-foto itu."
"Ide bagus, Charlie," kata Edward, menyerahkan
kamera itu padaku.
Aku mengarahkan kamera itu pada Edward, dan
menjepretnya. "Berfungsi dengan baik."
"Bagus. Hei, kirim salam pada Alice, ya. Dia
sudah lama tidak main ke sini." Sudut-sudut
mulut Charlie tertarik ke bawah.
"Baru juga tiga hari, Dad," aku mengingatkan
ayahku. Charlie tergila-gila pada Alice. Ia jadi dekat
dengannya musim semi lalu ketika Alice
membantuku melewati masa-masa pemulihan yang
sulit; Charlie merasa sangat berterima kasih pada
Alice karena menyelamatkannya dari keharusan
memandikan anak perempuan yang sudah hampir
dewasa. "Akan kusampaikan padanya."
"Oke. Bersenang-senanglah kalian malam ini"
Jelas, itu pengusiran secara halus, Charlie sudah
beringsut ke ruang duduk dan pesawat televisi.
Edward tersenyum menang dan meraih
tanganku, menarikku keluar dari dapur.
Sesampainya di trukku, Edward membukakan
pintu penumpang untukku lagi, dan kali ini aku
tidak membantah. Aku masih sulit menemukan
belokan tersamar yang menuju rumahnya di
kegelapan malam seperti ini.
Edward mengemudikan mobil ke arah utara
melintasi Forks, kentara sekali jengkel dengan
batas kecepatan yang bisa ditempuh Chevy-ku
yang berasal dari zaman prasejarah ini. Mesinnya
mengerang lebih keras daripada biasanya saat
Edward menggenjotnya di atas kecepatan delapan
puluh kilometer per jam.
"Pelan-pelan," aku mengingatkan dia.
"Tahu apa yang bakal sangat kausukai? Audi
coupe mungil yang bagus sekali. Suara mesinnya
halus, tenaganya kuat..."
"Nggak ada yang salah dengan trukku. Dan
omong-omong tentang hal tidak penting yang
berharga mahal, kalau kau tahu apa yang bagus
untukmu, kau tidak mengeluarkan uang untuk
membeli hadiah ulang tahun."
"Satu sen pun tidak"
"Bagus."
"Bisakah kau membantuku?"
"Tergantung apa yang kauminta."
Edward mendesah, wajahnya yang tampan
tampak serius. "Bella, ulang tahun terakhir yang
kami rayakan adalah saat Emmett berulang tahun
di tahun 1935. Tolonglah santai sedikit, dan jangan
terlalu menyulitkan malam ini. Mereka semua
sangat bersemangat."
Selalu agak mengagetkanku setiap kali Edward
menyinggung hal-hal semacam itu. "Baiklah, aku
akan bersikap manis.”
"Mungkin seharusnya aku mengingatkanmu..."
"Ya, please"
"Waktu kubilang mereka semua sangat
bersemangat... maksudku mereka semua."
"Semua?" Aku tersedak. "Lho, kukira Emmett
dan Rosalie sedang di Afrika." Semua orang di
Forks mengira anak-anak keluarga Cullen yang
sudah dewasa pindah ke luar kota untuk kuliah
tahun ini ke Darmouth, tapi aku tahu yang
sebenarnya.
“Emmett ingin datang."
"Tapi... Rosalie?”
"Aku tahu. Bella. Jangan khawatir, dia akan
bersikap sangat baik."
Aku diam saja. Tidak semudah itu untuk tidak
merasa khawatir. Tak seperti Alice, kakak "angkat"
Edward yang lain, Rosalie yang berambut pirang
dan sangat cantik itu, tidak begitu menyukaiku.
Sebenarnya, lebih dari sekadar tidak suka. Bagi
Rosalie, aku penyusup tak diundang yang
mengetahui kehidupan rahasia keluarganya.
Aku merasa sangat bersalah memikirkan situasi
saat ini, karena dugaanku, kepergian Rosalie dan
Emmett untuk waktu lama adalah salahku,
walaupun diam-diam aku senang ia tidak ada.
Emmett, kakak Edward yang bertubuh besar dan
suka bercanda, nah kalau dia, aku benar-benar
merasa kehilangan. Dalam banyak hal, ia sudah
seperti kakak lelaki yang ingin kumiliki sejak
dulu... hanya saja jauh, jauh lebih mengerikan.
Edward memutuskan mengganti topik. "Jadi,
kalau kau tidak memperbolehkan aku
membelikanmu Audi, adakah hal lain yang
kauinginkan untuk ulang tahunmu?"
Kata-kata itu meluncur dari bibirku dalam
bentuk bisikan. "Kau tahu apa yang kuinginkan."
Kerutan dalam muncul di dahi Edward yang
semulus marmer. Jelas ia berharap tadi tidak
mengalihkan topik pembicaraan dari masalah
Rosalie.
Rasanya kami sudah sering sekali berdebat hari
ini.
“Jangan malam ini, Bella. Please?”
“Well, mungkin Alice bisa mengabulkan
keinginanku."
Edward menggeram—suaranya dalam dan
mengancam. "Ini tidak akan menjadi ulang
tahunmu yang terakhir, Bella," ia bersumpah.
"Itu tidak adil!"
Kalau tidak salah aku mendengar gigi-giginya
gemertak.
Kami sudah berhenti di depan rumah sekarang.
Lampu-lampu bersinar terang dari setiap jendela di
dua lantai pertama. Deretan lentera Jepang yang
terang bergelantungan di atap teras, membiaskan
pendaran cahaya lembut di pohon-pohon cedar
besar yang mengelilingi rumah. Mangkuk-mangkuk
besar berisi bunga—mawar merah jambu—berjajar
sepanjang tangga lebar yang mengarah ke pintupintu
depan.
Aku mengerang.
Edward menarik napas dalam-dalam beberapa
kali untuk menenangkan diri. "Namanya juga
pesta," ia mengingatkanku. "Berusahalah bersikap
baik."
"Tentu," gerutuku.
Edward turun untuk membukakan pintu bagiku,
lalu mengulurkan tangan.
"Aku punya pertanyaan."
Ia menunggu dengan waswas.
"Kalau film ini dicuci cetak," kataku, memainkan
kamera di tanganku, "apakah kau akan muncul di
foto?"
Tawa Edward pecah berderai. Ia membantuku
turun dari mobil, menarikku menaiki tangga, dan
masih terus tertawa saat membukakan pintu
untukku.
Mereka semua menunggu di ruang duduk yang
besar dan berwarna putih. Begitu aku melangkah
masuk, mereka menyambutku dengan teriakan
nyaring, "Selamat ulang tahun, Bella!" sementara
aku menunduk dengan wajah merah padam. Alicelah
isumsiku, yang telah menutup semua bagian
yang permukaannya datar dengan lilin pink dan
lusinan mangkuk kristal berisi ratusan mawar. Ada
meja bertaplak putih diletakkan di sebelah grand
piano Edward, dengan kue tart pink di atasnya,
bunga-bunga mawar, tumpukan piring kaca, dan
gundukan kecil kado terbungkus kertas warna
perak.
Ini ratusan kali lebih parah daripada yang bisa
kubayangkan.
Edward. merasakan kegalauanku. merangkul
pinggangku dengan sikap menyemangati, lalu
mengecup puncak kepalaku.
Orangtua Edward. Carlisle dan Esme—tetap
semuda dan serupawan biasanya—berdiri paling
dekat ke pintu. Esme memelukku hati-hati,
rambutnya yang halus dan sewarna karamel
membelai pipiku saat ia mengecup dahiku,
kemudian Carlisle merangkul pundakku.
"Maaf tentang ini. Bella," bisiknya. "Kami tidak
sanggup mengekang Alice."
Rosalie dan Emmett berdiri di belakang mereka.
Rosalie tidak tersenyum, tapi setidaknya ia tidak
melotot. Emmett nyengir lebar. Sudah berbulanbulan
aku tidak bertemu mereka; aku sudah lupa
betapa luar biasa cantiknya Rosalie—nyaris
menyakitkan melihatnya. Dan benarkah Emmett
sejak dulu sudah begitu... besar?
"Kau sama sekali tidak berubah," kata Emmett,
berlagak seolah-olah kecewa. "Sebenarnya aku
berharap kau sedikit berubah, tapi ternyata
wajahmu tetap merah, seperti biasa.”
"Terima kasih banyak, Emmett," kataku,
semakin merah padam.
Emmett tertawa. "Aku harus keluar dulu
sebentar" —ia terdiam untuk mengedipkan mata
pada Alice dengan gaya mencolok—"Jangan
berbuat macam-macam selagi aku tidak ada.”
“Akan kucoba."
Alice melepas tangan Jasper dan bergegas maju,
giginya berkilauan di bawah cahaya lampu. Jasper
juga tersenyum, tapi tetap berdiri di tempat. Ia
bersandar, jangkung dan pirang, di tiang di kaki
tangga. Setelah beberapa hari terkurung bersama
di Phoenix, kusangka ia sudah tidak
menghindariku lagi. Tapi sikapnya sekarang
kembali seperti sebelumnya—sedapat mungkin
menghindariku—begitu terbebas dari kewajiban
sementaranya untuk melindungiku. Aku tahu itu
bukan masalah pribadi, hanya tindakan
pencegahan, dan aku mencoba untuk tidak terlalu
sensitif mengenainya. Jasper agak sulit
menyesuaikan diri dengan diet keluarga Cullen
dibandingkan para anggota keluarga yang lain; bau
darah manusia lebih sulit ditolaknya dibanding
yang lain-lain—ia belum terlalu lama mencoba.
"Waktunya buka kado!" seru Alice. Ia menggamit
sikuku dengan tangannya yang dingin dan
menarikku ke meja penuh tart dan kado-kado
mengilap.
Aku memasang wajah martirku yang terbaik.
"Alice, sudah kubilang aku tidak menginginkan
apa-apa—“
"Tapi aku tidak mendengarkan," sela Alice,
senyum puas tersungging di bibirnya. "Bukalah." Ia
mengambil kamera dari tanganku dan
menggantinya dengan kotak segiempat besar warna
perak.
Kotak itu sangat ringan hingga terasa kosong.
Label di atasnya menandakan kado itu dari
Emmett, Rosalie, dan Jasper. Waswas, kurobek
kertas itu dan kupandangi kotak di dalamnya.
Itu kotak peralatan elektronik, dengan angkaangka
pada namanya. Kubuka kotak itu, berharap
mengetahui isinya. Tapi kotak itu kosong.
“Ehm... trims."
Senyum Rosalie terkuak sedikit. Jasper
terbahak. "Itu stereo untuk mobilmu; ia
menjelaskan. "Emmett sedang memasangnya
sekarang supaya kau tidak bisa
mengembalikannya."
Alice selalu selangkah di depanku.
"Trims, Jasper. Rosalie." kataku pada mereka,
nyengir saat teringat keluhan Edward siang tadi
tentang radioku-hanya jebakan, ternyata. “Trims,
Emmett!" seruku dengan suara lebih keras.
Aku mendengar suara tawanya yang berdentum
dari dalam trukku, dan mau tak mau aku ikut
tertawa.
“Berikutnya, buka kadoku dan kado Edward,"
kata Alice, begitu bersemangat hingga suaranya
terdengar melengking tinggi. Di tangannya ada
kotak kecil pipih.
Aku menoleh dan melayangkan pandangan
tajam pada Edward. "Kau sudah janji."
Sebelum ia sempat menjawab. Emmett berlarilari
melewati pintu. "Tepat pada waktunya!"
serunya. Ia menyelinap di belakang Jasper, yang
juga beringsut lebih dekat dari biasanya agar bisa
melihat lebih jelas.
"Aku tidak mengeluarkan uang satu sen pun,"
Edward meyakinkan aku. Ia menyingkirkan
seberkas rambut dari wajahku, membuat kulitku
bagai tergelitik
Aku menghirup napas dalam-dalam dan
menoleh pada Alice. "Berikan padaku," aku
mendesah Emmett terkekeh gembira.
Aku mengambil kado kecil itu dari tangannya,
memutar bola mataku pada Edward sambil
menyelipkan jariku di bawah pinggiran kertas dan
menyentakkannya di bawah selotip.
"Sial," gumamku saat kertas itu mengiris jariku;
aku menarik jariku dari bawah kertas untuk
mengetahui kondisinya. Setitik darah muncul dari
luka kecil itu.
Sesudahnya segalanya terjadi begitu cepat.
"Tidak!” raung Edward.
Ia menerjangku hingga terjengkang menabrak
meja. Meja terbalik, menjatuhkan kue tart dan
kado-kado, juga bunga-bunga dan piring-piring.
Aku mendarat di tengah kepingan kristal yang
pecah berantakan.
Jasper menabrak Edward, dan suaranya
terdengar seperti benturan batu-batu besar saat
terjadi longsor.
Ada lagi suara lain, geraman mengerikan yang
sepertinya berasal jauh dari dasar dada Jasper.
Jasper berusaha menerobos melewati Edward,
mengatupkan giginya hanya beberapa sentimeter
saja dari wajah Edward.
Detik berikut Emmett menyambar Jasper dari
belakang, menguncinya dalam pitingan tangan
yang besar, tapi Jasper memberontak, matanya
yang liar dan kosong hanya terfokus padaku.
Selain shock, aku juga merasa kesakitan. Aku
terbanting ke lantai di dekat piano, kedua tangan
refleks terbentang lebar untuk menahan jatuhku,
tepat menimpa kepingan-kepingan kaca yang
tajam. Baru sekarang aku merasakan kesakitan
yang pedih dan menusuk yang menjalar dari
pergelangan tangan ke lipatan siku.
Pusing dan linglung, aku mendongak dari darah
merah cerah yang merembes keluar dari
lenganku—dan melihat enam pasang mata vampir
yang tiba-tiba menatapku dengan sorot kelaparan.
2. JAHITAN
HANYA Carlisle yang tetap tenang. Pengalaman
bekerja di UGD selama berabad-abad tergambar
jelas dalam suaranya yang tenang dan berwibawa.
"Emmett, Rose, bawa Jasper keluar."
Kali ini tanpa senyum, Emmett mengangguk.
"Ayolah, Jasper."
Jasper meronta-ronta dalam cengkeraman
Emmett, menggeliat-geliat, menyorongkan giginya
ke arah saudaranya, matanya masih liar.
Wajah Edward pucat pasi saat ia menghambur
dan membungkuk di atas tubuhku, posisinya jelas
melindungi. Geraman rendah bernada
memperingatkan terdengar dari sela-sela giginya
yang terkatup rapat. Aku tahu ia tidak bernapas.
Rosalie, wajah malaikatnya tampak puas, maju
selangkah di depan Jasper—menjaga jarak dengan
giginya—dan membantu Emmett menyeret Jasper
keluar lewat pintu kaca yang dibukakan Esme,
sebelah tangan menutup mulut dan hidungnya.
Wajah Esme yang berbentuk hati tampak malu.
"Akubenar-benar minta maaf, Bella," jeritnya
sambil mengikuti yang lain-lain ke halaman.
"Beri aku jalan, Edward," gumam Carlisle.
Sedetik berlalu, kemudian Edward mengangguk
lambat-lambat dan merilekskan posisinya.
Carlisle berlutut di sebelahku, mencondongkan
tubuh untuk memeriksa lenganku. Bisa kurasakan
perasaan shock membeku di wajahku, jadi aku
berusaha mengubahnya.
"Ini, Carlisle," kata Alice, mengulurkan handuk.
Carlisle menggeleng. "Terlalu banyak serpihan
kaca di lukanya." Ia mengulurkan tangan dan
merobek bagian bawah taplak meja putih menjadi
kain panjang tipis. Dililitkannya kain itu di bawah
siku untuk membentuk semacam bebat. Bau anyir
darah membuat kepalaku pening. Telingaku
berdenging.
"Bella," kata Carlisle lirih. "Kau mau aku
mengantarmu ke rumah sakit, atau kau mau aku
merawatnya di sini saja?"
"Di sini saja, please," bisikku. Kalau ia
membawaku ke rumah sakit, cepat atau lambat
Charlie pasti bakal tahu.
"Biar kuambilkan tasmu,” kata Alice.
"Mari kita bawa dia ke meja dapur," kata Carlisle
pada Edward.
Edward mengangkatku dengan mudah,
sementara Carlisle memegangi lenganku agar tetap
stabil.
"Bagaimana keadaanmu, Bella?" tanya Carlisle.
"Baik-baik saja," Suaraku terdengar cukup
mantap, dan itu membuatku senang.
Wajah Edward kaku seperti batu.
Alice telah menunggu di sana. Tas Carlisle sudah
diletakkan di meja, bersama lampu meja kecil yang
menyala terang dicolokkan ke dinding. Edward
mendudukkan aku dengan lembur ke kursi,
sementara Carlisle menarik kursi lain. Ia langsung
bekerja.
Edward berdiri di sampingku, sikapnya masih
protektif, masih menahan napas.
"Pergilah, Edward," desahku.
"Aku bisa mengatasinya,” Edward bersikeras.
Tapi dagunya kaku; sorot matanya menyala-nyala
oleh dahaga yang coba dilawannya sekuat tenaga,
jauh lebih parah baginya ketimbang bagi yang lainlain.
"Kau tidak perlu sok jadi pahlawan," tukasku.
"Carlisle bisa mengobatiku tanpa bantuanmu.
Pergilah dan hirup udara segar."
Aku meringis saat Carlisle melakukan sesuatu di
lenganku yang rasanya perih.
"Aku akan tetap di sini," bantah Edward.
"Kenapa kau senang menyiksa diri sendiri?”
gumamku.
Carlisle memutuskan menengahi. "Edward, lebih
baik kau menemui Jasper sebelum dia jadi tak
terkendali. Aku yakin dia marah pada dirinya
sendiri, dan aku ragu dia mau mendengarkan
nasihat yang lain selain kau sekarang ini."
"Benar," dukungku penuh semangat. "Cari
Jasper sana."
"Lebih baik kau melakukan sesuatu yang
berguna," imbuh Alice.
Mata Edward menyipit karena kami
mengeroyoknya seperti itu, tapi akhirnya ia
mengangguk sekali dan berlari kecil dengan lincah
melalui pintu dapur sebelah belakang. Aku yakin ia
belum menarik napas sekali pun sejak jariku teriris
tadi.
Perasaan kebas dan mati rasa menyebar di
sekujur lenganku. Meski perihnya hilang, namun
itu membuatku teringat pada lukaku, jadi
kupandangi saja wajah Carlisle dengan saksama
untuk mengalihkan pikiran dari apa yang
dilakukan tangannya. Rambut Carlisle berkilau
emas di bawah cahaya lampu sementara ia
membungkuk di atas lenganku. Bisa kurasakan
secercah rasa mual mengaduk-aduk perutku, tapi
aku bertekad takkan membiarkan kegelisahan
menguasaiku. Sekarang tak ada lagi rasa sakit,
yang ada hanya perasaan seperti ditarik-tarik yang
berusaha kuabaikan. Tak ada alasan untuk
muntah-muntah seperti bayi.
Seandainya tak berada dalam jangkauan
pandanganku, aku pasti takkan menyadari Alice
akhirnya menyerah dan menyelinap ke luar
ruangan. Dengan senyum kecil meminta maaf, ia
lenyap di balik pintu dapur.
"Well, itu berarti semuanya," desahku. "Aku bisa
mengosongkan ruangan, paling tidak."
"Itu bukan salahmu," hibur Carlisle sambil
terkekeh. "Itu bisa terjadi pada siapa pun."
"Bisa," ulangku. "Tapi biasanya hanya terjadi
padaku."
Lagi-lagi Carlisle tertawa.
Ketenangan sikap Carlisle jauh lebih
menakjubkan saat dibandingkan reaksi yang
lainnya. Tak tampak secercah pun kegugupan di
wajahnya. Carlisle bekerja dengan gerakan-gerakan
cepat dan mantap. Satu-satunya suara lain selain
embusan napas kami yang pelan hanya bunyi kling
kling saat pecahan-pecahan kecil kaca dijatuhkan
satu demi satu ke meja.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" desakku.
"Bahkan Alice dan Esme..." Aku tak menyelesaikan
kata-kataku, hanya menggeleng heran. Walaupun
mereka semua juga sudah meninggalkan diet
tradisional vampir seperti halnya Carlisle, tapi
hanya dia yang sanggup mencium aroma darah
tanpa merasa tergoda sedikit pun untuk
mencicipinya. Jelas, itu jauh lebih sulit daripada
yang terlihat.
"Latihan bertahun-tahun,” jawab Carlisle.
"Sekarang aku sudah hampir tidak menyadari
baunya lagi.”
"Menurutmu, apakah akan lebih sulit bila kau
cuti lama dari rumah sakit? Dan tidak selalu
berdekatan dengan darah?"
"Mungkin," Carlisle mengangkat bahu, tapi
kedua tangannya tetap mantap. "Aku tak pernah
merasa perlu cuti lama-lama." Ia menyunggingkan
senyum ceria ke arahku. "Aku terlalu menikmati
pekerjaanku."
Kling, kling, kling. Kaget juga aku melihat
banyaknya serpihan kaca di lenganku. Aku tergoda
untuk melirik tumpukan yang semakin bertambah,
hanya untuk melihat ukurannya, tapi aku tahu ide
itu takkan membantuku menahan keinginan untuk
tidak muntah.
"Apa sebenarnya yang kaunikmati?" tanyaku.
Sungguh tak masuk akal—bertahun-tahun
berjuang dan menyangkal diri untuk bisa mencapai
suatu titik di mana ia bisa menahannya begitu
mudah. Lagi pula aku ingin terus mengajaknya
bicara; obrolan membantu mengalihkan pikiran
dari perutku yang mual.
Bola mata Carlisle yang berwarna gelap tampak
tenang dan merenung saat ia menjawab. "Hmm.
Aku paling senang kalau... kemampuanku ini bisa
membantu menyelamatkan orang yang kalau tidak
kutolong pasti akan meninggal. Senang rasanya
mengetahui bahwa, karena kemampuanku,
kehidupan orang lain bisa jauh lebih baik karena
aku ada. Bahkan indra penciumanku terkadang
bisa menjadi perangkat diagnosis yang berguna."
Satu sisi mulutnya terangkat membentuk separo
senyuman.
Aku memikirkan hal itu sementara Carlisle
mengorek-ngorek lukaku, memastikan semua
serpihan kaca telah diambil Lalu ia merogoh-rogoh
tasnya, mencari peralatan baru, dan aku berusaha
untuk tidak membayangkan jarum dan benang.
"Kau berusaha sangat keras membenahi sesuatu
yang sebenarnya bukan salahmu," kataku
sementara sensasi tarikan yang baru mulai terasa
di pinggir-pinggir kulitku. "Maksudku, kau tidak
minta dilahirkan seperti ini. Kau tidak memilih
kehidupan seperti ini, tapi kau tetap berusaha
sangat keras untuk menjalaninya dengan baik."
"Aku bukan hendak membenahi apa-apa,"
Carlisle menyanggah halus. "Seperti segalanya
dalam hidup, aku hanya memutuskan hendak
berbuat apa dengan kehidupan yang kumiliki
sekarang."
"Kau membuatnya terdengar terlalu mudah."
Carlisle memeriksa lenganku lagi. "Nah, sudah,"
ujarnya, menggunting benang. "Sudah beres." Ia
mengolesi kapas bertangkai ukuran besar dengan
cairan sewarna sirup banyak-banyak, lalu
membalurkannya dengan saksama di seluruh
permukaan luka yang sudah dijahit. Baunya aneh;
membuat kepalaku berputar. Cairan itu membuat
kulitku perih.
"Tapi awalnya," desakku sementara Carlisle
menempelkan kasa panjang menutupi luka, lalu
merekatkannya ke kulitku. "Mengapa terpikir
olehmu untuk mencoba cara hidup yang lain selain
yang lazim bagi kalian?"
Bibir Carlisle terkuak, membentuk senyum
pribadi. "Edward tak pernah menceritakannya
padamu?"
"Pernah. Tapi aku ingin memahami jalan
pikiranmu..."
Wajah Carlisle mendadak berubah serius lagi,
dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia juga
memikirkan hal yang sama. Bertanya-tanya apa
yang akan kupikirkan saat—aku menolak berpikir
itu hanya kemungkinan—itu terjadi padaku.
"Kau tahu ayahku pemuka agama," kenang
Carlisle sambil membersihkan meja dengan hatihati,
mengelap semuanya dengan kasa basah,
kemudian mengulanginya lagi. Bau alkohol
membakar rongga hidungku. "Dia memiliki
pandangan yang agak keras terhadap dunia, hal
yang mulai kupertanyakan sebelum aku berubah."
Carlisle meletakkan semua kasa kotor dan
serpihan kaca ke dalam mangkuk kristal kosong.
Aku tidak mengerti maksudnya, sampai kemudian
Carlisle menyalakan korek. Kemudian ia
membuang batang korek api ke tumpukan kain
yang basah oleh alkohol, dan api yang tiba-tiba
menyala membuatku melompat kaget.
"Maaf,” katanya. "Nah, sudah... aku tidak
sependapat dengan keyakinan yang dianut ayahku.
Tapi tidak pernah, selama hampir empat ratus
tahun sekarang sejak aku dilahirkan, aku melihat
apa pun yang membuatku meragukan keberadaan
Tuhan dalam wujud bagaimanapun. Bahkan
bayangan dalam cermin pun tidak."
Aku pura-pura mengamati balutan di lenganku
untuk menyembunyikan kekagetanku melihat arah
pembicaraan kami. Agama adalah hal terakhir yang
kuharapkan bakal menjadi jawabannya. Aku
sendiri bisa dibilang tidak memiliki keyakinan.
Charlie menganggap dirinya Lutheran, karena
itulah agama yang dianut kedua orangtuanya, tapi
di hari Minggu ia beribadah di tepi sungai dengan
joran dan pancing. Renee sesekali ke gereja, tapi
sama seperti affair singkatnya dengan tenis,
kerajinan tembikar, yoga, dan kursus bahasa
Prancis, ia sudah tertarik pada hal lain saat aku
baru mulai menyadari kegemaran barunya.
Aku yakin semua ini kedengarannya aneh,
karena keluar dari mulut vampir. Carlisle nyengir,
tahu penggunaan kata itu secara sambil lalu selalu
berhasil membuatku shock. "Tapi aku berharap
masih ada tujuan dalam hidup ini. bahkan bagi
kami. Sulit memang, harus kuakui,” sambung
Carlisle dengan nada tak acuh. "Bagaimanapun
juga, kami telah dikutuk. Tapi aku berharap, dan
mungkin ini harapan konyol, bahwa kami bisa
mendapatkan sedikit penghargaan karena telah
mencoba."
"Menurutku itu tidak konyol," gumamku. Aku
tak bisa membayangkan ada orang, termasuk
Tuhan, yang tidak terkesan pada Carlisle. Lagi
pula, satu-satunya surga yang kuinginkan adalah
yang ada Edward-nya. "Dan kurasa orang lain pun
tak ada yang berpikir begitu."
"Sebenarnya, kau orang pertama yang
sependapat denganku."
"Memangnya yang lain-lain tidak merasakan hal
yang sama?" tanyaku, terkejut, pikiranku hanya
tertuju pada satu orang secara khusus.
Carlisle kembali menebak jalan pikiranku.
"Edward sependapat denganku sampai batas
tertentu. Tuhan dan surga itu ada... begitu juga
neraka. Tapi dia tidak percaya ada kehidupan
setelah kematian untuk jenis kami," Suara Carlisle
sangat lembut; ia memandang ke luar jendela besar
di atas bak cuci, ke kegelapan. "Kau tahu, menurut
dia, kami sudah kehilangan jiwa kami."
Aku langsung teringat kata-kata Edward siang
tadi: kecuali kau memang ingin mati—atau apa
sajalah istilahnya untuk kamu. Sebuah bola lampu
seakan menyala di kepalaku.
"Jadi itulah masalahnya, bukan?" aku menduga.
"Itulah sebabnya dia begitu sulit mengabulkan
keinginanku."
Carlisle berbicara lambat-lambat. "Aku
memandang... putraku. Kekuatannya,
kebaikannya, kecemerlangan yang terpancar
darinya—dan itu justru semakin mengobarkan
semangat itu, keyakinan itu, lebih dari yang
sudah-sudah. Bagaimana mungkin tidak ada
kehidupan setelah kematian untuk makhluk sebaik
Edward?"
Aku mengangguk penuh semangat, setuju.
"Tapi kalau keyakinanku sama seperti Edward
bahwa jiwa kami sudah hilang..." Carlisle
menunduk memandangiku dengan sorot mata tak
terbaca. "Seandainya kau meyakini hal yang sama
seperti yang diyakininya. Tegakah kau merenggut
jiwanya?"
Cara Carlisle memfrasekan pertanyaan itu
menghalangi jawabanku. Seandainya ia bertanya
apakah aku rela mempertaruhkan jiwaku untuk
Edward, jawabannya jelas. Tapi apakah aku rela
mempertaruhkan jiwa Edward? Kukerucutkan
bibirku dengan sikap tak suka. Itu bukan barter
yang adil.
"Sekarang kau mengerti masalahnya."
Aku menggeleng, sadar sifat keras kepalaku
mulai muncul.
Carlisle mendesah.
"Itu pilihanku,” aku berkeras.
"Itu juga pilihannya," Carlisle mengangkat
tangan begitu melihatku hendak membantah.
"Terlepas dari apakah dia bertanggung jawab
melakukan hal itu terhadapmu."
"Dia bukan satu-satunya yang bisa
melakukannya," Kupandangi Carlisle dengan sikap
spekulatif.
Carlisle tertawa, ketegangan langsung mencair.
"Oh, tidak. Kau harus membereskan masalah ini
dengan dia!' Tapi sejurus kemudian ia menghela
napas panjang. "Itu bagian yang aku tidak akan
pernah bisa yakin. Kupikir, dalam banyak hal lain,
aku sudah melakukan yang terbaik dengan apa
yang harus kulakukan. Tapi benarkah tindakanku
yang membuat orang lain menjalani kehidupan
seperti ini? Aku tak bisa memutuskan."
Aku tidak menjawab. Aku membayangkan
bagaimana jadinya hidupku seandainya Carlisle
menolak godaan untuk mengubah keberadaannya
yang sendirian... dan bergidik.
"Ibu Edward-lah yang membuatku yakin dengan
keputusanku" Suara Carlisle nyaris hanya bisikan.
Matanya menerawang kosong ke luar jendela yang
gelap.
"Ibunya?" Setiap kali aku bertanya kepada
Edward tentang orangtuanya, ia hanya berkata
mereka sudah lama meninggal dan ingatannya
kabur. Sadarlah aku ingatan Carlisle terhadap
orangtua Edward, meski pertemuan mereka sangat
singkat, pastilah sangat jelas.
"Ya. Namanya Elizabeth. Elizabeth Masen.
Ayahnya, Edward Senior, tidak pernah tersadar
selama di rumah sakit. Dia meninggal saat
gelombang pertama serangan influenza terjadi. Tapi
Elizabeth sadar nyaris hingga menjelang
meninggal. Edward mirip sekali dengannya—warna
rambutnya juga pirang tembaga, begitu juga
matanya, sama-sama hijau."
"Mata Edward dulu hijau?" gumamku, berusaha
membayangkannya.
"Ya..." Carlisle menerawang jauh. "Elizabeth
sangat mengkhawatirkan putranya. Dia
mempertaruhkan peluangnya untuk selamat
dengan berusaha merawat Edward dalam keadaan
sakit. Kusangka Edward-lah yang akan lebih dulu
meninggal, kondisinya jauh lebih parah daripada
ibunya. Saat maut menjemput Elizabeth, prosesnya
sangat cepat. Kejadiannya tepat setelah matahari
terbenam, dan aku datang untuk menggantikan
para dokter yang sudah bekerja seharian. Saat itu
rasanya sulit sekali berpura-pura—begitu banyak
yang harus ditangani, dan aku tidak butuh
istirahat. Betapa bencinya aku harus pulang ke
rumah, bersembunyi dalam gelap dan berpurapura
tidur padahal begitu banyak orang yang
sekarat.
"Pertama-tama aku pergi untuk mengecek
keadaan Elizabeth dan putranya. Aku mulai
merasa terikat pada mereka–hal yang berbahaya
mengingat kondisi manusia yang rapuh. Begitu
melihatnya, aku langsung tahu kondisi Elizabeth
semakin parah. Demamnya tak terkendali, dan
tubuhnya sudah tak kuat lagi melawan.
"Tapi dia tidak tampak lemah, saat dia
memandangiku dengan mata menyala-nyala dari
ranjangnya.”
'"Selamatkan dia!' pintanya padaku dengan
suara serak yang sanggup dikeluarkan
tenggorokannya.
'"Aku akan berusaha semampuku’ aku berjanji
padanya, meraih tangannya. Demamnya tinggi
sekali, hingga ia bahkan tak bisa merasakan
tanganku yang sangat dingin itu. Semua terasa
dingin di kulitnya.
“’Kau harus bisa,’ desaknya, mencengkeram
tanganku begitu kuat hingga aku bertanya-tanya
dalam hati apakah ia bisa selamat dari krisis ini.
Matanya keras, seperti batu, seperti zambrud. 'Kau
harus melakukan semua yang mampu
kaulakukan. Apa yang orang lain tidak bisa, itulah
yang harus kaulakukan untuk Edward-ku.’
“Aku ketakutan. Dia menatapku dengan
matanya yang tajam menusuk, dan, sesaat, aku
yakin dia tahu rahasiaku. Kemudian demam
menguasainya, dan dia tak pernah sadar lagi. Dia
meninggal hanya satu jam setelah mengutarakan
tuntutannya padaku.
“Berpuluh-puluh tahun lamanya aku
mempertimbangkan untuk menciptakan
pendamping untuk hidupku. Hanya satu makhluk
lain yang bisa benar-benar mengenalku, bukan
aku yang berpura-pura. Tapi aku tak pernah bisa
menemukan pembenaran untukku – melakukan
seperti yang pernah dilakukan terhadapku.
"Lalu di sanalah Edward berbaring, sekarat.
Jelas sekali dia hanya punya waktu beberapa jam.
Di sampingnya terbaring ibunya, entah bagaimana
wajahnya tetap tidak tampak tenang, meski dalam
kematian."
Carlisle seperti melihat lagi semuanya,
kenangannya tidak pudar meski seabad telah
berlalu. Aku juga bisa melihatnya dengan jelas,
saat Carlisle bicara—“keputusasaan yang
melingkupi rumah sakit, atmosfer kematian yang
terlampau kuat. Tubuh Edward panas membara
oleh demam, nyawanya terancam seiring dengan
detik-detik yang berjalan... sekujur tubuhku lagilagi
bergidik, mengenyahkan bayangan itu dari
pikiranku.
"Kata-kata Elizabeth terngiang-ngiang di
kepalaku. Bagaimana dia bisa menebak apa yang
bisa kulakukan? Mungkinkah ada orang yang
benar-benar menginginkan hal itu untuk anaknya?
"Kupandangi Edward. Meski sakit keras, dia
tetap tampan. Ada sesuatu yang murni dan indah
tergambar di wajahnya. Seperti yang kuinginkan di
wajah anakku kalau aku punya anak.
"Setelah bertahun-tahun tak bisa memutuskan,
aku langsung bertindak tanpa berpikir lagi.
Pertama-tama, kudorong dulu jenazah ibunya ke
kamar mayat, lalu aku kembali untuk menjemput
Edward. Saat itu rumah sakit kekurangan tenaga
dan perhatian untuk menangani setengah saja
kebutuhan para pasien. Kamar mayat kosong—dari
orang hidup, paling tidak. Diam-diam kubawa
Edward keluar dari pintu belakang, kugendong
melewati atap-atap rumah, kembali ke rumahku.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Kuputuskan
untuk membuat kembali luka seperti yang pernah
kuterima dulu, beberapa abad sebelumnya di
London. Belakangan, aku merasa bersalah. Luka
itu lebih menyakitkan dan lebih lama sembuh
daripada yang sebenarnya diperlukan.
"Tapi aku tidak menyesal. Aku tidak pernah
menyesal telah menyelamatkan Edward," Carlisle
menggeleng, kembali ke masa kini. Ia tersenyum
padaku. "Kurasa sebaiknya kuantar kau pulang
sekarang."
"Biar aku saja," kata Edward. Ia muncul dari
arah ruang makan yang remang-remang, berjalan
lambat-lambat untuk ukurannya. Wajahnya datar,
ekspresinya tak terbaca, tapi ada yang tidak beres
dengan matanya—sesuatu yang coba
disembunyikannya sekuat tenaga. Aku merasa
perutku seperti diaduk-aduk.
"Carlisle bisa mengantarku," kataku. Aku
menunduk memandang kemejaku; bahan katun
biru mudanya basah oleh bercak-bercak darah.
Bahu kananku berlepotan krim gula warna pink.
"Aku tidak apa-apa," Suara Edward datar tanpa
emosi. "Kau toh perlu ganti baju. Bisa-bisa Charlie
terkena serangan jantung kalau melihatmu seperti
itu. Akan kuminta Alice mencarikan baju
untukmu." Edward berjalan lagi keluar dari pintu
dapur.
Kupandangi Carlisle dengan sikap waswas. "Dia
kalut sekali."
"Memang," Carlisle sependapat. "Yang terjadi
malam ini adalah apa yang paling ditakutinya
bakal terjadi. Membahayakanmu, karena keadaan
kami yang seperti ini."
"Itu bukan salahnya."
"Bukan salahmu juga."
Aku mengalihkan tatapanku dan mata Carlisle
yang indah dan bijak. Aku tidak sependapat
dengannya.
Carlisle mengulurkan tangan dan membantuku
berdiri. Kuikuti dia ke ruang utama. Esme sudah
kembali; sedang mengepel lantai tempatku jatuh
tadi—dengan cairan desinfektan murni tanpa
campuran kalau menilik dari baunya.
"Esme, biar aku saja," Bisa kurasakan wajahku
kembali merah padam.
"Aku sudah selesai." Esme mendongak dan
tersenyum padaku. "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik-baik saja," aku meyakinkan dia. "Carlisle
menjahit lebih cepat daripada dokter lain yang
pernah menanganiku."
Mereka berdua tertawa.
Alice dan Edward muncul dari pintu belakang.
Alice bergegas mendapatiku, tapi Edward berdiri
agak jauh, ekspresinya sulit digambarkan.
"Ayolah," ajak Alice. "Akan kucarikan sesuatu
yang tidak begitu mengerikan untuk dipakai."
Alice menemukan kemeja Esme yang warnanya
mendekati warna bajuku tadi. Charlie tak bakal
memerhatikan, aku yakin. Perban putih panjang di
lenganku tidak tampak terlalu serius setelah aku
tak lagi memakai baju yang berlepotan bercak
darah. Charlie toh tak pernah terkejut melihatku
diperban.
“Alice," bisikku saat ia kembali berjalan menuju
pintu.
"Ya?" Suara Alice tetap pelan, memandangiku
dengan sikap ingin tahu, kepalanya ditelengkan ke
satu sisi.
"Seberapa parah?" Aku tak yakin apakah
berbisik-bisik begini ada gunanya. Walaupun kami
di lantai atas, dengan pintu tertutup, mungkin ia
tetap bisa mendengarku.
Wajah Alice menegang. "Aku belum bisa
memastikan."
"Jasper bagaimana?"
Alice mendesah. "Dia sangat kesal pada dirinya
sendiri. Itu memang lebih sulit baginya dibanding
bagi yang lain, dan dia tidak suka merasa diri
lemah."
"Itu bukan salahnya. Bisa tolong katakan
padanya aku tidak marah, sama sekali tidak marah
padanya, bisa, kan?"
"Tentu saja."
Edward menungguku di pintu depan. Begitu aku
sampai di kaki tangga, ia membukakan pintu
tanpa sepatah kata pun.
"Bawa barang-barangmu!" pekik Alice waktu aku
berjalan waswas menghampiri Edward. Ia meraup
kedua bungkusan, yang satu baru separo terbuka,
serta kameraku dari bawah piano, dan menjejalkan
semuanya ke lekukan lenganku yang tidak terluka.
"Kau bisa mengucapkan terima kasih belakangan,
kalau sudah membuka kado-kadomu!”
Esme dan Carlisle mengucapkan selamat malam
dengan suara pelan. Sempat kulihat mereka diamTiraikasih
diam melirik putra mereka yang diam seribu
bahasa, sama seperti aku.
Lega rasanya berada di luar; aku bergegas
melewati deretan lentera dan mawar yang kini
mengingatkanku pada peristiwa tak mengenakkan
tadi. Edward berjalan di sampingku tanpa bicara.
Ia membukakan pintu penumpang untukku, dan
aku naik tanpa protes.
Di atas dasbor terpasang pita merah besar,
menempel di stereo yang baru. Kurenggut pita itu
dan kubuang ke lantai. Waktu Edward naik di
sampingku, kutendang pita itu ke bawah kursi.
Edward tidak melihat ke arahku ataupun stereo
itu. Kami juga tidak menyalakannya, dan entah
bagaimana kesunyian justru semakin terasa oleh
raungan mesin yang tiba-tiba. Edward ngebut
terlalu kencang melintasi jalan yang gelap dan
berkelok-kelok.
Kesunyian itu membuatku sinting.
“Katakan sesuatu," pintaku akhirnya saat
Edward berbelok memasuki jalan raya.
"Kau ingin aku bilang apa?" tanyanya dengan
sikap menjauh.
Aku meringis melihat sikapnya yang tak mau
mendekat. "Katakan kau memaafkan aku."
Perkataanku itu menimbulkan secercah
kehidupan di wajahnya—secercah amarah.
"Memaafkanmu? Untuk apa?"
"Seandainya aku lebih berhati-hati, tidak akan
terjadi apa-apa.”
"Bella, jarimu hanya teriris kertas—itu bukan
alasan untuk mendapat hukuman mati."
"Tetap saja aku yang salah."
Kata-kataku seolah membobol bendungan.
"Kau yang salah? Kalau jarimu teriris kertas di
rumah Mike Newton, dan di sana ada Jessica,
Angela, dan teman-teman normalmu lainnya, apa
hal terburuk yang mungkin terjadi? Mungkin
mereka tidak bisa menemukan plester untukmu?
Kalau kau terpeleset dan menabrak tumpukan
piring kaca karena ulahmu sendiri—bukan karena
ada yang mendorongmu—bahkan saat itu pun, hal
terburuk apa yang bisa terjadi? Paling-paling
darahmu berceceran mengotori jok mobil saat
mereka mengantarmu ke UGD? Mike Newton bisa
memegangi tanganmu saat dokter menjahitmu—
dan dia tidak perlu berjuang melawan dorongan
untuk membunuhmu selama berada di sana.
Jangan menyalahkan dirimu sendiri dalam hal ini,
Bella. Itu hanya akan membuatku semakin jijik
pada diriku sendiri."
"Bagaimana bisa Mike Newton dibawa-bawa
dalam pembicaraan ini?" tuntutku.
"Mike Newton dibawa-bawa dalam pembicaraan
ini karena akan jauh lebih aman kalau kau
berpacaran saja dengan Mike Newton," geram
Edward.
"Lebih baik mati daripada berpacaran dengan
Mike Newton." protesku. "Aku lebih baik mati
daripada berpacaran dengan orang lain selain kau.”
"Jangan sok melodramatis, please"
"Kalau begitu, kau juga tidak usah ngomong
yang bukan-bukan."
Edward tidak menjawab. Ia menatap garang ke
luar kaca, ekspresinya kosong.
Aku memeras otak, mencari cara untuk
menyelamatkan malam ini. Tapi sampai truk
berhenti di depan rumahku, aku masih belum
menemukan caranya.
"Kau akan menginap malam ini?" tanyaku.
"Sebaiknya aku pulang."
Hal terakhir yang kuinginkan adalah Edward
berkubang dalam perasaan bersalah. "Untuk ulang
tahunku," desakku.
"Tidak bisa dua-duanya—kau ingin orang
mengabaikan hari ulang tahunmu atau tidak. Pilih
salah satu," Nadanya kaku, tapi tidak seserius
sebelumnya. Diam-diam aku mengembuskan
napas lega.
"Oke. Aku sudah memutuskan aku tidak mau
kau mengabaikan hari ulang tahunku. Kutunggu
kau di atas."
Aku melompat turun, meraih kado-kadoku.
Edward mengerutkan kening.
"Kau tidak perlu membawanya."
“Aku menginginkannya," jawabku otomatis,
kemudian bertanya-tanya dalam hati apakah
Edward menggunakan teknik psikologi terbalik.
“Tidak, itu tidak benar. Carlisle dan Esme
mengeluarkan uang untuk membeli kadomu."
"Tidak apa-apa," Kudekap kado-kado itu dengan
kikuk di bawah lenganku yang tidak terluka, lalu
membanting pintu mobil. Kurang dari satu detik
Edward sudah keluar dari mobil dan berdiri di
sampingku.
"Biar kubawakan paling tidak," katanya sambil
mengambil kado-kado itu dari pelukanku. "Aku
akan menemuimu di kamarmu."
Aku tersenyum. "Trims."
"Selamat ulang tahun," bisik Edward, lalu
membungkuk untuk menempelkan bibirnya ke
bibirku.
Aku berjinjit agar bisa berciuman lebih lama,
tapi Edward melepaskan bibirnya. Ia
menyunggingkan senyum separonya yang sangat
kusukai itu, lalu menghilang di balik kegelapan.
Pertandingan masih berlangsung; begitu berjalan
memasuki pintu depan, aku langsung bisa
mendengar suara komentator meningkahi soraksorai
penonton di televisi.
"Bell?" seru Charlie.
"Hai, Dad," balasku, muncul dari sudut ruangan.
Kurapatkan lenganku ke sisi tubuh. Tekanan itu
membuat lukaku berdenyut-denyut, dan aku
mengerutkan hidung. Anestesinya mulai
kehilangan pengaruhnya ternyata.
"Bagaimana pestanya?" Charlie tidur-tiduran di
sofa dengan kaki ditumpangkan di lengan sofa.
Rambut cokelat keritingnya kempis di satu sisi.
"Alice merajalela. Bunga, kue tart, lilin, kado—
pokoknya komplet."
"Mereka memberimu kado apa?"
"Stereo untuk trukku." Dan beberapa kado lain
yang belum diketahui isinya.
"Wow"
"Yeah," aku sependapat. "Well, aku mau tidur
dulu." "Sampai besok pagi."
Aku melambaikan tangan. "Sampai besok."
"Lenganmu kenapa?"
Wajahku kontan memerah dan mulutku memaki
"Aku tadi tersandung. Nggak apa-apa kok"
"Bella," Charlie mendesah, menggelenggelengkan
kepala.
"Selamat malam, Dad."
Aku bergegas masuk ke kamar mandi, tempatku
menyimpan piamaku sebagai persiapan untuk
malam-malam seperti ini. Aku memakai tank top
dan celana katun sebagai ganti sweter bolongbolong
yang biasa kupakai tidur, meringis saat
gerakanku membuat jahitan di lenganku tertarik.
Dengan satu tangan aku mencuci muka, menyikat
gigi, lalu cepat-cepat masuk ke kamar.
Ia sudah duduk di tengah-tengah tempat tidur,
malas-malasan mempermainkan salah satu kado
perakku.
"Hai," sapanya. Suaranya sedih. Ia masih
menyalahkan dirinya sendiri.
Aku naik ke tempat tidur, menyingkirkan kadokado
itu dan tangan Edward, lalu naik ke
pangkuannya.
"Hai," Aku meringkuk di dadanya yang sekeras
batu. "Boleh kubuka kadoku sekarang?"
"Mengapa tahu-tahu kau antusias begini?"
tanyanya.
"Kau membuatku ingin tahu."
Kuambil kotak persegi panjang tipis yang pasti
kado dari Carlisle dan Esme.
"Biar aku saja," saran Edward. Diambilnya kado
itu dan tanganku dan dirobeknya kertas perak
pembungkusnya dengan satu gerakan luwes. Lalu
ia menyodorkan kotak putih persegi empat itu
padaku.
"Kau yakin aku bisa mengangkat tutup
kotaknya?" sindirku, tapi Edward tak
mengacuhkan sindiranku.
Kotak itu berisi selembar kertas panjang dan
tebal, penuh berisi tulisan. Butuh waktu semenit
baru aku bisa mencerna informasi yang tertulis di
sana.
"Kita akan pergi ke Jacksonville?" Aku girang
bukan main, meski sebenarnya tidak ingin.
Kadonya berupa voucher tiket pesawat, untukku
dan Edward.
"Begitulah idenya."
"Aku tak percaya. Renee bakal girang setengah
mati! Tapi kau tidak keberatan, kan? Di sana
panas terik, jadi kau harus berada di dalam rumah
seharian"
"Kurasa itu bisa diatasi," kata Edward, tapi
keningnya berkerut. "Seandainya aku tahu kau
akan bereaksi seperti ini, aku akan menyuruhmu
membukanya di depan Carlisle dan Esme.
Kusangka kau bakal protes."
"Well, tentu saja ini berlebihan. Tapi aku bisa
pergi bersamamu!"
Edward tertawa kecil. "Tahu begitu, aku akan
mengeluarkan uang untuk membeli kadomu.
Ternyata kau masih bisa berpikir sehat."
Aku menyingkirkan tiket-tiket itu dan meraih
kado dari Edward, rasa ingin tahuku muncul lagi.
Edward mengambilnya dariku dan membuka
bungkusnya seperti kado pertama tadi.
Ia menyerahkan padaku kotak CD bening,
dengan CD kosong di dalamnya.
"Apa ini?" tanyaku, heran.
Edward tidak berkata apa-apa; dikeluarkannya
CD itu lalu dimasukkannya ke CD player di atas
nakas. Tangannya menekan tombol play dan kami
menunggu dalam kesunyian. Lalu musik mulai
mengalun.
Aku mendengarkan, tak mampu berkata apaapa,
mataku terbelalak lebar. Aku tahu ia
menunggu reaksiku, tapi aku tak sanggup bicara.
Air mataku menggenang, dan aku mengangkat
tangan untuk menyekanya sebelum jatuh menetes
di pipi.
“Lenganmu sakit?” tanya Edward waswas.
"Tidak, ini bukan karena lenganku. Indah sekali,
Edward. Tak ada kado lain yang bisa kauberikan
yang lebih kusukai daripada ini. Aku tak percaya."
Lalu aku diam, supaya bisa mendengarkan.
CD itu berisi rekaman musiknya, komposisinya.
Musik pertama di CD itu adalah lagu ninaboboku.
“Kupikir kau tidak akan membiarkanku
membelikanmu piano supaya aku bisa
memainkannya untukmu di sini," Edward
menjelaskan.
"Kau benar"
"Lenganmu bagaimana?"
"Baik-baik saja," Sebenarnya, lukaku mulai
terasa panas di balik perban. Aku ingin
mengompresnya dengan es batu. Sebenarnya aku
bisa menggunakan tangan Edward, tapi itu bakal
membuatnya tahu aku kesakitan.
"Aku akan mengambilkan Tylenol untukmu."
"Aku tidak butuh apa-apa," protesku, tapi
Edward sudah menurunkan aku dari pangkuannya
dan berjalan ke pintu.
"Charlie," desisku. Charlie tidak tahu Edward
sering menginap di kamarku. Sebenarnya, bisabisa
ia terserang stroke bila aku memberi tahunya.
Tapi aku tidak merasa terlalu bersalah telah
memperdaya ayahku. Soalnya, kami toh tidak
melakukan apa-apa yang dilarang olehnya. Edward
dan aturan-aturannya...
“Dia tidak akan menangkap basah aku," janji
Edward sebelum lenyap tanpa suara di balik
pintu... dan kembali sejurus kemudian, memegangi
pintu sebelum sempat menutup kembali. Ia
memegang gelas kumur yang diambilnya dari
kamar mandi serta sebotol pil di satu tangan.
Aku menerima pil-pil yang disodorkannya tanpa
membantah—aku tahu paling-paling aku bakal
kalah berdebat dengannya. Dan lenganku mulai
benar-benar nyeri.
Lagu ninaboboku terus mengalun, lembut dan
lirih, di latar belakang.
"Sudah malam," kata Edward. Ia meraup dan
menggendongku dengan satu tangan, sementara
tangan satunya membuka penutup tempat tidur.
Lalu ia membaringkanku dengan posisi kepala di
atas bantal, kemudian menyelimutiku. Ia berbaring
di sebelahku—di atas selimut agar aku tidak
kedinginan— dan meletakkan lengannya di atas
tubuhku.
Aku menyandarkan kepala di bahunya dan
mengembuskan napas bahagia.
"Terima kasih sekali lagi," bisikku.
"Terima kasih kembali."
Sejenak suasana sunyi sementara aku
mendengarkan lagu ninaboboku berakhir. Lagu
lain mulai. Aku mengenalinya sebagai lagu favorit
Esme.
"Kau sedang memikirkan apa?" bisikku.
Edward ragu-ragu sejenak sebelum menjawab.
"Sebenarnya, aku sedang berpikir tentang apa yang
benar dan yang salah."
Aku merasakan sekujur tubuhku bergidik.
"Kau ingat kan, aku tadi memutuskan ingin kau
tidak mengabaikan hari ulang tahunku?" aku
buru-buru bertanya, berharap ia tidak tahu aku
berusaha mengalihkan perhatiannya.
“Ya," Edward sependapat, waspada.
“Well, aku sedang berpikir-pikir, karena
sekarang masih hari ulang tahunku, aku ingin kau
menciumku lagi."
“Kau serakah malam ini."
"Ya, memang—tapi please, jangan lakukan apa
pun yang tidak ingin kaulakukan," aku
menambahkan, kesal.
Edward tertawa, kemudian mendesah. "Semoga
surga mencegahku melakukan hal-hal yang tidak
ingin kulakukan," katanya dengan nada putus asa
yang aneh saat ia meletakkan tangannya di bawah
daguku dan mendongakkan wajahku.
Ciuman kami diawali seperti biasa—Edward
tetap sehati-hati biasanya, dan seperti biasa pula,
jantungku mulai bereaksi berlebihan. Kemudian
sesuatu sepertinya berubah. Tiba-tiba saja bibir
Edward melumat bibirku lebih ganas, tangannya
menyusup masuk ke rambutku dan mendekap
wajahku erat-erat. Dan, walaupun tanganku juga
menyusup masuk ke rambutnya, dan meski jelas
aku mulai melanggar batas kehati-hatiannya,
namun sekali ini ia tidak menghentikanku.
Tubuhnya dingin di balik selimut yang tipis, tapi
aku menempelkan tubuhku erat-erat ke tubuhnya.
Ia berhenti begitu tiba-tiba; didorongnya aku
dengan kedua tangan yang lembut tapi tegas.
Aku terhenyak ke atas bantal, terengah-engah,
kepalaku berputar. Sesuatu menarik-narik
ingatanku, tapi aku tak kunjung bisa meraihnya.
"Maaf," kata Edward, napasnya juga terengahengah.
"Itu tadi sudah melanggar batas."
“Aku tidak keberatan," kataku megap-megap.
Edward mengerutkan kening padaku dalam
gelap. "Cobalah untuk tidur, Bella."
"Tidak, aku ingin kau menciumku lagi."
“Kau menilai pengendalian diriku kelewat tinggi."
"Mana yang lebih membuatmu tergoda, darahku
atau tubuhku?" tantangku.
"Dua-duanya," Edward nyengir sekilas, meski
sebenarnya tak ingin, lalu kembali serius.
"Sekarang, bagaimana kalau kau berhenti
mempertaruhkan peruntunganmu dan pergi
tidur?"
"Baiklah," aku setuju, meringkuk lebih rapat
padanya. Aku benar-benar lelah. Ini hari yang
panjang dalam banyak hal, namun aku tidak
merasa lega saat hari ini berakhir. Seakan-akan
ada hal lain yang lebih buruk bakal terjadi besok.
Firasat konyol—kejadian apa yang lebih buruk
daripada hari ini tadi? Pasti hanya karena aku
shock.
Berusaha agar tidak ketahuan, aku
menempelkan lenganku yang sakit di bahu
Edward, supaya kulitnya yang dingin bisa
meredakan sakitku. Seketika itu juga nyerinya
hilang.
Aku sudah hampir tertidur, mungkin malah
sudah separo tidur, waktu mendadak aku sadar
ciuman Edward tadi mengingatkan aku pada apa:
musim semi lalu, ketika harus meninggalkanku
untuk menyesatkan James, Edward memberiku
ciuman perpisahan, tidak tahu kapan—atau
apakah—kami akan bertemu lagi. Ciuman tadi juga
nyaris terasa menyakitkan, seperti ciuman itu,
meski entah untuk alasan apa, aku tak bisa
membayangkannya. Aku bergidik dalam tidurku,
seolah-olah aku sudah mengalami mimpi buruk.
3. TAMAT
KEESOKAN paginya, perasaanku benar-benar
kacau. Aku tidak bisa tidur nyenyak; lenganku
nyeri dan kepalaku sakit. Perasaanku semakin
kacau melihat wajah Edward tetap licin dan
muram saat ia mengecup dahiku sekilas dan
merunduk keluar dari jendela kamarku. Aku takut
membayangkan waktu yang kulewatkan saat tidur
tadi, takut Edward berpikir tentang yang benar dan
salah lagi sambil memandangiku tidur. Kegelisahan
itu seolah menambah pukulan bertubi-tubi di
kepalaku.
Edward menungguku di sekolah, seperti biasa,
tapi wajahnya masih muram. Ada sesuatu di balik
tatapannya dan aku tak yakin apa itu—dan itu
membuatku takut. Aku tak ingin mengungkitnya
semalam, tapi aku tak yakin apakah dengan
menghindarinya justru memperparah keadaan.
Edward membukakan pintu untukku.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Sempurna," dustaku, meringis saat suara pintu
dibanting bergema di dalam kepalaku.
Kami berjalan sambil membisu, Edward
memperpendek langkah untuk mengimbangiku.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan,
tapi sebagian besar harus menunggu, karena
pertanyaan-pertanyaan itu untuk Alice: Bagaimana
Jasper pagi ini? Apa yang mereka katakan waktu
aku sudah pulang? Apa kata Rosalie? Dan yang
paling penting apa yang dilihat Alice akan terjadi di
masa mendatang menurut penglihatannya yang
aneh dan tidak sempurna itu? Bisakah Alice
menebak apa yang dipikirkan Edward, mengapa ia
begitu muram? Apakah firasat ketakutan yang tak
mau enyah dari hatiku ini berdasar?
Pagi berlalu dengan lambat. Aku tak sabar ingin
bertemu Alice, walaupun tidak benar-benar bisa
bicara dengannya kalau Edward ada di sana.
Edward sendiri lebih banyak berdiam diri. Sesekali
ia menanyakan lenganku, dan aku menyahutinya
dengan berbohong.
Alice biasanya mendului kami makan siang; ia
tak perlu mengimbangi orang lelet seperti aku. Tapi
ia tak ada di meja, menunggu dengan nampan
penuh makanan yang tak akan dimakannya.
Edward tidak mengatakan apa-apa tentang
absennya Alice. Mulanya aku mengira kelasnya
belum selesai—sampai aku melihat Conner dan
Ben, yang sekelas dengannya di kelas bahasa
Prancis jam keempat.
"Mana Alice?" tanyaku pada Edward dengan
sikap waswas.
Edward memandangi granola bar yang
diremasnya pelan-pelan sebelum menjawab. "Dia
menemani Jasper."
"Jasper baik-baik saja?"
"Dia pergi dulu untuk sementara."
"Apa? Ke mana?"
Edward mengangkat bahu. "Tidak pasti ke
mana."
"Alice juga," kataku putus asa. Tentu saja, bila
Jasper membutuhkannya, Alice akan pergi.
“Ya. Dia pergi untuk sementara. Dia mencoba
meyakinkan Jasper untuk pergi ke Denali."
Denali adalah tempat sekumpulan vampir unik
lain—vampir baik seperti keluarga Cullen—tinggal.
Tanya dan keluarganya. Aku beberapa kali
mendengar tentang mereka. Edward pernah
bertemu mereka musim dingin lalu saat
kedatanganku ke Forks membuat hidupnya sulit.
Laurent, anggota paling beradab dalam kelompok
kecil James, memilih ke sana daripada berpihak
kepada James untuk melawan keluarga Cullen.
Masuk akal bila Alice mendorong Jasper untuk
pergi ke sana.
Aku menelan ludah, berusaha mengenyahkan
ganjalan yang tiba-tiba bersarang di
tenggorokanku. Perasaan bersalah membuat
kepalaku tertunduk dan bahuku terkulai. Aku
membuat mereka terusir dari rumah mereka
sendiri, seperti Rosalie dan Emmett. Aku benarbenar
wabah penyakit.
"Lenganmu sakit?" kata Edward dengan nada
bertanya.
"Siapa yang peduli dengan lengan tololku?"
sergahku jengkel.
Edward tidak menyahut, dan aku meletakkan
kepalaku di meja.
Usai sekolah, kebisuan semakin tak
tertahankan. Aku tak ingin menjadi orang yang
memecah kebisuan, tapi rupanya hanya itu satusatunya
pilihan kalau aku ingin ia bicara lagi
denganku.
"Kau datang nanti malam?" tanyaku ketika
Edward berjalanmengiringiku—sambil membisu—
ke trukku. Ia selalu datang.
"Nanti?"
Aku senang karena ia terlihat kaget. “Aku harus
kerja. Aku kan harus tukaran shift dengan Mrs.
Newton untuk bisa libur kemarin."
"Oh," gumam Edward.
"Jadi kau akan datang kalau aku sudah di
rumah, ya kan?" Aku tidak suka karena tiba-tiba
merasa tak yakin tentang hal ini.
"Kalau kau menginginkannya."
"Aku selalu menginginkanmu," aku
mengingatkannya, mungkin sedikit lebih
bersungguh-sungguh daripada seharusnya.
Aku mengira ia bakal tertawa, atau tersenyum,
atau setidaknya bereaksi terhadap kata-kataku.
"Baiklah kalau begitu," sahutnya tak acuh.
Edward mengecup keningku lagi sebelum
menutup pintu trukku. Lalu ia berbalik dan berlari
melompat dengan anggun ke mobilnya.
Aku masih sanggup menyetir trukku keluar dari
lapangan parkir sebelum kepanikan
menghantamku telak-telak, tapi aku sudah
kehabisan napas ketika sampai di Newton's.
Ia hanya butuh waktu, aku meyakinkan diriku
sendiri. Ia pasti bisa melupakannya. Mungkin ia
sedih karena keluarganya harus pergi. Tapi Alice
dan Jasper sebentar lagi kembali, begitu juga
Rosalie dan Emmett. Kalau perlu, aku akan
menjauh dulu dari rumah putih besar di tepi
sungai itu—aku tidak akan pernah menjejakkan
kaki lagi di sana. Bukan masalah. Aku tetap bisa
bertemu Alice di sekolah. Ia akan kembali
bersekolah, kan? Lagi pula, ia lebih sering berada
di rumahku. Ia tak mungkin tega menyakiti hati
Charlie dengan menjauhiku.
Tak diragukan lagi aku akan bertemu Carlisle
secara teratur—di UGD.
Bagaimanapun, kemarin tidak terjadi apa-apa.
Tidak terjadi apa-apa. Aku memang jatuh—tapi itu
kan sudah biasa. Dibandingkan musim semi lalu.
sepertinya ini tidak penting. James
meninggalkanku babak-belur dan nyaris mati
kehabisan darah—meski begitu Edward tabah
menjalani minggu demi minggu yang tak ada
akhirnya di rumah sakit jauh lebih baik daripada
ini. Apakah karena, kali ini, ia tidak melindungiku
dari serangan musuh? Melainkan dari saudaranya
sendiri?
Mungkin jauh lebih baik jika Edward
membawaku pergi saja, daripada keluarganya
tercerai berai seperti itu. Depresiku sedikit
berkurang waktu aku mulai membayangkan bisa
berduaan dengan Edward tanpa ada yang
mengganggu. Seandainya Edward bisa bertahan
sampai akhir tahun ajaran ini, Charlie takkan bisa
melarang. Kami bisa pergi ke luar kota untuk
kuliah, atau berpura-pura itulah yang kami
lakukan, seperti Rosalie dan Emmett tahun ini.
Tentu saja Edward bisa menunggu satu tahun. Apa
artinya satu tahun kalau kau bisa hidup
selamanya? Menurutku itu tidak terlalu berat.
Aku berhasil menabahkan diri hingga sanggup
turun dari truk dan berjalan ke toko. Hari ini Mike
Newton menduluiku datang ke sini, tersenyum dan
melambai waktu aku masuk. Kusambar rompiku,
mengangguk samar ke arahnya. Otakku masih
sibuk membayangkan berbagai skenario
menyenangkan tentang aku dan Edward yang
melarikan diri ke tempat-tempat eksotis.
Mike membuyarkan lamunanku. "Bagaimana
ulang tahun-mu?”
"Ugh," gumamku. "Aku senang itu sudah
berakhir."
Mike memandangiku dari sudut matanya,
seolah-olah aku sinting.
Waktu berjalan sangat lambat. Aku ingin
bertemu lagi dengan Edward, berdoa semoga ia
sudah bisa mengatasi saat-saat terburuknya, apa
pun itu, waktu aku bertemu lagi dengannya nanti.
Semua baik-baik saja, aku meyakinkan diri sendiri
berulang kali. Semua pasti akan normal lagi.
Kelegaan yang kurasakan waktu berbelok
memasuki kawasan tempat tinggalku dan melihat
mobil perak Edward terparkir di depan rumahku
sangat besar dan luar biasa. Dan itu membuatku
gelisah.
Aku bergegas masuk lewat pintu depan, berseru
sebelum benar-benar berada di dalam.
"Dad? Edward?"
Saat aku berseru, terdengar jelas alunan musik
acara SportsCenter yang ditayangkan ESPN
bergema dari ruang duduk.
"Di sini," Charlie menyahut.
Aku menggantungkan jas hujan dan bergegas
mengitari sudut ruangan.
Edward duduk di kursi, sementara ayahku di
sofa. Mata keduanya sama-sama tertuju ke layar
televisi. Fokus itu normal saja bagi ayahku. Tapi
tidak demikian halnya bagi Edward.
"Hai," sapaku lemah.
"Hai, Bella," sahut ayahku, matanya tak pernah
beralih dari layar televisi. "Kami baru saja makan
pizza dingin. Kalau tidak salah masih ada di meja"
"Oke."
Aku menunggu di ambang pintu. Akhirnya
Edward menoleh sambil tersenyum sopan.
"Sebentar lagi aku menyusul," janjinya. Matanya
beralih lagi ke televisi.
Sejenak aku hanya bisa bengong, shock. Tak
seorang pun di antara mereka sepertinya
menyadari hal itu. Aku bisa merasakan sesuatu,
mungkin kepanikan, bertumpuk di dadaku. Aku
kabur ke dapur.
Pizza-nja sama sekali tidak menarik
perhatianku. Aku duduk di kursi, melipat lutut,
dan memeluk kedua kakiku. Ada yang tidak beres,
mungkin lebih parah daripada yang kusadari.
Obrolan khas cowok terus berlanjut dari depan
layar televisi.
Aku berusaha mengendalikan diri, memberi
penjelasan masuk akal pada diriku. Hal paling
buruk apa yang bisa terjadi? Aku tersentak. Jelas
itu pertanyaan keliru. Sulit rasanya bernapas
dengan benar.
Oke, aku berpikir lagi, hal paling buruk apa yang
sanggup kuterima? Aku juga tidak terlalu
menyukai pertanyaan itu. Tapi aku memikirkan
berbagai kemungkinan yang kupertimbangkan hari
ini tadi.
Menjauh dari keluarga Edward. Tentu saja.
Edward tidak mungkin berharap Alice juga bakal
kujauhi. Tapi kalau Jasper tak bisa didekati,
berarti lebih sedikit waktu yang bisa kuhabiskan
bersama Alice. Aku mengangguk sendiri—itu bisa
kuterima.
Atau pergi dari sini. Mungkin Edward tak ingin
menunggu sampai akhir tahun ajaran, mungkin
harus sekarang juga.
Di hadapanku, di meja, tergeletak hadiahhadiahku
dari Charlie dan Renee yang
kutinggalkan di sana semalam. Kamera yang tak
sempat kugunakan di rumah keluarga Cullen
tergeletak di sebelah album. Sambil menarik napas
panjang kusentuh sampul depan album cantik
yang dihadiahkan ibuku padaku, teringat pada
Renee. Entah bagaimana, sekian lama hidup tanpa
ibuku tidak membuatku lantas bisa lebih mudah
menerima kemungkinan hidup terpisah selamanya
darinya.
Dan Charlie akan tinggal sendirian di sini,
ditinggalkan. Hati mereka bakal terluka...
Tapi kami akan kembali, bukan? Kami pasti
akan datang berkunjung, bukan begitu?
Aku tak bisa memastikan jawabannya.
Aku meletakkan pipiku ke lutut, memandangi
benda-benda yang menjadi ungkapan cinta kedua
orangtuaku. Aku tahu jalan yang kupilih ini bakal
sulit. Dan, bagaimanapun, aku memikirkan
skenario terburuk—yang paling buruk yang bisa
kuterima.
Aku menyentuh album itu lagi, membalikkan
sampul depannya. Sudut-sudut logam kecil sudah
tersedia di halaman dalam untuk meletakkan foto
pertama. Bagus juga idenya, merekam
kehidupanku di sini. Aku merasakan dorongan
yang aneh untuk mulai. Mungkin aku tak punya
waktu lama lagi di Forks.
Aku memainkan tali kamera, penasaran dengan
film pertama di dalamnya. Mungkinkah hasilnya
akan mendekati sosok aslinya? Aku
meragukannya. Tapi Edward tampaknya tidak
khawatir hasilnya bakal kosong. Aku terkekeh
sendiri, mengenang tawa lepasnya semalam.
Tawaku terhenti. Begitu banyak yang berubah, dan
begitu tiba-tiba. Membuatku merasa sedikit
pusing, seakan-akan aku berdiri di tepi tebing
curam yang sangat tinggi.
Aku tak ingin memikirkannya lagi. Kusambar
kameraku dan berjalan menuju tangga.
Kamarku tak banyak berubah dalam kurun
waktu tujuh belas tahun semenjak ibuku tinggal di
sini. Dinding-dindingnya masih berwarna biru
muda, tirai berenda menguning yang tergantung di
depan jendela juga masih sama. Sekarang di sana
ada tempat tidur, bukan boks. tapi Renee pasti
akan mengenalinya dari selimut quilt yang
terhampar berantakan di atasnya—itu hadiah dari
Gran.
Bagaimanapun, aku memotret kamarku. Tak
banyak lagi yang bisa kulakukan malam ini—di
luar sudah terlalu gelap—dan perasaan itu
semakin kuat, sekarang bahkan nyaris menjadi
keharusan. Aku akan merekam segala sesuatu
tentang Forks sebelum harus meninggalkannya.
Perubahan akan datang. Aku bisa
merasakannya. Bukan prospek menyenangkan,
tidak bila hidup saat ini sudah begitu sempurna.
Aku sengaja berlama-lama di kamar sebelum
turun lagi ke bawah, sambil menenteng kamera,
berusaha menepis kegelisahan yang berkecamuk di
hatiku, memikirkan jarak aneh yang tidak ingin
kulihat di mata Edward. Ia pasti bisa
mengatasinya. Mungkin ia khawatir aku bakal
kalut bila ia mengajakku pergi. Akan kubiarkan ia
mengatasi perasaannya tanpa ikut campur. Dan
aku akan siap bila nanti ia memintaku.
Aku sudah siap dengan kameraku waktu
menyelinap diam-diam ke ruang duduk. Aku yakin
tak mungkin Edward tidak menyadari
kehadiranku, tapi ia tetap tidak mendongak. Aku
merasakan tubuhku merinding saat perasaan
dingin menerpa perutku; kuabaikan perasaan itu
dan kuambil foto mereka.
Barulah mereka menoleh memandangku. Kening
Charlie berkerut. Wajah Edward kosong, tanpa
ekspresi.
"Apa-apaan sih kau, Bella?" protes Charlie.
“Oh, ayolah," Aku pura-pura tersenyum saat
beranjak duduk di lantai, persis di depan sofa
tempat Charlie berbaring santai. "Dad kan tahu
sebentar lagi Mom pasti menelepon untuk bertanya
apakah aku sudah memanfaatkan hadiahhadiahku.
Aku harus segera memulainya supaya
Mom tidak kecewa.
"Tapi mengapa kau memotretku?" gerutu
Charlie.
"Karena Dad ganteng sekali," jawabku, menjaga
agar nada suaraku tetap ringan. "Dan karena Dadlah
yang membeli kamera ini, maka Dad wajib
menjadi salah satu objeknya."
Charlie menggumamkan kata-kata yang tidak
jelas.
"Hei, Edward," kataku dengan lagak tak acuh
yang patut diacungi jempol. "Ambil fotoku bersama
ayahku."
Kulempar kamera itu padanya, sengaja
menghindari matanya, lalu berlutut di samping
lengan sofa yang dijadikan tumpuan kepala
Charlie. Charlie mendesah.
"Kau harus tersenyum, Bella," gumam Edward.
Aku menyunggingkan senyum terbaikku, dan
kamera menjepret.
"Sini kufoto kalian," Charlie mengusulkan. Aku
tahu ia hanya berusaha mengalihkan fokus kamera
dari dirinya.
Edward berdiri dan dengan enteng melemparkan
kamera itu kepada Charlie.
Aku bangkit dan berdiri di samping Edward, dan
pengaturan itu terasa formal dan asing bagiku.
Edward mengaitkan sebelah lengannya ke bahuku,
dan aku merangkul pinggangnya lebih erat. Aku
ingin menatap wajahnya, tapi tidak berani.
"Senyum, Bella," Charlie mengingatkanku lagi.
Aku menghela napas dalam-dalam dan
tersenyum. Lampu blitz seakan membutakan
mataku.
"Cukup sudah potret-memotretnya malam ini,"
kata Charlie kemudian, menjejalkan kamera ke
celah di antara bantal-bantal sofa, lalu berguling di
atasnya. "Kau tidak perlu menghabiskan satu rol
film sekarang juga."
Edward menurunkan tangannya dari bahuku
dan menggeliat melepaskan diri dengan sikap
kasual. Lalu ia duduk lagi di kursi.
Aku ragu, lalu duduk bersandar lagi di sofa.
Mendadak aku merasa sangar ketakutan sampaisampai
tanganku gemetar. Kutempelkan kedua
tanganku ke perut untuk menyembunyikannya,
meletakkan daguku ke lutut dan memandangi
layar televisi di depanku, tak melihat apa-apa.
Setelah acara berakhir, aku bergeming di tempat
duduk. Dari sudut mata kulihat Edward berdiri.
"Sebaiknya aku pulang," katanya.
Charlie tidak mengangkat wajah dari tayangan
iklan. "Sampai ketemu lagi."
Aku berdiri dengan sikap canggung—tubuhku
kaku setelah duduk diam sekian lama—lalu
mengikuti Edward ke pintu depan. Ia langsung ke
mobilnya.
"Kau menginap tidak?'" tanyaku, tanpa ada
harapan dalam suaraku.
Aku sudah bisa menebak jawabannya, jadi
rasanya tidak terlalu menyakitkan.
"Tidak malam ini."
Aku tidak menanyakan alasannya.
Edward naik ke mobilnya dan menderu pergi
sementara aku berdiri di sana, tak bergerak. Aku
nyaris tak sadar hujan telah turun. Aku
menunggu, tanpa tahu apa yang kutunggu, sampai
pintu di belakangku terbuka.
"Bella, kau ngapain?" tanya Charlie, terkejut
melihatku berdiri sendirian di sana, air hujan
menetes-netes membasahi tubuhku.
“Tidak sedang apa-apa."' Aku berbalik dan
terseok-seok kembali ke rumah.
Malam itu sangat panjang, aku nyaris tak bisa
beristirahat.
Aku bangun segera setelah matahari
membiaskan cahaya pertamanya di luar jendela
kamarku. Seperti robot aku bersiap-siap ke
sekolah, menunggu langit terang. Setelah makan
semangkuk sereal, aku memutuskan sekarang
sudah cukup terang untuk memotret. Aku
memotret trukku, lalu bagian depan rumah. Aku
berbalik dan menjepret hutan di dekat rumah
Charlie beberapa kali. Lucu juga bagaimana hutan
itu tak lagi terasa mengancam seperti dulu.
Sadarlah aku bahwa aku akan sangat kehilangan
ini semua—kehijauan, keabadian, kemisteriusan
hutan ini. Semuanya.
Aku memasukkan kamera ke tas sekolah
sebelum berangkat. Kucoba memusatkan pikiran
pada proyek baruku, bukan pada fakta bahwa
Edward ternyata belum berhasil mengatasi
kegalauan hatinya sepanjang malam.
Selain takut, aku mulai tidak sabar. Sampai
berapa lama lagi ini akan berlangsung?
Kebisuan itu berlangsung sepanjang pagi.
Edward berjalan di sampingku, bungkam seribu
bahasa, sepertinya tak pernah benar-benar
menatapku. Aku mencoba berkonsentrasi pada
pelajaran-pelajaranku, tapi bahkan bahasa Inggris
pun tak mampu menarik perhatianku. Mr. Berty
sampai harus dua kali mengulang pertanyaan
tentang Lady Capulet sebelum aku sadar ia
menujukan pertanyaan itu padaku. Edward
membisikkan jawaban yang benar dengan suara
pelan, lalu kembali mengabaikanku.
Saat makan siang, kebisuan terus berlanjut.
Rasanya aku seperti hendak menjerit setiap saat,
jadi, untuk mengalihkan pikiran aku
mencondongkan badan, melanggar garis batas tak
kasatmata, dan berbicara pada Jessica.
"Hei, Jess?"
“Ada apa, Bella?"
"Boleh aku minta tolong?" tanyaku, merogoh
tasku. “Ibuku ingin aku memotret teman-temanku
untuk albumku. Jadi tolong potretkan semua
orang, ya?” Kuulurkan kamera itu padanya.
"Tentu." jawabnya, nyengir, lalu berpaling untuk
menjepret Mike yang mulutnya sedang penuh
makanan.
Sudah bisa ditebak, perang potret pun terjadi.
Kulihat mereka mengedarkan kamera ke sekeliling
meja, tertawa terbahak-bahak, berpose, dan
mengeluh karena difoto dalam keadaan jelek.
Anehnya, tingkah mereka terasa kekanak-kanakan
bagiku. Mungkin aku saja yang sedang tidak mood
untuk bersikap layaknya manusia normal hari ini.
"Waduh," kata Jessica dengan nada meminta
maaf saat mengembalikan kamera padaku.
"Sepertinya kami menghabiskan filmmu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah memotret semua
yang perlu kupotret kok."
Usai sekolah, Edward mengantarku ke lapangan
parkir sambil membisu. Aku harus bekerja lagi,
dan sekali ini aku justru merasa senang.
Bersamaku ternyata tidak membantu memperbaiki
keadaan. Mungkin kalau ia sendirian justru akan
membuat suasana hatinya lebih baik.
Aku memasukkan filmku ke Thriftway dalam
perjalanan ke Newton's, kemudian mengambil fotofoto
yang sudah dicuci cetak sepulang kerja. Di
rumah aku menyapa Charlie sekilas, menyambar
sebungkus granola bar dari dapur, lalu bergegas
masuk ke kamar sambil mengempit amplop berisi
foto-foto itu.
Aku duduk di tengah ranjang dan membuka
amplop itu dengan sikap ingin tahu bercampur
waswas. Konyolnya, aku masih separo berharap
foto pertama akan menampilkan bidang kosong.
Waktu mengeluarkannya, aku terkesiap dengan
suara keras. Edward tampak sama tampannya
dengan aslinya, menatapku dengan sorot hangat
yang kurindukan beberapa hari belakangan ini.
Sungguh luar biasa bagaimana seseorang bisa
tampak begitu... begitu... tak terlukiskan. Seribu
kata pun takkan mampu menandingi foto ini.
Dengan cepat aku melihat-lihat sekilas foto lain
dalam tumpukan, lalu menjejerkan tiga di
antaranya di tempat tidur.
Foto pertama adalah foto Edward di dapur, sorot
matanya yang hangat memancarkan kegembiraan.
Foto kedua adalah foto Edward dan Charlie,
menonton ESPN. Perbedaan ekspresi Edward
tampak nyata. Sorot matanya tampak hati-hati di
sini, tidak ramah. Masih tetap sangat tampan,
namun wajahnya terkesan lebih dingin, lebih
menyerupai patung, kurang hidup.
Terakhir foto Edward dan aku berdiri
berdampingan dengan sikap canggung. Wajah
Edward sama seperti dalam foto terakhir, dingin
dan menyerupai patung. Kekontrasan di antara
kami sangat menyakitkan. Ia tampak bagai dewa.
Aku tampak sangat biasa, bahkan untuk ukuran
manusia, nyaris polos. Kubalik foto itu dengan
perasaan jijik.
Bukannya mengerjakan PR, aku malah begadang
untuk memasukkan foto-foto itu ke album. Dengan
bolpoin aku membuat catatan di bawah semua
foto, nama-nama dan tanggalnya. Aku sampai pada
foto Edward dan aku, dan, tanpa memandanginya
terlalu lama, melipatnya jadi dua dan
menyelipkannya ke sudut logam, sisi Edward
menghadap ke atas.
Setelah selesai, aku menjejalkan tumpukan foto
kedua ke amplop yang masih baru, lalu menulis
surat terima kasih yang panjang untuk Renee.
Edward masih belum datang juga. Aku tak ingin
mengakui dialah alasanku begadang hingga larut
begini. Aku berusaha mengingat kapan terakhir
kali ia tidak datang, tanpa alasan, tanpa
menelepon... Ternyata tidak pernah. Lagi-lagi, aku
tak bisa tidur nyenyak. Sama seperti dua hari
sebelumnya, suasana di sekolah juga tetap penuh
kebisuan yang menegangkan dan membuat
frustrasi. Aku lega waktu melihat Edward
menungguku di lapangan parkir, tapi kelegaan itu
sirna dengan cepat. Tak ada perubahan dalam
dirinya, kecuali mungkin ia lebih menjauh.
Sulit rasanya mengingat alasan dari semua
kekacauan ini. Hari ulang tahunku rasanya telah
lama berselang. Kalau saja Alice kembali. Segera.
Sebelum keadaan jadi makin tak terkendali lagi.
Tapi aku tak bisa bergantung pada hal itu. Aku
sudah memutuskan kalau aku tak bisa bicara
dengan Edward hari ini, benar-benar bicara, aku
akan menemui Carlisle besok. Aku harus
melakukan sesuatu.
Sepulang sekolah Edward dan aku akan
membicarakannya sampai tuntas, aku berjanji
pada diriku sendiri. Aku tak mau menerima alasan
apa pun.
Edward mengantarku ke trukku, dan aku
menguatkan diri untuk melontarkan tuntutan.
"Keberatan tidak kalau aku datang ke rumahmu
hari ini?" tanya Edward sebelum kami sampai ke
truk, menduluiku.
"Tentu saja tidak."
"Sekarang?" tanya Edward lagi, membukakan
pintu untukku.
“Tentu," aku menjaga suaraku tetap datar,
walaupun tidak menyukai nada mendesak dalam
suaranya. "Aku hanya akan memasukkan surat
untuk Renee ke bus surat dalam perjalanan
pulang. Sampai ketemu di rumah."
Edward memandangi amplop tebal di jok trukku.
Tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan
menyambarnya.
"Biar aku saja" ujarnya pelan. "Dan aku akan
tetap lebih cepat sampai di rumah daripada kau."
Ia menyunggingkan senyum separo favoritku, tapi
kesannya lain. Matanya tidak memancarkan
senyum itu.
"Oke," aku setuju, tak mampu membalas
senyumnya. Edward menutup pintu, lalu berjalan
ke mobilnya.
Memang benar Edward sampai lebih dulu di
rumahku. Ia sudah memarkir mobilnya di tempat
Charlie biasa parkir waktu aku menghentikan
trukku di depan rumah. Itu pertanda buruk.
Berarti ia tidak berniat lama-lama di rumahku.
Aku menggeleng dan menghela napas dalamdalam,
berusaha menabahkan hati.
Edward turun dari mobil waktu aku keluar dari
trukku, lalu berjalan menghampiriku. Ia
mengulurkan tangan, mengambil tasku. Itu
normal. Tapi ia menyurukkannya lagi ke jok truk.
Itu tidak normal.
"Ayo jalan-jalan denganku," ajaknya, suaranya
tanpa emosi. Ia meraih tanganku.
Aku tidak menjawab. Aku tak punya alasan
untuk memprotes, tapi aku langsung tahu apa
yang kuinginkan. Aku tidak menyukainya. Ini
gawat, ini benar-benar gawat, suara di kepalaku
berkata berulang-ulang.
Tapi Edward tidak menunggu jawabanku.
Ditariknya aku ke sisi timur halaman, tempat
hutan berbatasan dengan halaman. Aku
mengikutinya meski dalam hati menolak, berusaha
berpikir di sela-sela kepanikan yang melandaku.
Inilah yang kuinginkan, aku mengingatkan diriku
sendiri. Kesempatan untuk membicarakannya
sampai tuntas. Jadi mengapa kepanikan ini
mencekikku?
Kami baru beberapa langkah memasuki
pepohonan ketika Edward berhenti. Kami bahkan
belum sampai di jalan setapak—aku masih bisa
melihat rumahku.
Begini kok dibilang jalan-jalan.
Edward bersandar di pohon dan memandangiku,
ekspresinya tak terbaca.
“Oke, ayo kita bicara," kataku. Nada suaraku
terdengar lebih berani daripada yang sebenarnya
kurasakan.
Edward menghela napas dalam-dalam.
"Bella, kami akan pergi."
Aku juga menghela napas dalam-dalam.
Kusangka aku sudah siap. Tapi tetap saja aku
bertanya.
"Mengapa sekarang? Setahun lagi—"
"Bella, sudah saatnya. Lagi pula, berapa lama
lagi kami bisa bertahan di Forks? Carlisle tidak
tampak seperti sudah berumur tiga puluh tahun,
apalagi dia mengaku sekarang usianya 33. Kami
harus memulai dari awal lagi secepatnya,
bagaimanapun juga"
Jawaban Edward membuatku bingung. Aku
memandanginya, berusaha memahami
maksudnya. Ia balas menatapku dingin.
Dengan perasaan mual, aku pun memahami
maksudnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala,
berusaha menjernihkan pikiran. Edward
menunggu tanpa sedikit pun tanda tidak sabar.
Butuh beberapa menit baru aku bisa bicara.
"Oke," kataku. "Aku ikut."
"Tidak bisa, Bella. Ke mana kami akan pergi...
itu bukan tempat yang tepat untukmu."
"Di mana kau berada, di situlah tempat yang
tepat untukku."
"Aku tidak baik untukmu, Bella."
"Jangan konyol," Aku ingin terdengar marah,
tapi kedengarannya malah seperti memohon. "Kau
hal terbaik dalam hidupku."
"Duniaku bukan untukmu," ucap Edward
muram.
"Apa yang terjadi pada Jasper—itu bukan apaapa,
Edward! Bukan apa-apa!"
"Kau benar," Edward sependapat. "Persis seperti
itulah yang bakal terjadi."
"Kau sudah berjanji! Di Phoenix, kau berjanji
kau akan tinggal—"
"Sepanjang itu yang terbaik untukmu," Edward
mengoreksiku.
"Tidak! Ini masalah jiwaku, kan?" aku berteriak,
marah, kata-kata berhamburan dari mulutku—
namun entah bagaimana tetap saja terdengar
seperti memohon-mohon. "Carlisle memberi
tahuku, dan aku tidak peduli, Edward. Aku tidak
peduli! Ambil saja jiwaku. Aku tidak
menginginkannya tanpa kau—itu sudah jadi
milikmu!"
Edward menarik napas dalam-dalam dan
beberapa saat menerawang menatap tanah. Waktu
akhirnya ia mendongak, matanya tampak berbeda,
lebih keras—seperti emas cair yang membeku
keras.
"Bella, aku tidak ingin kau ikut denganku."
Edward mengucapkan kata-kata itu lambat-lambat
dan jelas, matanya yang dingin menatap wajahku,
memerhatikan sementara aku menyerap semua
perkataannya.
Sunyi sejenak saat aku mengulangi kata-kata itu
berkali-kali dalam pikiranku, memilah-milah untuk
mendapatkan maksud sesungguhnya.
"Kau... tidak... menginginkanku?" Aku mencoba
mengucapkan kata-kata itu, bingung
mendengarnya diucapkan dalam urutan seperti itu.
"Tidak."
Kutatap matanya, tak mengerti. Edward balas
menatapku tanpa ampun. Matanya bagai topaz—
keras dan jernih dan sangat dalam. Aku merasa
seolah-olah bisa memandang ke dalamnya hingga
berkilo-kilometer jauhnya, namun di kedalaman
tak berdasar itu aku tidak melihat adanya
kontradiksi dari kata yang diucapkannya tadi.
“Well, itu mengubah semuanya." Aku terkejut
mendengar nada suaraku yang kalem dan tenang.
Pasti karena perasaanku sudah mati rasa. Aku
tidak menyadari apa yang ia katakan padaku. Itu
masih tetap tak masuk akal.
Edward mengalihkan pandangan ke pepohonan
saat bicara lagi. "Tentu saja, aku akan selalu
mencintaimu... sedikit-banyak. Tapi peristiwa
malam itu membuatku sadar, sekaranglah saatnya
berubah. Karena aku... lelah berpura-pura menjadi
sesuatu yang bukan diriku, Bella. Aku bukan
manusia." Edward menatapku lagi, bagian-bagian
dingin wajahnya yang sempurna memang bukan
manusia. "Aku membiarkan ini berlangsung terlalu
lama, dan aku minta maaf untuk itu."
"Jangan." Suaraku kini hanya berupa bisikan;
kesadaran mulai meresapiku, menetes-netes bagai
asam dalam pembuluh darahku. "Jangan lakukan
ini."
Edward hanya menatapku, dan kelihatan dari
matanya kata-kataku sudah terlambat. Ia sudah
melakukannya. "Kau tidak baik untukku, Bella."
Edward membalikkan kata-kata yang
diucapkannya tadi, jadi aku tak bisa
membantahnya. Aku tahu benar aku tidak cukup
baik baginya.
Aku membuka mulut untuk mengatakan
sesuatu, kemudian menutupnya lagi. Edward
menunggu dengan sabar, wajahnya bersih dari
segala emosi. Kucoba sekali lagi.
"Kalau... kalau memang itu yang kauinginkan."
Edward mengangguk satu kali.
Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Aku tak bisa
merasakan apa-apa dari leher ke bawah.
"Tapi aku ingin meminta sesuatu, kalau boleh,"
katanya.
Entah apa yang dilihatnya di wajahku, karena
sesuatu berkelebat di wajahnya sebagai respons.
Tapi sebelum aku sempat memahaminya, ia telah
mengubah ekspresinya menjadi topeng tenang yang
sama.
"Apa saja," aku bersumpah, suaraku sedikit
lebih kuat.
Sementara aku menatapnya, mata beku Edward
mencair. Emas itu berubah menjadi cair lagi,
melebur, membakar mataku dengan kekuatan
teramat besar.
"Jangan lakukan sesuatu yang ceroboh atau
tolol," perintahnya, tak lagi dingin. "Kau mengerti
maksudku?"
Aku mengangguk tak berdaya.
Mata Edward mendingin, sikap menjaga
jaraknya kembali lagi. "Aku memikirkan Charlie,
tentu saja. Dia membutuhkanmu. Jaga dirimu
baik-baik—demi dia."
Lagi-lagi aku mengangguk. "Baiklah," bisikku.
Edward tampak rileks sedikit.
"Dan aku akan menjanjikan sesuatu padamu
sebagai balasannya," katanya. "Aku berjanji ini kali
terakhir kau bertemu denganku. Aku tidak akan
kembali. Aku tidak akan menyulitkanmu lagi. Kau
bisa melanjutkan hidupmu tanpa gangguan dariku
lagi. Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak
pernah ada."
Lututku pasti mulai gemetar, karena pohonpohon
mendadak bergoyang. Bisa kudengar darah
menderas lebih cepat di belakang telingaku. Suara
Edward terdengar semakin jauh.
Edward tersenyum lembut. "Jangan khawatir.
Kau manusia—ingatanmu tak lebih dari sekadar
saringan. Waktu akan menyembuhkan semua luka
bagi jenismu."
"Kalau ingatanmu?" tanyaku. Kedengarannya
seperti ada yang menyumbat tenggorokanku,
seolah-olah aku tersedak.
"Well—“ Edward ragu-ragu selama satu detik
yang singkat—"aku tidak akan lupa. Tapi jenisku...
kami sangat mudah dialihkan perhatiannya." Ia
tersenyum, senyumnya tenang dan tidak
menyentuh matanya.
Edward mundur selangkah menjauhiku. "Aku
sudah mengatakan semuanya, kurasa. Kami tidak
akan mengganggumu lagi."
Kata "kami" yang ia ucapkan menggugah
perhatianku. Itu membuatku terkejut; kusangka
aku sudah tak bisa menyadari apa pun lagi.
"Alice tidak akan kembali," aku tersadar. Entah
bagaimana Edward bisa mendengarku—mulutku
tidak mengeluarkan suara—tapi sepertinya ia
mengerti.
Ia menggeleng pelan, matanya tak pernah lepas
dari wajahku.
“Tidak. Mereka semua sudah pergi. Aku tetap
tinggal untuk berpamitan denganmu."
"Alice sudah pergi?" Suaraku hampa oleh rasa
tak percaya.
"Sebenarnya dia ingin berpamitan, tapi aku
meyakinkan dia, perpisahan seketika justru lebih
baik bagimu."
Kepalaku pusing; sulit rasanya berkonsentrasi.
Kata-kata Edward berputar-putar dalam pikiranku,
dan aku seperti mendengar dokter di rumah sakit
di Phoenix, musim semi lalu, saat menunjukkan
hasil foto rontgen padaku. Kelihatan kan kalau
patahnya tiba-tiba, jarinya menelusuri foto
tulangku yang patah. Itu bagus. Dengan begitu
bisa sembuh lebih mudah, lebih cepat.
Aku berusaha bernapas normal. Aku perlu
berkonsentrasi, mencari jalan keluar dari mimpi
buruk ini.
"Selamat tinggal, Bella," kata Edward, suaranya
tetap tenang dan damai.
"Tunggu!" aku tersedak oleh kata itu,
menggapainya, memerintahkan kakiku yang terasa
berat untuk membawaku maju.
Kusangka Edward juga mengulurkan tangan
untuk menggapaiku. Tapi tangannya yang dingin
mencengkeram pergelangan tanganku dan
merapatkannya ke sisi kiri dan kanan tubuhku. Ia
membungkuk, dan menempelkan bibirnya sekilas
ke dahiku, sangat sebentar. Mataku terpejam.
"Jaga dirimu baik-baik," desahnya, rasa dingin
menerpa kulitku.
Terasa tiupan angin sekilas yang tidak wajar.
Mataku terbuka. Daun-daun pohon maple bergetar
oleh embusan angin pelan yang menandai
kepergiannya.
Ia sudah pergi.
Dengan kaki gemetar, mengabaikan fakta bahwa
tindakanku itu tak ada gunanya, aku berjalan
mengikutinya memasuki hutan. Bukti
kepergiannya langsung lenyap. Tak ada jejak kaki,
daun-daun diam kembali, tapi aku terus berjalan
tanpa berpikir. Aku tak sanggup melakukan hal
lain. Aku harus terus bergerak. Kalau aku berhenti
mencarinya, semua berakhir.
Cinta, hidup, makna... berakhir.
Aku berjalan dan berjalan. Waktu tak ada
artinya lagi bagiku sementara aku berjalan pelan
menembus semak belukar. Berjam-jam telah
berlalu, tapi rasanya baru beberapa detik. Mungkin
waktu terasa membeku karena hutan tampak
sama tak pedulinya betapapun jauhnya aku
melangkah. Aku mulai khawatir aku hanya
berputar-putar dalam lingkaran, lingkaran yang
sangat kecil, tapi aku terus berjalan. Sering kali
aku tersandung, dan, setelah hari makin gelap,
aku juga sering terjatuh.
Akhirnya aku tersandung sesuatu—karena
sekarang sudah gelap gulita, aku tak tahu benda
apa yang membuatku tersandung—dan tak bisa
bangkit lagi. Aku berguling ke samping, supaya
bisa bernapas, dan bergelung di rerumputan yang
basah.
Sementara aku berbaring di sana, aku merasa
waktu terus berjalan tanpa aku menyadarinya. Aku
tak ingat berapa lama waktu telah berlalu
semenjak malam turun. Apakah di sini selalu
segelap ini di malam hari? Padahal seharusnya ada
sedikit cahaya bulan yang menerobos gumpalan
awan, bersinar menembus kanopi pepohonan, dan
menerpa tanah.
Tapi malam ini tidak. Malam ini langit hitam
pekat. Mungkin tak ada bulan malam ini—
mungkin ada gerhana bulan, bulan baru.
Bulan baru. Aku gemetaran, meski tidak
kedinginan.
Hitam pekat untuk waktu yang sangat lama
sebelum aku mendengar mereka memanggilmanggil.
Seseorang meneriakkan namaku. Sayup-sayup
dan teredam tetumbuhan basah yang
mengelilingiku, tapi itu jelas namaku. Aku tidak
mengenali suara itu. Terpikir olehku untuk
menjawab, tapi aku linglung, dan butuh waktu
lama untuk menyimpulkan aku sebaiknya
menjawab. Saat itu. teriakan itu sudah berhenti.
Beberapa saat kemudian hujan
membangunkanku. Kurasa aku tidak benar-benar
tertidur; aku hanya terhanyut dalam kondisi tak
sadar dan tak bisa berpikir, bertahan dengan
segenap kekuatan ke perasaan kebas yang
membuatku tak bisa menyadari apa yang tak ingin
kuketahui.
Hujan sedikit membuatku gelisah. Aku
menggigil. Kubuka belitan tanganku yang
melingkari lutut untuk menutupi wajah.
Saat itulah aku mendengar teriakan itu lagi. Kali
ini lebih jauh, dan kadang-kadang terdengar
seperti beberapa suara berteriak bersama-sama.
Aku mencoba menghela napas dalam-dalam. Aku
ingat seharusnya aku menyahut, tapi kukira
mereka takkan bisa mendengarku. Sanggupkah
aku berteriak cukup lantang?
Tiba-tiba terdengar suara lain, mengagetkanku
karena cukup dekat. Seperti mendengus-dengus,
suara binatang. Kedengarannya binatang besar.
Dalam hati aku bertanya-tanya apakah seharusnya
aku merasa takut. Aku tidak takut—cuma mati
rasa. Itu bukan masalah. Dengusan itu pergi.
Hujan terus turun, dan bisa kurasakan air
menggenang di pipiku. Saat sedang berusaha
mengumpulkan kekuatan untuk memalingkan
kepala, kulihat seberkas cahaya.
Awalnya hanya kilau samar yang memantul di
semak-semak di kejauhan. Cahaya itu semakin
lama semakin terang, menyinari bidang besar,
tidak seperti lampu senter yang menyorot lurus.
Cahaya itu menembus semak terdekat, dan
ternyata cahaya itu berasal dari lentera propane,
tapi hanya itu yang bisa kulihat—
kecemerlangannya sesaat membutakanku.
"Bella."
Suara itu berat dan tidak kukenal, tapi bernada
mengenali. Ia tidak memanggil namaku untuk
mencari, tapi memberi tahu bahwa aku sudah
ditemukan.
Aku menengadah—tinggi sekali rasanya—ke
seraut wajah gelap yang kini bisa kulihat
menjulang tinggi di atasku. Samar-samar aku
sadar orang asing itu mungkin hanya terlihat
sangat tinggi karena kepalaku masih tergeletak di
tanah.
"Kau dilukai?"
Aku tahu kata-kata itu berarti sesuatu, tapi aku
hanya bisa memandanginya, bingung. Apa artinya
pengertian pada saat seperti ini?
"Bella, namaku Sam Uley."
Namanya sama sekali asing.
"Charlie menyuruhku mencarimu."
Charlie? Nama itu menggugahku, dan aku
berusaha lebih menyimak perkataannya. Charlie
berarti sesuatu, kalaupun yang lain tidak.
Lelaki jangkung itu mengulurkan tangan.
Kutatap tangan itu, tak yakin harus melakukan
apa.
Mata hitamnya menilaiku sedetik, kemudian ia
mengangkat bahu. Dengan gerakan cepat dan
luwes, ia mengangkatku dari tanah dan
membopongku.
Aku terkulai dalam gendongannya, lemas,
sementara lelaki itu berjalan melompat-lompat
dengan tangkas menembus hutan yang basah.
Sebagian diriku tahu seharusnya ini membuatku
marah—dibopong orang asing. Tapi aku sudah tak
punya tenaga lagi untuk marah.
Rasanya sebentar saja sudah tampak lampulampu
dan dengungan berat suara kaum lelaki.
Sam Uley memperlambat langkah saat mendekati
kerumunan.
"Aku menemukannya!" serunya, suaranya
menggelegar.
Dengungan itu terhenti, dan mulai lagi sejurus
kemudian dengan lebih keras. Wajah-wajah
berputar membingungkan di atas kepalaku. Hanya
suara Sam yang masuk akal di tengah kekacauan
itu, mungkin karena telingaku menempel di
dadanya.
"Tidak, kurasa dia tidak cedera," katanya pada
seseorang. "Dia hanya terus-menerus berkata 'Dia
sudah pergi’."
Apakah aku mengatakannya dengan suara
keras? Kugigit bibirku.
"Bella, Sayang, kau baik-baik saja?"
Itu suara yang pasti akan kukenali di mana
pun—bahkan saat suaranya sarat oleh perasaan
khawatir seperti sekarang ini.
"Charlie?" Suaraku terdengar asing dan kecil.
"Aku di sini, Sayang"
Aku merasa tubuhku dipindahkan, dan sejurus
kemudian, aku bisa mencium bau khas jaket
sheriff ayahku yang terbuat dari kulit. Charlie
terhuyung-huyung menggendongku.
"Mungkin sebaiknya aku saja yang
membopongnya," Sam Uley menyarankan.
"Tidak perlu," jawab Charlie, agak terengah.
Ia berjalan pelan-pelan, tersaruk-saruk. Kalau
saja aku bisa mengatakan padanya untuk
menurunkanku dan membiarkan aku berjalan
sendiri, tapi tak ada suara yang keluar dari
kerongkonganku.
Di mana-mana ada lampu, dipegang
segerombolan orang yang berjalan bersamanya.
Rasanya seperti pawai. Atau prosesi pemakaman.
Aku memejamkan mata.
"Kita sudah hampir sampai di rumah, Sayang,”
sesekali Charlie bergumam.
Kubuka mataku lagi waktu kudengar kunci
pintu diputar.
Kami di teras rumah, dan lelaki gelap jangkung
bernama Sam memegang pintu untuk Charlie.
sebelah tangan terulur ke arah kami, seolah
bersiap-siap menangkapku bila lengan Charlie tak
kuat lagi membopongku.
Tapi Charlie berhasil menggendongku melewati
pintu dan membaringkanku di sofa ruang duduk.
"Dad, aku basah kuyup," sergahku lemah.
"Tidak apa-apa." Suaranya serak. Kemudian ia
berbicara pada seseorang. "Selimut-selimut ada di
dalam lemari di puncak tangga."
"Bella?'' tanya sebuah suara baru. Aku
memandangi lelaki berambut kelabu yang
membungkuk di atasku, dan baru mengenalinya
setelah beberapa detik yang berlalu teramat
lamban.
"Dr. Gerandy?" gumamku.
"Benar, Sayang" jawab lelaki itu. "Kau terluka,
Bella?"
Butuh semenit untuk benar-benar
memikirkannya. Aku bingung karena teringat
pertanyaan sama yang diajukan Sam Uley di hutan
tadi. Hanya saja Sam menanyakannya secara
berbeda: Kau dilukai? tanyanya tadi. Perbedaannya
jelas sekali sekarang.
Dr. Gerandy menunggu. Sebelah alisnya yang
beruban terangkat, dan kerutan di dahinya
semakin dalam.
“Aku tidak apa-apa," dustaku. Kata-kata itu
cukup benar untuk menjawab pertanyaannya.
Tangannya yang hangat menyentuh dahiku, dan
jari-jarinya menekan bagian dalam pergelangan
tanganku. Kulihat bibirnya bergerak-gerak saat ia
menghitung, matanya tertuju pada jam tangan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya, nadanya
biasa-biasa saja.
Aku membeku dalam genggaman tangannya,
kurasakan perasaan panik di pangkal
tenggorokanku.
"Kau tersesat di hutan?" desak si dokter. Aku
menyadari beberapa orang ikut mendengarkan.
Tiga lelaki jangkung berwajah gelap—dari La Push,
reservasi Indian Quileute di sepanjang garis pantai,
kalau tidak salah—Sam Uley salah satunya, berdiri
berimpitan memandangiku. Mr. Newton ada di
sana bersama Mike dan Mr. Weber, ayah Angela;
mereka memandangiku, tidak terang-terangan
seperti orang-orang asing itu. Suara-suara berat
lain berdengung dari arah dapur dan di luar pintu
depan. Setengah isi kota pastilah mencariku tadi.
Charlie berada paling dekat denganku. Ia
mencondongkan tubuh untuk mendengar
jawabanku.
"Ya," bisikku. "Aku tersesat."
Dokter mengangguk, berpikir, jari-jarinya
dengan lembut memeriksa kelenjar di bawah
daguku. Wajah Charlie mengeras.
"Kau lelah?" dr. Gerandy bertanya.
Aku mengangguk dan memejam dengan patuh.
"Menurutku tak ada yang mengkhawatirkan,"
kudengar dokter itu bicara pelan pada Charlie
beberapa saat kemudian. "Hanya kelelahan.
Biarkan dia tidur untuk memulihkan kekuatan.
Besok aku datang untuk mengecek keadaannya."
Dokter terdiam sebentar. Ia pasti melihat jam
tangannya karena lalu menambahkan, "Well, hari
ini maksudku."
Terdengar suara berderit saat mereka samasama
bangkit dari sofa.
"Apakah benar?" bisik Charlie. Suara-suara
mereka terdengar lebih jauh sekarang. "Mereka
sudah pergi?"
"Dr. Cullen meminta kami untuk tidak
mengatakan apa-apa," dr. Gerandy menjawab.
"Tawaran itu datang sangat tiba-tiba; mereka harus
segera memilih. Carlisle tidak ingin ke
pindahannya diributkan.
"Pemberitahuan singkat kan tak ada salahnya,"
gerutu Charlie.
Suara dr. Gerandy terdengar tidak enak waktu ia
menimpali. "Ya, Well, dalam situasi ini, ada
baiknya bila memberi peringatan.”
Aku tidak mau mendengar lagi. Aku merabaraba,
mencari pinggiran selimut yang dihamparkan
seseorang di atas tubuhku, lalu menariknya hingga
menutupi telinga.
Kesadaranku hilang-timbul. Aku mendengar
Charlie mengucapkan terima kasih dengan suara
berbisik pada para sukarelawan saat satu demi
satu mereka pulang. Aku merasakan jemarinya
membelai dahiku, disusul kemudian dengan
dihamparkannya selimut lain. Telepon berdering
beberapa kali, dan ia bergegas menjawabnya
sebelum bunyi deringan membangunkanku. Ia
menjawab kekhawatiran para penelepon dengan
suara pelan.
"Yeah, kami sudah menemukannya. Dia tidak
apa-apa. Tersesat. Sekarang dia baik-baik saja,"
begitu kata Charlie berkali-kali.
Aku mendengar per-per kursi berderit saat ia
duduk di sana untuk menjagaku.
Beberapa menit kemudian telepon kembali
berdering.
Charlie mengerang saat bangkit dari kursinya
dengan susah payah, kemudian menghambur,
tersaruk-saruk, menuju dapur. Kubenamkan
kepalaku lebih dalam ke bawah selimut, tak ingin
mendengarkan pembicaraan yang sama lagi.
"Yeah," jawab Charlie, menguap.
Suaranya berubah, terdengar jauh lebih
waspada saat ia bicara lagi. "Di mana?" Sejenak ia
terdiam. "Kau yakin itu di luar reservasi?" Terdiam
lagi. "Tapi apa yang bisa terbakar di sana?"
Suaranya terdengar waswas bercampur bingung.
"Dengar, aku akan ke sana dan mengeceknya."
Aku mendengarkan, semakin tertarik, sementara
Charlie menekan serangkaian nomor di telepon.
"Hei, Billy, ini Charlie—maaf menelepon sedini
ini... tidak, dia baik-baik saja. Sekarang dia tidur...
Trims, tapi bukan itu alasanku menelepon. Aku
baru saja ditelepon Mrs. Stanley, dan katanya dari
jendela tingkat dua rumahnya, dia bisa melihat api
berkobar di tebing-tebing laut, tapi aku tidak
benar-benar... Oh!" Mendadak suaranya berubah—
nadanya terdengar jengkel... atau marah. "Dan
mengapa mereka berbuat begitu? He eh.
Benarkah?" Charlie mengucapkannya dengan nada
sarkastis. "Well, jangan meminta maaf padaku.
Yeah, yeah. Pastikan apinya tidak menjalar ke
mana-mana... Aku tahu, aku tahu, aku hanya
heran mereka bisa menyalakannya di cuaca seperti
ini."
Charlie ragu-ragu sejenak, lalu dengan enggan
menambahkan, "Terima kasih sudah mengirim
Sam dan anak-anak lain ke sini. Kau benar—
mereka memang lebih mengenal kondisi hutan
daripada kami. Sam-lah yang menemukannya, jadi
aku berutang budi padamu... Yeah, kita bicara lagi
nanti," Charlie menyanggupi, nadanya masih
masam, sebelum menutup telepon.
Charlie menggerutu, kata-katanya tidak jelas, ia
berjalan tersaruk-saruk kembali ke ruang duduk.
"Ada apa?" tanyaku.
Charlie bergegas menghampiriku. “Maaf
membuatmu terbangun. Sayang"
“Ada yang terbakar, ya?"
“Tidak ada apa-apa," Charlie meyakinkan aku.
"Hanya api unggun di tebing-tebing sana."
“Api unggun?” tanyaku. Suaraku tidak terdengar
ingin tahu. Nadanya mati.
Charlie mengerutkan kening. "Beberapa anak
dari reservasi berulah aneh-aneh.” ia menjelaskan.
"Mengapa?" tanyaku muram.
Kentara sekali Charlie tidak ingin menjawab. Ia
menunduk memandangi lantai di bawah lututnya.
"Mereka merayakan kabar itu." Nadanya getir.
Hanya ada satu kabar yang terpikir olehku,
meski aku berusaha untuk tidak memikirkannya.
Kemudian potongan-potongan informasi itu mulai
menyatu. "Karena keluarga Cullen pergi," bisikku.
"Mereka tidak suka ada keluarga Cullen di La
Push—aku sudah lupa soal itu."
Suku Quileute percaya takhayul tentang "yang
berdarah dingin" peminum darah yang merupakan
musuh suku mereka, sama halnya dengan legenda
mereka tentang air bah dan leluhur berwujud
werewolf. Hanya cerita, cerita rakyat, bagi sebagian
besar mereka. Tapi ada segelintir yang percaya.
Teman baik Charlie, Billy Black, termasuk yang
percaya, walaupun Jacob, putranya,
menganggapnya tolol karena percaya pada
takhayul. Billy pernah mengingatkanku agar
menjauhi keluarga Cullen...
Nama itu menggerakkan sesuatu dalam diriku,
sesuatu yang mulai mencakar-cakar, berusaha
muncul ke permukaan, sesuatu yang aku tahu
tidak ingin kuhadapi.
"Konyol," gerutu Charlie
Sesaat kami hanya duduk berdiam diri. Langit
tak lagi gelap di luar jendela. Di suatu tempat di
balik hujan, matahari mulai terbit.
"Bella?" Charlie bertanya.
Kupandangi ia dengan gelisah.
"Dia meninggalkanmu sendirian di hutan?”
tanya Charlie.
Aku berkelit dari pertanyaannya. "Bagaimana
Dad tahu ke mana harus mencariku?" Pikiranku
mengelak dari kesadaran yang mau tak mau mulai
datang, datang dengan cepat sekarang.
"Pesanmu,” jawab Charlie, terkejut. Ia merogoh
saku belakang jinsnya dan mengeluarkan kertas
kumal. Kertas itu kotor dan basah, dengan bekas
lipatan silang-menyilang yang menandakan kertas
itu sudah dibuka dan dilipat lagi berulang kali.
Charlie membukanya lagi, mengangkatnya sebagai
bukti. Tulisan cakar ayam di sana sangat mirip
tulisanku sendiri.
Pergi jalan-jalan dengan Edward, menyusuri jalan
setapak, begitu bunyi tulisannya. Sebentar lagi
pulang, B.
"Waktu kau tidak pulang-pulang, aku menelepon
ke rumah keluarga Cullen, tapi tak ada yang
mengangkat," cerita Charlie pelan. "Lalu aku
menelepon rumah sakit, dan dr. Gerandy memberi
tahu Carlisle sudah pindah."
"Mereka pindah ke mana?" gumamku.
Charlie menatapku. "Edward tidak memberi
tahu?"
Aku menggeleng, hatiku ciut. Mendengar
namanya disebut seakan melepaskan sesuatu yang
sejak tadi mencakari hatiku—rasa sakit yang
membuatku tak bisa bernapas, terperangah oleh
kekuatannya yang luar biasa.
Charlie memandangiku dengan sikap ragu saat
menjawab. “Carlisle menerima pekerjaan di rumah
sakit besar di Los Angeles. Kurasa gajinya pasti
sangat besar."
LA kota yang panas terik. Mustahil mereka
benar-benar pindah ke sana. Aku teringat mimpi
burukku dengan cermin itu... cahaya matahari
berpendar-pendar dari kulitnya—
Kepedihan mengoyak hariku saat aku teringat
wajahnya.
"Aku ingin tahu apakah Edward
meninggalkanmu sendirian di tengah hutan sana,"
desak Charlie.
Mendengar nama Edward membuatku sangat
tersiksa. Aku menggeleng kalut, putus asa ingin
lepas dari cengkeraman kepedihan itu. "Akulah
yang salah. Dia meninggalkanku di jalan setapak,
aku masih bisa melihat rumah ini... tapi aku
mencoba mengikutinya.”
Charlie hendak mengatakan sesuatu; dengan
sikap kekanak-kanakan aku menutup kedua
telingaku. "Aku tidak bisa membicarakan ini, Dad.
Aku ingin ke kamarku."
Sebelum ayahku bisa menjawab, aku sudah
menghambur turun dari sofa dan tersaruk-saruk
menaiki tangga ke atas.
Seseorang datang ke rumah untuk meninggalkan
pesan bagi Charlie. pesan yang menuntunnya
untuk menemukanku. Sejak menyadari hal itu,
kecurigaan sudah timbul di benakku. Aku
menghambur ke kamarku, menutup pintu, dan
menguncinya sebelum berlari ke CD player di
samping tempat tidurku.
Semua masih tampak persis seperti sebelum aku
meninggalkannya. Kutekan bagian atas CD player.
Kaitannya terlepas, dan tutupnya perlahan
mengayun terbuka.
Kosong.
Album yang diberikan Renee untukku tergeletak
di lantai di samping tempat tidur, persis di tempat
aku terakhir kali meletakkannya. Kubuka
sampulnya dengan tangan gemetar.
Aku hanya perlu melihat halaman pertama.
Sudut-sudut logam kecil di dalamnya tak lagi
menjepit foto. Halamannya kosong, yang tertinggal
hanya tulisan tanganku sendiri di bagian bawah:
Edward Cullen, dapur Charlie, 13 September.
Aku berhenti di sana. Sudah kuduga ia akan
sangat cermat menghapus semua jejaknya.
Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah
ada.
Aku merasakan lantai kayu halus di bawah
lututku, lalu telapak tanganku, kemudian
menempel di kulit pipiku. Aku berharap bakal
pingsan tapi sayangnya, ternyata aku tidak
kehilangan kesadaran. Gelombang kepedihan yang
tadi hanya menerpaku kini menerjang tinggi,
menggulung kepalaku menyeretku ke bawah.
Aku tak muncul lagi di permukaan.
OKTOBER
-
NOVEMBER
-
DESEMBER
-
JANUARI
-
4. TERBANGUN
WAKTU berlalu. Bahkan saat rasanya mustahil,
waktu tetap tenis berjalan. Bahkan di saat setiap
detik pergerakan jarum jam terasa menyakitkan,
bagaikan denyut nadi di balik luka memar. Waktu
seakan berlalu di jalan yang tidak rata, bergejolak
dan diseret-seret, namun terus berjalan. Bahkan
bagiku.
-
KEPALAN Charlie meninju meja. "Baiklah, Bella!
Aku akan mengirimmu pulang."
Aku mendongak dari serealku, yang sejak tadi
hanya kupandangi tanpa kumakan, dan menatap
Charlie dengan shock. Aku tidak menyimak
pembicaraan—sebenarnya, aku malah tidak sadar
kami sedang berbicara—jadi aku tidak mengerti
maksud perkataannya.
"Aku kan sudah di rumah," gumamku, bingung.
"Aku akan mengirimmu ke Renee, ke
Jacksonville," Charlie menjelaskan maksudnya.
Charlie memandang putus asa saat aku lambat
laun mencerna maksudnya.
"Apa salahku?" Kurasakan wajahku mengernyit.
Benar-benar tidak adil. Kelakuanku selama empat
bulan terakhir ini benar-benar tak bercela. Setelah
minggu pertama itu, yang tak pernah kami ungkitungkit
lagi, aku tak pernah bolos sekolah atau
kerja satu hari pun. Nilai-nilaiku sempurna. Aku
tak pernah melanggar jam malam—aku toh tak
pernah ke mana-mana sehingga harus melanggar
jam malam. Aku juga sangat jarang
menghidangkan masakan sisa untuk makan
malam. Charlie merengut.
"Kau tidak melakukan apa-apa. Justru itulah
masalahnya. Kau tidak pernah melakukan apaapa."
“Dad mau aku bikin ulah?" Aku keheranan,
alisku bertaut saking bingungnya. Aku berusaha
keras memerhatikan. Itu tidak mudah. Aku sudah
sangat terbiasa mengabaikan semuanya sehingga
seperanya telingaku berhenti berfungsi.
"Bikin ulah lebih baik daripada... daripada
bermuram durja setiap saat seperti ini!”
Perkataannya sedikit menyinggung perasaanku.
Padahal aku sudah berhati-hati untuk
menghindari segala bentuk kesedihan, termasuk
bermuram durja.
"Aku tidak bermuram durja kok."
"Itu bukan kata yang tepat," Charlie
menyimpulkan dengan enggan. "Bermuram durja
masih lebih baik—itu berarti melakukan sesuatu.
Kau sekarang... tanpa kehidupan, Bella. Kurasa
itulah istilah yang paling tepat."
Tuduhan itu tepat mengenai sasaran. Aku
menghela napas dan berusaha memperdengarkan
nada ceria.
“Maafkan aku, Dad." Permintaan maafku
terdengar agak datar, bahkan di telingaku sendiri.
Kusangka selama ini aku berhasil menipunya.
Menjaga agar Charlie tidak menderita adalah
tujuan utama semua upayaku. Sungguh
menyebalkan semua upayaku itu sia-sia belaka.
“Aku tidak ingin kau meminta maaf."
Aku mendesah. “Kalau begitu, katakan apa yang
Dad ingin kulakukan."
“Bella,” Charlie ragu-ragu, dengan cermat
menelaah reaksiku terhadap kata-katanya
selanjutnya. "Sayang kau bukan orang pertama
yang mengalami hal semacam ini, tahu."
"Aku tahu." Cengiran yang menyertai katakataku
tadi lemah dan tak meyakinkan.
"Dengar, Sayang. Menurutku mungkin—
mungkin kau butuh bantuan."
"Bantuan?"
Charlie diam sejenak, kembali mencari kata-kata
yang tepat. "Ketika ibumu pergi," ia memulai,
keningnya berkerut, "dan membawamu
bersamanya." Charlie menghela napas dalamdalam.
"Well, itu masa-masa yang sangat berat
bagiku."
"Aku tahu, Dad," gumamku.
"Tapi aku bisa mengatasinya," tegas Charlie.
"Sayang kau tidak mengatasinya. Aku menunggu,
aku berharap keadaan jadi lebih baik" Ia
memandangiku dan aku buru-buru menunduk.
"Kurasa kita sama-sama tahu keadaan ternyata
belum membaik juga."
"Aku baik-baik saja kok."
Charlie tak menggubris sergahanku. "Mungkin,
Well, mungkin kalau kau bicara dengan orang lain
tentang masalah ini. Seorang profesional."
"Dad mau aku berkonsultasi ke psikiater?"
suaraku terdengar sedikit lebih tajam saat
menyadari maksudnya.
"Mungkin itu bisa membantu."
"Dan mungkin itu sama sekali takkan
membantu.”
Aku tidak begitu paham soal psikoanalisis, tapi
aku sangat yakin itu tidak bakal efektif kecuali
subjeknya relatif jujur. Tentu, aku bisa
mengatakan hal sebenarnya—kalau aku ingin
menghabiskan sisa hidupku di sel untuk orang gila
yang dindingnya dilapisi busa pengaman.
Charlie mengaman ekspresiku yang keras
kepala, dan beralih menggunakan senjata lain.
"Ini di luar kemampuanku, Bella. Mungkin
ibumu-"
"Dengar," sergahku datar. "Aku akan keluar
malam ini, kalau memang itu yang Dad inginkan.
Aku akan menelepon Jess atau Angela."
"Bukan itu yang kuinginkan," bantah Charlie,
frustrasi. "Rasanya aku tak sanggup melihatmu
berusaha lebih keras lagi. Belum pernah aku
melihat orang berusaha sekeras itu. Sedih hariku
melihatnya."
Aku pura-pura bodoh, menunduk memandangi
meja. "Aku tidak mengerti, Dad. Pertama Dad
marah karena aku tidak melakukan apa-apa,
kemudian Dad bilang tidak ingin aku keluar."
"Aku ingin kau bahagia—tidak, bahkan tidak
perlu sedrastis itu. Aku hanya ingin kau tidak
merana lagi. Menurutku kesempatanmu untuk
pulih akan lebih besar kalau kau pergi dari Forks,"
Mataku berkilat oleh percikan emosi pertama
yang sudah sekian lama kupendam dalam hati.
"Aku tidak mau pindah," tolakku.
"Kenapa tidak?" tuntut Charlie.
"Sekarang semester terakhirku di sekolah—
pindah hanya akan mengacaukan semuanya."
“Kau kan pintar—kau pasti bisa mengejar
pelajaran."
"Aku tidak mau mengganggu Mom dan Phil."
“Ibumu sudah lama ingin kau tinggal
bersamanya lagi."
“Florida terlalu panas."
Kepalan tangan Charlie kembali menghantam
meja. "Kita sama-sama tahu apa yang sebenarnya
terjadi di sini, Bella, dan itu tidak baik untukmu.”
Ia menghela napas dalam-dalam. "Ini sudah berlalu
beberapa bulan. Tidak ada telepon, tidak ada surat,
tidak ada kontak. Kau tidak bisa terus-terusan
menunggunya."
Kutatap Charlie dengan garang. Kemarahan itu
nyaris, meski tidak sampai, mencapai wajahku.
Sudah lama sekali wajahku tak pernah lagi
membara oleh emosi apa pun.
Topik ini benar-benar terlarang, seperti yang
disadari benar oleh Charlie.
"Aku tidak menunggu apa-apa. Aku tidak
mengharapkan apa-apa," bantahku dengan nada
monoton yang rendah.
"Bella—" Charlie memulai, suaranya berat.
"Aku harus berangkat sekolah," selaku, berdiri
dan merenggut sarapanku yang belum disentuh
dari meja. Kujatuhkan mangkukku di bak cuci
tanpa merasa perlu mencucinya dulu. Aku tak
sanggup meneruskan pembicaraan lagi.
"Aku akan menyusun rencana dengan Jessica,"
seruku dari balik bahu sambil menyandang tas
sekolah, tanpa menatap mata Charlie. "Mungkin
aku tidak makan malam di rumah. Kami akan
pergi ke Port Angeles dan nonton film."
Aku sudah keluar dari pintu sebelum Charlie
bereaksi.
Karena begitu terburu-buru ingin secepatnya
menyingkir dari hadapan Charlie, aku termasuk
orang pertama yang sampai di sekolah.
Keuntungannya adalah, aku mendapat tempat
parkir yang bagus sekali. Tapi sayangnya aku jadi
punya banyak waktu kosong, padahal selama ini
sedapat mungkin aku berusaha menghindari
waktu kosong.
Dengan cepat, sebelum sempat memikirkan
tuduhan-tuduhan Charlie tadi, aku mengeluarkan
buku Kalkulus-ku. Kubuka di bagian yang akan
mulai kami pelajari hari ini dan berusaha
memahaminya sendiri. Membaca matematika
bahkan jauh lebih sulit daripada
mendengarkannya, tapi aku semakin
menguasainya. Beberapa bulan terakhir ini, aku
menghabiskan waktu sepuluh kali lebih banyak
untuk mempelajari Kalkulus daripada yang pernah
kuhabiskan untuk pelajaran Matematika sebelum
ini. Hasilnya, nilaiku rata-rata selalu A. Aku tahu
Mr. Varner merasa perbaikan nilai-nilaiku berkat
metode mengajarnya yang superior. Dan kalau itu
membuatnya bahagia, aku tidak ingin
menghancurkan fantasinya.
Kupaksa diriku untuk terus belajar sampai
lapangan parkir penuh, dan akhirnya aku malah
harus bergegas menuju kelas Bahasa Inggris. Kami
sedang membahas tentang Animal Farm, topik yang
cukup mudah. Bagiku komunisme bukan masalah;
selingan segar di sela-sela kisah cinta
membosankan yang mengisi sebagian besar
kurikulum. Aku duduk di kursiku, senang karena
bisa mengalihkan perhatian ke topik yang
diajarkan Mr. Berty.
Waktu berlalu tanpa terasa bila aku di sekolah.
Sebentar saja lonceng sudah berbunyi. Aku mulai
memasukkan buku-bukuku ke tas.
"Bella?'
Aku mengenali suara Mike, dan sudah tahu apa
yang akan ia katakan sebelum ia
mengucapkannya.
"Besok kau kerja?"
Aku mendongak. Ia bersandar di seberang gang
dengan ekspresi cemas. Setiap Jumat ia selalu
menanyakan hal yang sama. Tak peduli aku tidak
pernah cuti sakit sehari pun. Well, dengan satu
pengecualian, beberapa bulan silam. Tapi ia tak
punya alasan memandangiku dengan sikap
prihatin seperti itu. Aku kan karyawan teladan.
"Besok Sabtu, kan?" aku balas bertanya. Setelah
Charlie mengungkitnya, barulah aku sadar betapa
hampa kedengarannya suaraku.
"Ya, benar," sahut Mike. "Sampai ketemu di
kelas Bahasa Spanyol," Ia melambai satu kali
sebelum berbalik memunggungiku. Ia tak pernah
lagi mengantarku ke kelas.
Aku tersaruk-saruk menuju kelas Kalkulus
dengan ekspresi muram. Di kelas ini aku duduk di
sebelah Jessica.
Sudah berminggu-minggu, bahkan mungkin
berbulan-bulan, Jess tak pernah lagi menyapaku
bila aku berpapasan dengannya di koridor. Aku
tahu aku membuatnya tersinggung dengan
sikapku yang antisosial, dan ia ngambek. Tidak
bakal mudah mengajaknya bicara sekarang—
apalagi meminta bantuannya. Aku
mempertimbangkan semuanya masak-masak
sementara berdiri di luar kelas, sengaja berlamalama.
Aku tak ingin menghadapi Charlie lagi tanpa
adanya interaksi sosial yang bisa dilaporkan. Aku
tahu aku tak bisa berbohong, walaupun bayangan
menyetir sendirian ke Port Angeles pulang-pergi—
memastikan odometerku menampilkan jarak mil
yang tepat—terasa sangat menggoda. Tapi ibu
Jessica gemar bergosip, dan cepat atau lambat
Charlie pasti akan bertemu dengan Mrs. Stanley di
kota. Kalau itu terjadi, tak diragukan lagi ia bakal
mengungkit masalah itu. Jadi berbohong jelas
tidak mungkin.
Sambil mendesah, kudorong pintu hingga
terbuka. Mr. Varner melayangkan tatapan galak—
ia sudah memulai pelajaran. Aku bergegas ke
kursiku. Jessica sama sekali tidak mendongak
waktu aku duduk di sebelahnya. Untung saja aku
punya waktu lima puluh menit untuk menyiapkan
mental.
Kelas ini bahkan berlalu lebih cepat daripada
Bahasa Inggris. Sebagian kecil disebabkan oleh
persiapan yang kulakukan tadi pagi di mobil—tapi
sebagian besar berasal dan fakta bahwa waktu
selalu berjalan sangat cepat bila aku harus
menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Aku meringis ketika Mr. Varner menyudahi
pelajaran lima menir lebih cepat. Ia tersenyum
seperti orang yang telah berbuat baik.
“Jess?" Hidungku mengernyit waktu tubuhku
mengejang, menunggunya menyerangku.
Jessica berbalik di kursi untuk menghadapiku,
menatapku tak percaya. "Kau bicara padaku,
Bella?"
"Tentu saja," Aku membelalakkan mata, berlagak
lugu.
"Apa? Kau butuh bantuan dengan Kalkulus?"
Nadanya sinis.
"Tidak." Aku menggeleng. "Sebenarnya, aku ingin
tahu apakah kau mau... nonton film bersamaku
nanti malam? Aku benar-benar membutuhkan
malam khusus cewek." Kata-kata itu terdengar
kaku, seperti dialog yang diucapkan asal saja, dan
Jessica tampak curiga.
"Kenapa kau mengajakku?" tanyanya, sikapnya
masih tidak ramah.
"Kau orang pertama yang terpikir olehku bila
aku sedang ingin kumpul-kumpul dengan teman
cewek," Aku tersenyum, berharap senyumku
terlihat tulus. Bisa jadi itu benar. Setidaknya
dialah orang pertama yang terpikir olehku bila aku
ingin menghindari Charlie. Berarti kan sama saja.
Kesinisan Jessica sedikit berkurang. "Well,
entahlah."
"Kau ada acara?"
“Tidak... kurasa aku bisa saja pergi bersamamu.
Kau mau nonton apa?"
Aku tidak tahu film apa yang sedang diputar
saat ini," elakku. Aku memeras otak mencari
petunjuk—bukankah baru-baru ini aku mendengar
seseorang berbicara tentang film? Melihat poster?
"Bagaimana kalau film tentang presiden wanita
itu?"
Jessica menatapku ganjil "Bella, film itu kan
sudah lama sekali tidak diputar lagi."
"Oh." Keningku berkerut. "Apakah ada film yang
ingin kau tonton?”
Sifat asli Jessica yang cerewet serta-merta
muncul sementara ia berpikir. "Well, ada film
komedi romantis yang mendapat banyak pujian.
Aku ingin menontonnya. Dan ayahku baru saja
nonton Dead End dan benar-benar menyukainya."
Aku langsung tertarik pada judulnya yang
menjanjikan.
"Ceritanya tentang apa?"
"Zombie dan semacamnya. Kata ayahku, itu film
paling seram yang pernah ditontonnya bertahuntahun."
"Kedengarannya sempurna." Aku lebih suka
berurusan dengan zombie daripada nonton film
cinta-cintaan.
"Oke." Kelihatannya Jessica terkejut melihat
responsku. Aku berusaha mengingat-ingat apakah
dulu aku suka nonton film horor, tapi tidak bisa
memastikan. "Bagaimana kalau aku menjemputmu
sepulang sekolah nanti?" Jessica menawarkan diri.
“Tentu.”
Jessica menyunggingkan senyum bersahabat
yang masih terlihat sedikit ragu sebelum beranjak
pergi. Aku agak terlambat membalas senyumnya,
tapi kupikir ia masih sempat melihatnya.
Sisa hari itu lewat dengan cepat, pikiranku
terfokus pada acara malam ini. Dari pengalaman
sebelumnya aku tahu, begitu berhasil membuat
Jessica ngobrol. aku hanya perlu bergumam pelan
di saat yang tepat sebagai balasan. Hanya
diperlukan interaksi minimal.
Kabut tebal yang mengaburkan hari-hariku kini
terkadang membingungkan. Aku terkejut saat
mendapati diriku sudah di kamar, tidak begitu
mengingat perjalanan pulang ke rumah dan
sekolah atau bahkan membuka pintu depan. Tapi
itu bukan masalah. Aku justru bersyukur bila
waktu berjalan tanpa terasa.
Aku tidak melawan kabut yang menyelubungi
pikiranku saat berpaling menghadap lemari. Ada
tempat-tempat tertentu di mana perasaan kebas
itu lebih dibutuhkan. Aku nyaris tidak
memerhatikan apa-apa saat menggeser pintu
lemari, menyingkapkan tumpukan sampah di sisi
kiri, tersuruk di bawah baju-baju yang tak pernah
kupakai.
Mataku tidak melirik kantong plastik hitam
besar berisi hadiah-hadiah ulang tahun terakhirku,
tidak melihat bentuk stereo yang menonjol di balik
plastik hitam; aku juga tidak berpikir tentang jarijariku
yang berdarah setelah aku merenggutkan
benda itu secara paksa dari dasbor.
Kusentakkan tas lama yang jarang kupakai dari
gantungannya, lalu kudorong pintu lemari hingga
tertutup.
Saat itulah aku mendengar suara klakson.
Cepat-cepat kukeluarkan dompetku dari tas
sekolah dan kumasukkan ke tas. Aku bergegas,
seolah-olah dengan bergegas aku bisa membuat
malam ini berlalu lebih cepat.
Kulirik diriku di cermin ruang depan sebelum
membuka pintu, hati-hati mengatur ekspresiku
dengan menyunggingkan senyum dan berusaha
mempertahankannya.
“Terima kasih sudah mau pergi denganku malam
ini," kataku pada Jess sambil naik ke kursi
penumpang, berusaha memperdengarkan nada
berterima kasih. Sudah cukup lama aku tak
pernah lagi memikirkan apa yang akan kukatakan
pada orang lain selain Charlie. Jess lebih sulit. Aku
tak yakin harus berpura-pura menunjukkan emosi
yang bagaimana.
"Tentu. Omong-omong, mengapa tahu-tahu
kepingin?" tanya Jess sambil menjalankan
mobilnya.
"Tahu-tahu kepingin apa?"
"Mengapa kau tiba-tiba memutuskan... untuk
keluar?" Kedengarannya ia mengubah
pertanyaannya di tengah-tengah.
Aku mengangkat bahu. "Sekali-sekali boleh,
kan?"
Saat itulah aku mengenali lagu yang diputar di
radio, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan ke
tombol pemutar. "Keberatan, nggak?" tanyaku.
"Tidak, silakan saja."
Aku memutar-mutar tombol ke beberapa stasiun
sampai menemukan satu yang tidak "berbahaya".
Kulirik ekspresi Jess saat musik yang baru
kutemukan itu mengalun mengisi mobil.
Mata Jess langsung menyipit. "Sejak kapan kau
mendengarkan musik rap?"
"Entahlah," jawabku. "Sudah lumayan lama."
"Kau suka lagu ini?" tanyanya ragu.
"Jelas."
Akan sangat sulit berinteraksi dengan Jessica
secara normal bila aku harus berusaha keras
mengabaikan suara musiknya pula. Maka aku pun
mengangguk-anggukkan kepala, berharap
gerakanku seirama dengan ketukan.
"Oke..." Jessica memandang ke luar kaca depan
dengan mata melotot.
"Bagaimana hubunganmu dengan Mike
belakangan ini?" aku buru-buru bertanya.
“Kau lebih sering ketemu dia daripada aku."
Pertanyaanku tadi tidak membuatnya mulai
mengoceh seperti yang kuharapkan bakal terjadi.
“Sulit ngobrol di tempat kerja," gumamku, lalu
mencoba lagi– "Ada cowok lain yang kencan
denganmu belakangan ini?"
"Tidak juga. Kadang-kadang aku kencan dengan
Conner Aku kencan dengan Eric dua minggu lalu."
Jessica memutar bola matanya dan aku bisa
merasakan adanya cerita yang panjang. Kusambar
kesempatan baik itu.
"Eric Yorkie? Siapa yang mengajak siapa?"
Jessica mengerang, semakin bersemangat. "Ya,
dia dong tentu saja! Aku tidak tahu bagaimana
menolak ajakannya dengan halus."
"Dia mengajakmu ke mana?" desakku, tahu ia
akan menerjemahkan semangatku sebagai
ketertarikan. "Ceritakan semuanya."
Jessica langsung nyerocos, dan aku duduk
bersandar di kursiku, merasa lebih nyaman
sekarang. Aku menyimak ceritanya dengan
saksama, sesekali menggumam bersimpati dan
terkesiap ngeri bila diperlukan. Setelah selesai
dengan cerita tentang Eric, ia melanjutkan dengan
membandingkannya dengan Conner tanpa perlu
diminta lagi.
Filmnya main lebih awal, jadi Jess mengusulkan
supaya kami nonton pertunjukan sore dan sesudah
itu baru makan. Aku senang-senang saja
mengikuti semua kemauannya; bagaimanapun,
aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan—
menghindar dari Charlie.
Kubiarkan saja Jess terus mengoceh selama
preview film-film baru, supaya aku bisa lebih
mudah mengabaikannya. Tapi aku gugup waktu
filmnya dimulai. Sepasang kekasih berjalan
menyusuri tepi pantai, bergandengan tangan dan
mendiskusikan perasaan mereka dengan ekspresi
penuh cinta yang memuakkan dan palsu. Kutahan
diriku untuk tidak menutup telinga dan mulai
berdendang. Aku kan tidak berniat nonton film
cinta-cintaan
"Katanya film zombie," desisku pada Jessica
"Memang film zombie kok."
"Lantas, kenapa belum ada orang yang
dimakan?" tanyaku putus asa.
Jessica memandangiku dengan mata
membelalak lebar yang nyaris tampak ngeri. "Aku
yakin bagian itu pasti muncul sebentar lagi,”
bisiknya.
"Aku mau beli popcorn dulu. Kau mau juga?"
"Tidak, terima kasih."
Seseorang di belakang kami ber-"sssttt".
Aku sengaja berlama-lama di konter makanan,
memandangi jam sambil berdebat dalam hati
berapa persen dari film berdurasi sembilan puluh
menit yang bisa dihabiskan untuk adegan cinta.
Kuputuskan sepuluh menit sudah lebih dari
cukup, itu pun aku menyempatkan diri berhenti
sebentar di depan pintu teater untuk memastikan.
Terdengar suara jeritan membahana dari speaker,
jadi tahulah aku, bahwa aku sudah cukup lama
menunggu.
"Kau ketinggalan semuanya," gumam Jess waktu
aku menyusup ke kursiku. "Hampir semua orang
sudah jadi zombie sekarang."
"Antreannya panjang." Kusodorkan popcorn-ku.
Ia mengambil segenggam.
Sisa film itu dipenuhi adegan serangan zombie
serta jeritan tanpa henti segelintir orang yang
masih hidup, jumlah mereka menyusut cepat.
Awalnya aku menyangka tak ada adegan yang
bakal membuatku terusik. Tapi aku merasa
gelisah, dan awalnya aku tak tahu kenapa.
Baru setelah menjelang akhir cerita, saat
memandangi wajah si zombie yang kurus cekung,
terseok-seok menghampiri manusia terakhir yang
menjerit-jerit ketakutan, aku menyadari apa
masalahnya. Adegannya berganti-ganti antara
wajah ketakutan si tokoh wanita, dengan wajah
mati tanpa ekspresi makhluk yang mengejarnya,
berganti-ganti, semakin lama makin dekat.
Dan sadarlah aku sosok mana yang paling
menyerupai aku.
Aku berdiri.
"Mau ke mana kau? Kira-kira dua menit lagi
filmnya habis," desis Jess.
"Aku perlu minum," gumamku sambil lari ke
pintu keluar.
Aku duduk di bangku di luar pintu teater dan
berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan
keironisannya. Tapi memang ironis, kalau dipikirpikir,
bahwa, pada akhirnya, justru akulah yang
berubah jadi zombie. Sungguh tak terduga sama
sekali.
Bukan berarti aku dulu tak pernah bermimpi
menjadi monster mistis—hanya saja itu bukan
mayat hidup menyeramkan. Kugelengkan kepalaku
kuat-kuat untuk mengenyahkan pikiran itu,
merasa panik. Aku tak boleh memikirkan apa yang
pernah kuimpikan dulu.
Sungguh menyedihkan menyadari diriku bukan
lagi tokoh utama, bahwa kisahku sudah berakhir.
Jessica keluar dari pintu teater, sejenak tampak
ragu, mungkin bertanya-tanya ke mana harus
mulai mencariku. Begitu melihatku ia tampak lega,
tapi hanya sesaat. Kemudian ia kelihatan kesal.
“Apakah filmnya terlalu seram bagimu?"
tanyanya.
"Yeah," jawabku. "Kurasa aku ini penakut."
"Lucu juga." Keningnya berkerut. "Aku tidak
mengira kau ketakutan—aku menjerit terus, tapi
tak pernah mendengarmu menjerit sekali pun. Jadi
aku tidak mengerti kenapa kau malah keluar."
Aku mengangkat bahu. "Aku cuma ketakutan."
Jessica rileks sedikit. "Rasa-rasanya itu tadi
memang film paling seram yang pernah kutonton.
Berani taruhan, malam ini kita pasti bakal
bermimpi buruk."
"Tak diragukan lagi," sahutku, berusaha
menjaga suaraku tetap normal. Aku tahu aku pasti
bakal bermimpi buruk, tapi tidak ada zombie
dalam mimpiku. Mata Jessica menatap wajahku
sekilas, lalu membuang muka. Mungkin aku tak
berhasil membuat suaraku terdengar normal.
"Kau mau makan di mana?" tanya Jess.
"Terserah."
"Oke."
Jess mulai mengoceh tentang aktor utama film
tadi sementara kami berjalan beriringan. Aku
mengangguk-angguk saat ia mencerocos penuh
semangat, memuji-muji ketampanan si aktor. Aku
sendiri tak ingat pernah melihat lelaki yang bukan
zombie dalam film itu.
Aku tidak memerhatikan ke mana Jessica
mengajakku. Aku hanya samar-samar menyadari
di luar sudah gelap dan suasananya lebih sepi.
Agak lama baru aku tersadar mengapa suasana
sepi. Jessica sudah berhenti mengoceh.
Kupandangi dia dengan sikap meminta maaf,
berharap aku tidak membuatnya tersinggung.
Jessica tidak sedang melihat ke arahku.
Wajahnya tegang; ia menatap lurus ke depan dan
berjalan cepat. Kulihat matanya jelalatan ke kanan,
ke seberang jalan, lalu melihat ke arah depan lagi,
berulang kali.
Saat itulah baru aku memerhatikan keadaan
sekelilingku.
Kami berada di trotoar yang tidak diterangi
lampu jalan. Toko-toko kecil yang berjajar di
sepanjang jalan sudah tutup semua, etalaseetalasenya
gelap gulita. Setengah blok di depan,
lampu-lampu jalan kembali menyala, dan tampak
olehku di sana, lengkungan kuning cemerlang
McDonald's yang hendak didatanginya.
Di seberang jalan ada saru toko yang masih
buka. Etalasenya diberi penutup di bagian dalam
dan tampak reklame-reklame neon menyala, iklan
berbagai merek bir, bersinar di depannya. Reklame
terbesar berwarna hijau cerah, bertuliskan nama
barnya—One-Eyed Pete’s. Dalam hati aku
bertanya-tanya apakah bar itu mengusung tema
bajak laut yang tidak terlihat dari luar. Pintu
besinya dibiarkan terbuka; bagian dalamnya
remang-remang, dan dengungan pelan suara-suara
pengunjung dan denting es batu membentur gelas
terbawa hingga ke seberang jalan. Tampak empat
cowok bersandar di dinding sebelah pintu.
Kulirik lagi Jessica. Matanya terpaku pada jalan
di depannya dan ia berjalan cepat. Ia tidak tampak
ketakutan—hanya waswas, berusaha untuk tidak
menarik perhatian.
Aku berhenti tanpa berpikir, memandangi
keempat cowok itu dengan perasaan deja vu yang
sangat kuat. Jalan yang berbeda, malam yang
berbeda, tapi adegannya kurang-lebih sama. Salah
seorang di antara mereka bahkan pendek dan
berambut gelap. Saat aku berhenti dan berpaling
ke arah mereka, cowok itu mendongak dengan
sikap tertarik.
Aku balas menatapnya, membeku di trotoar.
"Bella?" Jess berbisik. "Apa yang kaulakukan?"
Aku menggeleng, aku sendiri tidak tahu. "Kurasa
aku kenal mereka...," gumamku.
Apa yang kulakukan? Seharusnya aku lari dari
kenangan ini secepat aku bisa, menghalau
bayangan empat cowok yang berdiri itu dari
pikiranku, melindungi diriku dengan perasaan
kebas yang membuatku bisa berfungsi selama ini.
Kenapa aku malah melangkah, dengan linglung, ke
jalan?
Rasanya terlalu kebetulan aku bisa berada di
Port Angeles bersama Jessica, bahkan dijalan yang
gelap. Mataku tertuju pada si cowok pendek,
berusaha mencocokkannya dengan ingatanku
tentang cowok yang mengancamku malam itu
hampir satu tahun yang lalu. Aku penasaran
apakah aku bisa mengenali cowok itu, bila itu
benar-benar dia. Bagian tertentu dari malam
tertentu itu kabur bagiku. Tubuhku lebih bisa
mengingatnya daripada pikiranku; kakiku
mengejang saat aku mencoba memutuskan akan
lari atau tetap berdiri tegak, tenggorokanku kering
saat aku berusaha menjerit keras-keras, kulitku
menegang di bagian buku-buku jari saat aku
mengepalkan tinju, bulu kudukku meremang saat
si cowok berambut gelap memanggilku "Manis..."
Ada semacam kesan mengancam yang
ditunjukkan cowok-cowok itu, yang tidak ada
hubungannya dengan peristiwa malam itu. Kesan
itu muncul dari fakta bahwa mereka orang asing,
bahwa suasana di sini gelap, dan jumlah mereka
lebih banyak daripada kami—tidak ada yang lebih
spesifik daripada itu. Tapi cukup membuat suara
Jessica terdengar panik saat ia berseru
memanggilku.
"Bella, ayolah!”
Aku tidak menggubrisnya, melangkah pelanpelan
tanpa pernah memutuskan secara sadar
untuk menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti
mengapa, tapi ancaman samar yang ditunjukkan
cowok-cowok itu justru menarikku ke arah mereka.
Dorongan hati yang benar-benar tak masuk akal,
tapi sudah lama sekali aku tak pernah lagi
merasakan dorongan hati apa pun... jadi kuikuti
saja.
Sesuatu yang asing berdesir dalam pembuluh
darahku. Adrenalin, aku menyadari, yang sudah
lama absen dalam diriku, menggenjot denyut
nadiku semakin cepat dan berjuang melawan
hilangnya sensasi. Aneh—mengapa ada adrenalin
kalau aku tidak merasa takut? Rasanya nyaris
bagaikan gema masa lalu saat aku berdiri seperti
ini, di jalan gelap di Port Angeles, bersama orangorang
asing.
Aku tidak melihat alasan untuk takut. Aku tidak
bisa membayangkan ada yang perlu kutakuti lagi
di dunia ini, setidaknya secara fisik. Itu salah satu
keuntungan kalau sudah kehilangan segalanya.
Aku sudah separo menyeberang ketika Jess
menyusul dan menyambar lenganku.
“Bella! Kau tidak boleh masuk ke bar!" desisnya.
"Aku bukannya mau masuk," jawabku asal,
menepis tangannya. "Aku hanya ingin melihat
sesuatu..."
"Kau sinting, ya?" bisiknya. "Kepingin bunuh
diri?"
Pertanyaan itu menarik perhatianku, dan
mataku terfokus padanya.
"Tidak, aku tidak kepingin bunuh diri" Suaraku
defensif, tapi itu benar. Aku tidak bermaksud
bunuh diri. Bahkan pada awalnya, saat kematian
tak diragukan lagi akan mendatangkan kelegaan,
itu tidak pernah terpikir olehku. Aku terlalu
banyak berutang budi pada Charlie. Aku merasa
bertanggung jawab atas Renee. Aku harus
memikirkan mereka.
Dan aku sudah berjanji tidak akan melakukan
hal yang tolol atau ceroboh. Karena semua alasan
itu, aku masih bernapas hingga detik ini.
Teringat pada janji itu, aku merasakan secercah
perasaan bersalah, tapi apa yang kulakukan
sekarang tidak tergolong perbuatan tolol dan
ceroboh. Aku kan tidak mengiris pergelangan
tanganku dengan pisau.
Mata Jess membulat, mulutnya ternganga lebar.
Pertanyaannya tentang bunuh diri tadi hanya
pertanyaan retoris, dan aku terlambat
menyadarinya.
"Pergi makan sana," bujukku padanya,
melambaikan tangan ke restoran cepat saji. Aku
tidak suka caranya menatapku. "Sebentar lagi aku
menyusul"
Aku berpaling darinya, kembali menatap
keempat cowok yang memandangi kami dengan
sorot takjub bercampur ingin tahu.
"Bella, hentikan sekarang juga!"
Otot-ototku langsung mengejang, membeku
kaku di tempatku berdiri. Karena bukan suara
Jessica yang menegurku sekarang. Suara itu
bernada marah, suara yang sangat kukenal, suara
yang indah—lembut bagai beledu bahkan saat
sedang gusar.
Itu suaranya—aku sangat berhati-hati untuk
tidak menyebut namanya—dan terkejut karena
suara itu tidak membuatku terjengkang, tidak
membuatku meringkuk di trotoar karena tersiksa
oleh perasaan kehilangan. Tidak ada kepedihan,
tidak ada sama sekali.
Detik itu juga, begitu mendengar suaranya,
semuanya jadi sangat jelas. Seakan-akan kepalaku
mendadak muncul di permukaan kolam berair
gelap. Aku jadi lebih menyadari semuanya—
pemandangan, suara-suara, hawa dingin yang
tidak kusadari berembus tajam menerpa wajahku,
aroma yang menyeruak dari pintu bar yang
terbuka.
Aku memandang berkeliling dengan shock.
"Kembali ke Jessica," suara indah itu
memerintahkan, masih bernada marah. "Kau
sudah berjanji—tidak akan melakukan perbuatan
tolol."
Aku sendirian. Jessica berdiri beberapa meter
dariku, menatapku dengan sorot ngeri. Bersandar
di dinding, orang-orang asing itu menonton dengan
bingung, mempertanyakan sikapku yang berdiri
mematung di tengah jalan.
Aku menggeleng, berusaha memahami. Aku tahu
ia tidak ada di sana, namun tetap saja ia terasa
begitu dekat, dekat untuk pertama kalinya sejak...
sejak yang terakhir itu. Nada marah dalam
suaranya merupakan ungkapan keprihatinan
amarah sama yang dulu pernah sangat familier—
sesuatu yang sudah lama tak pernah kudengar
lagi, sepertinya sudah selamanya.
"Tepati janjimu." Suara itu mulai menghilang,
seperti suara radio yang volumenya dikecilkan.
Aku mulai curiga jangan-jangan sedang
berhalusinasi. Dipicu, tak diragukan lagi, oleh
kenangan itu—deja vu itu, perasaan familier aneh
bahwa aku pernah mengalami situasi yang sama.
Dengan cepat aku menelaah berbagai
kemungkinan dalam pikiranku.
Opsi pertama: aku sudah sinting. Itu istilah
orang awam bagi mereka yang mendengar suarasuara
dalam pikiran mereka.
Mungkin.
Opsi kedua: Pikiran bawah sadarku memberiku
apa yang memang kuinginkan. Ini pemenuhan
keinginan—kelegaan sementara dari rasa sakit
dengan merangkul pemikiran yang keliru bahwa ia
peduli apakah aku hidup atau mati.
Memproyeksikan apa yang akan ia katakan
seandainya A) ia ada di sini, dan B) ia takut
sesuatu yang buruk bakal terjadi padaku.
Kemungkinan.
Aku tak bisa melihat opsi ketiga, jadi aku
berharap pilihannya adalah yang kedua dan ini
hanya pikiran bawah sadarku yang tak terkendali,
bukannya sesuatu yang mengharuskan aku
dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Namun reaksiku tak bisa dibilang waras—aku
justru bersyukur Selama ini aku memang takut
kehilangan suaranya, dan dengan demikian, lebih
dari yang lain, aku sangat bersyukur pikiran
bawah sadarku bisa mengenang suara itu lebih
jelas daripada pikiran sadarku.
Aku tak boleh memikirkan dia. Itu sesuatu yang
selama ini kuhindari. Tentu saja sesekali terpeleset
itu wajar; aku hanya manusia biasa. Tapi
keadaanku semakin baik, jadi sekarang ini
kepedihan itu bisa kuhindari selama beberapa hari
berturut-turut. Gantinya adalah perasaan kebas
yang tak pernah berakhir. Antara merasa pedih
dan tidak merasa apa-apa, aku memilih tidak
merasa apa-apa.
Aku menunggu datangnya kepedihan itu
sekarang. Aku tidak lumpuh—pancaindraku terasa
luar biasa intens setelah sekian bulan diliputi
kabut—tapi kepedihan normal itu tak kunjung
datang. Satu-satunya kesakitan hanya perasaan
kecewa karena suaranya menghilang.
Aku punya waktu sedetik untuk memilih.
Tindakan bijaksana adalah lari dari
perkembangan yang kemungkinan besar bakal
menghancurkan—dan jelas tidak stabil secara
mental—ini. Sungguh tolol mendorong munculnya
halusinasi.
Tapi suaranya semakin menghilang.
Aku maju selangkah, mengetes.
"Bella, kembali," geramnya.
Aku mendesah lega. Kemarahan itulah yang
ingin ku dengar—bukti palsu yang dibuat-buat
bahwa ia peduli, anugerah meragukan dari alam
bawah sadarku.
Beberapa derik berlalu sementara aku menyortir
pikiranku Orang-orang asing itu memandangiku,
ingin tahu. Mungkin yang terlihat di luar adalah
aku sedang menimbang-nimbang apakah akan
menghampiri mereka atau tidak. Bagaimana
mereka bisa menebak bahwa aku berdiri di sana
menikmati momen ketidakwarasan yang mendadak
datang tanpa diduga?
“Hai," sapa salah satu cowok itu, nadanya penuh
percaya diri sekaligus sedikit sarkastis. Kulit dan
rambutnya terang, dan ia berdiri dengan sikap
percaya diri, yakin dirinya tampan. Aku tidak bisa
melihat apakah ia tampan atau tidak. Aku diliputi
prasangka.
Suara di kepalaku menjawab dengan geraman
menakutkan. Aku tersenyum, dan si cowok yang
percaya diri itu sepertinya menanggap itu
undangan.
"Ada yang bisa kubantu? Sepertinya kau
tersesat," Lelaki itu nyengir dan mengedipkan
mata.
Dengan hati-hati aku melangkahi selokan yang
dialiri air yang tampak hitam dalam kegelapan.
"Tidak. Aku tidak tersesat."
Sekarang setelah aku berada lebih dekat—dan
anehnya mataku bisa terfokus—aku menganalisis
cowok pendek berambut gelap tadi. Ternyata sama
sekali asing. Aku merasakan sensasi kecewa yang
mencurigakan bahwa ia ternyata bukan cowok
jahat yang berusaha menyakitiku hampir satu
tahun yang lalu.
Suara di kepalaku kini diam.
Si cowok pendek menyadari tatapanku. "Boleh
aku membelikanmu minuman?" ia menawarkan,
gugup, tampaknya tersanjung karena aku
memandanginya terus.
"Aku masih di bawah umur," jawabku otomatis.
Cowok itu terperangah—bertanya-tanya
mengapa aku mendekati mereka. Aku merasa wajib
menjelaskan.
"Dari seberang jalan, kau mirip seseorang yang
kukenal. Maaf, ternyata aku salah."
Ancaman yang menarikku dari seberang jalan
mendadak menguap. Mereka bukan cowok-cowok
berbahaya yang kuingat. Mungkin mereka orang
baik-baik. Aman. Aku langsungtidak tertarik lagi.
"Tidak apa-apa," si cowok pirang yang percaya
diri tadi berkata. "Tinggallah di sini dan ngobrol
dengan kami."
"Trims, tapi aku tak bisa." Jessica ragu-ragu di
tengah jalan, matanya membelalak oleh amarah
dan perasaan dikhianati.
"Oh, beberapa menit saja."
Aku menggeleng, dan berbalik untuk bergabung
dengan Jessica.
"Ayo kita makan," usulku, nyaris tidak
meliriknya. Walaupun aku tampak, saat itu,
terbebas dari sikap kosong dan hampa seperti
zombie, namun aku tetap menjaga jarak. Pikiranku
sibuk. Perasaan mati yang aman dan kebas itu
tidak kembali, dan aku jadi semakin gelisah seiring
berjalannya waktu, karena perasaan itu tak
kunjung datang.
"Apa sih yang ada dalam pikiranmu tadi?"
bentak Jessica. Kau tidak kenal mereka—bisa jadi
mereka psikopat!"
Aku mengangkat bahu, berharap Jessica akan
melupakannya. Aku hanya mengira kenal salah
satu dari mereka."
“Kau ini aneh sekali, Bella Swan. Aku merasa
seperti tidak mengenal dirimu."
“Maaf.” Aku tidak tahu lagi harus bilang apa.
Kami berjalan memasuki McDonald's sambil
membisu. Aku berani bertaruh, Jessica pasti
menyesal karena tadi kami berjalan kaki ke sini,
bukannya naik mobil, supaya bisa memesan lewat
mobil saja. Sekarang ia gelisah dan ingin Segera
mengakhiri malam ini, sama seperti yang
kurasakan pada awalnya.
Beberapa kali aku mencoba mengajaknya
mengobrol sambil makan, tapi Jessica menolak
bekerja sama. Aku pasti benar-benar telah
membuatnya tersinggung.
Waktu kami kembali ke mobilnya, Jessica
mengembalikan saluran ke stasiun radio favoritnya
dan mengeraskan volume sampai kelewat keras
untuk bisa ngobrol dengan nyaman.
Aku tidak perlu berusaha sekeras biasa untuk
mengabaikan musiknya. Walaupun pikiranku,
sekali itu, tidak kebas dan kosong, tapi banyak hal
lain yang kupikirkan selain menyimak lirik lagu.
Kutunggu perasaan kebas itu kembali, atau
kepedihan itu. Karena kepedihan itu pasti datang.
Aku sudah melanggar aturanku sendiri. Alih-alih
menghindar dari kenangan, aku malah maju dan
menyapanya. Aku sudah mendengar suaranya,
begitu jelas, di kepalaku. Ada harga yang harus
kubayar, aku yakin itu. Apalagi kalau aku tidak
bisa lagi mendatangkan kabut untuk melindungi
diriku. Aku merasa terlalu sadar, dan itu
membuatku takut.
Tapi kelegaan masih merupakan emosi terkuat
dalam diriku—kelegaan yang berasal dari lubuk
hatiku yang terdalam.
Meski berjuang keras untuk tidak memikirkan
dia, aku tidak berjuang untuk melupakan. Aku
khawatir—di larut malam saat kelelahan karena
kurang tidur mematahkan pertahananku—semua
itu berangsur-angsur lenyap. Bahwa pikiranku
berlubang-lubang seperti saringan, dan bahwa
suatu saat nanti aku tak lagi bisa mengingat warna
matanya dengan tepat, sentuhan kulitnya yang
dingin, serta tekstur suaranya. Aku tidak bisa
memikirkannya, tapi aku harus mengingatnya.
Karena tinggal satu hal yang perlu kuyakini agar
aku bisahidup–aku harus tahu dia ada. Itu saja.
Yang lain-lain masih bisa kutahan. Pokoknya asal
dia ada.
Itulah sebabnya aku merasa lebih terperangkap
di Forks daripada sebelumnya, mengapa aku
bertengkar dengan Charlie waktu ayahku
mengusulkan perubahan. Sejujurnya, seharusnya
itu bukan masalah; tidak ada yang akan kembali
lagi ke sini.
Tapi kalau aku pindah ke Jacksonville, atau ke
tempat lain yang terang benderang dan tidak
familier, bagaimana aku bisa yakin ia nyata? Di
tempat aku tidak akan pernah bisa membayangkan
dia, keyakinan itu akan memudar... dan itu tidak
bisa kuterima.
Terlarang untuk diingat, takut untuk dilupakan;
sungguh sulit menjalaninya.
Aku terkejut waktu Jessica menghentikan
mobilnya di depan rumahku. Perjalanan pulang
tidak memakan waktu lama, tapi, meski terasa
sebentar, aku tidak mengira Jessica bakal
membisu sepanjang jalan.
"Terima kasih sudah mau pergi denganku, Jess,"
kataku sambil membuka pintu. "Acara kita tadi...
asyik." Aku berharap asyik istilah yang tepat.
“Tentu," gumamnya.
“Aku minta maaf tentang... kejadian sehabis film
tadi."
“Terserahlah, Bella" Jessica memandang lurus
ke kaca depan, tidak memandangku. Sepertinya
semakin malam ia semakin marah, bukan malah
melupakannya.
“Sampai ketemu lagi hari Senin?"
"Yeah. Bye."
Aku menyerah dan menutup pintu. Jessica
menderu pergi, masih tak mau melihatku.
Aku sudah lupa pada Jessica sesampainya di
dalam rumah.
Charlie menungguku di tengah ruang depan,
kedua lengannya terlipat rapi di dada dengan
telapak tangan mengepal.
"Hai, Dad," sapaku acuh tak acuh sambil
merunduk melewati Charlie, berjalan menuju
tangga. Aku sudah terlalu lama memikirkan dia,
dan aku ingin berada di atas sebelum semua itu
mengejarku.
"Dari mana saja kau?" tuntut Charlie.
Kupandangi ayahku, terkejut. "Aku pergi nonton
film di Port Angeles bersama Jessica. Seperti yang
kubilang tadi pagi."
"Hahhh," gerutu ayahku.
"Tidak apa-apa, kan?”
Charlie mengamati wajahku, matanya melebar
ketika melihat sesuatu yang tak terduga. "Yeah,
tidak apa-apa. Kau senang?"
"Tentu," jawabku. "Kami nonton zombie
memangsa orang-orang. Bagus sekali."
Mata Charlie menyipit.
"Malam, Dad."
Charlie membiarkanku lewat. Aku bergegas
masuk ke kamarku.
Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit
kemudian, menyerah saat kepedihan itu akhirnya
muncul.
Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi
bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku,
merenggut semua organ vitalku dan meninggalkan
bekas luka yang masih basah dan berdarah di
sekelilingnya, yang masih tetap berdenyut nyeri
dan mengeluarkan darah meski waktu terus
berjalan. Secara rasional aku tahu paru-paruku
pasti masih utuh, namun a megap-megap
menghirup udara dan kepalaku berputar seolaholah
segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti
juga masih berdetak, tapi aku tak bisa mendengar
detaknya di telingaku; tanganku terasa biru
kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi, memeluk
dada seperti memegangi diriku agar tidak hancur
berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan
kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan
itu meninggalkanku.
Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa
bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan
itu—perasaan kehilangan yang terpancar keluar
dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan
yang menghancurkan ke kaki—tangan dan
kepalaku—tapi semua itu masih bisa kutahan. Aku
bisa melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu
tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku
jadi semakin kuat menahannya.
Apa pun yang terjadi malam ini—dan apakah
penyebabnya zombie, adrenalin, atau halusinasi—
itu telah membangunkan aku.
Untuk pertama kali dalam kurun waktu lama,
aku tidak tahu harus mengharapkan apa esok
pagi.
5. CURANG
"BELLA, bagaimana kalau kau pulang saja,"
Mike menyarankan, matanya terfokus ke satu sisi,
tidak benar-benar menatapku. Aku bertanya-tanya
berapa lama hal itu sudah berlangsung, tanpa aku
menyadarinya.
Sore ini tak banyak pengunjung di Newtons. Saat
itu hanya ada dua pengunjung, backpacker sejati
kalau menilik dari obrolannya. Mike menghabiskan
satu jam terakhir menjelaskan kelebihan dan
kekurangan dua merek ransel lightweight pada
mereka. Tapi mereka menghentikan dulu
pembicaraan serius tentang harga, dan malah
asyik saling membual soal kisah-kisah petualangan
hiking terbaru mereka di hutan. Mike
memanfaatkan kesempatan itu untuk
meninggalkan mereka sebentar.
"Aku tidak keberatan tetap di sini," kataku. Aku
masih belum bisa menenggelamkan diri kembali ke
cangkang mati rasa yang melindungiku, jadi segala
sesuatu tampak begitu dekat dan nyaring hari ini,
seakan-akan aku telah membuka kapas yang
selama ini menyumbat telingaku. Kucoba untuk
mengabaikan tawa para hiker itu, tapi tidak
berhasil.
"Sudah kubilang," kata cowok gempal berjenggot
oranye yang tidak cocok dengan rambutnya yang
cokelat gelap. "Aku sudah pernah melihat beruang
grizzly dari jarak sangat dekat waktu di
Yellowstone, tapi itu masih belum apa-apa
dibandingkan binatang yang satu ini." Rambutnya
lengket, dan bajunya kelihatan seperti sudah
dipakai berhari-hari. Benar-benar baru turun
gunung.
"Tidak mungkin. Beruang hitam tidak mungkin
bisa sebesar itu. Beruang grizzly yang kaulihat itu
mungkin bayi beruang." Cowok kedua tinggi
langsing, wajahnya gosong terbakar matahari dan
berkerut-kerut karena kelewat sering di udara
terbuka, membentuk lapisan kulit kering yang
mengesankan.
"Serius, Bella, begitu kedua orang ini selesai,
aku akan menutup toko," gumam Mike.
"Yah, jika kau memang ingin aku pergi..." aku
mengangkat bahu.
"Dalam posisi merangkak, hewan itu lebih tinggi
daripada kau," si cowok berjenggot ngotot
sementara aku mengemasi barang-barangku.
"Besar sekali dan hitam pekat. Aku akan
melaporkannya pada pengawas hutan di sini.
Orang-orang harus diperingatkan—aku tidak
melihatnya di gunung lho— tapi hanya beberapa
kilometer dari ujung jalan setapak."
Si wajah kasar tertawa dan memutar bola
matanya. “Biar kutebak—kau melihatnya dalam
perjalanan turun, kan? Kau belum makan
makanan sungguhan atau tidur di tanah selama
seminggu, bukan?"
"Hei, eh, namamu Mike, kan?" seru si cowok
berjenggot, menoleh pada kami.
"Sampai keremu Senin," gumamku
“Ya, Sir," jawab Mike. berpaling pada mereka.
"Katakan, pernahkah ada peringatan di sini
baru-baru ini—tentang beruang hitam?”
"Tidak, Sir. Tapi ada baiknya untuk selalu
menjaga jarak dan menyimpan makanan Anda
dengan benar. Anda sudah pernah melihat kaleng
antiberuang kami yang baru? Beratnya tidak
sampai satu kilo...”
Pintu menggeser terbuka dan aku keluar
menerobos hujan Aku meringkuk di dalam jaketku
dan berlari ke mobil. Hujan menderas memukulmukul
penutup kepalaku dengan suara luar biasa
keras, tapi sebentar saja raungan mesin
mengalahkan suara lainnya.
Aku tidak ingin pulang ke rumah Charlie yang
kosong. Semalam sangat menyiksa, dan aku tak
ingin mengulangi lagi adegan penyiksaan itu.
Bahkan setelah kepedihan hatiku mereda sehingga
aku bisa tidur, penyiksaan itu ternyata belum
berakhir. Seperti yang kukatakan pada Jessica
setelah nonton film, tak diragukan lagi aku pasti
akan bermimpi buruk.
Sekarang setiap malam aku memang selalu
bermimpi buruk. Mimpiku selalu sama, karena
selalu mimpi buruk yang sama. Kau pasti mengira
aku akan bosan setelah sekian bulan berlalu,
menjadi imun terhadapnya. Tapi mimpi itu tak
pernah gagal membuatku ngeri, dan baru berakhir
saat aku menjerit terbangun. Charlie tak pernah
datang lagi untuk menengok dan mencari tahu apa
yang terjadi, untuk memastikan tidak ada
penyusup yang mencekikku atau semacamnya—ia
sekarang sudah terbiasa.
Mimpi burukku mungkin bahkan tidak
menakutkan bagi orang lain. Tidak ada yang tahutahu
melompat dari persembunyian dan berteriak,
"Buuu!" Tidak ada zombie, tidak ada hantu, tidak
ada psikopat. Hanya pepohonan berlumut
membentang sejauh mata memandang, begitu
sunyi sehingga kesunyian itu menekan gendang
telingaku. Suasana gelap, seperti senja di hari
berawan, hanya ada seberkas cahaya tertinggal
untuk melihat bahwa tidak ada yang bisa dilihat.
Aku bergegas menembus keremangan tanpa jalan
setapak, selalu mencari, mencari, mencari, makin
lama makin panik sementara waktu terus berjalan,
berusaha bergerak lebih cepat, meski kecepatan
membuat langkahku kikuk... Kemudian aku akan
sampai pada satu titik dalam mimpiku—dan aku
bisa merasakannya datang sekarang, tapi rasanya
aku tak pernah bisa menggugah diriku untuk
bangun sebelum saat itu tiba—saat aku tidak bisa
mengingat apa yang sebenarnya kucari. Waktu aku
sadar tidak ada apa-apa yang bisa dicari, dan tidak
ada apa-apa yang bisa ditemukan. Bahwa tak
pernah ada apa-apa kecuali hutan sepi yang
kosong, dan tidak akan pernah ada apa-apa lagi
untukku... tidak ada apa-apa kecuali kehampaan...
Biasanya saat itulah teriakanku dimulai.
Aku tidak memerhatikan ke mana aku
mengendarai trukku—hanya berjalan tak tentu
arah, menyusuri jalan tikus yang kosong dan
basah karena aku sengaja menghindari jalan-jalan
menuju rumahku—karena aku memang tak tahu
mau pergi ke mana.
Kalau saja aku bisa merasa kebas lagi, tapi aku
tak ingat bagaimana dulu aku bisa membuat diriku
merasa seperti itu. Mimpi buruk itu menggayuti
pikiranku dan membuatku memikirkan hal-hal
yang akan membuatku sedih. Aku tak ingin
mengingat hutan. Bahkan saat aku bergidik dan
menepis bayangan-bayangan itu, aku merasa air
mataku merebak dan kepedihan mulai merayapi
tubir lubang di dadaku. Kulepas saru tangan dari
kemudi dan memeluk tubuhku agar tetap utuh.
Nantinya akan terasa seolah olah aku tak pernah
ada. Kata-kata itu berkelebat di benakku, tak lagi
terdengar jelas dan sempurna seperti halusinasiku
semalam. Sekarang itu hanya kata-kata, tanpa
suara, seperti tulisan yang tercetak di buku. Hanya
kata-kata, tapi kata-kata itu mengoyak lubang di
dadaku hingga terbuka lebar, dan aku menginjak
rem keras-keras, tahu seharusnya aku tidak
menyetir dalam keadaan seperti ini.
Aku membungkuk, menempelkan wajahku ke
kemudi dan mencoba bernapas tanpa paru-paru.
Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan
berlangsung Mungkin suatu saat nanti, bertahuntahun
dari sekarang—bila kepedihan itu mereda
hingga ke tahap aku sanggup menanggungnya—
aku akan bisa mengenang kembali beberapa bulan
pendek yang akan selalu menjadi masa-masa
terindah dalam hidupku. Dan, jika kepedihan ini
bisa cukup mereda hingga membuatku mampu
berbuat begitu, aku yakin akan merasa bersyukur
atas waktu yang pernah ia berikan padaku. Lebih
dari yang kuminta, lebih dari yang pantas
kuterima. Mungkin suatu saat nanti aku bisa
melihatnya seperti itu.
Tapi bagaimana jika lubang ini takkan pernah
membaik? Bila tubirnya yang basah tak pernah
sembuh? Bila kerusakannya permanen dan tak
bisa diperbaiki lagi?
Kudekap diriku lebih erat lagi. Nantinya akan
terasa seolah-olah ia tak pernah ada, pikirku
merana. Janji yang sungguh tolol dan mustahil
ditepati! Bisa saja ia mencuri foto-fotoku dan
mengambil kembali hadiah-hadiahnya, tapi itu
tidak mengembalikan keadaan seperti dulu,
sebelum aku bertemu dengannya. Bukti fisik
adalah bagian yang paling tidak signifikan. Aku
telah diubah, bagian dalam diriku diubah hingga
nyaris tak bisa dikenali lagi. Bahkan bagian luarku
tampak berbeda—wajahku pucat kekuningan,
putih kecuali bagian bawah mata yang berwarna
ungu, hasil mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Mataku tampak gelap berlatar belakang kulitku
yang pucat sehingga—meskipun seandainya aku
cantik, dan dilihat dari dekat—aku bahkan bisa
dikira vampir sekarang. Tapi aku tidak cantik, jadi
kemungkinan aku lebih mirip zombie.
Seolah-olah ia tak pernah ada? Itu gila namanya.
Janji yang takkan pernah bisa ia tepati, janji yang
dilanggar segera setelah ia membuatnya.
Aku membentur-benturkan kepalaku ke kemudi,
berusaha mengalihkan diriku dari kepedihan yang
teramat sangat.
Itu membuatku merasa tolol, karena berpikir
untuk selalu menepati janjiku. Di mana logisnya,
menepati kesepakatan yang sudah dilanggar pihak
satunya? Siapa yang peduli kalau aku melakukan
perbuatan yang tolol dan ceroboh? Tak ada alasan
menghindar dari kecerobohan, tak ada alasan
mengapa aku tak boleh melakukan hal tolol.
Aku tertawa meski pikirku itu tidak lucu, masih
megap-megap menghirup udara. Bertindak ceroboh
di Forks—melakukan rencana itu di sini sama
sekali tak ada harapan.
Humor tidak lucu itu mengalihkan perhatianku,
dan meredakan kepedihan hatiku. Napasku mulai
mudah, dan aku bisa duduk bersandar ke kursi.
Walaupun hari ini cuaca dingin, tapi dahiku basah
oleh keringat.
Aku berkonsentrasi pada rencana tanpa harapan
itu untuk mencegah pikiranku terbawa lagi ke
kenangan yang menyakitkan. Melakukan hal
ceroboh di Forks membutuhkan kreativitas tinggi—
mungkin lebih dari yang kumiliki. Tapi aku
berharap bisa menemukan jalan... perasaanku
bakal lebih enak jika aku tidak berpegangan eraterat,
sendirian, pada kesepakatan yang sudah
dilanggar. Seandainya saja aku juga bisa
melanggar sumpahku sendiri. Tapi bagaimana aku
bisa berbuat curang, di kota kecil yang aman
tenteram ini? Tentu saja Forks tidak selalu aman.
tapi begitulah tampaknya keadaannya sekarang
Membosankan aman.
Lama sekali aku memandang ke luar kaca
depan, pikiranku bergerak lambat—sepertinya aku
tak bisa membuat pikiranku berkelana ke tempat
lain. Kumatikan mesin, yang mengerang dengan
suara memilukan setelah tidak dijalankan begitu
lama, lalu turun ke tengah hujan yang mengguyur.
Hujan dingin menetes-netes dari rambutku,
kemudian mengalir menuruni pipi bagai air mata.
Air hujan membantu menjernihkan kepalaku. Aku
mengerjap-ngerjapkan air dari mataku, menatap
kosong ke seberang jalan.
Setelah memandang selama satu menit, barulah
aku menyadari di mana aku berada. Aku memarkir
trukku di tengah-tengah jalur utara Russell
Avenue. Aku berdiri di depan rumah keluarga
Cheney—trukku menghalangi jalan masuk ke
garasi mereka—dan di seberang jalan tinggal
keluarga Marks. Aku tahu aku harus
memindahkan trukku, dan bahwa aku harus
pulang. Salah besar berkeliaran tanpa tujuan
seperti ini, pikiran melantur dan linglung,
membahayakan keselamatan pengemudi lain di
Forks. Selain itu, sebentar lagi pasti ada orang
yang bakal melihatku, dan melaporkanku pada
Charlie.
Saat menghela napas dalam-dalam untuk
bersiap-siap sebelum bergerak, sebuah
pengumuman di halaman rumah ke-luarga Marks
menarik perhatianku—sebenarnya itu hanyalah
potongan kardus yang disandarkan di kotak pos,
dengan tulisan huruf-huruf balok hitam di atasnya.
Terkadang, takdir benar-benar terjadi.
Kebetulan? Atau memang sudah ditakdirkan
seperti itu? Entahlah, tapi tolol rasanya berpikir
bahwa entah bagaimana sudah ditakdirkan bahwa
sepeda-sepeda motor rongsok karatan di halaman
depan rumah keluarga Marks, di sebelah
pengumuman bertulis tangan DIJUAL,
SEBAGAIMANA ADANYA, memiliki tujuan lain yang
lebih besar dengan berada di sana, tepat di tempat
aku membutuhkannya.
Jadi mungkin itu bukan takdir. Mungkin ada
banyak cara untuk bertindak ceroboh, dan baru
sekarang mataku terbuka.
Ceroboh dan tolol. Itu dua kata favorit Charlie
sehubungan dengan sepeda motor.
Pekerjaan Charlie tidak sebanyak pekerjaan
polisi di kota-kota besar, tapi ia sering mendapat
panggilan dalam kasus-kasus kecelakaan lalu
lintas. Dengan jalan bebas hambatan yang panjang
dan basah, berkelok-kelok dan berbelok menembus
hutan, tikungan buta demi tikungan buta, mudah
saja melakukan aksi semacam itu. Tapi bahkan
dengan adanya truk-truk tronton yang melaju
lambat mengangkut kayu, sebagian besar orang
memilih tak melakukannya. Kecuali mereka yang
mengendarai sepeda motor, dan Charlie sudah
terlalu sering melihat korban-korban berjatuhan,
hampir selalu anak-anak, tergeletak di jalan raya.
Ia pernah menyuruhku berjanji sebelum aku
berumur sepuluh tahun, untuk tidak pernah naik
motor. Bahkan di usia semuda itu, aku tak perlu
berpikir dua kali sebelum berjanji. Siapa yang mau
naik motor di sini? Rasanya seperti mandi dalam
kecepatan sembilan puluh kilo meter per jam.
Begitu banyak janji yang kutepati...
Saat itulah sebuah ide muncul di kepalaku. Aku
ingin melakukan hal yang tolol dan ceroboh, dan
aku ingin melanggar janji. Mengapa harus berhenti
pada satu hal saja?
Hanya sampai sejauh itu aku memikirkannya.
Kuterobos genangan air hujan menuju pintu depan
rumah keluarga Marks dan menekan bel.
Salah seorang anak lelaki keluarga Marks, yang
lebih muda, yang baru masuk SMA membukakan
pintu. Aku tak ingat namanya. Rambut pirang
pasirnya hanya sebahuku.
Anak itu mengenaliku. "Bella Swan?" serunya
kaget.
“Berapi harga motor itu?" tanyaku, napasku
terengah-engah, menyentakkan ibu jariku ke balik
bahu ke arah benda yang dipajang di halaman
“Kau serius?” tanyanya.
"Tentu saja."
“Sepeda-sepeda motor itu sudah tidak bisa
jalan."
Aku mendesah tak sabaran—itu sudah bisa
kusimpulkan dan tulisan di pengumuman.
"Berapa?"
“Kalau kau benar-benar menginginkannya, ambil
saja. Ibuku menyuruh ayahku memindahkan
sepeda-sepeda motor itu ke jalan supaya diangkut
truk sampah."
Kulirik lagi sepeda-sepeda motor itu dan
menyadari keduanya bertengger di atas tumpukan
rumput kering dan ranting-ranting mau."Kau
yakin?”
"Tentu, mau tanya sendiri pada ibuku?”
Mungkin lebih baik tidak melibatkan orang
dewasa, siapa tahu ia akan menyampaikannya
pada Charlie.
"Tidak, aku percaya padamu."
Kau mau aku membantumu?” cowok itu
menawarkan diri. "Motor itu tidak enteng lho."
"Oke, trims. Tapi aku hanya butuh satu."
"Sebaiknya ambil saja dua-duanya," kata cowok
itu. "Mungkin kau bisa menggunakan onderdilnya."
Cowok itu mengikutiku keluar ke tengah
curahan hujan dan membantuku menaikkan
kedua motor yang berat itu ke bak belakang
trukku. Sepertinya ia bersemangat sekali ingin
menyingkirkannya, jadi aku tidak membantah.
"Memangnya apa yang mau kaulakukan dengan
sepeda-sepeda motor itu?" tanyanya. "Sudah
bertahun-tahun tidak bisa jalan"
"Sudah kuduga," kataku, mengangkat bahu.
Karena ide ini muncul mendadak, aku belum
sempat menyusun rencana apa pun. "Mungkin aku
akan membawanya ke bengkel Dowling."
Cowok itu mendengus. "Dowling akan meminta
ongkos perbaikan lebih mahal daripada harga
motornya sendiri."
Itu benar. John Dowling terkenal sering
memasang tarif mahal; tak ada yang mau
membetulkan mobil di bengkelnya kecuali
terpaksa. Kebanyakan lebih suka pergi ke bengkel
di Port Angeles, kalau mobilnya masih bisa jalan.
Dalam hal itu, aku sangat beruntung—awalnya
aku sempat khawatir, waktu Charlie
menghadiahiku truk antik ini, bahwa aku takkan
bisa merawatnya. Tapi ternyata aku tak pernah
mengalami masalah apa pun, kecuali suara
mesinnya yang berisik dan batas maksimal
kecepatannya yang hanya 88 kilometer per jam.
Jacob Black telaten merawatnya sejak mobil ini
masih menjadi milik ayahnya, Billy...
Ilham menyambarku bagai sambaran petir—
bukan hal yang tidak masuk akal, mengingat saat
ini sedang hujan badai. "Kau tahu nggak? Itu
bukan masalah. Aku kenal orang yang jago
mengutak-atik mobil"
"Oh. Baguslah kalau begitu," Cowok itu
tersenyum lega.
Cowok itu melambaikan tangan waktu aku
menjalankan trukku, masih terus tersenyum.
Ramah juga dia.
Sekarang aku ngebut dan memiliki tujuan, ingin
cepat-cepat sampai di rumah sebelum Charlie
pulang, siapa tahu ia pulang lebih cepat, walaupun
kecil sekali kemungkinan itu bakal terjadi. Aku
menghambur ke dalam rumah menuju pesawat
telepon, masih sambil menggenggam kunci mobil.
"Kepala Polisi Swan, please," kataku waktu
teleponku dijawab seorang deputi. "Ini Bella.”
"Oh, hai, Bella," sahut Deputi Steve ramah.
"Akan kupanggilkan dia"
Aku menunggu.
"Ada apa, Bella?" tuntut Charlie begitu
mengangkat telepon.
"Apa aku tidak boleh menelepon Dad kalau tidak
ada masalah gawat?"
Charlie terdiam sebentar. "Kau tidak pernah
menelepon sebelumnya. Apakah ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya ingin menanyakan arah jalan
ke rumah keluarga Black—sepertinya aku sudah
tidak ingat lagi. Aku ingin mengunjungi Jacob.
Sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu
dengannya."
Ketika Charlie berbicara lagi, suaranya terdengar
jauh lebih gembira. "Ide yang bagus sekali, Bells.
Ada bolpoin?"
Arahan yang ia berikan sangat sederhana. Aku
berjanji akan pulang saat makan malam, walaupun
Charlie mencoba mengatakan tak perlu terburuburu.
Ia ingin bergabung denganku di La Push,
tapi aku menolak keras.
Jadi dengan niat pulang tepat waktu aku
mengendarai truk ku terlalu cepat menyusuri
jalan-jalan ke luar kota yang gelap oleh hujan
badai. Harapanku, aku bisa menemui Jacob
sendirian. Billy mungkin akan mengadukanku
kalau ia mengetahui rencanaku.
Sembari menyetir, aku agak waswas memikirkan
reaksi Billy nanti bila bertemu denganku. Ia pasti
girang sekali. Dalam benak Billy tak diragukan lagi,
ini semua berakhir jauh lebih baik daripada yang
berani ia harapkan. Kegembiraan dan kelegaannya
hanya akan mengingatkanku pada satu hal yang
tak sanggup kuingat. Hari ini jangan lagi, aku
memohon dalam hati. Aku sudah lelah.
Rumah keluarga Black samar-samar masih
familier, rumah kayu kecil dengan jendela-jendela
sempit dan cat merah kusam yang membuatnya
mirip lumbung kecil. Kepala Jacob sudah nongol
dari jendela bahkan sebelum aku sempat turun
dari truk. Tak diragukan lagi, raungan suara mesin
yang familier memberi tahukan kedatanganku
padanya. Jacob sangat bersyukur waktu Charlie
membeli mobil truk Billy untukku,
menyelamatkannya dari keharusan mengendarai
truk ini kalau sudah cukup umur. Aku sangat
menyukai trukku, tapi Jacob sepertinya
menganggap batas kecepatan truk ini sebagai
kekurangan.
Ia berlari menyongsongku.
"Bella!" Cengiran senang tersungging lebar di
wajahnya, giginya yang putih cemerlang tampak
sangat kontras dengan kulitnya yang cokelat
kemerahan. Sebelum ini aku tak pernah melihat
rambutnya tidak dikucir. Kini rambutnya tergerai
seperti tirai satin hitam di sisi kiri dan kanan
wajahnya yang lebar.
Jacob tumbuh semakin dewasa dalam delapan
bulan terakhir. Ia melewati titik di mana otot-otot
masa kanak-kanaknya mengeras membentuk
sosok remaja bertubuh padat dan tegap; otot-otot
tendon dan urat nadinya semakin jelas di balik
kulit lengan dan tangannya yang merah cokelat.
Wajahnya masih semanis yang kuingat, meski kini
juga mulai menegas – tulang pipinya semakin
tajam, rahangnya persegi, semua kemontokan
masa kecil telah lenyap.
"Hai, Jacob!” Aku merasakan dorongan
antusiasme yang tidak biasa begitu melihat
senyumnya. Sadarlah aku bahwa aku senang
bertemu dengannya. Kenyataan itu
mengejutkanku.
Aku membalas senyumnya, dan sesuatu terbetik
dalam pikiranku, bagaikan dua keping puzzle yang
menyatu. Aku sudah lupa betapa aku sangat
menyukai Jacob Black.
Jacob berhenti beberapa meter dariku, dan aku
mendongak menatapnya dengan terkejut, kepalaku
menengadah jauh ke belakang hingga hujan
menetes-netes membasahi wajahku.
"Kau semakin jangkung!" tuduhku takjub.
Jacob tertawa, senyumnya semakin lebar.
"Seratus sembilan puluh dua sentimeter lebih," ia
memberi tahu dengan perasaan puas diri.
Suaranya semakin berat, tapi masih sedikit serak
seperti yang kuingat dulu.
"Apakah kau akan berhenti tumbuh?" aku
menggeleng-geleng tak percaya. "Besar sekali kau."
"Masih kurus, tapi." Ia nyengir. "Ayo masuk!
Nanti kau basah kuyup."
Jacob berjalan menduluiku, memilin rambutnya
dengan tangannya yang besar sambil berjalan. Ia
mengeluarkan karet gelang dan saku celana dan
mengikat rambutnya.
“Hai, Dad," serunya waktu kami merunduk
melewati pintu depan. "Lihat siapa yang datang."
Billy sedang di ruang tamunya yang mungil,
tangannya memegang buku. Ia meletakkan buku
itu di pangkuan dan menggelindingkan kursi
rodanya ke depan begitu melihatku.
"Well kejutan besar! Senang bertemu denganmu.
Bella."
Kami bersalaman. Tanganku lenyap dalam
genggamannya yang lebar.
"Apa yang membawamu ke sini? Charlie baikbaik
saja, kan?"
"Ya, tentu. Aku hanya ingin bertemu Jacob—aku
sudah lama sekali tidak bertemu dengannya."
Mata Jacob berbinar-binar mendengar
jawabanku. Senyumnya lebar sekali hingga pipinya
pasti terasa sakit.
"Bisakah kau makan malam di sini?" Billy juga
bersemangat.
"Tidak, aku kan harus memasak untuk Charlie,
Anda tahu."
"Ah, aku kan bisa meneleponnya sekarang," Billy
menyarankan. "Pintu rumah ini selalu terbuka
untuknya."
Aku tertawa untuk menyembunyikan
kecanggunganku. "Bukan berarti Anda tidak akan
bertemu lagi denganku. Aku janji akan kembali lagi
ke sini—saking seringnya sampai Anda bosan
melihatku." Bagaimanapun, kalau Jacob bisa
membetulkan motor itu, harus ada yang
mengajariku mengendarainya.
Billy menanggapi perkataanku dengan berdecak.
"Oke, mungkin lain kali"
"Jadi, Bella, kau ingin melakukan apa?" tanya
Jacob.
"Terserah. Apa yang sedang kaulakukan waktu
aku datang tadi?" Anehnya, aku merasa nyaman di
sini. Rumah ini familier, meski terasa berjarak. Tak
ada yang membuatku teringat pada masa laluku
yang menyakitkan.
Jacob ragu-ragu. "Aku baru mau mengutak-atik
mobilku, tapi kita bisa melakukan hal lain..."
"Tidak, itu sempurna!" selaku. "Aku ingin sekali
melihat mobilmu."
“Oke" sahut Jacob, tak yakin. "Ada di belakang,
di garasi."
Malah lebih baik, batinku. Aku melambai pada
Billy. "Sampai ketemu lagi nanti.”
Pepohonan rindang dan semak belukar
menyembunyikan garasi dari rumah. Garasi itu
sebenarnya tak lebih dari dua pondok besar yang
disatukan. Di dalamnya, di atas blok sinder,
bertengger sesuatu yang dalam pandanganku
menyerupai mobil utuh. Aku mengenali simbol di
grille depannya, paling tidak.
“Volkswagen apa itu?" tanyaku.
“Volkswagen Rabbit—keluaran 1986, mobil
klasik."
“Bagaimana keadaannya:"
"Hampir selesai," jawab Jacob riang. Kemudian
suaranya turun satu oktaf. “Ayahku menepati
janjinya padaku musim semi lalu."
"Ah," ucapku.
Tampaknya Jacob memahami keenggananku
untuk mengungkit lagi topik itu. Aku mencoba
untuk tidak mengingat kejadian saat prom bulan
Mei. Ketika itu Jacob disuap ayahnya dengan janji
akan diberi uang dan onderdil mobil asalkan mau
menyampaikan pesan untukku ke sana. Billy ingin
aku menjauh dari orang terpenting dalam hidupku.
Ternyata kekhawatirannya, akhirnya, tidak
beralasan. Aku malah terlalu aman sekarang.
Tapi aku bertekad akan melakukan sesuatu
untuk mengubahnya.
"Jacob, kau tahu seluk-beluk motor?” tanyaku.
Jacob mengangkat bahu. "Lumayan. Temanku
Embry punya motor trail. Kadang-kadang kami
mengutak-atiknya. Kenapa?"
“Well..." Aku mengerucutkan bibir sambil
menimbang-nimbang. Aku ragu apakah Jacob bisa
merahasiakan hal ini, tapi aku tak punya banyak
pilihan. "Belum lama ini aku mendapat sepasang
sepeda motor, tapi kondisinya tidak bagus. Aku
ingin tahu apakah kau bisa membetulkannya."
“Asyik" Jacob tampak benar-benar senang
mendapat tantangan itu. Wajahnya berseri-seri.
"Akan kucoba."
Aku mengacungkan jari, mengingatkan.
"Masalahnya," aku menjelaskan. "Charlie tidak
suka aku naik motor. Jujur saja, bisa jadi urat
nadi di dahinya bakal putus kalau dia tahu tentang
hal ini. Jadi kau tidak boleh memberi tahu Billy."
"Tentu, tentu." Jacob tersenyum. "Aku mengerti."
"Aku akan membayarmu," sambungku.
Jacob tersinggung mendengarnya. "Tidak. Aku
ingin membantu. Kau tidak boleh membayarku."
"Well... bagaimana kalau barter saja?" Usulan itu
muncul begitu saja di benakku sementara aku
bicara, tapi kedengarannya cukup masuk akal.
"Aku hanya butuh satu motor—dan aku juga ingin
diajari menaikinya. Jadi bagaimana kalau begini?
Aku akan memberimu satu sepeda motor,
kemudian kau bisa mengajariku cara
mengendarainya."
"Ke-reeen." Jacob mengucapkan kata itu dalam
dua silabel.
"Tunggu sebentar—kau sudah cukup umur
belum? Ulang tahunmu kapan?"
"Sudah lewat," goda Jacob, menyipitkan mata,
pura-pura marah. "Sekarang aku sudah enam
belas."
"Kayak umur bisa menghentikanmu saja
sebelum ini,” aku menggerutu. "Maaf aku lupa hari
ulang tahunmu.”
"Tidak apa-apa. Aku juga lupa hari ulang
tahunmu. Umur mu berapa, empat puluh?"
Aku mendengus. "Hampir."
“Kita satukan saja pesta ulang tahun kita untuk
merayakannya."
"Kedengarannya seperti kencan.”
Mata Jacob berbinar mendengarnya.
Aku harus mengekang antusiasmenya sebelum
ia telanjur salah sangka—hanya saja sudah lama
sekali aku tak pernah lagi merasa seringan dan
sebebas ini. Jarangnya aku merasakan perasaan
itu membuatnya jadi lebih sulit dikendalikan.
"Mungkin kalau motornya sudah selesai
dibetulkan— hitung-hitung hadiah untuk kita,"
aku menambahkan.
“Setuju. Kapan kau akan membawanya ke sini?"
Aku menggigit bibir, malu. "Sudah ada di
trukku" aku mengakui.
“Bagus." Kelihatannya ia bersungguh-sungguh.
“Apakah Billy bakal melihat kalau kita
membawanya ke sini?”
Jacob mengedipkan mata. "Diam-diam saja,
kalau begitu."
Kami menyelinap mengitari rumah dari sisi
timur, merapat ke pepohonan bila kami bisa
terlihat dari jendela, berlagak seperti sedang jalan jalan,
untuk berjaga-jaga. Jacob dengan cekatan
menurunkan sepeda-sepeda motor itu dari bak
truk, mendorongnya satu per satu ke semak
tempat aku bersembunyi. Enteng saja kelihatannya
baginya—padahal seingatku sepeda-sepeda motor
itu berat, sangat berat.
"Kondisinya tidak parah-parah amat kok," kata
Jacob, menilai kondisi sepeda-sepeda motor itu
sementara kami mendorongnya ke bawah naungan
pepohonan. "Yang satu ini malah bisa bernilai
tinggi kalau sudah dibetulkan—ini Harley Sprint
kuno."
"Kalau begitu, itu punyamu."
"Kau yakin?'
"Jelas.”
"Tapi untuk membetulkannya butuh banyak
biaya," kata Jacob, mengerutkan kening
memandangi bagian-bagian sepeda motor yang
sudah menghitam. "Kita harus menabung dulu
untuk bisa membeli onderdil."
"Bukan kita,” tolakku. "Kalau kau mau
membetulkannya gratis, akulah yang akan
membeli onderdilnya."
"Entahlah...," gumam Jacob.
"Aku punya sedikit uang tabungan. Dana kuliah,
kau tahu." Masa bodoh dengan kuliah, pikirku
dalam hati. Aku toh tidak menabung tidak cukup
banyak untuk pergi ke suatu tempat istimewa—lagi
pula, aku toh tidak berniat meninggalkan Forks.
Apa bedanya kalau aku membobol tabunganku
sedikit?
Jacob hanya mengangguk. Semua itu masuk
akal saja baginya.
Sementara kami mengendap-endap kembali ke
garasi, aku memikirkan keberuntunganku. Hanya
cowok remaja yang mau melakukan ini: menipu
orangtua kami dengan membetulkan kendaraan
berbahaya dan menggunakan uang yang
seharusnya ditabung untuk kepentingan kuliah. Ia
tidak melihat ada yang salah dengan hal itu. Jacob
benar-benar anugerah dari para dewa.
6. TEMAN-TEMAN
KEDUA sepeda motor itu tidak perlu
disembunyikan di tempat yang jauh, cukup
menyimpannya di garasi Jacob. Kursi roda Billy
tidak bisa bergerak di tanah tidak rata yang
memisahkan pondok dengan rumah.
Jacob mulai membongkar motor pertama—yang
berwarna merah, yang akan menjadi milikku—
hingga bagian-bagiannya terlepas. Ia membuka
pintu Rabbit-nya supaya aku bisa duduk di jok.
bukan di lantai. Sambil bekerja Jacob mengobrol
dengan gembira, hanya perlu kupancing sedikit
untuk meneruskan obrolan. Ia menceritakan
sekolahnya, kelas-kelas yang ia ikuti, juga dua
sahabatnya.
"Quil dan Embry?" selaku. "Nama-nama yang
tidak lazim.”
Jacob terkekeh. "Quil itu nama turunan, sedang
Embry nama bintang sinetron. Pokoknya aku tidak
bisa bilang apa-apa soal itu. Mereka bakal ngamuk
kalau kau mulai menyinggung nama mereka –
mereka bakal mengeroyokmu."
“Itu kausebut teman baik?" Aku mengangkat
sebelah alis.
"Mereka memang baik kok. Hanya saja jangan
ejek nama mereka."
Saat itulah terdengar seruan di kejauhan.
"Jacob?" teriak seseorang.
"Itu Billy, ya?" tanyaku.
"Bukan," Jacob menunduk, dan kelihatannya
wajahnya memerah di balik kulitnya yang cokelat.
"Baru dibicarakan sudah nongol. Itu panjang umur
namanya."
"Jake? Kau di sini?" Teriakan itu kini semakin
dekat.
"Yeah!" Jacob menyahut, lalu mendesah.
Kami menunggu sambil terdiam sebentar sampai
dua cowok jangkung berkulit gelap melenggang
memasuki garasi.
Yang satu bertubuh ramping, hampir setinggi
Jacob. Rambut hitamnya sedagu dan dibelah
tengah, sebelah diselipkan di balik telinga kiri
sementara yang kanan tergerai bebas. Cowok
satunya yang lebih pendek tubuhnya lebih gempal.
Kaus putihnya ketat menutupi dadanya yang
berotot, dan tampaknya ia sadar dan bangga akan
hal itu. Rambutnya dipangkas pendek sekali
hingga nyaris cepak.
Langkah keduanya langsung terhenti begitu
mereka melihatku. Si ceking melirikku dan Jacob
bergantian, sementara si gempal menatapku terus,
senyum mengembang perlahan di wajahnya.
"Hei, Buy," Jacob menyapa mereka setengah
hati.
"Hei, Jake," sahut si pendek tanpa mengalihkan
tatapannya dariku. Aku terpaksa membalas
senyumnya, seringaiannya sangat jail. Melihatku
tersenyum, ia mengedipkan mata. "Halo.”
"Quil, Embry—ini temanku, Bella."
Quil dan Embry, aku masih belum tahu yang
mana Quil dan yang mana Embry, bertukar
pandang dengan sorot penuh makna.
“Anak Charlie, kan?" tanya si gempal,
mengulurkan tangan.
"Benar,” jawabku menjabat tangannya.
Genggamannya mantap; kelihatannya ia seperti
sedang melenturkan otot-otot bisepsnya.
“Aku Quil Ateara,” ia memperkenalkan diri
dengan gagah sebelum melepaskan tanganku.
“Senang berkenalan denganmu, Quil."
“Hai, Bella. Aku Embry. Embry Call—mungkin
kau sudah bisa menebaknya" Embry
menyunggingkan senyum malu-malu dan
melambai dengan satu tangan, yang kemudian ia
jejalkan ke saku jinsnya.
Aku mengangguk. "Senang berkenalan
denganmu juga."
"Kalian ngapain?” tanya Quil, masih terus
memandangiku.
“Bella dan aku ingin memperbaiki sepeda-sepeda
motor ini," Jacob menjelaskan, meski itu tak
sepenuhnya tepat. Tapi sepeda motor sepertinya
kata ajaib. Perhatian kedua cowok itu langsung
beralih ke proyek Jacob, mencecarnya dengan
pertanyaan-pertanyaan terpelajar. Banyak dari
kata-kata yang mereka gunakan tidak kumengerti,
dan kurasa aku harus memiliki kromosom Y untuk
benar-benar memahami semangat mereka yang
meluap-luap.
Ketiganya masih asyik mengobrol tentang
onderdil dan bagian-bagian motor waktu aku
memutuskan untuk pulang sebelum Charlie
muncul di sini. Sambil mendesah, aku merosot
turun dari Rabbit.
Jacob mendongak lagi, ekspresinya seperti
meminta maaf. “Kami membuatmu bosan, ya?"
“Tidak." Dan aku memang tidak bohong. Aku
merasa senang–benar-benar aneh. "Tapi aku harus
memasak makan malam untuk Charlie."
"Oh... Well, aku akan selesai membongkar motor
ini malam ini dan menentukan apa saja yang kita
butuhkan untuk memperbaikinya. Kapan kau ingin
kita menggarapnya lagi?"
"Bisakah aku kembali lagi besok?" Hari Minggu
sudah menjadi kutukan dalam hidupku. Tak
pernah ada cukup PR untuk menyibukkanku.
Quil menyenggol lengan Embry dan keduanya
nyengir.
Jacob tersenyum senang. "Wah, pasti asyik!"
"Kalau kau bisa menyusun daftarnya, kita bisa
pergi untuk membeli onderdil," aku menyarankan.
Wajah Jacob sedikit berkurang kegembiraannya.
"Aku masih belum yakin apakah aku sebaiknya
membiarkanmu membayar semuanya."
Aku menggeleng. "Tidak bisa. Pokoknya aku
akan mendanai proyek ini. Kau tinggal
menyumbang tenaga dan keahlian saja"
Embry memutar bola matanya pada Quil.
"Tetap saja rasanya kurang tepat," Jacob
menggeleng.
"Jake, kalau aku membawa sepeda-sepeda motor
ini ke bengkel, berapa biaya yang akan diminta
montir padaku?" aku beralasan.
Jacob tersenyum. "Oke, kalau begitu setuju."
"Belum lagi kau nanti harus mengajariku
mengendarainya, aku menambahkan.
Quil nyengir lebar pada Embry dan membisikkan
sesuatu yang tak bisa kutangkap. Tangan Jacob
melayang untuk menampar bagian belakang kepala
Quil. "Cukup sudah, keluar,” gerutunya.
"Tidak, sungguh, aku harus pulang,” protesku,
bergegas ke pintu. "Sampai ketemu besok, Jacob.”
Bcgiru aku lenyap dari pandangan, kudengar
Quil dan Embry berseru berbarengan,
"Wuuuuuuu!"
Diikuti sejurus kemudian dengan suara gradakgruduk,
diselingi dengan "Waduh!" dan "Hei!"
"Kalau kalian berani-berani menjejakkan kaki
lagi ke tanahku besok..." Kudengar Jacob
mengancam. Suaranya lenyap waktu aku berjalan
melewati pepohonan.
Aku tertawa pelan. Suara itu membuat mataku
membelalak heran. Aku tertawa, benar-benar
tertawa, padahal tak ada yang memerhatikan. Aku
merasa sangat ringan hingga aku tertawa lagi,
hanya agar perasaan itu bertahan lebih lama.
Aku lebih dulu sampai di rumah ketimbang
Charlie. Waktu ia datang, aku baru saja
mengangkat ayam goreng dari wajan dan
meletakkannya di atas tumpukan serbet kertas.
"Hai, Dad." Aku nyengir padanya.
Wajah ayahku tampak shock sesaat sebelum ia
mengubah ekspresinya. "Hai, Sayang," sapanya,
suaranya terdengar tidak yakin. "Senang bertemu
Jacob?"
Aku mulai memindahkan makanan ke meja. "Ya,
senang."
"Well, baguslah kalau begitu." Charlie masih
berhati-hati. "Kalian ngapain?'
Sekarang giliranku yang berhati-hati. "Aku
nongkrong di garasinya dan menontonnya bekerja.
Dad tahu dia sedang memperbaiki Volkswagen?"
“Yeah, kalau tidak salah Billy pernah
menceritakannya."
Interogasi harus terhenti saat Charlie mulai
mengunyah, tapi ia terus mengamati wajahku
sambil makan.
Usai makan malam aku menyibukkan diri,
membersihkan dapur dua kali, kemudian
mengerjakan PR pelan-pelan di ruang depan
sementara Charlie menonton pertandingan hoki.
Aku menunggu selama mungkin, tapi akhirnya
Charlie mengatakan malam sudah larut. Ketika
aku tidak menjawab, ia bangkit, meregangkan otot,
lalu pergi tidur, mematikan lampu. Dengan enggan
aku mengikutinya.
Saat menaiki tangga, aku merasakan sisa-sisa
perasaan senang aneh yang kurasakan sore tadi
menyusut dari dalam diriku, digantikan perasaan
takut memikirkan apa yang akan kuhadapi
sekarang.
Aku tidak kebas lagi. Malam ini akan, tak
diragukan lagi, sama mengerikannya dengan
semalam. Aku berbaring di tempat tidur dan
bergelung rapat-rapat, menanti datangnya
serangan. Kupejamkan mataku erat-erat dan...
tahu-tahu, hari sudah pagi.
Kupandangi cahaya keperakan pucat yang
menerobos jendela kamarku, terperangah.
Untuk pertama kali dalam empat bulan lebih,
aku bisa tidur tanpa bermimpi. Bermimpi atau
menjerit. Entah emosi mana yang lebih kuat—lega
ataukah shock.
Aku berbaring diam di tempat tidurku selama
beberapa menit, menunggu perasaan itu datang
kembali. Karena pasti ada yang datang. Kalau
bukan kepedihan, maka mati rasa. Aku menunggu,
tapi tak terjadi apa-apa. Aku merasa lebih bugar
daripada yang kurasakan beberapa bulan
belakangan ini.
Aku tak yakin ini bakal bertahan. Rasanya
seperti berdiri di tubir yang licin dan berbahaya,
dan bergerak sedikit saja pasti bakal membuatku
tergelincir. Mengedarkan pandangan ke sekeliling
kamar dengan mata tiba-tiba jernih—menyadari
betapa aneh kelihatannya, terlalu resik, seolaholah
aku tidak tinggal di sini sama sekali—benarbenar
berbahaya.
Kutepis pikiran itu dari benakku, dan
berkonsentrasi, sambil berpakaian, pada fakta
bahwa aku akan bertemu Jacob lagi hari ini.
Pikiran itu membuatku nyaris merasa.., penuh
harapan. Mungkin akan sama seperti kemarin.
Mungkin aku tak perlu mengingatkan diriku untuk
tampak tertarik dan mengangguk atau tersenyum
pada interval tertentu, seperti yang kulakukan
pada orang-orang lain. Mungkin... tapi aku tak
yakin ini akan bertahan juga. Tidak yakin hari ini
akan sama—begitu mudah—seperti kemarin. Aku
tidak akan menyiapkan diri untuk kekecewaan
seperti itu.
Saat sarapan, Charlie bersikap hati-hati. Ia
berusaha menyembunyikan sikap penasarannya,
mengarahkan mata ke telurnya sampai yakin aku
tidak melihat.
"Apa yang akan kaulakukan hari ini?" tanyanya,
mengamati benang yang terlepas di pinggiran
mansetnya, seakan-akan tidak terlalu
memerhatikan jawabanku.
"Aku mau main ke rumah Jacob lagi"
Charlie mengangguk tanpa mendongak. "Oh,"
ujarnya.
"Dad keberatan?" Aku pura-pura khawatir. "Aku
bisa tinggal di rumah..."
Charlie buru-buru mendongak, sorot panik
terpancar dari wajahnya. "Tidak, tidak! Pergi saja.
Kebetulan Harry akan datang untuk nonton
pertandingan denganku."
"Mungkin Harry bisa menjemput Billy sekalian,"
aku menyarankan. Semakin sedikit saksi mata,
semakin baik.
"Wah, ide bagus."
Aku tak yakin apakah pertandingan itu hanya
alasan untuk "mengusirku" dari rumah, tapi
Charlie tampak cukup bersemangat sekarang. Ia
langsung menghampiri pesawat telepon sementara
aku memakai jas hujan. Aku merasa sedikit
waswas dengan buku cek yang tersimpan di saku
jaketku. Aku tak pernah menggunakannya
Di luar hujan turun seperti air ditumpahkan dari
ember.
Aku harus mengendarai trukku lebih pelan lagi;
aku nyaris tak bisa melihat mobil lain di depan
trukku. Tapi akhirnya aku sampai juga di jalan
berlumpur yang menuju ke rumah Jacob. Sebelum
aku sempat mematikan mesin, pintu depan sudah
terbuka dan Jacob berlari menyongsongku sambil
membawa payung hitam besar.
Ia memegangi payung itu menaungi pintu
trukku.
"Charlie menelepon tadi—katanya kau sudah
jalan ke sini," Jacob menjelaskan sambil nyengir.
Dengan enteng, tanpa harus dikomando lagi oleh
otot-otot yang mengelilinginya, bibirku merekah
membentuk senyuman. Perasaan hangat yang
aneh menggelegak menaiki kerongkonganku,
padahal air hujan yang memercik ke pipiku dingin
seperti es.
"Hai, Jacob."
"Pintar juga kau, mengusulkan supaya Billy
dijemput," Jacob mengangkat tangannya untuk
ber-high five denganku.
Aku harus mengulurkan tangan tinggi-tinggi
untuk membalasnya dan Jacob tertawa.
Harry datang menjemput Billy beberapa menit
kemudian. Jacob mengajakku melihat-lihat
kamarnya yang kecil sambil menunggu orangorang
dewasa pergi.
"Jadi kita ke mana, Pak Montir?" tanyaku begitu
pintu depan ditutup Billy.
Jacob mengeluarkan kertas yang terlipat dari
saku dan meluruskannya. "Kita mulai dari tempat
penimbunan barang bekas, siapa tahu kita
beruntung. Proyek ini bisa jadi agak mahal lho," ia
mengingatkanku. "Kedua motor itu perlu dipermak
habis-habisan agar bisa berfungsi lagi." Karena
wajahku tidak tampak waswas, Jacob
menambahkan, "Maksudku mungkin bisa habis
lebih dari seratus dolar.”
Aku mengeluarkan buku cek dan mengibasngibaskannya
memutar bola mata seolah
meremehkan kekhawatirannya. “Itu sih enteng."
Hari ini lumayan aneh. Aku menikmatinya.
Bahkan saat di tempat penimbunan barang bekas
sekalipun, di bawah guyuran hujan dan berlepotan
lumpur setinggi pergelangan kaki. Awalnya aku
penasaran apakah itu hanya aftershock setelah
kehilangan perasaan kebas, tapi menurutku itu
bukan penjelasan yang cukup masuk akal.
Aku mulai berpikir penyebab terbesarnya adalah
Jacob. Bukan hanya karena ia selalu senang
bertemu denganku, atau bahwa ia tidak diam-diam
melirikku dari sudut matanya, menunggu aku
melakukan sesuatu yang bisa membuatku dikira
gila atau depresi. Sama sekali tak ada
hubungannya denganku. Penyebabnya adalah
Jacob sendiri. Pada dasarnya Jacob memang
periang, dan sifat periang itu terbawa dalam
dirinya seperti aura, menularkannya pada siapa
pun yang kebetulan di dekatnya. Seperti bumi yang
mengelilingi matahari, setiap kali ada orang dalam
jangkauan gravitasinya, Jacob membuat mereka
merasa hangat. Hal yang alamiah, bagian dari
dirinya yang sesungguhnya. Tak heran aku begitu
bersemangat ingin bertemu dengannya.
Bahkan saat ia mengomentari lubang menganga
di dasbor-ku, itu tak lantas membuatku panik
seperti seharusnya.
"Srereo-nya rusak, ya?" tanyanya heran.
"Yeah," dustaku.
Jacob merogoh-rogoh ke balik lubang itu. "Siapa
yang mengeluarkannya? Kok sampai rusak
begini..."
"Aku," jawabku mengakui.
Jacob terbahak. "Mungkin sebaiknya kau nanti
jangan sering-sering menyentuh motor."
"Bukan masalah."
Menurut Jacob, kami beruntung dalam
perburuan kami di tempat penimbunan barang
bekas. Ia sangat bersemangat melihat beberapa
logam penyok temuannya yang menghitam karena
oli; aku kagum karena ia bisa tahu kegunaan
benda-benda itu.
Dari sana kami ke Checker Auto Parts di
Hoquiam. Dengan trukku, perjalanan ke sana
makan waktu dua jam lebih ke arah selatan,
menyusuri jalan bebas hambatan yang berkelokkelok,
tapi waktu berlalu tanpa terasa bila bersama
Jacob. Ia mengobrol tentang teman-teman dan
sekolahnya, dan aku mendapati diriku mengajukan
banyak pertanyaan, bahkan tanpa berpura-pura,
tapi karena benar-benar ingin mengetahui
jawabannya.
"Dari tadi aku terus yang bicara," protes Jacob
setelah selesai bercerita panjang-lebar tentang Quil
dan huru-hara yang ditimbulkannya gara-gara
mengajak kencan pacar murid senior. "Bagaimana
kalau sekarang gantian? Apa saja yang sedang
terjadi di Forks? Di sana pasti jauh lebih seru
daripada di La Push."
"Salah," aku mendesah. "Benar-benar tidak ada
apa-apa di sana. Teman-temanmu jauh lebih
menarik daripada teman-temanku. Aku suka
teman-temanmu. Si Quil itu lucu."
Kening Jacob berkerut. "Kurasa Quil suka
padamu."
Aku tertawa. "Dia agak terlalu muda untukku."
Kerutan di kening Jacob semakin dalam. "Dia
tidak terlalu lebih muda darimu. Hanya satu tahun
beberapa bulan."
Aku merasa kami tidak sedang membicarakan
Quil lagi. Aku menjaga agar suaraku tetap ringan,
menggoda. “Tentu, tapi mengingat perbedaan
kematangan antara cowok dan cewek, bukankah
menurutmu sebaiknya kita menghitungnya dalam
usia anjing? Berapa umurku dalam usia anjing,
kira dua belas tahun lebih tua?”
Jacob tertawa, memutar bola matanya. "Oke,
tapi kalau kau mau sok pilih-pilih seperti itu, kau
juga harus membuat perhitungan rata-rata sesuai
ukuran tubuh. Kau kan kecil sekali, jadi sepuluh
tahun harus dibuang dari total umurmu."
"Seratus enam puluh senti kan tinggi rata-rata,"
dengusku. "Bukan salahku kalau kau kelewat
tinggi."
Kami saling mengolok-olok seperti itu hingga
mencapai Hoquiam, masih memperdebatkan
formula yang tepat untuk menentukan umur—aku
kehilangan dua tahun karena tidak bisa mengganti
ban, tapi mendapat satu tahun lagi karena
ditugaskan mengurus pembukuan di rumahku—
sampai kami tiba di Checker, dan Jacob harus
kembali berkonsentrasi. Kami menemukan semua
yang ada dalam daftarnya, dan Jacob yakin akan
mencapai banyak kemajuan dengan onderdil yang
sudah kami beli.
Saat kami tiba kembali di La Push, umurku 23
tahun dan dia 30—jelas ia menambahkan
keahliannya mengutak-atik mesin untuk
mendongkrak umurnya.
Aku belum melupakan alasanku melakukan ini.
Dan, meski dalam prosesnya aku merasa lebih
bahagia daripada yang kuduga sebelumnya, tak
ada alasan untuk mengubah keinginan awalku.
Aku tetap ingin berbuat curang. Tidak masuk akal
memang, tapi aku benar-benar tak peduli. Aku
akan melakukan hal paling ceroboh yang bisa
kulakukan di Forks. Jangan harap aku akan tetap
menepati janjiku sementara pihak lain sudah
melanggarnya. Menghabiskan waktu bersama
Jacob ternyata jauh lebih mengasyikkan daripada
yang kuduga.
Billy belum pulang, jadi kami tidak perlu
sembunyi-sembunyi menurunkan barang-barang
belanjaan kami. Begitu semua sudah kami
hamparkan di lantai plastik dekat kotak perkakas
Jacob, Jacob langsung mulai bekerja sambil terus
bicara dan tertawa-tawa sementara jari-jarinya
menyortir dengan ahli berbagai onderdil logam di
hadapannya.
Kepiawaian Jacob bekerja dengan tangan sangat
menakjubkan. Padahal tangannya tampak kelewat
besar untuk pekerjaan rumit yang harus dilakukan
dengan cermat dan tepat. Saat sedang bekerja,
gerakannya nyaris terkesan anggun. Tidak seperti
bila sedang berdiri; tubuhnya yang jangkung dan
kakinya yang besar membuatnya nyaris sama
kikuknya denganku.
Quil dan Embry tidak muncul, jadi mungkin
ancaman Jacob kemarin ditanggapi serius oleh
mereka.
Hari berlalu kelewat cepat. Sebentar saja hari
sudah gelap di mulut garasi, kemudian kami
mendengar Billy memanggil kami.
Aku melompat dan membantu Jacob menyimpan
semua peralatan, ragu-ragu karena tak yakin
apakah aku boleh menyentuh bagian-bagian
sepeda motor itu.
"Tinggalkan saja," kata Jacob. "Aku akan bekerja
lagi nanti malam."
"Jangan lupakan tugas sekolahmu atau tugas
lainnya," kataku, merasa sedikit bersalah. Aku tak
ingin Jacob mendapat masalah. Masalah itu hanya
untukku.
"Bella?"
Kami sama-sama tersentak waktu suara Charlie
yang familier menyeruak di antara pepohonan,
kedengarannya dekat sekali.
"Sial," gerutuku. "Ya, sebentar!" teriakku ke arah
rumah.
"Ayo pergi." Jacob tersenyum, menikmati
ketegangan. Ia mematikan lampu, dan sesaat aku
seolah-olah buta. Jacob menyambar tanganku dan
menarikku keluar dari garasi, menembus
pepohonan, kakinya menemukan jalan setapak
yang sudah sangat dikenalnya dengan mudah.
Tangannya kasar, dan sangat hangat.
Meski ada jalan setapak, kami masih saja
tersandung-sandung dalam gelap. Jadi kami samasama
tertawa waktu rumah mulai tampak.
Tawanya tidak terlalu dalam; ringan dan hanya di
permukaan, tapi tetap menyenangkan. Aku yakin
Jacob tidak menyadari secercah histeria di
dalamnya. Aku tidak biasa tertawa, dan tawa itu
terasa menyenangkan tapi sekaligus meresahkan.
Charlie berdiri di teras belakang yang kecil,
bersama Billy yang duduk di ambang pintu di
belakangnya.
"Hai, Dad," sapa kami berbarengan, dan itu
membuat kami tertawa lagi.
Charlie memandangiku dengan mata terbelalak
lebar, lalu melirik sekilas ke bawah, melihat tangan
Jacob yang menggandeng tanganku.
"Billy mengundang kita makan malam," kata
Charlie dengan nada biasa-biasa saja.
"Resep spageti super rahasiaku. Diwariskan
turun-temurun ke beberapa generasi," kata Billy
dengan suara serak.
Jacob mendengus. "Kurasa Ragu belum ada
selama itu."
Di dalam rumah penuh orang. Ada Harry
Clearwater bersama keluarganya—istrinya, Sue,
yang samar-samar masih kuingat dari liburan
musim panas di Forks waktu aku masih kecil dulu,
dan kedua anaknya. Leah murid senior seperti aku,
tapi usianya setahun lebih tua. Kecantikannya
eksotis—kulit tembaga indah, rambut hitam
mengilat, bulu mata tebal seperti bulu ayam—dan
ia sibuk sendiri. Sejak kami datang, ia terus asyik
mengobrol di telepon rumah Billy, dan tidak
kunjung berhenti. Seth berumur empat belas
tahun; ia mendengarkan setiap kata yang keluar
dari mulut Jacob dengan sorot mata mengidolakan.
Karena tidak semua orang bisa ditampung di
meja dapur, Charlie dan Harry mengeluarkan
kursi-kursi ke halaman, dan kami makan spageti
dari piring yang diletakkan di pangkuan, di
keremangan cahaya lampu yang menyorot dari
balik pintu rumah Charlie yang terbuka. Kaum
lelaki mengobrolkan pertandingan, lalu Harry dan
Charlie menyusun rencana untuk memancing
bersama-sama. Sue menyindir suaminya tentang
kolesterolnya dan berusaha, meski gagal,
membuatnya malu dan makan sesuatu yang
berdaun dan berwarna hijau. Jacob mengobrol
denganku dan Seth, yang sesekali menyela dengan
penuh semangat setiap kali Jacob terlihat seperti
mau melupakannya. Charlie menatapku, berusaha
agar tidak kentara, dengan sorot mata senang
namun waspada.
Berisik dan terkadang membingungkan rasanya
saat semua orang berlomba-lomba mengungguli
yang lain dalam bercerita, dan tawa dari satu
lelucon diinterupsi dengan cerita tentang lelucon
lain. Aku tak perlu sering-sering bicara, tapi aku
banyak tersenyum, dan itu hanya karena aku
merasa ingin. Rasanya aku tak ingin pulang.
Tapi, ini Washington, dan akhirnya hujan
membubarkan pertemuan kami; ruang tamu Billy
kelewat sempit untuk melanjutkan acara kumpulkumpul
kami. Charlie tadi naik mobil Harry, jadi
kami pulang naik trukku. Charlie bertanya tentang
kegiatanku hari ini, dan sebagian besar yang
kuceritakan benar—bahwa aku pergi dengan Jacob
mencari onderdil kemudian menontonnya bekerja
di garasi.
"Menurutmu, kau akan mengunjunginya lagi
nanti?” tanya Charlie, berusaha menunjukkan
sikap biasa-biasa saja.
"Besok sepulang sekolah,” aku mengakui. "Aku
akan membawa PR-ku, jangan khawatir."
"Pastikan kau melakukannya," perintah Charlie,
berusaha menutupi perasaan puasnya.
Aku merasa gelisah sesampai di rumah. Aku
tidak ingin naik ke lantai atas. Hangatnya
kehadiran Jacob berangsur-angsur lenyap, dan
sebagai gantinya, perasaan resah semakin menjadijadi.
Aku yakin aku tak mungkin tidur tenang dua
malam berturut-turut.
Untuk menunda tidur aku mengecek e-mail; ada
pesan baru dari Renee.
Ia menulis tentang kegiatannya hari itu, tentang
klub buku yang mengisi waktu luang karena ia
keluar dari kelas meditasi, tentang pengalamannya
minggu ini menjadi guru pengganti di kelas dua,
membuatnya merindukan murid-murid TK-nya. Ia
juga menulis tentang Phil yang menikmati
pekerjaan barunya sebagai pelatih, dan bahwa
mereka berencana berbulan madu kedua ke Disney
World.
Dan aku membaca semuanya seperti membaca
buku harian, bukan surat yang ditujukan untuk
orang lain. Hatiku dilanda perasaan menyesal,
membuat perasaanku tertusuk. Aku ini bukan
anak baik.
Aku membalas e-mail-nya dengan cepat,
mengomentari setiap bagian suratnya, dan
menceritakan aktivitasku juga—kuceritakan
tentang pesta spageti di rumah Billy dan apa yang
kurasakan saat menonton Jacob membuat sesuatu
yang berguna dari potongan-potongan kecil
logam—kagum dan sedikit iri. Aku sama sekali
tidak mengungkit tentang perubahan nyata dalam
surat ini dibandingkan surat-surat lain yang
diterima ibuku dalam beberapa bulan terakhir. Aku
bahkan nyaris tak ingat apa yang kutulis seminggu
yang lalu, tapi aku yakin isinya pasti sangat tidak
responsif. Semakin dipikir, semakin aku merasa
bersalah; aku pasti benar-benar membuat ibuku
khawatir.
Aku masih bertahan sampai jauh malam
sesudah itu, menyelesaikan PR lebih banyak
daripada yang seharusnya kukerjakan. Tapi meski
kurang tidur dan sudah menghabiskan hampir
seharian bersama Jacob—merasa nyaris bahagia—
ternyata itu tetap tak bisa menjauhkan mimpi
buruk dari tidurku selama dua malam berturutturut.
Saat bangun aku gemetaran, teriakanku teredam
bantal. Ketika cahaya pagi yang samar masuk
melalui jendelaku, aku diam tak bergerak di tempat
tidur dan mencoba mengenyahkan mimpi buruk
itu. Tapi ada sedikit perbedaan dalam mimpi tadi
malam, dan aku berkonsentrasi mengingatnya.
Semalam aku tidak sendirian di hutan. Sam
Uley—lelaki yang menemukanku di hutan pada
malam yang tidak sanggup kupikirkan dalam
keadaan sadar itu—ada di sana. Perubahan yang
aneh dan tak terduga-duga. Yang mengejutkan,
mata gelapnya memancarkan sorot tidak ramah,
sarat rahasia yang sepertinya tak ingin ia bagikan
padaku. Kupandangi dia sesering yang bisa
dilakukan mataku yang jelalatan mencari-cari; aku
jadi gelisah, selain perasaan panik yang biasa,
karena ia ada di sana. Mungkin itu karena, bila
aku tidak sedang menatap langsung ke arahnya,
bentuk badannya seolah menggeletar dan berubah
dalam tatapanku. Tapi ia tidak melakukan apa-apa
kecuali berdiri dan memandangiku. Tidak seperti
waktu kami bertemu di dunia nyata, ia tidak
menawarkan bantuan.
Charlie memandangiku selama sarapan, dan aku
berusaha mengabaikannya. Kurasa aku pantas
menerimanya. Aku tak bisa berharap ayahku tidak
mengkhawatirkan aku. Mungkin butuh berminggu minggu
baru ia akan berhenti memandangiku
seolah-olah menunggu aksi zombie-ku muncul
kembali, jadi aku harus berusaha untuk tidak
membiarkan itu menggangguku. Bagaimanapun,
aku sendiri juga akan mengawasi kemunculan lagi
si zombie itu. Dua hari belum cukup untuk
menganggap diriku sudah benar-benar sembuh.
Sekolah justru sebaliknya. Sekarang setelah aku
memerhatikan, kentara sekali tak ada yang
memerhatikanku.
Aku ingat hari pertama aku datang ke Forks
High School—betapa aku sangat berharap bisa
berubah warna menjadi abu-abu dan menghilang
ke balik beton trotoar yang basah seperti bunglon
raksasa. Tampaknya permohonanku terkabul, satu
tahun terlambat.
Rasanya seolah-olah aku tidak di sana. Bahkan
mata guru-guru melewati kursiku seolah-olah
kursi itu kosong.
Aku mendengar segalanya sepanjang pagi, sekali
lagi mendengar suara-suara orang di sekelilingku.
Aku berusaha mengetahui apa yang terjadi, tapi
obrolan mereka terpotong-potong jadi akhirnya aku
menyerah.
Jessica tidak mendongak waktu aku duduk di
sebelahnya di kelas Kalkulus.
"Hai, Jess," sapaku sok biasa-biasa saja.
"Bagaimana sisa akhir minggumu kemarin?"
Jessica menengadah dengan sorot mata curiga.
Mungkinkah ia masih marah? Atau hanya tidak
sabar menghadapi orang gila?
"Super," jawabnya, mengalihkan perhatian
kembali ke bukunya.
"Bagus," gumamku.
Istilah "menganggap sepi" sangat tepat
menggambarkan sikap Jessica saat itu. Aku bisa
merasakan udara hangat berhembus dari kisi-kisi
di lantai, tapi tetap saja aku kedinginan.
Kuambil jaket yang tadi kusampirkan ke
punggung kursi, lalu memakainya lagi.
Pelajaran keempatku berakhir terlambat, jadi
meja tempatku biasa makan siang sudah penuh
waktu aku sampai di sana. Mike sudah ada di
sana, begitu juga Jessica dan Angela, Conner,
Tyler, Eric, dan Lauren. Katie Marshall, murid
junior berambut merah yang rumahnya dekat
dengan rumahku, duduk bersama Eric, dan Austin
Marks—kakak cowok yang memberiku motor—
duduk di sebelahnya. Aku bertanya-tanya dalam
hati sejak kapan mereka duduk di sini, tidak ingat
apakah ini yang pertama kali atau sudah menjadi
kebiasaan.
Aku mulai kesal pada diriku sendiri. Rasanya
seolah-olah aku dimasukkan ke kardus dan
dipendam dalam biji-biji Styrofoam selama
semester lalu.
Tidak ada yang mendongak waktu aku duduk di
sebelah Mike, walaupun kursiku berderit nyaring
menggores lantai linoleum waktu aku menariknya.
Aku berusaha mengikuti obrolan.
Mike dan Conner asyik mengobrol tentang
olahraga, jadi aku langsung menyerah, tidak bisa
mengikuti obrolan mereka.
"Ke mana Ben hari ini?" tanya Lauren pada
Angela. Aku tergugah, tertarik. Aku penasaran
apakah itu berarti Angela dan Ben masih pacaran.
Aku nyaris tidak mengenali Lauren. Rambut
pirangnya yang halus seperti sutra dipotong
pendek—sekarang rambutnya model pixic
superpendek, sampai-sampai bagian belakangnya
dicukur habis kayak cowok. Aneh sekali. Kalau
saja aku tahu alasan di baliknya. Mungkin ada
permen karet yang menempel di rambutnya? Atau
jangan-jangan ia menjual rambutnya? Apakah
orang-orang yang biasa diperlakukan tidak baik
olehnya memergokinya sendirian di belakang gym
dan menggundulinya? Kuputuskan tidak adil
menilainya dari pendapatku dulu. Siapa tahu
sekarang ia sudah berubah jadi baik.
"Ben kena flu perut," jawab Angela dengan suara
pelan dan kalem. "Mudah-mudahan tidak lama
sakitnya. Semalam sakitnya parah sekali."
Angela juga mengubah model rambutnya.
Sekarang layer di rambutnya sudah dipanjangkan.
“Apa saja yang kalian lakukan akhir minggu
kemarin?" tanya Jessica. kedengarannya tidak
terlalu memedulikan jawabannya. Berani bertaruh,
itu pasti hanya pancingan supaya ia bisa
menceritakan ceritanya sendiri. Aku penasaran
apakah ia akan bercerita tentang Port Angeles
sementara aku duduk hanya dua kursi jauhnya
dari dia? Apakah aku begitu tidak kasatmata,
sehingga tidak ada yang merasa tidak nyaman
membicarakan aku padahal aku ada di sini?
"Sebenarnya kami berniat piknik hari Sabtu,
tapi... berubah pikiran," cerita Angela. Ada sedikit
ketegangan dalam suaranya yang menarik
perhatianku.
Kalau Jess, tetap saja tidak peduli. "Sayang
sekali," katanya, bersiap membeberkan ceritanya
sendiri. Tapi ternyata bukan hanya aku yang
memerhatikan.
"Apa yang terjadi?" tanya Lauren ingin tahu.
“Well," jawab Angela, terkesan lebih ragu-ragu
daripada biasanya, walaupun ia memang selalu
berhati-hati. "Kami naik mobil ke utara, hampir
sampai ke sumber air panas—di sana ada tempat
yang asyik untuk piknik, kira-kira satu setengah
kilometer menyusuri jalan setapak. Tapi baru
separo jalan menuju ke sana... kami melihat
sesuatu."
"Melihat sesuatu? Apa?" Alis Lauren yang pucat
bertaut. Bahkan Jess sepertinya mendengarkan
sekarang.
"Entahlah," jawab Angela. "Kami pikir itu
beruang. Soalnya warnanya hitam, tapi
sepertinya... terlalu besar."
Lauren mendengus. "Oh, masa kau juga!" Sorot
matanya berubah mengejek, dan kuputuskan
menarik kembali keraguanku barusan. Jelas,
kepribadiannya belum banyak berubah, tidak
seperti rambutnya. "Tyler juga berusaha
meyakinkanku dengan cerita mengenai beruang
minggu lalu."
"Tak mungkin ada beruang berkeliaran sedekat
itu dengan pemukiman penduduk," kata Jessica,
berpihak pada Lauren.
"Sungguh," protes Angela dengan suara rendah,
menunduk memandang meja. "Kami benar-benar
melihatnya."
Lauren tertawa meremehkan. Mike masih asyik
mengobrol dengan Conner, tidak memerhatikan
mereka.
"Tidak, dia benar," selaku tak sabar. "Hari Sabtu
kemarin ada hiker yang mengaku melihat beruang
juga, Angela. Katanya, beruang itu besar dan
hitam, dan tidak jauh di luar kota. Benar kan,
Mike?"
Suasana langsung sunyi. Setiap pasang mata di
meja itu berpaling dan menatapku dengan shock.
Si cewek baru, Katie, mulutnya ternganga seperti
baru saja menyaksikan ledakan. Tidak ada yang
bergerak.
"Mike?" gumamku, malu. "Ingat, tidak, orang
yang bercerita soal beruang itu?"
"T-tentu," jawab Mike terbata-bata sedetik
kemudian. Entah mengapa ia memandangku
seaneh itu. Aku bicara dengannya di tempat kerja,
kan? Benar, kan? Kalau tidak salah sih begitu...
Mike pulih dari kagetnya. "Yeah, tempo hari ada
orang bilang dia melihat beruang hitam besar di
ujung jalan setapak lebih besar daripada grizzly."
"Hmph." Lauren berpaling pada Jessica,
bahunya mengejap lalu langsung mengubah topik.
"Sudah dapat kabar dari USC?" tanyanya.
Semua ikut berpaling, kecuali Mike dan Angela.
Angela tersenyum ragu-ragu padaku, dan aku
buru-buru membalas senyumnya.
"Omong-omong, apa saja kegiatanmu akhir
pekan kemarin, Bella?" tanya Mike ingin tahu, tapi
anehnya waswas.
Semua kecuali Lauren menoleh, menunggu
jawabanku.
"Jumat malam Jessica dan aku nonton film di
Port Angeles, Sabtu siang dan hampir sepanjang
hari Minggu kuhabiskan di La Push.”
Beberapa pasang mata menatapku dan Jessica
berganti-ganti. Jessica tampak kesal. Aku jadi
bertanya-tanya dalam hati apakah itu karena ia tak
ingin orang lain tahu ia pergi bersamaku, atau
karena ingin ia yang bercerita.
"Kalian nonton film apa?" tanya Mike, mulai
tersenyum.
"Dead End—yang ada zombie-nya itu lho." Aku
nyengir memberi semangat. Mungkin sebagian
kerusakan yang kubuat selama bulan-bulan
zombie-ku kemarin masih bisa diperbaiki.
"Dengar-dengar, filmnya seram ya. Menurutmu
begitu?" Mike bersemangat meneruskan obrolan.
"Bella bahkan keluar di akhir film, saking
ketakutannya," sela Jessica sambil tersenyum licik.
Aku mengangguk, berusaha menunjukkan wajah
malu. "Seram abis."
Mike tak henti-hentinya menanyaiku sampai
makan siang berakhir. Berangsur-angsur, yang
lain-lain bisa memulai obrolan lain, meski masih
sering memandangiku. Angela lebih sering
mengobrol dengan Mike dan aku, dan, waktu aku
berdiri untuk membuang sisa-sisa makanan dari
nampan, ia mengikuti.
"Trims ya," katanya pelan setelah kami jauh dari
meja.
"Untuk apa?"
"Untuk berbicara, membelaku tadi."
"Bukan masalah."
Angela menatapku prihatin, tapi bukan karena
ia mengira aku sudah sinting. "Kau baik-baik
saja?"
Inilah sebabnya aku lebih memilih Jessica
daripada Angela—walaupun aku lebih menyukai
Angela—untuk menemaniku jalan bareng. Karena
Angela terlalu cepat mengerti.
"Tidak sepenuhnya," aku mengakui. "Tapi sudah
sedikit lebih baik."
"Aku senang," ucapnya. "Aku kehilangan kau
selama ini."
Saat itulah Lauren dan Jessica melenggang
melewati kami, dan aku mendengar Lauren
berbisik keras, "Aduh senangnya. Bella sudah
kembali."
Angela memutar bola matanya pada mereka, dan
tersenyum padaku dengan sikap menyemangati.
Aku mendesah. Rasanya seperti memulai dari
awal lagi.
"Hari ini tanggal berapa?" tanyaku tiba-tiba.
"Sembilan belas Januari."
"Hmm."
"Memangnya kenapa?" tanya Angela.
"Kemarin tepat satu tahun aku memulai hari
pertamaku di sini," kenangku.
“Tidak banyak yang berubah," gumam Angela,
memandang Lauren dan Jessica.
"Memang," sahutku sependapat. "Aku juga
berpikir begitu.
7. PENGULANGAN
ENTAH apa yang kulakukan di sini.
Apakah aku berusaha mendorong diriku kembali
ke keadaan seperti zombie? Apakah aku sudah
berubah menjadi masokis—senang disiksa?
Seharusnya aku langsung ke La Push. Aku merasa
jauh. jauh lebih sehat bila bersama Jacob, Ini
bukan hal yang sehat untuk dilakukan.
Tapi aku terus saja mengendarai trukku pelanpelan
menembus jalan yang ditumbuhi semaksemak
liar di kiri-kanan-nya, meliuk-liuk
menerobos pepohonan yang melengkung di atas
kepala bagai terowongan hijau yang hidup. Kedua
tanganku gemetar, dan aku mempererat
cengkeramanku pada setir.
Aku tahu sebagian alasanku melakukan ini
karena mimpi buruk itu; sekarang setelah aku
benar-benar terbangun, kehampaan mimpi itu
menggerogoti saraf-sarafku, seperti anjing
mengkhawatirkan di mana tulangnya dikubur. Ada
sesuatu yang harus dicari. Tak bisa diraih dan
mustahil, tidak peduli dan tidak perhatian... tapi
dia ada di luar sana, di suatu tempat. Aku harus
memercayai hal itu.
Sebagian yang lain adalah sensasi pengulangan
aneh seperti yang kurasakan di sekolah tadi,
tanggal yang kebetulan itu. perasaan bahwa aku
memulai dari awal lagi—mungkin akan begitulah
hari pertamaku jadinya bila aku sungguh-sungguh
menjadi orang yang paling tidak biasa di kafeteria
siang itu.
Kata-kata itu memenuhi kepalaku, tanpa nada,
seolah-olah aku membaca dan bukan
mendengarnya langsung:
Nantinya akan terasa seolah-olah aku tak pernah
ada.
Aku membohongi diri sendiri dengan membagi
alasan kedatanganku ke sini menjadi hanya dua
bagian. Aku tak mau mengakui motivasi terbesar.
Karena secara mental itu tidak waras.
Sebenarnya, aku ingin mendengar suaranya lagi,
seperti delusi aneh yang kualami Jumat malam
lalu. Untuk waktu yang singkat itu, ketika
suaranya datang dari bagian lain selain ingatan
sadarku, ketika suaranya terdengar sempurna dan
semanis madu, bukan gaung lemah seperti yang
biasa dimunculkan kenanganku, aku bisa
mengingatnya tanpa merasa sedih. Itu tidak
bertahan lama; kepedihan itu kembali
menyerangku, sesuatu yang aku yakin pasti akan
terjadi setelah aku melakukan tindakan ceroboh
ini. Tapi momen-momen berharga saat aku bisa
mendengarnya lagi bagaikan rayuan yang tak bisa
ditolak. Aku harus mencari cara untuk mengulangi
pengalaman itu... atau mungkin istilah yang lebih
tepat adalah episode.
Aku berharap deja vu adalah kuncinya. Itu
sebabnya aku akan pergi ke rumahnya, yang tak
pernah kuinjak lagi sejak pesta ulang tahunku
yang sial itu, beberapa bulan silam.
Tumbuh-tumbuhan lebat dan nyaris menyerupai
hutan belantara merayap lamban di samping
jendela trukku, meluncur dan meluncur terus.
Kupercepat laju trukku, mulai gelisah. Sudah
berapa lama aku menyetir? Bukankah seharusnya
aku sudah sampai di rumah itu? Tetumbuhan
begitu menyemak hingga jalan yang kulalui tampak
asing.
Bagaimana kalau aku tak bisa menemukannya?
Aku bergidik. Bagaimana kalau tidak ada bukti
nyata sama sekali?
Kemudian kelebatan pepohonan mulai
merenggang, persis seperti yang kucari, hanya saja
sekarang tidak terlalu kentara. Flora di sini tidak
menunggu lama untuk mengklaim kembali tanah
yang dibiarkan tak dijaga. Pakis-pakisan tinggi
sudah menyusup ke padang rumput di sekeliling
rumah, mengimpit batang-batang pohon cedar,
bahkan sampai ke teras yang lebar. Seolah-olah
halaman dibanjiri—setinggi pinggang—dengan
gelombang hijau berombak-ombak.
Dan rumah itu ada di sana, tapi tidak sama.
Meski tidak ada yang berubah di bagian luar,
namun kekosongan berteriak dari jendelajendelanya
yang melompong. Mengerikan. Untuk
pertama kali semenjak melihat rumah indah ini,
aku merasa ini tempat yang tepat untuk kediaman
vampir.
Kuinjak rem dalam-dalam, berpaling. Aku tak
berani maju lebih jauh lagi.
Tapi tak ada yang terjadi. Tidak ada suara apaapa
dalam benakku.
Aku membiarkan mesin truk tetap menyala dan
melompat ke dalam lautan pakis. Mungkin, seperti
Jumat malam lalu, kalau aku melangkah maju...
Pelan-pelan aku berjalan menghampiri bagian
depan rumah yang sepi dan kosong, mesin trukku
menggemuruh menenangkan di belakangku. Aku
berhenti sesampainya di tangga teras, karena tidak
ada apa-apa di sini. Tidak tersisa sedikit pun kesan
bahwa mereka pernah di sini... bahwa ia pernah di
sini. Rumah itu memang masih berdiri kokoh, tapi
itu tidak banyak berarti. Realita konkretnya tidak
akan mengenyahkan kehampaan mimpi burukku.
Aku tidak berjalan lebih dekat lagi. Aku tidak
ingin melongok ke dalam jendela. Entah mana yang
lebih berat dilihat. Bila ruangan-ruangan di
dalamnya melompong, bergaung kosong dari lantai
ke langit-langit, itu pasti akan sangat menyakitkan.
Seperti waktu nenekku meninggal, saat ibuku
berkeras menyuruhku tetap di luar sebelum Beliau
dimakamkan. Alasannya, aku tidak perlu melihat
Gran seperti itu, mengingatnya seperti itu, lebih
baik mengingatnya seperti waktu ia masih hidup.
Tapi apakah tidak lebih buruk bila semuanya
tetap sama? Bila sofa-sofa itu masih berada di
tempat aku terakhir kali melihatnya, lukisanlukisan
masih terpajang di dinding—dan lebih
parah lagi, piano itu masih bertengger di
panggungnya yang rendah? Itu hanya bisa
ditandingi dengan rumah ini lenyap tanpa bekas,
melihat benda-benda itu teronggok begitu saja.
Bahwa semua masih sama, tak disentuh dan
dilupakan, ditinggalkan pemiliknya.
Sama seperti aku.
Aku berbalik memunggungi kekosongan yang
menyayat hati itu dan bergegas kembali ke truk.
Hampir saja aku berlari. Aku ingin secepatnya
pergi dari sini, kembali ke dunia manusia. Aku
merasa diriku hampa, dan aku ingin bertemu
Jacob. Mungkin ada penyakit lain yang
berkembang dalam diriku, kecanduan lain, seperti
kekebasan yang kurasakan sebelumnya. Aku tak
peduli. Kuinjak pedal gas dalam-dalam, memacu
trukku secepat mungkin, menggelinding menuju
"obat" yang dapat memuaskan kecanduanku.
Jacob sudah menungguku. Dadaku seakan
merileks begitu melihatnya, membuatku mudah
bernapas.
"Hai, Bella," serunya.
Aku tersenyum lega. “Hai, Jacob" Kulambaikan
tangan pada Billy yang memandang ke luar
jendela.
"Ayo kita segera bekerja," kata Jacob dengan
suara pelan namun bersemangat.
Entah bagaimana aku bisa tertawa. "Kau benarbenar
belum muak padaku, ya?" aku penasaran. Ia
sendiri pasti mulai bertanya-tanya, sebegitu putus
asanya aku ingin punya teman.
Jacob berjalan menduluiku mengitari rumah
untuk menuju garasi.
"Nggak. Belum."
"Tolong beritahu aku kapan aku mulai
membuatmu kesal. Aku tidak mau menjadi
pengganggu."
"Oke." Jacob tertawa, suaranya sengau. "Tapi
kalau aku jadi kau, aku tidak bakal terlalu
berharap."
Saat melangkah memasuki garasi, aku shock
melihat motor merah itu sudah berdiri, tampak
lebih mirip motor daripada onggokan besi tua.
“Jake, hebat benar kau," desahku.
Lagi-lagi Jake tertawa. "Aku jadi obsesif bila
sedang mengerjakan proyek." Ia mengangkat bahu.
"Kalau pintar sih, seharusnya aku berlama-lama
mengerjakannya."
"Kenapa?"
Jacob menunduk, berdiam diri lama sekali
hingga aku sempat bertanya-tanya apakah ia
mendengar pertanyaanku. Akhirnya, ia bertanya
padaku, "Bella, seandainya aku berkata tidak bisa
membetulkan sepeda-sepeda motor itu, apa yang
akan kaukatakan?"
Aku juga tidak langsung menjawab, dan Jacob
mendongak untuk mengecek ekspresiku.
"Aku akan berkata... sayang sekali, tapi berani
taruhan, kita pasti bisa mencari kegiatan lain
untuk dilakukan. Kalau kepepet sih, kita bahkan
bisa mengerjakan PR bersama."
Jacob tersenyum, dan bahunya kembali rileks. Ia
duduk di sebelah motor dan memungut obeng.
"Menurutmu kau masih akan datang ke sini kalau
aku sudah selesai memperbaikinya, begitu?"
"Jadi maksudmu itu ya?" Aku menggeleng.
"Kurasa aku memang sengaja memanfaatkan
keahlian mekanikmu yang kelewat murah itu. Tapi
selama kau masih mengizinkan aku datang ke sini,
aku pasti datang."
"Berharap ketemu Quil lagi?" godanya.
"Ketahuan deh."
Jacob terkekeh. "Kau benar-benar suka
menghabiskan waktu bersamaku?" tanyanya,
takjub.
"Suka, suka sekali. Dan akan kubuktikan. Aku
harus kerja besok, tapi Rabu-nya kita bisa
melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya
dengan perbengkelan."
"Seperti apa?"
"Entahlah. Kita bisa pergi ke rumahku supaya
kau tidak tergoda untuk menjadi obsesif. Kau bisa
membawa tugas sekolahmu—kau pasti banyak
ketinggalan pelajaran, karena aku tahu aku pun
begitu."
"Boleh juga bikin PR bareng." Jacob mengernyit
dan aku bertanya-tanya dalam hati berapa banyak
PR yang sudah lalai ia kerjakan agar bisa
bersamaku.
"Benar," aku sependapat. "Kita harus mulai
menunjukkan sikap bertanggung jawab sesekali,
kalau tidak Billy dan Charlie tidak bakal semudah
ini memberi izin," Aku membuat isyarat yang
menggambarkan kami sebagai kesatuan. Jacob
senang melihatnya—wajahnya berseri-seri.
"Mengerjakan PR sekali seminggu?" usulnya.
“Mungkin lebih baik dua kali," aku
menyarankan, membayangkan setumpuk PR yang
baru saja diberikan hari ini.
Jacob mengembuskan napas berat. Lalu ia
mengulurkan tangan melewati kotak perkakas,
mengambil kantong kertas. Dari dalamnya ia
mengeluarkan dua kaleng soda, membuka satu
dan menyodorkannya padaku. Lalu dibukanya
kaleng kedua dan diangkatnya dengan sikap
seperti hendak bersulang.
"Ini untuk tanggung jawab," katanya. "Dua kali
seminggu."
"Dan kecerobohan pada setiap hari di
antaranya," aku menekankan
Jacob nyengir dan menempelkan kalengnya ke
kalengku.
Aku sampai di rumah lebih malam daripada
yang kurencanakan, dan mendapati Charlie sudah
memesan pizza dan bukannya menungguku
pulang. Ia tidak menerima permintaan maafku.
"Tidak apa-apa," ia meyakinkan aku. "Sesekali
kau pantas mendapat istirahat dari tugas
memasak."
Aku tahu Charlie hanya merasa lega karena aku
masih bersikap layaknya manusia normal, dan
tidak ingin merusak suasana.
Aku mengecek e-mail dulu sebelum mulai
mengerjakan PR. Ternyata ada balasan dari Renee.
Ia bersemangat sekali mengomentari setiap hal
yang kutulis kemarin, jadi aku pun membalasnya
dengan penjelasan panjang-lebar tentang
kegiatanku hari ini. Semua kecuali tentang sepeda
motor. Bahkan Renee yang periang itu bakal
jantungan kalau kuceritakan.
Suasana sekolah hari Selasa lumayan
menyenangkan – Angela dan Mike sepertinya siap
menyambutku kembali dengan tangan terbuka—
dengan berbaik hati melupakan sikapku yang
menyimpang beberapa bulan terakhir ini.
Sementara Jess masih menolak. Aku jadi
penasaran jangan-jangan ia membutuhkan surat
permintaan maaf resmi atas insiden di Port Angeles
tempo hari.
Mike riang dan cerewet sekali saat bekerja.
Seolah-olah selama ini ia menyimpan bahan
obrolan selama satu semester dan menumpahkan
semuanya sekarang. Aku mendapati diriku bisa
tersenyum dan tertawa bersamanya, meski tidak
semudah bila aku bersama Jacob. Kelihatannya
tidak ada maksud apa-apa di baliknya, sampai tiba
waktunya untuk pulang.
Mike memasang tanda "TUTUP" di etalase
sementara aku melipat rompiku dan
menjejalkannya di bawah konter.
"Menyenangkan sekali malam ini," kata Mike
senang.
"Yeah," aku sependapat, meski lebih suka
menghabiskan soreku di garasi.
"Sayang kau harus keluar sebelum filmnya
selesai minggu lalu."
Aku agak bingung mengikuti jalan pikirannya.
Kuangkat bahuku. "Kurasa aku memang penakut."
"Maksudku, seharusnya kau nonton film yang
lebih bagus, yang kau suka," ia menjelaskan.
"Oh," gumamku, masih bingung.
"Seperti misalnya Jumat ini. Bersamaku. Kita
bisa pergi nonton film yang tidak seram sama
sekali.”
Kugigit bibirku.
Aku tidak ingin merusak hubunganku dengan
Mike, tidak bila dialah salah satu dari sedikit orang
yang siap memaafkanku atas sikap gilaku. Tapi ini,
lagi-lagi, terasa sangat familier. Seakan-akan
peristiwa tahun lalu tak pernah terjadi. Kalau saja
kali ini aku bisa memakai Jess sebagai alasan.
“Maksudmu berkencan?" tanyaku. Bersikap
jujur mungkin langkah terbaik yang bisa diambil
saat ini. Langsung ke pokok masalah.
Mike mencerna nada suaraku. "Kalau kau mau.
Tapi tidak perlu begitu juga."
"Aku tidak mau berkencan," jawabku lambatlambat,
menyadari betapa benar hal itu. Seisi
dunia terasa sangat jauh denganku sekarang.
"Hanya sebagai teman?" Mike mengusulkan.
Bola matanya yang biru jernih sekarang tidak
tampak terlalu bersemangat. Kuharap ia
bersungguh-sungguh waktu mengatakan kami bisa
jadi teman saja.
"Pasti asyik. Tapi sayangnya aku sudah punya
acara Jumat nanti, jadi bagaimana kalau minggu
depan?"
"Kau mau ngapain?" tanyanya, lebih ingin tahu
daripada yang kurasa ingin ia tunjukkan.
"Bikin PR. Aku sudah... janji akan belajar
bersama teman.”
"Oh. Oke. Mungkin minggu depan."
Mike mengantarku ke trukku, sikapnya tidak
seceria tadi. Aku jadi teringat bulan-bulan
pertamaku di Forks. Lingkaran kehidupanku
seolah kembali ke titik awal, dan sekarang
semuanya terasa bagaikan gema—gema yang
kosong, tanpa ketertarikan seperti dulu.
Esok malamnya Charlie tidak kelihatan kaget
sedikit pun melihat Jacob dan aku berselonjor di
lantai ruang tamu dengan buku pelajaran
bertebaran di mana-mana, jadi kurasa ia dan Billy
diam-diam membicarakan kegiatan kami.
“Hai, Anak-anak," sapanya, matanya mengarah
ke dapur. Aroma lasagna yang kubuat sesorean
tadi—sementara Jacob menonton dan sesekali
mencicipi—menguar ke ruang depan; aku sengaja
berbuat baik, berusaha menebus dosa gara-gara
membiarkan Charlie memesan pizza terus.
Jacob ikut makan malam bersama kami, lalu
pulang sambil membawa sepiring makanan untuk
Billy. Dengan enggan ia menambahkan satu tahun
lagi ke umurku yang masih bisa dinegosiasikan
karena kepiawaianku memasak.
Hari Jumat kami nongkrong di garasi, dan
Sabtu-nya, usai bekerja di Newtons, kami bikin PR
lagi. Charlie merasa cukup yakin aku sudah
kembali waras sehingga mau pergi memancing
bersama Harry. Waktu ia pulang, kami sudah
selesai mengerjakan PR—merasa sangat
bertanggung jawab dan dewasa—dan sedang
menonton Monster Garage di Discovery Channel.
"Mungkin sebaiknya aku pulang," Jacob
mendesah. "Ternyata sudah malam sekali."
"Oke, baiklah," gerutuku. "Kuantar kau pulang."
Jacob tertawa melihat ekspresiku yang
keberatan—sepertinya itu membuatnya senang.
"Besok kembali bekerja," kataku begitu kami
sudah aman di dalam truk. "Jam berapa kau mau
aku datang?"
Ada kesan riang yang tak bisa dijelaskan
terpancar dari senyumnya. "Kutelepon kau dulu,
oke?"
"Tentu." Keningku berkerut, bertanya-tanya ada
apa. Senyum Jacob semakin lebar.
Aku membersihkan rumah keesokan paginya—
sambil menunggu Jacob menelepon sekaligus
berusaha mengenyahkan mimpi burukku yang
terakhir. Pemandangannya berubah. Semalam aku
berkelana di tengah lautan pakis yang diselingi
pohon hemlock raksasa di sana-sini. Tidak ada
apa-apa lagi di sana, dan aku tersesat,
menggelandang tanpa tujuan dan sen dirian, tidak
mencari apa-apa. Ingin rasanya kumarahi diriku
sendiri karena pergi ke sana minggu lalu.
Kutepiskan mimpi itu dari pikiran sadarku,
berharap mimpi tersebut akan terkunci rapat di
suatu tempat dan tidak muncul lagi.
Charlie sedang mencuci mobil patrolinya di luar,
jadi ketika telepon berdering, aku langsung
menjatuhkan sikat WC dan lari ke bawah untuk
mengangkatnya.
"Halo?" jawabku terengah-engah.
"Bella." kata Jacob, nadanya aneh dan formal.
"Hai, Jake"
"Aku yakin kita... ada kencan hari ini," katanya,
nadanya sarat makna terselubung.
Butuh waktu sedetik bagiku untuk
mencernanya. "Sudah selesai? Aku tidak percaya!"
Waktunya benar-benar tepat. Aku membutuhkan
sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku dari
mimpi buruk dan kehampaan.
"Yeah, dua-duanya sudah berfungsi lagi."
"Jacob, kau ini benar-benar, tidak diragukan
lagi, orang paling berbakat dan hebat yang pernah
kukenal. Usiamu bertambah sepuluh tahun karena
ini."
"Keren! Jadi sekarang aku sudah separo baya."
Aku tertawa. "Aku akan segera ke sana!"
Kulempar semua peralatan bersih-bersihku ke
bawah konter kamar mandi, lalu kusambar
jaketku.
"Mau ke rumah Jake," kata Charlie waktu aku
berlari melewatinya. Itu bukan pertanyaan.
“Yep," sahutku sambil meloncat ke truk.
"Aku nanti akan ke kantor," Charlie berseru
padaku.
“Oke," aku balas berteriak, memutar kunci.
Charlie mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa
mendengarnya dengan jelas karena terhalang
raungan mesin truk. Ke dengarannya seperti,
"Buru-buru amat?"
Kuparkir trukku di sisi rumah keluarga Black,
dekat pepohonan, supaya kami bisa lebih mudah
menyelundupkan sepeda-sepeda motor itu keluar.
Waktu aku turun, secercah warna berkelebat
menarik perhatianku—dua motor mengilap, satu
merah, satu hitam, tersembunyi di balik semak,
tidak tampak dari rumah. Jacob sudah siap.
Sepotong pita biru diikat membentuk pita kecil
di setiap setang motor. Aku tertawa melihatnya
sewaktu Jacob menghambur keluar rumah.
"Siap?" tanyanya pelan, matanya berbinar-binar.
Aku menengok ke belakang bahunya, tapi tidak
ada tanda-tanda kehadiran Billy.
"Yeah," jawabku, tapi tidak merasa terlalu
bersemangat seperti sebelumnya; aku mencoba
membayangkan diriku benar-benar menunggangi
sepeda motor itu.
Dengan enteng Jacob menaikkan sepeda-sepeda
motor itu ke bak belakang trukku,
membaringkannya dengan hati-hati agar tidak
terlihat.
"Ayo," ajaknya, suaranya lebih tinggi daripada
biasanya karena bersemangat. "Aku tahu tempat
yang aman—tidak ada yang akan memergoki kita
di sana."
Kami ke luar kota menuju selatan. Jalan tanah
berkelok-kelok keluar-masuk hutan—terkadang
tidak tampak pemandangan lain selain pepohonan,
dan sejurus kemudian tiba-tiba tampak
pemandangan indah Samudera Pasifik
membentang luas, jauh hingga ke batas cakrawala,
abu-abu gelap di bawah awan-awan. Kami berada
di atas pantai, di puncak tebing-tebing yang
membatasi pantai di sini, dan pemandangannya
seakan membentang luas hingga ke ujung bumi.
Aku mengendarai trukku pelan-pelan, supaya
bisa dengan aman memandangi samudra luas
sesekali, sementara jalan berkelok-kelok semakin
dekat ke tebing-tebing laut. Jacob bercerita tentang
keberhasilannya memperbaiki kedua sepeda motor
itu, tapi penjelasannya mulai mengarah ke hal-hal
teknis, jadi aku tidak begitu memerhatikan.
Saat itulah aku melihat empat orang berdiri di
tubir batu, terlalu dekat ke pinggir tebing. Dari
jauh aku tidak bisa menebak usia mereka, tapi
asumsiku mereka lelaki dewasa. Meski hari ini
dingin, kelihatannya mereka hanya mengenakan
celana pendek.
Kulihat lelaki yang tubuhnya paling tinggi maju
semakin dekat ke pinggir tebing. Otomatis aku
memperlambat laju truk, kakiku ragu-ragu di pedal
rem.
Dan detik berikutnya, lelaki itu menjatuhkan
dirinya dari pinggir tebing.
"Tidak!" teriakku, menginjak rem dalam-dalam.
"Ada apa?" Jacob balas berteriak, kaget.
"Orang itu—dia baru saja melompat dari pinggir
tebing! Mengapa mereka tidak mencegahnya? Kita
harus menelepon ambulans!" Kubentangkan pintu
truk lebar-lebar dan melompat keluar, tindakan
yang sama sekali tak masuk akal. Jalan tercepat ke
pesawat telepon adalah kembali ke rumah Billy
Tapi aku tidak memercayai apa yang baru saja
kulihat. Mungkin di alam bawah sadarku, aku
berharap akan melihat sesuatu yang berbeda bila
tidak dihalangi kaca depan trukku.
Jacob tertawa, dan aku berbalik menatapnya
dengan panik. Apakah ia begitu tidak punya
perasaan, begitu tega?
"Mereka hanya terjun dari tebing, Bella.
Rekreasi. Di La Push kan tidak ada mal," Jacob
menggoda, meski ada secercah nada kesal dalam
suaranya.
"Terjun dari tebing?" ulangku, bingung. Tak
percaya rasanya melihat sosok kedua melangkah
ke pinggir tebing, diam sejenak, kemudian dengan
sangat anggun melompat ke udara. Ia melayang
untuk waktu yang rasanya seperti berabad-abad
bagiku, sebelum akhirnya membelah ombak kelabu
gelap dengan mulus, jauh di bawah sana.
"Wow. Tinggi sekali." Aku masuk kembali ke
truk, sambil terus memandangi kedua penerjun
yang tersisa. "Tingginya tidak mungkin kurang dari
tiga puluh meter."
"Well, yeah, kebanyakan dari kami terjun dari
posisi yang agak lebih ke bawah, dari batu yang
menjorok ke luar tebing itu." Jacob menuding ke
luar jendela. Tempat yang ditunjukkannya memang
tampak jauh lebih masuk akal. "Orang-orang itu
sinting. Mungkin hanya ingin pamer. Maksudku,
yang benar saja, hari ini kan dingin sekali. Airnya
pasti sangat dingin." Jacob mengernyit tak setuju,
seolah-olah adegan berbahaya tadi
menyinggungnya secara pribadi. Aku agak terkejut
juga melihatnya. Kukira Jacob hampir tak pernah
marah.
"Kau pernah terjun dari tebing?" Kata "kami"
yang diucapkannya tadi tak luput dari
pendengaranku.
"Tentu, tentu," Ia mengangkat bahu dan nyengir.
"Asyik kok. Agak ngeri, memacu adrenalin."
Aku menoleh kembali memandangi tebing-tebing
itu, dan melihat sosok ketiga mondar-mandir di
pinggir tebing. Belum pernah aku menyaksikan
sesuatu yang senekat itu seumur hidupku. Mataku
membelalak, dan aku tersenyum. "Jake, kau harus
mengajakku terjun dari tebing kapan-kapan.
Jacob menatapku dengan kening berkerut,
wajahnya tidak setuju. "Bella, baru saja kau mau
memanggilkan ambulans untuk Sam," ia
mengingatkanku. Kaget juga aku, ia bisa mengenali
siapa orang tadi dari kejauhan.
"Aku ingin mencoba," aku berkeras, bergerak
untuk turun lagi dari truk.
Jacoh menyambar pergelangan tanganku.
“Jangan hari ini ok?: Bisakah kira menunggu
setidaknya sampai cuaca menghangat?"
“Oke, baik." aku setuju. Dengan pintu
terbuka,angin sedingin es membuat bulu kudukku
meremang. "Tapi aku ingin melakukannya dalam
waktu dekat.”
"Dalam waktu dekat." Jacob memutar bola
matanya. "Terkadang kau sedikit aneh, Bella. Kau
tahu itu?"
Aku mendesah. "Ya."
“Dan kita tidak akan terjun dari puncak." Aku
menonton, takjub, saat pemuda ketiga memulai
terjunnya dengan berlari lebih dulu dan
melontarkan diri lebih jauh ke udara kosong
daripada kedua temannya yang lain. Pemuda itu
meliuk dan berputar-putar di angkasa saat terjun
bebas, seperti penerjun payung. Ia tampak benarbenar
bebas—tanpa beban dan bersikap sesuka
hati.
"Baiklah." aku setuju. "Setidaknya untuk
pertama kali."
Sekarang giliran Jacob yang mendesah. "Jadi,
tidak, kita menjajal motor kita?" tuntut Jacob.
"Oke, oke," jawabku, mengalihkan mata dari
orang terakhir yang menunggu di tebing.
Kukenakan lagi sabuk pengamanku dan menutup
pintu. Mesin masih menyala, meraung keras bila
tidak dijalankan. Kami kembali melaju.
“Jadi siapa mereka—orang-orang gila itu?"
tanyaku.
Jacob mengeluarkan suara seperti kesal dari
tenggorokannya. "Mereka geng La Push."
"Kalian punya geng?" tanyaku. Sadarlah aku
suaraku terdengar kagum.
Jacob langsung tertawa melihat reaksiku. "Tidak
seperti itu. Sumpah, mereka itu seperti pengawas
sekolah yang melenceng dari tugasnya. Mereka
tidak suka bikin ulah, melainkan menjaga
ketenteraman." Jacob mendengus. "Pernah, suatu
kali ada pemuda dari daerah Makah rez sana,
badannya juga besar, pokoknya penampilannya
sangar. Well, menurut kabar burung, pemuda itu
menjual sabu ke anak-anak, dan Sam Uley serta
para muridnya mengusir pemuda itu dari tanah
kami. Mereka selalu saja mendengung-dengungkan
soal tanah kami dan harga diri suku... konyol juga
lama-lama. Parahnya lagi, dewan suku
menganggap serius mereka. Kata Embry, dewan
suku benar-benar bertemu Sam secara teratur."
Jacob menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya
menunjukkan mimik tidak suka. "Embry juga
pernah mendengar dari Leah Clearwater bahwa
geng itu menyebut diri mereka 'pelindung’ atau
semacam itulah."
Tangan Jacob mengepal, sepertinya gatal ingin
meninju sesuatu. Belum pernah aku melihatnya
seperti itu.
Kaget juga aku mendengar nama Sam Uley
disebut-sebut. Aku tidak ingin nama itu membawa
kembali ingatan tentang mimpi burukku, jadi aku
buru-buru menyampaikan hasil pengamatan
sekilasku untuk mengalihkan perhatian. "Kau
tidak terlalu menyukai mereka."
"Kelihatan, ya?" tanyanya sarkastis.
"Well. Kedengarannya mereka tidak melakukan
hal yang tidak baik" Aku berusaha menenangkan
Jacob, membuatnya riang kembali. "Hanya saja
sikap mereka memang agak terlalu sok alim untuk
anak geng."
"Yeah. Sok alim itu istilah yang tepat. Mereka
selalu ingin pamer—seperti terjun tebing itu.
Mereka bertingkah seperti... seperti, entahlah.
Seperti cowok-cowok macho. Dulu pernah, waktu
nongkrong di toko bersama Embry dan Quil,
semester lalu, Sam datang bersama kronikroninya,
Jared dan Paul. Quil mengatakan
sesuatu, kau kan tahu dia suka omong besar dan
omongannya membuat Paul jengkel. Matanya
langsung berubah gelap, dan dia seperti
tersenyum—bukan, dia memamer kan giginya rapi
tidak tersenyum—dan sepertinya dia marah sekali
sampai-sampai sekujur tubuhnya bergetar atau
bagaimana. Tapi Sam meletakkan tangannya di
dada Paul dan menggeleng. Paul memandanginya
sebentar dan kemudian tenang kembali. Terus
terang, seolah-olah Sam-lah yang bisa
menenangkannya—seakan-akan Paul bakal
mencabik-cabik kami kalau tidak dihentikan Sam."
Jacob mengerang. "Seperti film western kacangan.
Kau tahu kan, Sam itu besar sekali, umurnya saja
sudah dua puluh. Tapi Paul juga masih enam
belas, lebih pendek daripada aku dan tidak
segempal Quil. Kurasa, salah satu dari kami bisa
saja mengalahkannya."
Cowok macho? aku sependapat. Aku bisa
melihatnya dalam benakku ketika Jacob
menggambarkannya, dan itu mengingatkanku pada
sesuatu... tiga cowok jangkung berkulit gelap
berdiri diam dan saling merapat di ruang tamu
rumah ayahku. Gambarnya miring ke satu sisi,
karena kepalaku terbaring di sofa sementara dr.
Gerandy dan Charlie membungkuk di atasku...
Apakah mereka itu geng Sam?
Aku cepat-cepat berbicara lagi untuk
mengalihkan perhatianku dari kenangan itu.
"Apakah Sam tidak sedikit terlalu tua untuk hal
semacam ini?"
"Yeah. Seharusnya dia kuliah, tapi dia tetap
tinggal di sini. Sudah begitu, tidak ada yang
mempermasalahkannya pula. Padahal, dewan suku
marah besar waktu kakak perempuanku menolak
tawaran beasiswa parsial dan lebih memilih
menikah. Tapi, oh tidak, Sam Uley tidak mungkin
melakukan kesalahan."
Wajah Jacob mengeras oleh amarah—amarah
dan perasaan lain yang awalnya tidak kukenali.
"Kedengarannya sangat menjengkelkan dan...
aneh. Tapi aku tidak mengerti mengapa kau
memasukkannya ke hati." Kulirik wajahnya,
berharap aku tidak membuatnya tersinggung.
Jacob mendadak tenang, memandang ke luar
jendela.
"Belokannya terlewat," katanya datar.
Aku membuat putaran berbentuk huruf U yang
lebar sekali; sampai nyaris menabrak pohon saat
lingkaran yang kubuat membuat trukku terseok
hingga ke setengah badan jalan.
"Terima kasih peringatannya," gerutuku sambil
mulai menyusuri jalan kecil.
"Maaf, tadi aku sedang tidak memerhatikan
jalan." Sejenak tidak ada yang bicara.
"Kau bisa berhenti di mana saja di sepanjang
jalan ini," kata Jacob lirih.
Aku menepikan truk dan mematikan mesin.
Telingaku berdenging oleh kesunyian yang
mendadak. Kami turun, lalu Jacob berjalan ke
belakang untuk menurunkan sepeda motor. Aku
mencoba membaca ekspresinya. Ada hal lain yang
membuatnya gundah. Pertanyaanku tadi tepat
mengenai sasaran.
Jacob tersenyum setengah hati sambil
mendorong motor merah itu ke sisiku. "Selamat
ulang tahun yang terlambat. Kau siap?"
"Rasanya sudah." Tiba-tiba saja motor itu
tampak mengancam, menakutkan, waktu aku
sadar sebentar lagi aku akan mengendarainya.
"Kita akan pelan-pelan saja," Jacob berjanji.
Hati-hati kusandarkan motor itu ke bemper truk
sementara Jacob menurunkan motornya.
"Jake..." Aku ragu-ragu sejenak waktu ia
kembali mengitari truk.
"Yeah?"
"Apa sebenarnya yang membuatmu merasa
terganggu? Mengenai Sam. maksudku? Apakah
ada masalah lain?" Ku, pandangi wajahnya, tapi ia
tidak marah. Ia menatap tanah dan menendangkan
sepatunya ke roda depan sepeda motornya berkalikali.
seperti mengulur-ulur waktu.
Jacob mendesah. "Hanya... cara mereka
memperlakukan aku. Membuatku takut." Katakata
itu mulai berhamburan keluar dari mulutnya.
"Kau tahu, dewan suku terdiri atas para anggota
yang kedudukannya setara, tapi kalaupun ada
pemimpin, pemimpinnya adalah ayahku. Aku tidak
pernah bisa mengerti mengapa orang-orang
memperlakukan dia seperti itu. Mengapa opininya
yang paling didengar. Pasti ada hubungannya
dengan ayahnya dan ayah dari ayahnya. Kakek
buyutku, Ephraim Black, bisa dibilang kepala suku
kami yang terakhir, dan mereka masih
mendengarkan perkataan Billy, mungkin karena
itu.
"Tapi aku sama saja seperti orang-orang lain.
Tidak ada yang memperlakukan aku secara
istimewa... sampai sekarang."
Aku terperangah mendengarnya. "Sam
memperlakukan mu secara istimewa?"
"Yeah," jawab Jacob, mendongak dan
memandangku dengan sorot galau. "Dia
memandangiku seperti menunggu sesuatu...
seperti berharap aku akan bergabung dengan geng
tololnya itu suatu saat nanti. Dia lebih
memerhatikan aku daripada pemuda-pemuda lain.
Aku tidak suka."
“Kau tidak perlu bergabung dengan geng apa
pun." Suaraku marah. Ini benar-benar meresahkan
hati Jacob, dan itu membuatku marah.
Memangnya para "pelindung" ini pikir siapa
mereka?
“Yeah.” Kaki Jacob masih terus menendangnendang
roda.
"Apa?" Aku tahu pasti masih ada lagi.
Jacob mengerutkan kening, alisnya bertaut
seperti kalau ia tampak sedih dan khawatir,
bukannya marah. "Ini tentang Embry. Dia selalu
menghindariku belakangan ini"
Pikiran itu sepertinya tidak ada hubungannya
dengan masalah tadi, tapi aku ingin tahu apakah
masalah yang dihadapinya dengan sahabatnya itu
gara-gara aku. "Kau kan bersamaku terus akhirakhir
ini," aku mengingatkan dia, merasa egois.
Ternyata selama ini aku memonopoli dia.
"Tidak, bukan gara-gara itu. Bukan hanya aku
yang merasa begitu—Quil juga, dan orang-orang
lain. Embry tidak sekolah selama satu minggu, tapi
tidak pernah ada di rumah bila kami mencoba
menemuinya. Dan waktu dia kembali, dia
tampak... dia tampak kalut. Ketakutan. Quil dan
aku berusaha membujuknya untuk menceritakan
masalah yang dihadapinya, tapi dia tidak mau
bicara pada kami berdua."
Kupandangi Jacob, menggigit bibir dengan
cemas—ia benar-benar ketakutan. Tapi Jacob tidak
balas menatapku. Ia memandangi kakinya yang
menendang-nendang karet ban. Temponya makin
lama makin cepat.
"Lalu minggu ini, tak ada hujan tak ada angin,
Embry mulai bergabung dengan Sam dan temantemannya
yang lain. Dia tadi juga ada di tebing."
Suaranya rendah dan tegang.
Akhirnya Jacob menatapku juga. "Bella, dulu
mereka lebih sering mengganggu Embry daripada
aku. Embry bahkan tidak mau berurusan dengan
mereka. Tapi sekarang dia membuntuti Sam ke
mana-mana seolah-olah dia sudah bergabung
dalam sebuah sekte.
"Dan hal yang sama juga terjadi pada Paul.
Persis sama. Dia bukan teman Sam. Lalu tahutahu
dia tidak masuk sekolah beberapa minggu,
dan ketika kembali, mendadak Sam seperti
memiliki dia. Entah apa maksudnya. Aku tidak
mengerti, dan aku merasa harus mencari tahu,
karena Paul temanku dan... Sam menatapku
dengan sikap aneh... dan...” suara Jacob
menghilang.
"Kau sudah membicarakan ini dengan Billy?"
tanyaku. Ketakutannya mulai menular. Bulu
kuduk di sekujur tubuhku meremang.
Kini wajahnya tersaput amarah. "Sudah,"
dengusnya. "Benar-benar membantu.”
"Apa kata ayahmu?"
Ekspresi Jacob sinis, dan saat berbicara, ia
menirukan suara ayahnya yang berat. "Tidak ada
yang perlu kaukhawatirkan sekarang, Jacob.
Beberapa tahun lagi, kalau kau tidak... Well, akan
kujelaskan nanti." Dan kemudian suaranya biasa
lagi. "Bagaimana penjelasan seperti itu bisa
membuatku mengerti? Apakah ayahku berusaha
menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh pubertas
tolol, usia akil balig dan sebangsanya? Ini soal lain.
Ada yang tidak beres."
Jacob menggigit-gigit bibir bawahnya dan
meremas kedua tangannya. Kelihatannya ia seperti
mau menangis.
Instingku langsung menyuruhku merangkulnya,
memeluk pinggangnya dan menempelkan wajahku
ke dadanya. Ia besar sekali, aku merasa seperti
anak kecil yang memeluk orang dewasa.
"Oh, Jake, semua pasti beres!" aku
meyakinkannya. "Kalau keadaan bertambah parah,
kau bisa tinggal bersamaku dan Charlie. Jangan
takut, akan kita cari jalan keluarnya!"
Jacob membeku sedetik, kemudian kedua
lengannya yang panjang merangkulku ragu-ragu.
"Trims, Bella." Suaranya lebih serak daripada
biasa.
Sesaat kami berdiri diam sambil berpelukan, dan
itu tidak membuatku kalut; malah, aku merasa
nyaman bisa bersentuhan dengannya. Berbeda
sama sekali dengan saat terakhir kali seseorang
memelukku seperti ini. Ini pelukan persahabatan.
Dan Jacob orangnya sangat hangat.
Aneh juga bagiku, bisa sedekat ini—lebih secara
emosional daripada fisik, meski kedekatan fisik
juga merupakan hal yang aneh bagiku—dengan
sesama manusia. Itu bukan gayaku yang biasa.
Normalnya, tidak mudah bagiku berhubungan
dengan manusia, dalam tahapan yang sangat
mendasar.
Tidak dengan manusia.
"Kalau tahu begini reaksimu, aku akan lebih
sering panik." Suara Jacob ringan, terdengar
normal lagi, dan tawanya menggemuruh di
telingaku. Jari-jemarinya menyentuh rambutku,
lembut dan hati-hati.
Well, bagiku ini persahabatan.
Aku cepat-cepat melepaskan diri, tertawa
bersamanya, tapi dalam hati bertekad untuk
mengembalikan keadaan ke perspektif semula.
"Sulit dipercaya aku dua tahun lebih tua
darimu," tukasku, memberi penekanan pada kata
"lebih tua". "Kau membuatku merasa seperti orang
kerdil." Berdiri sedekat ini dengannya, aku benarbenar
harus mendongak tinggi-tinggi untuk bisa
melihat wajahnya.
"Kau selalu saja lupa umurku sudah empat
puluhan.”
“Oh, benar."
Jacob menepuk-nepuk kepalaku. "Kau seperti
boneka kecil,” godanya. "Boneka porselen."
Aku memutar bola mataku, mundur lagi
selangkah. "Sudahlah, jangan mulai lagi dengan
ejekanmu soal albino itu.”
"Serius nih, Bella, kau yakin kau bukan albino?"
Jacob mendekatkan tangannya yang kemerahan
itu ke tanganku, perbedaannya sangat mencolok.
"Aku belum pernah melihat orang yang lebih pucat
daripada kau... Well. Kecuali–" Jacob tidak
meneruskan kata-katanya, dan aku membuang
muka berusaha tidak memahami apa yang hendak
ia katakan.
“Bagaimana, jadi naik motor atau tidak?”
“Ayolah,” ajakku, lebih antusias daripada
setengah menit sebelumnya. Kalimat Jacob yang
tidak selesai tadi mengingatkanku pada alasan
mengapa aku datang ke sini.
8. ADRENALIN
"OKE, yang mana kopling?"
Aku menuding tuas di setang kiriku. Salah besar
melepaskan pegangan. Sepeda motor yang berat itu
goyah di bawahku, terancam jatuh ke samping.
Cepat-cepat kusambar lagi setangnya, berusaha
menegakkannya.
"Jacob, motornya tidak mau berdiri tegak,"
keluhku,
"Nanti akan stabil kalau sudah jalan," janjinya.
"Sekarang, mana rem?"
"Di belakang kaki kananku."
"Salah."
Jacob menyambar tangan kananku dan
menekukkan jari-jariku ke tuas di belakang setang
gas.
"Tapi tadi kaubilang—"
"Ini rem yang harus kaugunakan. Jangan pakai
rem belakang dulu, itu untuk nanti, kalau kau
sudah bisa mengendarainya dengan benar."
"Kedengarannya kok tidak benar," tukasku
curiga. "Bukan kali kedua rem itu sama
pentingnya?"
"Lupakan saja rem belakang, oke? Ini—"Jacob
menumpang, kan telapak tangannya ke telapak
tanganku dan menggerakkannya untuk meremas
tuas. "Begini caranya mengerem. Jangan lupa." Ia
meremas tanganku sekali lagi.
"Baiklah." aku setuju.
“Gas?”
Kuputar setang kanan.
"Gigi?"
Aku menyenggolnya dengan tungkai kaki kiriku.
"Bagus sekali. Kurasa kau sudah hafal namanama
bagiannya. Sekarang tinggal
menjalankannya."
"He-eh," gumamku, tidak berani mengatakan
apa-apa lagi. Perutku melilit aneh dan rasanya
suaraku mau pecah. Aku takut sekali. Aku
berusaha meyakinkan diri bahwa ketakutanku itu
tak beralasan. Aku toh sudah pernah melewati hal
terburuk yang mungkin terjadi. Dibandingkan
dengan itu, mengapa hal lain bisa membuatku
takut? Seharusnya aku bisa menghadapi maut
dengan enteng dan berani.
Tapi perutku tidak percaya.
Kutatap jalan tanah yang membentang panjang
di hadapanku, diapit di sisi kiri dan kanannya
dengan tetumbuhan hijau rimbun berkabut.
Jalanannya berpasir dan lembab. Lebih bagus
daripada lumpur.
“Sekarang, tekan koplingnya," Jacob
memerintahkan.
Kuremas kopling dengan jari-jari tanganku.
"Sekarang ini penting, Bella," Jacob
menekankan. "Jangan lepas kopling itu, oke? Aku
ingin kau menganggapnya granat aktif. Pinnya
sudah dilepas dan sekarang kau menahan
pemicunya."
Aku meremasnya semakin kuat.
"Bagus. Kira-kira bisa tidak kau menyalakan
mesin dengan mengengkol pedal kakinya?"
"Kalau aku memindahkan kakiku, aku bisa
jatuh," kataku dengan rahang terkatup rapat, jarijariku
mencengkeram erat granat aktifku.
"Oke, biar aku saja. Jangan lepaskan
koplingnya."
Jacob mundur selangkah, kemudian tiba-tiba
mengengkol pedal keras-keras. Terdengar raungan
pendek, dan sepeda motor tersentak ke depan
saking kerasnya Jacob mengengkol. Aku mulai
goyah ke samping, tapi Jacob buru-buru
memegangi sepeda motor sebelum benda itu jatuh
bersamaku ke tanah.
"Tahan," ia menyemangati. "Koplingnya masih
kaupegang?"
"Ya," jawabku.
"Jejakkan kakimu—akan kucoba lagi." Jacob
menumpukan tangannya ke sadel belakang, untuk
berjaga-jaga.
Empat kali mengengkol baru mesinnya menyala.
Bisa kurasakan motor itu bergetar di bawahku
seperti binatang yang marah. Kucengkeram kopling
kuat-kuat sampai jari-jariku sakit.
"Cobalah menggas," Jacob menyarankan. "Pelanpelan.
Dan jangan lepaskan koplingnya."
Ragu-ragu, kuputar setang kanan. Meski hanya
sedikit, namun sepeda motor menggeram di
bawahku. Kedengarannya marah dan lapar
sekarang. Jacob tersenyum puas.
"Ingat bagaimana caranya memasukkan gigi
satu?' tanyanya.
"Ya."
"Well, lakukanlah."
"Oke"
Jacob menunggu beberapa detik. "Kaki kiri,"
desaknya.
"Aku sudah tahu," sergahku, menarik napas
dalam-dalam
"Yakin kau mau melakukannya?" tanya Jacob.
"Kelihatannya kau takut."
"Aku baik-baik saja,” bentakku. Kupelankan gas
sedikit.
"Bagus sekali," Jacob memujiku. "Sekarang,
pelan-pelan sekali lepaskan kopling."
Jacob mundur selangkah menjauhi motor.
"Kau mau aku melepaskan granat?" tanyaku tak
percaya. Pantas saja ia mundur.
"Begitulah caramu menjalankan motor, Bella.
Tapi lakukan sedikit demi sedikit."
Saat mulai melonggarkan cengkeraman, aku
shock bukan main saat mendengar suara yang
bukan milik cowok yang berdiri di sampingku.
"Ini ceroboh, kekanak-kanakan, dan idiot, Bella,"
suara selembut sutra itu menegur.
"Oh!" aku terkesiap, dan tanganku terlepas dari
kopling.
Sepeda motor itu memberontak di bawahku,
menyentakku maju dan ambruk ke tanah, separo
bodinya menindihku. Suara mesinnya terbatukbatuk
lalu mati.
"Bella?" Jacob menyentakkan sepeda motor berat
itu dengan enteng. "Kau terluka?”
Tapi aku tidak mendengarkan.
"Sudah kubilang," suara sempurna itu berbisik,
sebening kristal.
"Aku tidak apa-apa," gumamku, linglung.
Lebih dari itu. Suara di kepalaku telah kembali.
Masih terngiang-ngiang di telingaku—gaung yang
lembut dan sehalus beledu.
Pikiranku berputar cepat memikirkan berbagai
kemungkinan. Tidak ada yang familier di sini—di
jalanan yang tidak pernah kulihat, melakukan
sesuatu yang tidak pernah kulakukan
sebelumnya—tidak ada deja vu. Jadi halusinasi itu
pasti dipicu hal lain... aku merasa adrenalin
menderas kembali di pembuluh darahku, dan
kurasa aku tahu jawabannya. Kombinasi adrenalin
dan bahaya, atau mungkin hanya ketololan.
Jacob menarikku berdiri.
"Kepalamu terbentur?” tanyanya.
"Kelihatannya tidak," Aku menganggukkan
kepala ke depan dan ke belakang, mengecek.
"Motornya tidak rusak, kan?" Pikiran itu
membuatku waswas. Aku sangat ingin mencoba
lagi, segera. Bertindak ceroboh ternyata lebih
berhasil daripada yang kukira. Tidak harus
melakukan kecurangan. Mungkin aku sudah
menemukan cara untuk memunculkan
halusinasi— itu jauh lebih penting.
"Tidak. Mesinnya hanya mati," jawab Jacob,
menyela spekulasi kilatku. "Kau terlalu cepat
melepas kopling."
Aku mengangguk. "Ayo kita coba lagi"
"Kau yakin?" tanya Jacob.
"Positif."
Kali ini aku mencoba mengengkol sendiri. Sulit
sekali; aku harus meloncat sedikit agar bisa
menginjak pedal sekuat tenaga, dan setiap kali
melakukannya, sepeda motor itu seperti mencoba
menjatuhkanku. Tangan Jacob menggelayut di atas
setang, siap menangkapku kalau aku
membutuhkannya.
Setelah beberapa kali mencoba dengan benar,
bahkan ditambah dengan beberapa kali percobaan
yang kurang tepat, baru mesinnya menyala dan
meraung hidup di bawahku. Ingat bahwa ibaratnya
aku sedang memegang granat, aku bereksperimen
dengan memutar-mutar handel gas. Mesin
langsung menggeram begitu handel gas diputar
sedikit saja. Senyumku kini sama lebarnya dengan
senyum Jacob.
"Hati-hati melepas koplingnya," Jacob
mengingatkanku. "Kau ingin bunuh diri, kalau
begini? Jadi itu ya tujuannya?" suara itu berbicara
lagi, nadanya galak.
Aku tersenyum kaku—masih berfungsi
ternyata—dan mengabaikan pertanyaan itu. Jacob
tidak akan membiarkan hal buruk menimpaku.
"Pulanglah ke Charlie," suara itu
memerintahkan. Keindahannya membuatku
terpesona. Aku tak sanggup membiarkan
ingatanku kehilangan suara itu, tak peduli berapa
pun harga yang harus kubayar.
"Lepaskan pelan-pelan," Jacob menyemangatiku.
"Baiklah," jawabku. Aku agak resah waktu
menyadari perkataanku itu menjawab pertanyaan
mereka berdua.
Suara di kepalaku lagi-lagi menggeram
mengatasi raungan mesin motor.
Berusaha fokus kali ini, tidak membiarkan suara
itu mengagetkanku lagi, aku melepaskan
cengkeramanku sedikit demi sedikit. Tahu-tahu
giginya masuk dan motor menyentak maju.
Dan aku pun terbang.
Terpaan angin kencang yang tadi tidak ada
meniup kulitku hingga melekat erat di tengkorak
dan menerbangkan rambutku ke belakang dengan
kekuatan sangat besar, seolah-olah ada yang
menjambaknya. Perasaan mulas yang kurasakan
tadi sebelum melaju lenyap sudah; adrenalin
menderas di sekujur tubuh, menggelitik urat-urat
nadiku. Pohon-pohon lewat cepat di sebelahku,
kabur menjadi dinding hijau.
Tapi ini baru gigi satu. Kakiku beringsut-ingsut
maju mendekati gigi sementara tanganku memutar
setang untuk menambah gas.
"Tidak, Bella!" suara semanis madu itu
memerintahkan dengan nada marah, tepat di
telingaku. "Hati-hati!"
Pikiranku sempat teralih sejenak dari kecepatan
untuk menyadari bahwa jalanan ternyata mulai
menikung pelan ke kiri, tapi aku masih tetap
melaju lurus. Jacob belum mengajariku caranya
membelok.
"Rem, rem," aku bergumam sendiri, dan secara
naluri menginjak rem keras-keras dengan kaki
kanan, seperti yang biasa kulakukan saat menyetir
mobil.
Motor mendadak goyah di bawahku, pertama
bergetar ke satu sisi dan baru kemudian ke sisi
lain. Motor itu menyeretku ke arah dinding hijau,
padahal kecepatanku kelewat tinggi. Aku berusaha
membelokkan setang ke arah berlawanan, dan
mendadak bobotku mendorong motor ke tanah,
masih terus tergelincir ke arah pepohonan.
Sepeda motor itu kembali mendarat di atas
tubuhku, meraung nyaring, menarikku melintasi
pasir basah hingga membentur sesuatu yang tidak
bergerak. Aku tak bisa melihat. Wajahku
tersungkur ke dalam lumut. Aku mencoba
mengangkat kepala, tapi sesuatu menghalangiku.
Aku pusing dan bingung. Kedengarannya ada
tiga hal yang menggeram—motor di atasku, suara
di kepalaku, dan sesuatu yang lain...
"Bella!" Jacob berteriak, dan aku mendengar
geraman motor lain berhenti
Motor itu tak lagi mengimpitku ke tanah, dan
aku berguling untuk bernapas. Semua geraman itu
diam.
"Wow," gumamku. Aku merasa sangat bergairah.
Beginilah pasti resep jitu untuk halusinasiadrenalin
ditambah bahaya ditambah perbuatan
tolol. Sesuatu yang mendekati itu, paling tidak.
"Bella!" Jacob membungkuk cemas di atasku.
Bella, kau masih hidup?"
"Aku baik-baik saja!” seruku antusias. Aku
meregangkan otot-otot lengan dan kakiku.
Kelihatannya semua masih berfungsi dengan baik.
Ayo kita lakukan lagi."
"Kurasa jangan." Jacob masih terdengar waswas.
"Kurasa sebaiknya kuantar kau ke rumah sakit
dulu.”
"Aku baik-baik saja."
“Ehm, Bella? Di dahimu ada luka robek yang
besar sekali, dan darahmu mengucur deras." Jacob
memberitahuku.
Aku meletakkan tangan di kepala. Benar saja,
tanganku jadi basah dan lengket. Aku tidak
mencium bau apa-apa kecuali lumut lembab di
wajahku, dan itu mencegah datangnya mual.
"Oh, maafkan aku, Jacob." Kutekan luka itu
kuat-kuat, seolah-olah dengan begitu aku bisa
memaksa darah masuk kembali ke kepalaku.
"Untuk apa kau meminta maaf karena
berdarah?" tanya Jacob sambil memeluk
pinggangku dan membantuku berdiri. "Ayo kita
pergi. Aku yang menyetir." Ia mengulurkan tangan,
meminta kunci.
"Sepeda-sepeda motornya bagaimana?" tanyaku
sambil menyerahkan kunci.
Jacob berpikir sebentar. "Tunggu di sini. Dan
ambil ini." Jacob membuka kausnya yang sudah
ternoda darah, lalu melemparnya ke arahku.
Kubuat kaus itu menjadi buntalan dan
kutempelkan ke dahiku. Aku mulai mencium baru
darah; aku menarik napas dalam-dalam lewat
mulut dan mencoba berkonsentrasi pada hal lain.
Jacob melompat kembali menaiki sepeda motor
hitam, menyalakan mesinnya dengan hanya sekali
mengengkol, lalu langsung ngebut,
menghamburkan pasir dan kerikil-kerikil kecil di
belakangnya. Ia tampak atletis dan profesional saat
membungkuk ke depan di atas setang, kepala
merunduk, wajah maju, rambut mengilat berkibarkibar
menerpa kulit punggungnya yang cokelat
kemerahan. Mataku menyipit iri. Aku yakin tidak
terlihat seperti itu saat mengendarai motor.
Kaget juga aku menyadari betapa jauhnya aku
mengendarai motorku. Aku nyaris tak bisa melihat
Jacob di kejauhan waktu ia akhirnya sampai ke
trukku. Ia melemparkan sepeda motor ke bak truk
dan berlari ke sisi kemudi.
Aku benar-benar tidak keberatan waktu Jacob
memacu trukku hingga suara mesinnya meraung
memekakkan telinga. Kepalaku sedikit pusing,
perutku mual, tapi lukaku tidak serius. Darah
yang keluar dari luka kepala memang cenderung
lebih banyak. Jacob sebenarnya tak perlu sepanik
itu.
Jacob membiarkan mesin tetap menyala
sementara ia berlari mendapatiku, melingkarkan
lengannya lagi ke pinggangku.
"Oke, ayo kunaikkan kau ke truk."
"Sungguh, aku tidak apa-apa," aku meyakinkan
Jacob sementara ia membantuku naik. "Jangan
panik begitu. Darahnya hanya sedikit kok."
"Sedikit bagaimana, ini banyak sekali,” kudengar
Jacob menggerutu waktu ia lari mengambil sepeda
motorku.
"Sekarang, mari kita pikirkan dulu masalah ini
sebentar, kataku setelah Jacob naik lagi ke mobil.
"Kalau kau membawaku ke UGD seperti ini,
Charlie pasti akan tahu nanti." Kulirik tanah dan
lumpur yang mengering di jinsku.
"Bella, kurasa lukamu perlu dijahit. Aku tidak
akan membiarkanmu mati kehabisan darah.”
“Itu, tidak akan terjadi,” aku meyakinkannya.
“Kita antar saja dulu motornya, kemudian mampir
ke rumahku supaya aku bisa menghilangkan
semua bukti dan baru kemudian ke rumah sakit.”
"Bagaimana dengan Charlie?
“"Katanya tadi dia harus kerja."
“Kau yajin?”
“Percakah padaku. Aku ini gampang berdarah.
Ini tidak separah kelihatannya kok."
Jacob tidak senang mendengarnya—sudut-sudut
mulutnya tertekuk ke bawah—tapi ia tidak ingin
menyusahkanku. Aku memandang ke luar jendela,
menempelkan kaus Jacob yang berlepotan darah
ke kepala, sementara ia membawa trukku menuju
Forks.
Sepeda motor itu jauh lebih baik daripada yang
kubayangkan. Tujuan sesungguhnya tercapai. Aku
sudah berbuat curang—melanggar janjiku. Aku
melakukan kecerobohan yang tidak perlu.
Sekarang aku tak lagi merasa terlalu merana
karena kedua pihak sudah sama-sama ingkar janji.
Dan, menemukan kunci ke halusinasi!
Setidaknya, begitulah yang kuharapkan. Aku akan
menguji teori itu sesegera mungkin. Mungkin
mereka bisa menanganiku dengan cepat di UGD,
jadi aku bisa mencobanya lagi nanti malam.
Ngebut di jalan seperti tadi rasanya luar biasa.
Terpaan angin menampar wajahku, cepatnya motor
melaju dan kebebasan yang kurasakan...
mengingatkanku pada kehidupan masa laluku,
terbang menembus hutan lebat tanpa berjalan,
menaiki punggungnya sementara ia berlari –
pikiranku berhenti sampai di situ, membiarkan
ingatanku terputus begitu saja karena mendadak
hatiku miris. Aku meringis.
“Kau masih baik-baik?” tanya Jacob.
"Yeah." Aku berusaha tetap memperdengarkan
nada tegar seperti sebelumnya.
"Omong-omong," imbuh Jacob. "Aku akan
mencopot kabel rem kakimu malam ini."
Di rumah, yang pertama kulakukan adalah
menyempatkan diri melihat keadaanku di cermin;
benar-benar mengerikan. Darah mengering dalam
bentuk aliran tebal di sepanjang pipi dan leherku,
menempel di rambutku yang berlumpur. Kuamati
diriku dari sisi klinis, berpura-pura darah itu cat
supaya tidak mual. Aku bernapas lewat mulut, dan
tidak merasa ingin muntah.
Aku mencuci muka sebisaku. Lalu
kusembunyikan pakaian kotorku yang berlepotan
darah di bagian bawah keranjang cucian, lalu
memakai jins baru dan kemeja (jadi tidak perlu
memakainya lewat kepala) sehati-hati mungkin.
Aku berhasil melakukannya dengan satu tangan
dan menjaga pakaianku tidak terkena noda darah.
"Cepatlah," seru Jacob.
"Oke, oke," aku balas berteriak. Setelah
memastikan tidak meninggalkan bukti-bukti
memberatkan, aku turun ke lantai bawah.
"Bagaimana kelihatannya?" tanyaku.
"Lebih baik," ia mengakui.
"Tapi apakah aku terlihat seperti tersandung di
garasimu dan kepalaku membentur palu?"
"Ya, kurasa begitu."
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat."
Jacob bergegas menggiringku keluar, dan
bersikeras menyetir lagi. Kami sudah setengah
jalan menuju rumah sakit waktu aku sadar ia
masih tidak memakai baju.
Aku mengurutkan kening dengan perasaan
bersalah. "Seharusnya tadi kita mengambil jaket
untukmu.”
"Nanti sandiwara kita terbongkar dong,” goda
Jacob. "Lagi pula, udara tidak dingin kok."
"Kau bercanda, ya?” Aku gemetar, tanganku
terulur untuk menyalakan pemanas.
Kupandangi Jacob untuk melihat apakah ia
sengaja berlagak gagah supaya aku tidak khawatir,
tapi kelihatannya ia cukup nyaman. Sebelah
tangannya bertengger di bagian belakang kursiku,
sementara aku justru meringkuk supaya tetap
hangat.
Jacob benar-benar terlihat lebih tua daripada
enam belas tahun—bukan empat puluh, tapi
mungkin lebih tua dariku. Quil saja masih kalah
berotot dibandingkan dia, padahal Jacob
menganggap dirinya kurus seperti tengkorak. Ototototnya
panjang dan liat, tapi jelas kelihatan di
balik kulitnya yang mulus. Warna kulitnya cantik
sekali, membuatku iri saja.
Jacob sadar sedang diamati.
"Apa?" tanyanya, mendadak canggung.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak
menyadarinya sebelum ini. Tahukah kau bahwa
kau lumayan tampan?"
Begitu kata-kata itu terlontar, aku khawatir ia
akan salah menerima observasi impulsifku itu.
Tapi Jacob hanya memutar bola matanya.
"Kepalamu terbentur keras sekali, ya?"
"Aku serius."
"Well, kalau begitu, trims. Kayaknya."
Aku nyengir. "Sama-sama. Kayaknya."
Aku mendapat tujuh jahitan untuk menutup
luka di keningku. Setelah merasa perih karena
mendapat anestesi lokal, prosedurnya sendiri tidak
sakit. Jacob memegangi tanganku sementara dr.
Snow menjahit, dan aku berusaha untuk tidak
memikirkan betapa ironisnya itu.
Kami lama sekali di rumah sakit. Setelah selesai,
aku harus mengantar Jacob ke rumahnya dan
buru-buru pulang untuk memasak makan malam
untuk Charlie. Charlie sepertinya memercayai
ceritaku bahwa aku jatuh di garasi Jacob.
Bagaimanapun, bukan baru kali ini aku pergi
sendiri ke UGD.
Malam itu tidak seburuk malam pertama itu,
setelah aku mendengar suaranya yang sempurna
di Port Angeles. Lubang itu kembali menganga,
seperti yang selalu terjadi setiap kali aku jauh dari
Jacob, tapi bagian pinggirnya tak lagi berdenyutdenyut
nyeri. Aku selalu menyusun rencana ke
depan, menanti-nanti datangnya delusi lagi, dan
itu mengalihkan perhatianku. Juga, aku tahu
perasaanku akan lebih enak besok, saat bertemu
lagi dengan Jacob. Itu membuat lubang hampa dan
kepedihan yang familier itu lebih mudah
ditanggung; sebentar lagi kelegaan akan kudapat.
Mimpi buruk juga kehilangan sedikit potensinya.
Aku takut pada kehampaan, seperti yang selalu
terjadi, tapi anehnya, aku juga tidak sabar
menunggu saat-saat yang akan membuatku
menjerit dan kemudian tersadar. Aku tahu mimpi
buruk itu pasti berakhir.
Hari Rabu berikutnya, sebelum aku sampai di
rumah dan UGD, dr. Gerandy menelepon ayahku
untuk mengingatkan kemungkinan aku mengalami
gegar otak dan menyarankannya untuk
membangunkan aku setiap dua jam sekali
sepanjang malam untuk memastikan itu tidak
serius. Mata Charlie menyipit curiga mendengar
penjelasan lemahku yang lagi-lagi mengatakan aku
tersandung.
"Mungkin sebaiknya kau jangan lagi nongkrong
di garasi, Bella,” Charlie menyarankan saat makan
malam.
Aku panik, khawatir Charlie bakal mengeluarkan
semacam dekrit yang melarangku pergi ke La Push,
dan akibatnya aku tidak akan bisa mengendarai
motorku lagi. Tapi aku tak mau menyerah—hari ini
aku mengalami halusinasi paling menakjubkan.
Delusiku yang bersuara sehalus beledu itu
berteriak-teriak padaku selama hampir lima menit
sebelum akhirnya aku menginjak rem kelewat
mendadak dan tubuhku terlempar membentur
pohon. Untuk itu aku rela merasakan sakit yang
akan kualami malam ini tanpa mengeluh.
“Aku bukannya tersandung di garasi," aku buruburu
memprotes. "Kami sedang hiking, dan aku
tersandung batu."
"Sejak kapan kau suka hiking?" Charlie bertanya
skeptis. "Kerja di Newton's membuatku ketularan
demam berpetualang," dalihku. "Setiap hari
menjual berbagai perlengkapan hiking, lama-lama
penasaran juga."
Charlie menatapku tajam, tidak percaya.
“Aku akan lebih berhati-hati," janjiku, diamdiam
menyilangkan jari-jariku di bawah meja.
"Aku tidak keberatan kau hiking di sekitar La
Push, tapi jangan jauh-jauh dari kota, oke?"
"Kenapa?'
“Well, belakangan ini aku sering mendapat
laporan tentang kemunculan hewan-hewan liar.
Petugas dari departemen kehutanan akan
mengecek laporan-laporan itu, tapi untuk
sementara waktu..."
“Oh, soal beruang besar itu," kataku, mendadak
paham. “Yeah, beberapa hiker yang datang ke
Newton's juga mengaku melihatnya. Dad yakin ada
beruang grizzly raksasa yang bermutasi di luar
sana?"
Kening ayahku berkerut. "Pokoknya ada sesuatu.
Jangan jauh-jauh dari kota. oke?"
"Tentu, tentu," aku buru-buru menyahut.
Kelihatannya Charlie tidak begitu puas.
"Charlie mulai curiga," keluhku pada Jacob
waktu aku menjemputnya sepulang sekolah pada
hari Jumat.
"Mungkin untuk sementara kita jangan naik
motor dulu." Jacob melihat ekspresi penolakan di
wajahku dan menambahkan, "Setidaknya untuk
satu-dua minggu ini. Kau bisa kan menjauhi
rumah sakit selama satu minggu?"
"Lantas, kita ngapain dong?" omelku.
Jacob tersenyum riang. "Terserah kau."
Aku memikirkannya sebentar—tentang apa yang
kuinginkan.
Aku tidak suka membayangkan bakal
kehilangan kedekatanku dengan kenangan tak
menyakitkan itu, meski hanya beberapa detik—
kenangan yang datang sendiri, tanpa aku perlu
memikirkannya secara sadar. Kalau aku tidak bisa
naik motor, berarti aku harus mencari jalan lain
untuk melakukan hal yang berbahaya dan memicu
adrenalin, dan untuk itu diperlukan pemikiran
yang serius serta kreativitas. Tidak melakukan
apa-apa untuk sementara sepertinya tidak
menarik. Bagaimana kalau aku depresi lagi,
bahkan walaupun sudah bersama Jake? Aku harus
tetap menyibukkan diri.
Mungkin ada jalan lain, resep lain... tempat lain.
Keliru besar mendatangi rumahnya, jelas. Tapi
kehadiranmu pasti terpatri di suatu tempat, di
tempat lain selain dalam diriku. Pasti ada tempat
di mana kehadirannya terasa lebih nyata di antara
lokasi-lokasi penting yang sarat kenangan
manusia-manusia lain.
Ada satu tempat yang terlintas dalam benakku.
Satu tempat yang akan selalu menjadi miliknya,
bukan milik orang lain. Tempat yang magis penuh
cahaya. Padang rumput indah yang hanya pernah
kulihat sekali dalam hidupku, benderang oleh sinar
matahari dan kulitnya yang berpendar-pendar
gemerlap.
Ide itu berpotensi besar menjadi senjata makan
tuan—bisa jadi itu malah akan sangat
menyakitkan. Bahkan memikirkannya saja sudah
membuat dadaku nyeri oleh kehampaan. Sulit
rasanya menahan perasaan tetap tenang, agar
tidak ketahuan. Tapi jelas, di sanalah tempatku
pasti bisa mendengar suaranya. Lagi pula. aku
sudah telanjur mengatakan pada Charlie bahwa
aku pernah hiking...
"Apa yang kaupikirkan sampai serius begitu?"
tanya Jacob.
"Well..." Aku mulai lambat-lambat. "Dulu aku
pernah menemukan tempat di dalam hutan—aku
menemukannya waktu aku sedang, eh, hiking.
Padang rumput kecil, pokoknya indah sekali.
Entah apakah aku bisa menemukannya lagi
sendiri. Mungkin bisa kalau mencoba beberapa
kali..."
“Kita bisa memakai kompas dan peta," kata
Jacob penuh percaya diri. "Kau tahu dari mana
memulainya?"
“Ya, tepat dari ujung jalan setapak di ujung jalan
satu sepuluh berakhir. Arah selatan, kalau tidak
salah."
"Bagus, Ayo kita cari." Seperti biasa, Jacob
selalu bersemangat menerima ajakanku. Tidak
peduli betapa pun anehnya ajakanku itu.
Maka, Sabtu siang aku mengikat sepatu bot
hiking baruku—dibeli paginya dengan
memanfaatkan diskon dua puluh persen khusus
karyawan yang kupakai untuk pertama kali—
menyambar peta topografi Semenanjung Olympic,
lalu melaju ke La Push.
Kami tidak langsung mulai; pertama-tama,
Jacob tengkurap di lantai ruang tamu—panjang
badannya mengisi seluruh ruangan—dan, selama
dua puluh menit penuh, menggambar jaring-jaring
rumit di bagian-bagian tertentu pada peta
sementara aku bertengger di kursi dapur
mengobrol dengan Billy. Sepertinya Billy sama
sekali tidak khawatir mendengar rencana kami
pergi hiking. Aku terkejut juga karena Jacob
menceritakan padanya tentang rencana kami,
padahal orang-orang banyak meributkan soal
beruang itu. Aku ingin meminta Billy untuk tidak
bercerita pada Charlie, tapi takut permintaan itu
justru mendorongnya berbuat sebaliknya.
"Mungkin kita akan bertemu beruang super itu,"
canda Jacob, matanya tertuju pada desainnya.
Aku cepat-cepat melirik Billy, takut ia bakal
bereaksi seperti Charlie.
Tapi Billy hanya tertawa mendengar perkataan
anaknya. "Mungkin sebaiknya kaubawa saja satu
stoples madu, untuk jaga-jaga."
Jacob terkekeh. "Mudah-mudahan sepatu bot
barumu bisa berlari cepat, Bella. Satu stoples
madu tidak cukup untuk menahan beruang yang
kelaparan."
"Aku hanya perlu berlari lebih cepat darimu."
"Selamat deh kalau begitu!" seru Jacob,
memutar bola matanya sambil melipat peta. "Ayo
kita pergi.”
"Selamat bersenang-senang," kata Billy sambil
menggelinding menuju lemari es.
Charlie bukan tipe orang yang sulit, tapi
sepertinya Billy jauh lebih longgar ketimbang dia.
Aku mengemudikan trukku sampai ke ujung
jalan tanah, berhenti dekat papan petunjuk yang
menandai awal jalan setapak. Sudah lama sekah
aku tak pernah lagi ke sini, dan perutku bereaksi
dengan gugup. Bisa jadi ini sangat gawat. Tapi
akan setimpal dengan hasilnya kalau aku bisa
mendengarnya.
“Aku turun dan memandangi belukar hijau yang
rapat.
“Aku pergi ke arah ini," gumamku, menuding
lurus ke depan.
"Hmmm,” gumam Jake.
"Apa?”
Ia melihat ke arah yang kutunjuk, lalu ke jalan
setapak yang sudah ditandai dengan jelas, dan
kembali lagi.
"Aku pasti mengira kau cewek penjelajah sejati."
“Enak saja." Aku tersenyum lemah. "Aku ini
pemberontak."
Jacob tertawa, kemudian mengeluarkan peta
kami.
"Tunggu sebentar." Ia memegang kompas dengan
sikap ahli, memutar peta hingga mengarah ke
tempat yang ia inginkan.
"Oke—garis pertama pada peta. Ayo cabut."
Kentara sekali Jacob harus memperlambat
langkah demi aku, tapi ia tidak mengeluh. Aku
berusaha untuk tidak memikirkan perjalanan
terakhirku ke bagian hutan ini, ditemani seseorang
yang sama sekali berbeda. Kenangan-kenangan
normal masih tetap berbahaya. Kalau kubiarkan
diriku tergelincir, aku akan mendapati diriku
mencengkeram dada untuk menahannya tetap
utuh, megap-megap kehabisan udara, dan
bagaimana aku menjelaskan itu pada Jacob?
Ternyata tetap memfokuskan diri pada masa
sekarang tidak sesulit yang kuduga. Hutan ini
sangat mirip dengan bagian lain semenanjung, dan
kehadiran Jacob membuat suasana hatiku sangat
jauh berbeda.
Jacob bersiul-siul riang, lagunya tidak kukenal,
sambil mengayun-ayunkan kedua lengan dan
berjalan ringan menembus semak belukar yang
kasar. Bayang-bayang tak tampak segelap biasa.
Tidak dengan ditemani matahari pribadiku.
Sesekali Jacob mengecek kompas, memastikan
kami tetap di jalur yang benar. Kelihatannya ia
benar-benar paham apa yang dilakukannya. Aku
ingin memujinya, tapi lalu mengurungkan niat. Tak
diragukan lagi ia bakal menambahkan beberapa
tahun ke usianya yang sudah menggelembung.
Pikiranku berkelana sementara aku berjalan,
dan rasa ingin tahuku muncul. Aku masih belum
melupakan pembicaraan kami waktu itu di tebingtebing
laut—selama ini aku menunggu Jacob
mengungkitnya lagi, tapi kelihatannya itu tidak
bakal terjadi.
"Hei... Jake?" tanyaku ragu-ragu.
"Yeah?"
"Bagaimana kabar... Embry? Dia sudah kembali
normal?"
Jacob terdiam sejenak, masih terus berjalan
dengan langkah-langkah panjang. Ketika berada
kira-kira tiga meter di depan, ia berhenti untuk
menungguku.
"Tidak. Dia belum kembali normal," kata Jacob
begitu aku sampai di dekatnya, sudut-sudut
mulutnya tertarik ke bawah. Ia belum mulai
berjalan lagi. Seketika itu juga aku langsung
menyesal sudah mengungkitnya.
"Masih bersama Sam?"
"Yep."
Jacob merangkul bahuku, dan ekspresinya
tampak sangat galau sehingga aku tak berani
menghalaunya dengan guyonan, seperti yang
sebenarnya ingin kulakukan.
"Mereka masih memandangimu dengan sikap
aneh?” aku separo berbisik.
Pandangan Jacob menerawang menembus
pepohonan. "Kadang-kadang.”
“Dan Billy?”
“Sangat membantu, seperti yang sudah-sudah,”
tukas Jacob dengan nada masam bercampur
marah yang membuatku merasa tidak enak.
“Sofa kami selalu siap menampungmu," aku
menawarkan.
Jacob tertawa, sikap masamnya yang tidak biasa
mendadak lenyap. “Tapi coba bayangkan betapa
membingungkannya posisi Charlie—waktu Billy
menelepon polisi bahwa aku diculik."
Aku tertawa, senang melihat Jacob normal lagi.
Kami berhenti waktu Jacob berkata kami sudah
berjalan hampir sepuluh kilometer, memotong ke
barat sebentar, lalu kembali menyusuri jalur lurus
sesuai gambar dalam petanya. Semua tampak
sama persis seperti jalan masuk tadi, dan aku
punya firasat pencarian tololku bisa dibilang gagal
total. Aku terpaksa mengakuinya waktu akhirnya
hari mulai gelap, hari yang tak bermatahari
meredup berganti malam tak berbintang, tapi
Jacob justru lebih percaya diri.
“Asal kau yakin kita memulainya dari tempat
yang tepat..." Ia menunduk menatapku.
"Ya, aku yakin."
“Maka kita pasti akan menemukannya," ia
berjanji, menyambar tanganku dan menarikku
menerobos semak pakis. Begitu keluar dari dalam
semak, kulihat trukku bertengger di pinggir jalan.
Jacob melambaikan tangannya dengan bangga.
"Percayalah padaku."
"Kau hebat," aku mengakui. "Tapi lain kali,
jangan lupa bawa senter."
"Mulai sekarang, hiking menjadi kegiatan tetap
kita setiap hari Minggu. Aku baru tahu ternyata
jalanmu selamban itu."
Aku menyentakkan tanganku dari gandengannya
dan berjalan sambil mengentak-entakkan kaki ke
mobil, sementara Jacob terkekeh melihat reaksiku.
"Bagaimana, mau mencoba lagi besok?"
tanyanya, menyusup masuk ke jok penumpang.
"Tentu. Kecuali kau mau pergi tanpa aku supaya
aku tidak menahanmu dengan langkah-langkahku
yang selamban siput.”
"Aku tahan kok," Jacob meyakinkan aku. "Tapi
kalau kita hiking lagi nanti, lebih baik kau
memakai moleskin–semacam sepatu (mokasin yang
terbuat dari kulit hewan berbulu. Berani bertaruh,
kakimu pasti lecet-lecet dengan sepatu bot barumu
itu.”
"Sedikit," aku mengakui. Rasanya kakiku
memang lecet semua.
"Mudah-mudahan besok kita bisa melihat
beruang. Aku agak kecewa juga soal itu."
"Ya, aku juga," sergahku sinis. "Mungkin besok
kita beruntung dan akan menjadi mangsa
binatang!"
"Beruang tidak suka makan manusia. Kita toh
tidak enak-enak amat." Jacob nyengir padaku di
dalam truk yang gelap. "Tentu saja, bisa jadi kau
merupakan pengecualian. Berani bertaruh, kau
pasti enak sekali."
"Terima kasih banyak," sahutku, membuang
muka. Ia bukan orang pertama yang mengatakan
hal itu.
9. KAMBING CONGEK
WAKTU mulai berjalan jauh lebih cepat
dibanding sebelumnya. Sekolah, bekerja, dan
Jacob—meski tidak selalu dalam urutan itu—
membentuk pola yang rapi dan mudah diikuti. Dan
keinginan Charlie terwujud: aku tidak merana lagi.
Tentu saja. aku tidak bisa sepenuhnya menipu diri
sendiri. Saat berhenti untuk menginventarisasi
hidupku, sesuatu yang kuusahakan untuk tidak
terlalu sering kulakukan, aku tak bisa
mengabaikan implikasinya terhadap tingkah
lakuku.
Aku seperu bulan tersesat—planetku hancur
dalam skenario film rentang kepedihan hati yang
menimbulkan perubahan besar—yang tetap, walau
bagaimanapun, bergerak dalam orbitnya yang kecil
dan sempit mengitari ruang angkasa yang kini
kosong melompong, mengabaikan hukum gravitasi.
Aku semakin piawai naik motor, dan itu berarti
aku tidak membuat Charlie khawatir lagi karena
terlalu sering jatuh. Tapi itu juga berarti suara di
kepalaku mulai menghilang, sampai aku tidak
mendengarnya lagi sama sekali. Diam-diam aku
panik. Aku semakin kalap menari padang rumput
itu. Aku memeras otak mencari aktivitas lain yang
bisa memicu idrenalin.
Aku tak lagi memerhatikan hari-hari yang
berlalu – tidak ada alasan untuk itu. karena aku
berusaha sebisa mungkin hidup di masa kini,
tanpa masa lalu yang menghilang, atau masa
depan yang menjelang. Karena itulah aku terkejut
waktu Jacob mengungkit tanggal berapa sekarang
saat kami bertemu untuk mengerjakan PR. Ia
sudah menungguku waktu aku berhenti di depan
rumahnya.
"Selamat Hari Valentine," kata Jacob, tersenyum,
tapi menunduk saat menyapaku.
Ia mengulurkan kotak kecil berwarna pink,
menaruhnya di telapak tangan.
"Well, aku merasa tolol sekali," gumamku. "Ini
Hari Valentine?”
Jacob menggeleng dengan lagak pura-pura
sedih. "Terkadang kau ini seperti tidak ada di sini
saja. Ya, sekarang tanggal 14 Februari. Nah,
maukah kau menjadi Valentine-ku? Berhubung
kau tidak membelikan sekotak cokelat seharga
lima puluh sen, paling tidak itulah yang bisa
kaulakukan."
Aku mulai merasa tidak enak. Kata-katanya
bernada menyindir, tapi hanya di permukaan.
"Apa tepatnya kewajiban menjadi Valentine?"
aku mengelak.
"Biasalah—menjadi budak seumur hidup,
semacam itu."
"Oh, Well, kalau hanya itu..." Kuterima kotak
cokelat itu. Tapi aku berusaha memikirkan cara
untuk menegaskan batas-batas itu. Lagi. Bersama
Jacob, sepertinya batas-batas itu sering kali kabur.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan besok?
Hiking, atau UGD?"
"Hiking,” aku memutuskan. "Bukan hanya kau
yang bisa obsesif. Aku mulai berpikir janganjangan
tempat itu hanya khayalanku saja..." Aku
mengerutkan kening dan menerawang.
"Kita pasti bisa menemukannya,” Jacob
meyakinkanku. "Sepeda motor hari Jumat?” ia
menawarkan.
Aku melihat kesempatan dan langsung
menyambarnya tanpa meluangkan waktu untuk
memikirkannya masak-masak lebih dulu.
"Jumat nanti aku akan pergi nonton film. Sudah
lama sekali aku berjanji pada teman-teman
sekafeteriaku untuk pergi bareng." Mike pasti
senang.
Tapi wajah Jacob langsung berubah. Aku sempat
menangkap secercah ekspresi di matanya yang
gelap sebelum ia menunduk dan memandang
tanah.
“Kau ikut, kan?" aku cepat-cepat menambahkan.
"Atau kau merasa bergaul dengan serombongan
murid senior itu sangat membosankan?" Ternyata
aku tetap tak bisa menjaga jarak dengannya. Aku
tidak tega melukai hati Jacob; kami seperti
memiliki hubungan khusus yang aneh, dan
kesedihannya menusuk hatiku juga. Apalagi, aku
senang membayangkan diriku ditemani olehnya
melewati "cobaan" ini—aku memang sudah berjanji
pada Mike, tapi tidak merasa terlalu antusias
melakukannya.
“Kau ingin aku ikut, bersama teman-temanmu
yang lain?"
“Ya," dengan jujur aku mengakui, meski dalam
hati tahu ini hanya akan membuat masalah. "Aku
akan lebih senang kalau ada kau. Ajak Quil
sekalian, biar lebih ramai."
"Quil bakal kalang-kabut. Cewek-cewek senior."
Jacob terkekeh dan memutar bola matanya. Aku
tidak menyebut nama Embry, begitu juga dia.
Aku ikut tertawa. "Akan kucoba memberinya
pilihan yang cantik-cantik."
Aku mengutarakan maksudku pada Mike di
kelas Bahasa Inggris.
"Hei, Mike," sapaku setelah kelas berakhir. "Kau
tidak ada acara Jumat malam nanti?"
Mike mengangkat wajah, mata birunya langsung
penuh harap. "Tidak ada. Mau pergi bareng?"
Aku menyusun kalimatku dengan hati-hati. "Aku
sedang berpikir-pikir untuk pergi beramai-ramai"—
aku menekankan kata itu—"nonton Crosshairs"
Sebelumnya aku sudah melakukan penelitian lebih
dulu—bahkan sampai membaca resensi film segala
untuk memastikan aku tidak bakal kecele nanti.
Konon katanya film itu bergelimang darah dari
awal sampai akhir. Aku belum begitu pulih untuk
tahan menyaksikan film cinta-cintaan.
"Kedengarannya asyik, kan?"
"Tentu," sahut Mike, kentara sekali kurang
bersemangat.
"Asyik."
Sedetik kemudian, wajahnya kembali ceria
hingga hampir mendekati level kegembiraannya
tadi. "Bagaimana kalau kita ajak Angela dan Ben?
Atau Eric dan Katie?"
Ia bertekad membuat acara jalan-jalan ini
menjadi semacam kencan ganda rupanya.
"Bagaimana kalau dua-duanya?" saranku. "Dan
Jessica juga. tentu saja. Juga Tyler dan Conner,
dan mungkin Lauren,” aku menambahkan dengan
enggan. Aku kan sudah berjanji akan membawa
banyak pilihan untuk Quil.
"Oke," gumam Mike, usahanya gagal.
"Dan," lanjutku, "aku juga akan mengajak
beberapa teman dari La Push. Jadi sepertinya kita
membutuhkan Suburban-mu kalau semua ikut."
Mata Mike menyipit curiga.
"Ini teman-temanmu yang selama ini sering
belajar bareng kau?"
“Yep, tepat sekali," jawabku riang. "Walaupun
kau bisa menganggapnya tutoring—mereka baru
kelas dua SMA"
"Oh," kata Mike terkejut. Setelah berpikir
sedetik, ia tersenyum.
Namun akhirnya Suburban itu tidak diperlukan.
Jessica dan Lauren langsung bilang sibuk begitu
Mike mengatakan akulah yang merencanakan
acara pergi bareng ini. Eric dan Katie sudah punya
rencana sendiri—mau merayakan tiga minggu
mereka pacaran atau apa. Lauren sudah lebih dulu
menyatroni Tyler dan Conner sebelum Mike, jadi
mereka juga bilang sibuk. Bahkan Quil pun batal
ikut—dihukum tidak boleh keluar rumah gara-gara
berkelahi di sekolah. Akhirnya, hanya Angela dan
Ben yang bersedia, juga Jacob tentu saja.
Meski begitu, jumlah pengikut yang berkurang
banyak itu tidak mengurangi kegembiraan Mike.
Yang ia ocehkan melulu tentang hari Jumat.
"Kau yakin tidak mau menonton Tomorrow and
Forever saja?" tanyanya saat makan siang,
menyebut judul film komedi romantis yang sedang
menduduki peringkat teratas dalam deretan filmfilm
box office. "Menurut resensi Rotten Tomatoes,
filmnya bagus banget lho."
"Aku ingin nonton Crosshairs? aku bersikeras.
"Aku sedang mood nonton film-film action. Yang
banyak darah dan isi perutnya!''
"Oke." Mike berpaling, tapi aku masih sempat
melihat ekspresinya yang menganggapku sinting.
Sesampainya di rumah sepulang sekolah,
sebuah mobil yang sangat familier terparkir di
depan rumahku. Jacob berdiri bersandar di kap
mesin, seringai lebar menghiasi wajahnya.
"Tidak mungkin!" teriakku sambil melompat
turun dari truk. "Kau sudah selesai! Aku tidak
percaya! Kau sudah selesai memermak si Rabbit!"
Jacob berseri-seri. "Baru semalam. Ini
perjalanan pertamanya."
"Luar biasa." Kuangkat tanganku untuk ber-high
five.
Jacob memukulkan telapak tangannya ke
telapak tanganku, tapi membiarkannya tetap
menempel di sana, memilin jari-jarinya dengan jari jariku.
"Jadi, boleh tidak aku mengendarainya
malam ini?"
"Jelas boleh," jawabku, lalu mendesah.
"Ada apa?"
"Aku menyerah—aku tidak bisa mengungguli ini.
Jadi kau menang. Kau yang paling tua."
Jacob mengangkat bahu, tidak terkejut
melihatku menyerah. "Itu sudah jelas."
Suburban Mike muncul di tikungan, berdegukdeguk.
Kutarik tanganku dari tangan Jacob, dan
kulihat ia mengernyit.
"Aku ingat cowok ini," katanya pelan ketika Mike
memarkir mobilnya di seberang jalan. "Dia cowok
yang mengira kau pacarnya. Dia masih salah
sangka?"
Aku mengangkat sebelah alisku. "Sebagian orang
sulit menerima penolakan."
"Bagaimanapun," kata Jacob sambil merenung,
"terkadang kegigihan bisa membuahkan hasil."
"Lebih sering menjengkelkan, tapi."
Mike turun dari mobil dan menyeberang jalan.
"Hai, Bella,” ia menyapaku, kemudian matanya
berubah waswas pada waktu menengadah
memandangi Jacob. Kulirik Jacob sebias berusaha
objektif. Ia sama sekali tidak mirip anak kelas 2
SMA. Badannya besar sekali—kepala Mike nyaris
tidak sampai sebahu Jacob; aku bahkan tak ingin
membayangkan tinggi, ku kalau aku berdiri di
sebelahnya—dan wajahnya juga tampak lebih tua
daripada biasa, bahkan sebulan yang lalu
sekalipun.
"Hai. Mike! Kau masih ingat Jacob Black?"
“Tidak juga.” Mike mengulurkan tangan.
"Teman lama keluarga,” Jacob memperkenalkan
diri, menjabat tangan Mike. Mereka bersalaman
dengan keras. Setelah melepaskan genggamannya.
Mike meregangkan jari-jarinya.
Kudengar telepon berdering dari dapur.
“Kuangkat dulu ya— siapa tahu dari Charlie,"
kataku pada mereka, lalu berlari masuk.
Ternyata Ben. Angela terserang flu perut, dan ia
enggan pergi sendiri tanpa Angela. Ia meminta
maaf karena batal pergi dengan kami.
Aku berjalan lambat-lambat menghampiri kedua
cowok yang sedang menunggu itu, menggelengkan
kepala. Aku benar-benar berharap Angela cepat
sembuh, tapi harus kuakui aku agak kesal oleh
perkembangan tak terduga ini. Jadi sekarang
hanya tinggal kami bertiga, Mike, Jacob, dan aku—
benar-benar menyenangkan, pikirku, sinis
bercampur muram.
Keliarannya Jake dan Mike tidak berusaha
mengakrabkan diri selama kepergianku. Mereka
berdiri terpisah beberapa meter, saling
memunggungi sambil menungguku; ekspresi Mike
masam, meski Jacob tetap seceria biasa.
“Ang sakit,” aku memberi tahu dengan muram.
"Dia dan Ben tidak bisa ikut.”
“Kurasa flu itu mulai menulari anak-anak lain.
Austin dan Conner hari ini juga tidak masuk.
Mungkin lain kali saja kita pergi," Mike
menyarankan.
Sebelum aku sempat mengiyakan, Jacob sudah
angkat bicara.
"Aku sih masih tetap ingin pergi. Tapi kalau kau
lebih suka tidak pergi, Mike—"
"Tidak, aku ikut," potong Mike. "Aku hanya
memikirkan Angela dan Ben. Ayo kita pergi," Ia
mulai berjalan menghampiri Suburban-nya.
"Hei, kau keberatan tidak kalau Jacob yang
menyetir?" tanyaku. "Aku sudah bilang dia boleh
menyetir tadi—dia baru saja selesai memperbaiki
mobilnya. Dia memermaknya dari nol lho,"
pamerku, bangga seperti ibu yang anaknya juara
kelas.
"Terserah," bentak Mike.
"Baiklah kalau begitu," sahut Jacob, seakanakan
semua beres. Di antara kami bertiga, dialah
yang kelihatannya paling santai.
Mike naik ke kursi belakang Rabbit dengan
ekspresi jijik.
Jacob, seperti biasa, bersikap riang, mengobrol
ramai sampai aku sama sekali lupa pada Mike
yang merajuk tanpa suara di kursi belakang.
Kemudian Mike mengubah strategi. Ia
mencondongkan tubuh, meletakkan dagunya di
bahu kursi; pipinya nyaris menyentuh pipiku. Aku
bergeser sedikit, memunggungi jendela.
"Radionya rusak, ya?" tanya Mike, nadanya
sedikit marah, memotong omongan Jacob.
"Tidak," jawab Jacob "Tapi Bella tidak suka
musik."
Kupandangi Jacob, terkejut. Aku tidak pernah
bilang begitu padanya.
"Bella?" tanya Mike, jengkel.
Dia benar gumamku, sambil masih terus
memandangi profil Jacob yang tenang.
"Kok bisa kau tidak suka musik?" tuntut Mike
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Jengkel saja
mendengarnya.”
“Hmph,” Mike duduk bersandar.
Waktu kami sampai di bioskop, Jacob
mengulurkan selembar sepuluh dolar.
“Apa ini?” tolakku.
“Aku belum cukup umur untuk nonton film ini,"
ia mengingatkanku.
“Aku tertawa keras-keras. "Jadi usia relatif tak
ada gunanya, ya. Apakah Billy akan membunuhku
kalau aku menyelundupkanmu masuk?”
“Tidak. Aku sudah bilang padanya kau
berencana mengorupsi keluguanku "
Aku terkikik, dan Mike mempercepat langkah
untuk mengimbangi kami.
Aku nyaris berharap Mike memutuskan untuk
tidak ikut saja. Ia masih terus merajuk—merusak
suasana saja. Tapi aku juga tak ingin berkencan
sendirian dengan Jacob. Itu tidak akan membantu
apa-apa.
Filmnya tepat seperti yang diramalkan. Di bagian
awalnya saja sudah empat orang yang ditembak
dan satu dipenggal kepalanya. Cewek di depanku
menutup mata dan memalingkan wajah ke dada
teman kencannya. Si cowok menepuk-nepuk bahu
si cewek, sambil sesekali nyengir. Mike sepertinya
tidak menonton. Wajahnya kaku sementara
matanya memelototi tirai di aras layar.
Aku menyiapkan diri untuk bertahan selama
dua jam, menonton warna-warna dan gerakangerakan
di layar, bukannya melihat bentuk-bentuk
orang, mobil, dan rumah. Tapi kemudian Jacob
mulai tertawa.
"Apa?" bisikku.
"Oh, ayolah!" Jacob balas mendesis. "Masa darah
menyembur sejauh itu. Ketahuan banget
bohongnya!"
Lagi-lagi ia tertawa, saat tiang bendera
menombak seorang pria ke tembok beton.
Sesudah itu aku benar-benar menonton filmnya,
tertawa bersamanya saat adegannya makin lama
makin konyol. Bagaimana aku bisa melawan garis
batas dalam hubungan kami yang makin lama
makin kabur ini kalau aku sangat menikmati
kebersamaanku dengannya?
Baik Jacob maupun Mike sama-sama
menumpangkan lengannya di lengan kursiku, satu
di kiri, satu di kanan. Tangan mereka sama-sama
ditumpangkan dengan sikap santai, telapak tangan
menghadap ke atas, dalam posisi yang
kelihatannya tidak natural. Seperti jebakan
beruang dari baja, terbuka dan siap menjerat
mangsa. Jacob punya kebiasaan meraih tanganku
setiap kali ada kesempatan, tapi di sini, di dalam
bioskop yang gelap, dengan Mike melihat, hal itu
bisa diartikan berbeda—dan aku yakin ia tahu itu.
Aku tidak percaya Mike memikirkan hal yang
sama, tapi tangannya melakukan hal yang sama
seperti yang dilakukan Jacob.
Kulipat kedua tanganku erat-erat di dada dan
berharap tangan mereka akan berhenti beraksi.
Mike-lah yang pertama menyerah. Ketika film
sudah berjalan kira-kira setengahnya, ia menarik
lengannya dan nun condongkan tubuh ke depan,
memegang kepalanya dengan tangan. Mulanya
kukira ia bereaksi pada sesuatu yang ada di layat,
tapi kemudian ia mengerang.
"Mike, kau tidak apa apa?" bisikku.
Pasangan di depan kami menoleh dan
memandangi Mike waktu ia mengerang lagi.
“Tidak,” jawabnya terengah. “Sepertinya aku
sakit."
Aku bisa melihat kilauan keringat di wajahnya
dengan bantuan cahaya dari layar.
Mike mengerang lagi, lalu bangkit dan
menghambur ke pintu. Aku berdiri untuk
mengikutinya, dan Jacob langsung meniruku.
“Kau tidak perlu ikut. Jangan biarkan delapan
dolarmu terbuang sia-sia," desakku saat berjalan
menyusuri gang di tengah deretan kursi bioskop.
"Tidak apa-apa. Kau benar-benar jago memilih
film, Bella. Filmnya konvol banget,” Suara Jacob
berubah dari berbisik menjadi normal, begitu kami
keluar dari teater.
Tidak tampak tanda-tanda Mike di ruang
tunggu, dan aku senang Jacob tadi memutuskan
keluar bersamaku—ia bisa menyelinap ke toilet
cowok untuk mengecek keberadaan Mike di sana.
Beberapa detik kemudian, Jacob kembali.
“Oh, memang benar dia ada di sana," katanya,
memutar bola matanya. "Dasar lembek.
Seharusnya kau mengajak orang yang perutnya
lebih kuat. Orang yang tertawa kalau melihat
darah membuat cowok lembek muntah."
"Akan kubuka mataku lebar-lebar, kalau-kalau
ada orang seperti itu."
Kami hanya berdua di ruang tunggu. Kedua
teater sedang memutar film, jadi ruang tunggu
kosong melompong—cukup sunyi sehingga kami
bisa mendengar bunyi berondong jagung meletupletup
di kios makanan di lobi.
Jacob duduk di bangku berlapis beledu yang
menempel di dinding, menepuk-nepuk tempat
kosong di sebelahnya.
"Kedengarannya dia bakal lama di dalam sana,"
katanya, menjulurkan kakinya yang panjang,
bersiap-siap menunggu.
Sambil mendesah aku ikut duduk bersamanya.
Tampaknya Jacob berpikir untuk mengaburkan
garis batas di antara kami lagi. Benar saja, begitu
aku duduk, ia membuat gerakan untuk merangkul
pundakku.
"Jake," protesku, berkelit. Jacob menurunkan
tangannya, tidak tampak tersinggung oleh
penolakanku tadi. Ia mengulurkan tangan dan
dengan mantap meraih tanganku, menarik
pinggangku waktu aku berusaha berkelit lagi. Dari
mana ia memperoleh kepercayaan dirinya itu?
"Tunggu sebentar, Bella," katanya, suaranya
tenang. "Jawab dulu pertanyaanku."
Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini.
Tidak sekarang, tidak nanti. Tidak ada hal lain
yang tersisa dalam hidupku saat ini yang lebih
penting daripada Jacob Black. Tapi sepertinya ia
bertekad ingin mengacaukan semuanya.
"Apa?" gerutuku masam.
"Kau suka padaku, kan?"
"Kau tahu aku suka padamu."
"Lebih daripada badut yang sedang muntahmuntah
di dalam sana itu, kan?" Jacob menuding
pintu toilet.
"Ya," aku mendesah.
"Lebih daripada cowok-cowok yang kaukcnal?"
Sikapnya kalem, tenang—seolah-olah jawabanku
tidak penting, atau ia sudah tahu jawabannya.
"Lebih daripada cewek-cewek juga," jawabku.
"Tapi hanya itu," katanya, dan itu bukan
pertanyaan.
Sulit sekali menjawabnya, sulit mengucapkan
kata itu. Apakah ia bakal sakit hati dan
menghindariku? Bagaimana aku bisa kuat
menghadapinya?
"Ya," bisikku.
Jacob nyengir. "Itu tidak apa-apa, tahu. Asalkan
kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku
ganteng—kayaknya Aku siap menjadi orang yang
gigih dan menjengkelkan."
"Perasaanku tidak akan berubah,” kataku, dan
meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku
bisa mendengar nada sedih di dalamnya.
Ekspresinya seperti berpikir, tak lagi menggoda.
"Pasti masih karena yang satu itu, kan?"
Aku meringis. Lucu juga bagaimana ia seolah
tahu untuk tidak mengucapkan namanya—seperti
sebelumnya di mobil mengenai musik. Jacob
menangkap banyak hal tentang aku tanpa aku
perlu menjelaskannya.
"Kau tidak perlu membicarakannya," kata Jacob.
Aku mengangguk, bersyukur.
"Tapi jangan marah padaku kalau aku
mendekatimu terus, oke?" Jacob menepuk-nepuk
punggung tanganku. "Karena aku tidak mau
menyerah. Aku masih punya banyak waktu."
Aku mendesah. "Seharusnya kau tidak menyianyiakannya
untukku," kataku, meski aku
menginginkannya. Apalagi karena ia mau
menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini—
barang rusak, apa adanya.
"Aku memang ingin melakukannya, selama kau
masih suka bersamaku."
"Aku tidak bisa membayangkan aku tidak suka
bersamamu,” ungkapku jujur.
Jacob berseri-seri. "Itu sudah cukup buatku."
"Hanya saja jangan berharap lebih," aku
mengingatkan, mencoba menarik tanganku. Jacob
terus memeganginya dengan gigih.
"Ini tidak membuatmu rikuh, kan?" tanyanya,
meremas jari-jariku.
"Tidak," desahku. Sejujurnya, rasanya
menyenangkan. Tangannya jauh lebih hangat
daripada tanganku; aku selalu merasa kedinginan
belakangan ini.
"Dan kau tidak peduli pada apa yang dia
pikirkan." Jacob menyentakkan ibu jarinya ke arah
toilet.
"Kurasa tidak."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
"Masalahnya," ujarku, "karena ini artinya
berbeda bagiku dan bagimu."
"Well," Jacob mempererat genggamannya. "Itu
masalahku, kan?"
"Terserahlah," gerutuku. "Jangan lupa, tapi."
"Aku tidak akan lupa. Pin-nya sudah dilepaskan
dari granatnya, sekarang, he?" Ia menohokkan
jarinya ke rusukku.
Aku memutar bola mata. Kurasa kalau ia ingin
menjadikan masalah ini sebagai lelucon, itu
haknya.
Jacob berdecak pelan sebentar waktu jari
manisnya menelusuri bekas luka di sisi tanganku.
"Lucu juga bekas lukamu di sini ini," katanya
tiba-tiba, memuntir tanganku untuk
mengamatinya. "Bagaimana kejadiannya?”
Telunjuk tangannya yang satu lagi menyusuri
tepian bekas luka panjang berbentuk bulan sabit
keperakan yang nyaris tak terlihat di kulitku yang
pucat.
Aku merengut. "Masa aku harus mengingat dari
mana saja semua bekas lukaku berasal?"
Aku menunggu kenangan itu menghantamku—
membuka lubang yang menganga. Tapi seperti
yang sudah sering kali terjadi, kehadiran Jacob
menjagaku tetap utuh.
"Bekas luka ini dingin," gumamnya, menekan
pelan tempat James dulu melukaiku dengan
giginya.
Kemudian Mike tersaruk saruk keluar dari toilet,
wajahnya kelabu dan berkeringat. Ia tampak
kepayahan.
“Oh, Mike," aku kaget.
“Keberatan tidak kalau kita pulang lebih cepat?"
bisiknya.
"Tidak, tentu saja tidak.” Kutarik tanganku dan
berdiri untuk membantu Mike berjalan. Ia tampak
limbung.
“Filmnya terlalu sadis untukmu?" tanya Jacob
tanpa perasaan.
Pelototan Mike garang sekali. "Aku bahkan tidak
sempat melihatnya," gumamnya. "Aku sudah mual
sejak sebelum lampu-lampu dimatikan."
“Kenapa kau diam saja?" kumarahi dia
sementara kami berjalan sempoyongan menuju
pintu keluar.
“Aku berharap nanti akan hilang sendiri," jawab
Mike.
"Tunggu sebentar," kata Jacob sesampainya
kami di pintu. Ia cepat-cepat berjalan kembali ke
kios makanan.
"Boleh minta wadah popcorn kosong?" tanyanya
pada cewek penjaga kios. Cewek itu memandang
Mike satu kali, lalu langsung menyodorkan wadah
kosong pada Jacob.
“Bawa dia keluar, please," pinta si penjaga kios.
Jelas, cewek itulah yang kebagian tugas mengepel.
Kuseret Mike ke udara luar yang dingin dan
basah. Ia menghela napas dalam-dalam. Jacob
berjalan tepat di belakang kami. Ia membantuku
menaikkan Mike ke kursi belakang, lalu
menyodorkan wadah itu padanya dengan mimik
serius.
"Please,” hanya itu yang Jacob katakan.
Kami membuka semua jendela, supaya udara
malam yang dingin berembus masuk, berharap itu
bisa membantu Mike merasa lebih sehat. Aku
memeluk kedua kakiku dengan kedua tangan agar
tetap hangat.
"Kedinginan lagi?" tanya Jacob, merangkul
pundakku sebelum aku sempat menjawab.
"Kau tidak?"
Jacob menggeleng.
"Kau pasti demam atau sebangsanya," gerutuku.
Aku sendiri membeku kedinginan. Kusentuh
keningnya dengan jari-jariku, dan kepalanya
memang panas.
"Astaga, Jake—badanmu panas sekali!"
"Aku merasa baik-baik saja." Ia mengangkat
bahu. "Sehat walafiat."
Aku mengerutkan kening dan menyentuh
kepalanya lagi. Kulitnya membara di bawah jarijariku.
"Tanganmu sedingin es," protes Jacob.
"Mungkin memang aku yang kedinginan," aku
mengalah.
Mike mengerang di kursi belakang, lalu muntah
ke dalam wadah. Aku meringis, berharap perutku
tahan mendengar dan mencium baunya. Jacob
menoleh cemas untuk memastikan mobilnya tidak
terkena muntahan.
Jarak terasa semakin panjang dalam perjalanan
pulang.
Jacob diam, merenung. Ia membiarkan
lengannya tetap melingkari pundakku, dan rasanya
begitu hangat hingga angin dingin terasa nyaman.
Aku memandang ke luar kaca depan, hatiku
diliputi perasaan bersalah.
Seharusnya aku tidak memberi harapan pada
Jacob. Itu kulakukan murni karena egois. Tak
peduli aku sudah berusaha memperjelas posisiku.
Kalau ia merasa masih ada harapan, meskipun
sedikit, untuk mengubah hubungan ini menjadi
lebih dari sekadar persahabatan, itu berarti aku
masih kurang jelas dalam memberinya penjelasan.
Bagaimana caraku menjelaskan supaya ia
mengerti? Aku ini cangkang kosong. Ibarat rumah
tak berpenghuni—ditinggalkan— selama berbulanbulan
aku tak bisa didiami. Sekarang aku sedikit
lebih baik. Ruang depan sudah diperbaiki. Tapi
hanya itu—hanya satu ruang kecil. Padahal Jacob
pantas mendapatkan lebih baik daripada itu—lebih
baik daripada sekadar satu ruangan yang sudah
nyaris ambruk dan kemudian dibetulkan.
Sebanyak apa pun yang ia lakukan tidak akan bisa
membuatku berfungsi kembali.
Namun aku tahu aku takkan mau menjauhinya,
bagaimanapun juga. Aku terlalu
membutuhkannya, dan aku egois. Mungkin aku
bisa lebih memperjelas sisiku, supaya ia mau
meninggalkan aku. Pikiran itu membuatku
bergidik, dan Jacob mempererat rangkulannya.
Aku mengantar Mike pulang dengan Suburbannya,
sementara Jacob mengikuti di belakang untuk
mengantarku pulang. Jacob lebih banyak diam
sepanjang perjalanan menuju rumahku, dan aku
bertanya-tanya dalam hati apakah ia memikirkan
hal-hal yang sama seperti yang kupikirkan.
Mungkin saja ia berubah pikiran.
“Sebenarnya aku ingin mampir, karena kita
pulang lebih cepat," kata Jacob sambil
menghentikan mobilnya di samping trukku. "Tapi
kurasa kau benar bahwa aku demam. Aku mulai
merasa sedikit... aneh."
"Oh tidak, jangan sampai kau sakit juga! Kau
mau aku mengantarmu pulang?"
"Tidak" Jacob menggeleng, alisnya bertaut. “Aku
belum merasa sakit. Hanya... tidak enak badan.
Kalau terpaksa sekali, aku akan berhenti di pinggir
jalan."
"Maukah kau meneleponku begitu sampai di
rumah?" tanyaku cemas.
"Tentu, tentu." Jacob mengerutkan kening,
memandang lurus ke kegelapan, dan menggigit
bibir.
Kubuka pintu untuk turun, tapi Jacob meraih
pergelangan tanganku dengan lembut dan
memeganginya. Aku kembali merasakan betapa
panas kulitnya bersentuhan dengan kulitku.
"Ada apa, Jake?" tanyaku.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu,
Bella... tapi kurasa ini akan terdengar gombal."
Aku mendesah. Ini pasti kelanjutan pembicaraan
di teater tadi. "Silakan."
"Begini, aku tahu kau sering merasa tidak
bahagia. Dan mungkin ini tidak membantu apaapa,
tapi aku ingin kau tahu aku akan selalu
mendampingimu. Aku tidak akan
mengecewakanmu—aku berjanji kau akan selalu
bisa mengandalkan aku. Wow, kedengarannya
benar-benar gombal. Tapi kau tahu itu, kan?
Bahwa aku tidak akan pernah, tidak sekali pun,
menyakitimu?"
"Yeah, Jake. Aku tahu itu. Dan aku memang
sudah mengandalkanmu, mungkin lebih daripada
yang kau tahu."
Senyum merekah di wajahnya, seperti matahari
terbit merekah merah di awan-awan, dan aku ingin
memotong lidahku sendiri. Semua yang kukatakan
memang benar, tapi seharusnya aku berbohong.
Mengatakan hal sebenarnya adalah salah, itu
hanya akan menyakiti hatinya. Aku akan
mengecewakannya.
Mimik aneh melintas di wajahnya. "Kurasa aku
benar-benar harus pulang sekarang," katanya.
Aku cepat-cepat turun.
"Telepon aku!" teriakku begitu ia beranjak pergi.
Kupandangi mobilnya berlalu, dan sepertinya ia
masih bisa mengemudikan mobilnya dengan baik,
paling tidak. Kupandangi jalanan yang kosong
setelah mobilnya lenyap, perasaanku juga sedikit
tidak enak, tapi bukan karena alasan fisik.
Kalau saja Jacob Black terlahir sebagai saudara
lelakiku, saudara laki-laki kandung, sehingga aku
memiliki hak hukum atas dirinya yang membuatku
bebas dari perasaan bersalah. Tuhan tahu aku
tidak pernah berniat memanfaatkan Jacob, tapi
perasaan bersalah yang kurasakan saat ini mau
tak mau membuatku berpikir bahwa jangan-jangan
memang itulah yang kulakukan.
Terlebih lagi, aku tidak pernah berniat mencintai
dia. Satu hal yang kuketahui benar—dan aku
meyakininya dari lubuk hatiku yang terdalam, dari
pusat tulang-tulangku, dari puncak kepala hingga
ujung kaki, dari dalam dadaku yang hampa— cinta
memberi orang kekuatan untuk
menghancurkanmu. Aku hancur luluh dan tidak
bisa diperbaiki lagi. Tapi aku membutuhkan Jacob
sekarang, membutuhkannya seperti obat. Aku
sudah terlalu lama memanfaatkannya sebagai
kruk, dan aku terjerumus lebih dalam daripada
yang awalnya kurencanakan dengan orang lain.
Sekarang aku tak tega menyakiti hatinya, tapi aku
juga tak bisa menahan diri untuk terus-menerus
menyakitinya. Ia mengira waktu dan kesabaran
akan mengubahku, dan, walaupun aku tahu ia
salah besar, tapi aku juga tahu aku akan
membiarkannya mencoba.
Ia sahabatku. Aku akan selalu sayang padanya,
tapi itu takkan pernah cukup.
Aku masuk untuk menunggu telepon dan
menggigiti kuku.
"Filmnya sudah selesai?" tanya Charlie kaget
waktu aku berjalan masuk. Ia duduk di lantai, tak
sampai setengah meter dari TV. Pasti
pertandingannya seru sekali.
"Mike tiba-tiba sakit," aku menjelaskan.
"Semacam flu perut.”
"Kau tidak apa-apa?"
"Sekarang sih aku baik-baik saja," jawabku ragu.
Jelas, aku juga sudah tertular.
Aku bersandar di konter dapur, tanganku hanya
beberapa sentimeter dari telepon, berusaha
menunggu dengan sabar. Aku teringat mimik aneh
di wajah Jacob sebelum pulang tadi, dan jari-jariku
mengetuk-ngetuk konter. Seharusnya aku tadi
memaksanya supaya mau diantar pulang.
Kupandangi jam dinding sementara menit-menit
berlalu. Sepuluh. Lima belas. Bahkan kalau aku
yang menyetir, hanya butuh waktu lima belas
menit untuk sampai ke sana, dan Jacob menyetir
mobilnya lebih cepat daripada aku. Delapan belas
menit. Kuangkat telepon dan kuhubungi
nomornya.
Teleponku berdering dan berdering. Mungkin
Billy sudah tidur. Mungkin aku salah menekan
nomor. Kucoba lagi.
Pada deringan kedelapan, saat aku sudah
hampir menyerah, Billy menjawab.
"Halo?" tanyanya. Suaranya waswas, seperti
mengharapkan kabar buruk.
"Billy, ini aku, Bella—Jake sudah sampai di
rumah belum? Dia berangkat dari sini dua puluh
menit yang lalu."
"Dia sudah sampai," jawab Billy datar.
"Seharusnya dia meneleponku." Aku agak kesal.
"Dia merasa tidak enak badan waktu berangkat
tadi, jadi aku khawatir."
"Dia... terlalu sakit sehingga tidak bisa
menelepon. Dia sedang kurang sehat sekarang.”
Nada suara Billy seperti berjarak. Aku sadar ia
pasti ingin menemani Jacob.
"Beritahu aku bila butuh bantuan,” aku
menawarkan. "Aku bisa datang ke sana." Aku
teringat pada Billy, terikat pada kursi rodanya,
sementara Jake mengurus dirinya sendiri...
"Tidak, tidak," tolak Billy cepat-cepat. "Kami
baik-baik saja. Kau di rumah saja."
Caranya mengatakan itu nyaris kasar.
“Oke "jawabku.
"Bye, Bella."
Well, paling tidak ia sudah sampai di rumah.
Anehnya, kekhawatiranku tak kunjung mereda.
Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah berat,
cemas. Mungkin aku bisa ke rumahnya besok
sebelum bekerja, untuk mengecek keadaannya.
Aku bisa membawakan sup—kalau tidak salah
masih ada sekaleng sup Campbells tersimpan di
suatu tempat.
Aku sadar semua rencana itu buyar ketika
mendadak terjaga jauh lebih awal—jamku
menunjukkan pukul setengah lima pagi—dan
bergegas ke kamar mandi. Charlie menemukanku
di sana setengah jam kemudian, terbaring di lantai,
pipiku menempel di pinggir bak mandi yang dingin.
Ia menatapku lama sekali.
"Flu perut," akhirnya ia berkata.
"Ya," erangku.
“Kau butuh sesuatu?" tanyanya.
"Hubungi keluarga Newton, please?” pintaku
dengan suara serak. "Katakan aku ketularan Mike,
jadi tidak bisa masuk hari ini. Sampaikan juga
permintaan maafku."
"Tentu, bukan masalah," Charlie meyakinkanku.
Sepanjang sisa hari itu kuhabiskan di lantai
kamar mandi, tidur beberapa jam dengan kepala
dibaringkan di atas handuk.
Charlie mengatakan dirinya harus bekerja, tapi
aku curiga itu hanya alasan karena ia butuh akses
ke kamar mandi. Ia meninggalkan segelas air di
lantai agar aku tidak dehidrasi.
Aku terbangun waktu ia datang. Kulihat hari
sudah gelap di kamarku—hari sudah malam.
Charlie menaiki tangga untuk mengecek kondisiku.
"Masih hidup?"
"Begitulah," jawabku.
"Kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak, trims."
Charlie ragu-ragu sejenak, jelas bingung harus
melakukan apa. "Oke, kalau begitu," katanya, lalu
turun lagi ke dapur.
Kudengar telepon berdering beberapa menit
kemudian. Charlie berbicara dengan seseorang
dengan suara pelan, lalu menutup telepon.
"Mike sudah sembuh," serunya padaku.
Well, pertanda bagus. Dia jatuh sakit kuranglebih
delapan jam sebelum aku. Jadi tinggal
delapan jam lagi. Pikiran itu membuat perutku
mual, dan kuangkat tubuhku untuk membungkuk
di atas toilet.
Aku ketiduran lagi di atas handuk, tapi waktu
terbangun aku sudah berbaring di tempat tidur
dan di luar jendela tampak terang. Aku tidak ingat
pindah; Charlie pasti menggendongku ke kamar—
ia juga meninggalkan segelas air di atas nakas.
Tenggorokanku kering kerontang. Kureguk habis
isi gelasku, meski rasanya aneh.
Perlahan-lahan aku bangkit, berusaha untuk
tidak memicu timbulnya rasa mual lagi. Aku
lemah, dan mulutku tidak enak, tapi perutku baikbaik
saja. Kulirik jam.
Dua puluh empat jamku sudah berlalu.
Aku tidak memaksakan diri, dan hanya makan
biskuit asin untuk sarapan. Charlie tampak lega
melihatku pulih.
Begitu yakin tidak akan tergeletak lagi seharian
di lantai kamar mandi, kutelepon Jacob.
Jacob sendiri yang menjawab, tapi begitu
mendengar suaranya, aku tahu ia belum sembuh.
"Halo?" Suaranya serak, parau.
"Oh, Jake," aku mengerang bersimpati.
"Suaramu aneh."
"Aku memang merasa aneh," bisiknya.
“Aku sangat menyesal mengajakmu pergi
denganku. Ini menyebalkan."
"Aku senang kok pergi." Suaranya masih
berbisik. "Jangan salahkan dirimu. Ini bukan
salahmu."
"Kau pasti sembuh sebentar lagi," aku
meyakinkannya. "Waktu aku bangun tadi pagi,
ternyata aku sudah sembuh."
"Memangnya kau sakit?" tanyanya datar.
"Ya, aku juga ketularan. Tapi sekarang aku
sudah sembuh."
"Baguslah," Suaranya hampa.
"Jadi kau pasti juga akan sembuh dalam
beberapa jam," aku menyemangatinya.
Aku nyaris tidak mendengar jawabannya.
"Kurasa sakitku tidak sama denganmu."
"Kau bukannya flu perut?" tanyaku, bingung.
"Bukan. Ini lain."
“Apa yang terasa tidak enak?"
"Semuanya," bisik Jacob. "Sekujur tubuhku
sakit."
Kesakitan di suaranya nyaris nyata.
"Apa yang bisa kubantu, Jake? Aku bisa
membawakan apa untukmu?"
"Tidak ada. Kau tidak bisa datang ke sini."
Sikapnya kasar. Aku jadi teringat sikap Billy tempo
hari.
"Aku kan sudah terekspos dengan penyakit apa
pun yang merongrongmu saat ini," aku
mengingatkan.
Jacob mengabaikan perkataanku. "Aku akan
meneleponmu kalau bisa. Aku akan memberi tahu
kapan kau bisa datang lagi."
"Jacob—"
"Aku harus pergi," katanya, mendadak buruburu.
"Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih
sehat."
"Baiklah," sahutnya, tapi suaranya terdengar
pahit dan aneh.
Ia terdiam beberapa saat. Aku menunggunya
mengucapkan selamat berpisah, tapi ia juga
menunggu.
"Sampai ketemu lagi," kataku akhirnya.
"Tunggu sampai aku menelepon," katanya lagi.
"Oke... Bye, Jacob."
"Bella," ia membisikkan namaku, kemudian
menutup telepon.
10. PADANG RUMPUT
JACOB tidak menelepon.
Pertama kalinya aku menelepon, Billy yang
mengangkat dan mengatakan Jacob masih tidur.
Aku berusaha mengorek keterangan, memastikan
Billy sudah membawanya ke dokter. Menurut Billy
sudah, tapi entah mengapa, untuk alasan yang aku
sendiri tak tahu, aku kok tidak begitu percaya
padanya. Aku menelepon lagi, beberapa kali sehari,
selama dua hari berikutnya, tapi tak ada yang
mengangkat.
Sabtunya kuputuskan untuk menemui Jacob,
masa bodoh dengan undangan. Tapi rumah merah
kecil itu kosong. Aku jadi takut—sesakit itukah
Jacob sampai harus dirawat di rumah sakit? Aku
mampir ke rumah sakit dalam perjalanan pulang,
tapi menurut perawat jaga di meja depan, baik
Jacob maupun Billy tidak datang ke rumah sakit.
Kuminta Charlie menelepon Harry Clearwater
begitu ia sampai di rumah dan kantor. Aku
menunggu, waswas, sementara Charlie mengobrol
dengan teman lamanya; obrolan mereka sepertinya
sangat lama tanpa sekali pun menyebut-nyebut
nama Jacob. Kedengarannya Harry-lah yang baru
saja pulang. dari rumah sakit... menjalani tes
jantung. Kening Charlie berkerut, tapi Harry
bercanda dengannya, menceritakan yang luculucu,
sampai Charlie tertawa lagi. Barulah
kemudian Charlie bertanya tentang Jacob, dan
sekarang ia tak lagi banyak bicara sehingga aku
tak bisa mengikuti percakapan, karena ia hanya
mengucapkan hmmm dan yeah berulang-ulang.
Aku mengetuk-ngetukkan jari ke konter di samping
Charlie, sampai ia memegang tanganku untuk
menghentikannya.
Akhirnya Charlie menutup telepon dan berpaling
padaku.
"Kata Harry, saluran teleponnya bermasalah, jadi
itulah sebabnya teleponmu tidak nyambung. Billy
membawa Jake ke dokter di reservasi, dan
kelihatannya dia sakit mono. Dia ke capekan, dan
kata Billy, dia tidak boleh ditengok," lapor Charlie.
"Tidak boleh ditengok?" tanyaku tak percaya.
Charlie mengangkat sebelah alis. "Sekarang kau
jangan ikut campur, Bells. Billy tahu apa yang
terbaik untuk Jake. Sebentar lagi juga dia sembuh
dan bisa ke sini lagi. Bersabarlah."
Aku tidak memaksa. Charlie terlalu khawatir
memikirkan Harry. Jelas itu lebih penting—tidak
tepat mengganggu pikirannya dengan hal-hal
sepele. Jadi aku naik ke lantai atas dan
menyalakan komputer. Aku menemukan situs
kedokteran dan mengetikkan kata "mononukleosis"
ke kolom pencarian.
Yang kutahu tentang mono hanyalah bahwa
seseorang bisa tertular penyakit itu dari
berciuman, sesuatu yang jelas tak mungkin terjadi
pada Jake. Aku membaca gejala-gejalanya dengan
cepat—kalau demam memang ia mengalaminya,
tapi bagaimana dengan gejala yang lain? Tidak ada
radang tenggorokkan parah, tidak ada kelelahan,
tidak ada pusing kepala, setidaknya tidak sebelum
ia pulang dari bioskop: ia bahkan sempat berkata
dirinya "sehat walafiat”. Benarkah penyakitnya
muncul secepat itu? Berdasarkan artikel itu,
sepertinya yang harus muncul lebih dulu adalah
radang tenggorokannya.
Kupandang layar komputer dan bertanya-tanya
dalam hati mengapa, tepatnya, aku melakukan hal
ini. Mengapa aku merasa sangat... sangat curiga,
seperti tidak percaya pada cerita Billy? Untuk apa
Billy berbohong pada Harry?
Aku saja yang konyol, mungkin. Aku hanya
khawatir, dan jujur saja. aku takut tidak
diperbolehkan bertemu Jacob—itu membuatku
gelisah.
Aku menyimak keterangan lain dalam artikel itu,
menggali lebih banyak informasi. Aku berhenti
begitu sampai pada bagian yang menjelaskan
penyakit mono bisa bertahan lebih dari sebulan.
Sebulan? Mulutku ternganga.
Tapi Billy tak mungkin menerapkan aturan tidak
boleh dijenguk sampai selama itu. Tentu saja tidak.
Jake bisa gila kalau disuruh berbaring terus di
tempat tidur tanpa seorang pun bisa diajak bicara.
Apa sebenarnya yang ditakutkan Billy? Menurut
artikel itu, pengidap mono harus menghindari
aktivitas fisik, tapi tidak ada penjelasan tentang
aturan tidak boleh dijenguk. Penyakit itu kan tidak
terlalu menular.
Kuputuskan untuk memberi Billy waktu satu
minggu sebelum mulai mengorek-ngorek lagi. Satu
Minggu sudah cukup lama.
Ternyata satu minggu itu lama sekali. Hari Rabu
aku yakin tidak bakal mampu bertahan hidup
sampai Sabtu.
Ketika memutuskan untuk tidak mengganggu
Billy dan Jacob selama seminggu, aku sebenarnya
tak yakin Jacob bakal menuruti aturan Billy.
Setiap hari sesampainya di rumah dari sekolah,
aku berlari ke pesawat telepon untuk mengecek
pesan-pesan. Tidak pernah ada pesan untukku.
Aku melanggar janjiku sendiri dengan mencoba
meneleponnya tiga kali, tapi saluran teleponnya
masih rusak.
Aku terlalu sering tinggal di rumah, dan terlalu
sering sendirian. Tanpa Jacob, juga adrenalin dan
kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, semua
yang selama ini kutekan mulai menghantuiku lagi.
Mimpi-mimpi itu mulai menyerangku lagi. Aku
tidak lagi bisa melihat bagian akhirnya datang.
Yang ada hanya kehampaan yang mengerikan—
terkadang di hutan, terkadang di lautan pakis
kosong tempat rumah putih itu tak lagi ada.
Sesekali ada Sam Uley di sana, di hutan,
mengawasiku lagi. Aku tidak memedulikan dia—
tidak ada kenyamanan yang kurasakan dengan
kehadirannya, aku malah merasa semakin
sendirian. Walhasil, aku selalu terbangun setelah
menjerit ketakutan, setiap malam.
Lubang di dadaku kini semakin parah.
Kusangka aku sudah bisa mengendalikannya, tapi
aku mendapati diriku meringkuk, setiap hari,
sambil mencengkeram pinggang dan megap-megap
kehabisan udara.
Aku tak mampu menghadapi kesendirian dengan
baik.
Aku lega tak terkira di pagi hari waktu
terbangun—setelah menjerit, tentu saja—dan
teringat sekarang hari Sabtu. Berarti hari ini aku
bisa menelepon Jacob. Dan kalau saluran telepon
masih tetap belum berfungsi, aku akan ke La Push.
Bagaimanapun caranya, pokoknya hari ini harus
lebih baik daripada seminggu terakhir yang sepi
ini.
Aku menghubungi nomor telepon Jacob, lalu
menunggu tanpa berharap apa-apa. Jadi aku kaget
waktu Billy mengangkat telepon pada dering
kedua.
“Halo?”
“Oh. hai, cerita teleponnya sudah berfungsi lagi!
Hai, Billy. Ini Bella. Aku hanya ingin tahu kabar
Jacob. Apakah dia sudah bisa ditengok? Aku
sedang berpikir-pikir untuk mampir–“
"Maafkan aku, Bella,” sela Billy, dan aku
bertanya-tanya apakah ia sedang nonton televisi;
kedengarannya perhatian Billy sedang tertuju pada
hal lain. "Dia tidak ada di rumah."
"Oh." Butuh sedetik untuk mencernanya. "Kalau
begitu dia sudah sembuh?”
"Yeah," jawab Billy, setelah sempat ragu-ragu
sejenak. "Ternyata bukan mono. Hanya virus
biasa.”
"Oh. Kalau begitu... ke mana dia?"
"Dia pergi jalan-jalan bersama teman-temannya
ke Port Angeles—kalau tidak salah mau nonton
film atau sebangsa-nya. Dia pergi seharian."
"Well, aku lega mendengarnya. Aku khawatir
sekali. Aku senang dia cukup sehat untuk pergi
jalan-jalan." Suaraku terdengar palsu sementara
aku mengoceh tidak keruan.
Jacob sudah sembuh, tapi tidak merasa perlu
meneleponku. Ia pergi dengan teman-temannya.
Sementara aku duduk di rumah, merindukannya
setiap jam. Aku kesepian, cemas, bosan... tercabikcabik
– dan sekarang kecewa karena menyadari
perpisahan kami selama seminggu ini ternyata
tidak memiliki dampak yang sama terhadapnya.
“Kau menginginkan sesuatu?" Billy bertanya
sopan.
“Tidak, tidak juga."
“Well, akan kusampaikan padanya kau
menelepon,” Billy berjanji. “Bye, Bella.”
“Bye,” sahutku, tapi Billy sudah lebih dulu
menelepon telepon.
Sesaat aku hanya bisa mematung dengan
telepon masih di tangan.
Jacob pasti berubah pikiran, seperti yang
kutakutkan selama ini. Ia mengikuti saranku dan
tidak menyia-nyiakan waktunya untuk seseorang
yang tidak bisa membalas perasaannya. Aku
merasa darah menyusut dari wajahku.
"Ada yang tidak beres?" tanya Charlie sambil
menuruni tangga.
"Tidak," dustaku, meletakkan gagang telepon.
"Kata Billy, Jacob sudah sehat. Dia tidak kena
mono. Syukurlah."
"Jadi dia mau datang ke sini, atau kau yang ke
sana?" tanya Charlie sambil lalu, mulai mengadukaduk
isi lemari es.
"Tidak dua-duanya," aku mengakui. "Dia pergi
dengan teman-temannya yang lain."
Nada suaraku akhirnya menarik perhatian
Charlie. Ia mendongak menatapku dengan sikap
mendadak kaget, tangannya membeku memegangi
sebungkus keju lembaran.
"Bukankah sekarang masih terlalu pagi untuk
makan siang?" tanyaku seringan mungkin,
berusaha mengalihkan pikiran.
"Tidak, aku hanya mau membuat sesuatu untuk
bekal ke sungai..."
"Oh, mau mancing hari ini?"
"Well, Harry menelepon... dan hari tidak hujan."
Charlie sibuk menyiapkan setumpuk makanan di
atas konter sembari bicara. Tiba-tiba ia
mengangkat wajahnya lagi seolah-olah menyadari
sesuatu. "Katakan, kau mau aku di rumah saja
menemanimu, berhubung Jake pergi?"
"Tidak apa-apa, Dad," kataku, berusaha
memperdengarkan nada tak peduli. "Ikan makan
lebih lahap bila cuaca cerah."
Charlie menatapku, wajahnya jelas bimbang.
Aku tahu ia khawatir, takut meninggalkan aku
sendirian, kalau-kalau aku “bermuram durja” lagi.
"Sungguh, Dad. Mungkin aku akan menelepon
Jessica,” dalihku buru-buru. Aku lebih suka
sendirian daripada diawasi terus seharian oleh
Charlie. "Kami harus belajar Kalkulus. Aku bisa
meminta bantuannya." Bagian itu benar. Tapi aku
harus bisa sendiri tanpa meminta bantuan Jessica.
"Ide bagus. Kau terlalu banyak bermain dengan
Jacob, teman-temanmu yang lain bakal mengira
kau sudah melupakan mereka."
Aku tersenyum dan mengangguk, seolah-olah
peduli pendapat teman-temanku.
Charlie berbalik, tapi lalu berputar lagi dengan
ekspresi khawatir. "Hei, kau mau belajar di sini
atau di rumah Jess, kan?"
"Tentu, mau di mana lagi?"
"Well, aku hanya ingin kau berhati-hati untuk
tidak masuk ke hutan, seperti yang sudah
kukatakan padamu sebelumnya."
Butuh semenit bagiku untuk memahaminya,
karena saat itu pikiranku sedang tertuju pada hal
lain. "Masalah dengan beruang lagi?"
Charlie mengangguk, keningnya berkerut. "Ada
hiker yang hilang—polisi hutan menemukan
kemahnya tadi pagi, tapi tidak ada tanda-tanda
keberadaannya. Di sana ada jejak-jejak binatang
besar... tentu saja binatang itu bisa saja datang
kemudian, karena mencium bau makanan...
Pokoknya, mereka sekarang sedang memasang
jebakan untuk menangkapnya."
“Oh,” ucapku sambil lalu. Aku tidak benar-benar
mendengarkan peringatannya; aku jauh lebih kalut
memikirkan situasiku dengan Jacob daripada
kemungkinan menjadi mangsa beruang.
Aku senang Charlie terburu-buru. Ia tidak
menungguku menelepon Jessica, jadi aku tidak
perlu bersandiwara. Aku menyibukkan diri dengan
mengumpulkan semua buku sekolahku di meja
dapur untuk kumasukkan ke tas; mungkin itu
terlalu berlebihan, dan bila Charlie tidak begitu
bersemangat pergi memancing, itu pasti akan
membuatnya curiga.
Aku begitu sibuk terlihat sibuk hingga tidak
menyadari betapa mengerikannya hari kosong yang
membentang di hadapanku sampai aku melihat
Charlie meluncur pergi. Hanya butuh kira-kira dua
menit memandangi telepon dapur yang diam seribu
bahasa untuk memutuskan aku tidak mau tinggal
di rumah hari ini. Aku menimbang-nimbang
beberapa pilihan.
Aku tidak akan menelepon Jessica. Sepanjang
pengamatanku, Jessica sudah menyeberang ke sisi
gelap.
Aku bisa naik truk ke La Push dan mengambil
motorku— pikiran menarik, tapi masalahnya satu:
siapa yang akan mengantarku ke UGD kalau aku
membutuhkannya nanti?
Atau... aku toh sudah punya peta dan kompas di
trukku. Aku yakin sudah cukup memahami
prosesnya sehingga tidak akan tersesat. Mungkin
aku bisa mengeliminasi dua garis lagi hari ini,
dengan begitu kami akan lebih maju daripada
jadwal bila nanti Jacob mau menemuiku lagi. Aku
menolak memikirkan kapan kira-kira itu akan
terjadi. Atau apakah itu takkan pernah terjadi lagi.
Aku sempat merasakan secercah perasaan
bersalah saat menyadari bagaimana perasaan
Charlie kalau tahu aku mau ke hutan; tapi aku
mengabaikannya. Pokoknya aku tidak bisa tinggal
di rumah lagi hari ini.
Beberapa menit kemudian aku sudah berada di
jalan tanah yang tidak mengarah ke tempat
tertentu. Aku membuka semua jendela dan
menyetir secepat yang bisa dilakukan trukku,
mencoba menikmati embusan angin yang menerpa
wajahku. Hari berawan, tapi nyaris kering – hari
yang cerah untuk ukuran Forks.
Untuk memulai dibutuhkan waktu yang lebih
lama daripada bila per* bersama Jacob. Setelah
memarkir truk di tempat biasa, aku harus
menghabiskan waktu tak kurang dari lima belas
menit untuk mempelajari jarum kecil di
permukaan kompas serta tanda-tanda di peta yang
sekarang sudah lecek itu. Setelah yakin mengikuti
jalur yang benar, aku mulai berjalan memasuki
hutan.
Hutan penuh kehidupan hari ini, semua
makhluk kecil menikmati kekeringan yang hanya
sementara. Namun entah bagaimana, bahkan
dengan kicauan burung-burung dan dengung
serangga yang mengitari kepalaku dengan berisik,
juga bunyi langkah kaki tikus yang berkelebat
menerobos semak belukar, hutan terkesan lebih
menyeramkan hari ini; membuatku teringat pada
mimpi burukku yang terbaru. Aku tahu itu hanya
karena aku sendirian, kehilangan siulan riang
Jacob serta suara sepasang kaki lain menginjak
tanah yang lembab.
Perasaan gelisah itu semakin kuat saat aku
semakin dalam memasuki pepohonan. Aku mulai
susah bernapas—bukan karena berkeringat, tapi
karena aku mengalami kesulitan dengan lubang
tolol di dadaku lagi. Kudekap tubuhku dengan
kedua tangan dan berusaha mengenyahkan
kepedihan itu dari pikiranku. Nyaris saja aku
berbalik, tapi aku tak ingin menyia-nyiakan upaya
yang telah kulakukan.
Ritme langkah-langkahku mulai menumpulkan
pikiran dan kepedihanku, sementara aku terus
merangsek maju. Napasku akhirnya mulai teratur,
dan aku senang tak jadi pulang. Aku semakin
piawai menjelajah alam; aku tahu aku sekarang
bisa berjalan lebih cepat.
Aku tidak tahu apakah aku jauh lebih efisien
sekarang. Kalau tidak salah, mungkin aku sudah
berjalan enam kilometer lebih, dan bahkan belum
mulai mencari. Kemudian, dengan ketiba-tibaan
yang membuatku kehilangan orientasi, aku
melangkah melewati lengkingan pendek yang
terbentuk dari dua pohon maple merambat—
menerobos semak pakis setinggi dada—dan
memasuki padang rumput.
Ini tempat yang sama, itu aku yakin benar.
Belum pernah aku melihat tempat terbuka lain
yang begitu simetris. Bentuknya bulat sempurna,
seolah-olah ada orang yang dengan sengaja
membuat lingkaran sempurna, mencabuti pohonpohon
tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di
rerumputan yang melambai-lambai. Ke arah timur
sayup-sayup aku mendengar suara mata air
menggelegak.
Tempat ini tidak terlalu memesona tanpa cahaya
matahari, namun tetap sangat indah dan tenang.
Sekarang bukan musimnya bunga-bunga liar;
permukaannya tertutup rumput tebal yang
mengayun tertiup angin sepoi-sepoi, bagaikan riak
air di permukaan danau.
Ini tempat yang sama... tapi aku tidak
menemukan yang kucari-cari di sini.
Kekecewaan datang nyaris seketika seperti saat
kesadaran itu datang. Aku terhenyak ke tanah,
berlutut di pinggir padang terbuka, mulai terengahengah.
Apa gunanya pergi lebih jauh lagi? Tak ada yang
tertinggal di sini. Tidak lebih dari kenangan yang
bisa kupanggil kembali setiap kali aku
menginginkannya, asal aku rela menanggung
kepedihan yang menyertainya—kepedihan yang
kurasakan sekarang, yang membuatku menggigil.
Tidak ada yang istimewa dengan tempat ini bila dia
tak ada. Aku tak yakin benar apa yang kuharap
akan kurasakan di sini, tapi padang rumput ini
hampa oleh atmosfer, hampa oleh segalanya, sama
seperti tempat-tempat lain. Sama seperti mimpi
burukku. Kepalaku berputar-putar, pusing sekal.
Setidaknya aku datang sendirian. Aku
merasakan serbuan perasaan syukur saat
menyadari hal itu. Kalau aku menemukan padang
rumput ini bersama Jacob... Well, aku tak
mungkin bisa menyamarkan lubang tak berdasar
tempatku jatuh sekarang. Bagaimana aku bisa
menjelaskan keadaanku yang hancur berkepingkeping,
kondisiku yang meringkuk seperti bola
untuk menjaga agar lubang kosong itu tidak
mencabik-cabik tubuhku? jauh lebih baik bila
tidak ada yang melihatku.
Dan aku juga tak perlu menjelaskan pada siapa
pun mengapa aku begitu tergesa-gesa
meninggalkan tempat ini. Jacob pasti akan
berasumsi, setelah begitu bersusah-payah melacak
keberadaan tempat ini, bahwa aku ingin
menghabiskan waktu lebih dari hanya beberapa
detik di sini. Tapi sekarang pun aku sudah
berusaha mendapatkan kekuatan untuk bisa
berdiri lagi. memaksa diriku bangkit supaya bisa
pergi dari sini. Terlalu banyak kepedihan yang
harus ditanggung di tempat kosong ini—kalau
perlu aku bahkan tidak keberatan merangkak.
Untung saja aku sendirian!
Sendirian. Aku mengulangi kata itu dengan
kepuasan muram sambil memaksa diriku bangkit
meski hatiku sakit sekali. Tepat saat itu sesosok
tubuh melangkah keluar dari sela-sela pepohonan
di sebelah utara, kira-kira tiga puluh langkah
jauhnya.
Berbagai macam emosi berkecamuk dalam
diriku detik juga. Pertama adalah terkejut; aku
berada jauh dari jalan setapak mana pun, dan
tidak mengira akan ada orang lain di sini.
Kemudian saat mataku terfokus pada sosok tak
bergerak itu, melihat tubuhnya yang bergeming
dan kulitnya yang pucat, serbuan harapan yang
menyakitkan mengguncangku. Aku menekannya
habis-habisan, berjuang melawan sayatan pedih
penderitaan saat mataku menjalar ke wajah di
bawah rambut yang hitam, bukan wajah yang ingin
kulihat. Berikutnya muncul rasa takut; ini bukan
wajah yang kutangisi, namun jaraknya cukup
dekat hingga aku tahu cowok yang menghadap ke
arahku itu bukan hiker yang tersesat.
Kemudian, akhirnya, aku mengenalinya.
"Laurent!" pekikku, kaget bercampur senang.
Respons yang tak masuk akal. Mungkin
seharusnya aku berhenti pada perasaan takut.
Laurent adalah salah satu anggota kelompok
James saat kami pertama kali bertemu. Ia tidak
ikut dalam perburuan yang terjadi kemudian—
perburuan di mana akulah mangsanya—tapi itu
hanya karena ia takut; aku dilindungi kelompok
lain yang lebih besar daripada kelompoknya. Akan
lain ceritanya kalau tidak begitu—saat itu ia tidak
menyesal tidak menjadikanku makanannya. Tentu
saja ia pasti sudah berubah, karena ia pergi ke
Alaska untuk tinggal bersama kelompok beradab
lain, keluarga lain yang juga menolak minum darah
manusia demi alasan etis. Keluarga lain seperti...
tapi aku tidak membiarkan diriku memikirkan
nama itu.
Ya, takut pasti lebih masuk akal, tapi yang
kurasakan hanya kepuasan berlebihan. Padang
rumput ini kembali menjadi tempat magis. Magis
yang lebih gelap daripada yang kuharapkan, jelas,
namun tetap magis. Inilah koneksi yang kucari.
Bukti, walau bagaimanapun kecilnya, bahwa—di
suatu tempat di dunia yang sama dengan tempatku
tinggal—dia ada.
Mustahil melihat bahwa Laurent masih persis
sama seperti dulu. Kurasa sungguh tolol dan
manusiawi sekali mengharapkan ada semacam
perubahan dari tahun lalu. Tapi memang ada
sesuatu... aku tak tahu persis apa itu.
"Bella?" tanya Laurent, tampak lebih terperangah
dari pada yang kurasakan.
“Kau ingat.” Aku tersenyum. Sungguh konyol
aku bisa begitu gembira karena ada vampir yang
mengingat namaku.
Laurent nyengir. “Aku tidak mengira akan
bertemu kau di sini." Ia melenggang
menghampiriku, ekspresinya takjub.
“Apa tidak terbalik? Aku memang tinggal di sini.
Kusangka kau sudah pergi ke Alaska."
Laurent berhenti kira-kira sepuluh langkah
dariku, menelengkan kepala ke satu sisi. Wajahnya
adalah wajah paling tampan yang kulihat untuk
kurun waktu yang rasanya seperti berabad-abad.
Kuamati garis-garis wajahnya dengan perasaan
lega yang rakus. Ini dia orang kepada siapa aku
tidak perlu berpura-pura—seseorang yang sudah
tahu setiap hal yang tak pernah bisa
kuungkapkan.
"Kau benar," ia sependapat. "Aku memang pergi
ke Alaska. Meski begitu, aku tidak mengira...
Waktu aku mendapati rumah keluarga Cullen
sudah kosong, kusangka mereka sudah pindah."
“Oh." Aku menggigit bibir ketika nama itu
membuat lukaku yang masih basah kembali
berdarah. Butuh sedetik untuk menenangkan diri.
Laurent menunggu dengan sorot ingin tahu.
"Mereka memang sudah pindah," akhirnya bisa
juga aku memberi tahunya.
"Hmm,” gumam Laurent. "Kaget juga aku,
mereka meninggalmu. Bukankah kau sejenis
peliharaan mereka?"
Matanya sama sekali, tidak memancarkan sorot
menghina.
Aku tersenyum kecut. "Semacam itulah."
"Hmmm," ujarnya, tampak berpikir lagi.
Saat itulah aku sadar mengapa ia tampak
sama— terlalu sama. Setelah Carlisle memberi
tahu kami Laurent tinggal dengan keluarga Tanya,
aku mulai membayangkan dia, meski aku jarang
memikirkannya, dengan mata keemasan yang
sama seperti yang dimiliki... keluarga Cullen—aku
meringis saat memaksa nama itu keluar. Mata
yang dimiliki semua vampir baik.
Tanpa sengaja aku mundur selangkah, dan mata
merahnya yang gelap dan penuh keingintahuan itu
mengikuti gerakanku.
"Apakah mereka sering mengunjungimu?"
tanyanya, nadanya masih biasa-biasa saja, tapi
tubuhnya bergerak ke arahku.
"Berbohonglah," suara beledu indah itu berbisik
cemas dari benakku.
Aku terkejut mendengar suaranya, tapi
seharusnya itu tidak membuatku kaget. Bukankah
saat ini aku berada dalam bahaya yang tak
terbayangkan? Sepeda motor tidak ada apa-apanya
dibandingkan ini.
Aku melakukan apa yang diperintahkan suara
itu.
"Sesekali." Aku berusaha tetap terdengar ringan,
rileks. "Waktu terasa lebih panjang bagiku,
rasanya. Sementara mereka, kau tahu, mudah
dialihkan perhatiannya..." Aku mulai melantur.
Aku harus berusaha keras menutup mulut.
"Hmmm," kata Laurent lagi. "Bau rumahnya
seperti sudah lama tidak ditinggali..."
"Kau harus berbohong lebih baik lagi, Bella,"
desak suara itu.
Aku mencoba. "Aku harus memberi tahu Carlisle
kalau kau mampir. Dia pasti menyesal tidak
sempat menemuimu.” Aku berpura-pura berfikir
sebentar. "Tapi mungkin aku tidak perlu
menceritakannya pada... Edward, kurasa–“ aku
nyaris tak mampu menyebut namanya, dan itu
membuat ekspresiku aneh, mementahkan
gertakanku sendiri “– karena dia sangat pemarah..
Well, aku yakin kau masih ingat. Dia masih sensitif
kalau mengingat kejadian dengan James waktu itu
Aku memutar bola mata dan melambaikan tangan
dengan lagak cuek, seolah-olah itu semua sejarah
lama, tapi ada secercah nada histeris dalam
suaraku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah
Laurent bakal mengenalinya.
"Benarkah begitu?" Laurent menanggapi dengan
senang... sekaligus skeptis.
Aku menjawab singkat, agar suaraku tidak
menunjukkan kepanikanku. "Mm-hmm.”
Laurent melangkah ke samping dengan sikap
biasa-biasa saja, memandang berkeliling padang
rumput kecil itu. Kusadari langkah itu
membawanya semakin dekat denganku. Di
kepalaku suara itu merespons dengan geraman
rendah.
“Bagaimana keadaan di Denali? Kata Carlisle,
kau tinggal bersama Tanya?" suaraku melengking
kelewat tinggi.
Pertanyaan itu membuatnya diam sebentar. "Aku
sangat menyukai Tanya," ia merenung. "Apalagi
saudara perempuannya Irina... aku tidak pernah
menetap terlalu lama di satu tempat sebelumnya,
dan aku menikmati keuntungan dan hal-hal baru
yang bisa kurasakan. Tapi larangannya sulit...
Heran juga aku, mereka bisa bertahan begitu
lama." Ia tersenyum padaku seperti mengajak
berkomplot. "Kadang-kadang aku melanggarnya."
Aku tak sanggup menelan ludah. Kakiku mulai
bergerak mundur, tap, langsung membeku saat
matanya yang merah berkelebat turun dan
menangkap gerakan itu.
"Oh," kataku dengan suara lemah. "Jasper juga
punya masalah dengan itu."
"Jangan bergerak," suara itu berbisik. Aku
berusaha melakukan apa yang ia perintahkan.
Sulit, tapi; insting untuk lari nyaris tak bisa
dikendalikan.
"Benarkah?" Laurent tampak tertarik. "Itukah
sebabnya mereka pergi?"
"Bukan," jawabku jujur. "Jasper lebih berhatihati
di rumah."
"Benar," Laurent sependapat. "Begitu juga aku."
Satu langkah maju yang diambilnya jelas
disengaja.
"Apakah Victoria pernah menemukanmu?"
tanyaku, napasku tersengal, sangat ingin
mengalihkan perhatiannya. Itu pertanyaan pertama
yang muncul di benakku, dan aku langsung
menyesalinya begitu kata-kata itu terlontar dari
mulutku. Victoria—yang memburuku bersama
James, kemudian menghilang—bukanlah
seseorang yang ingin kuingat pada saat-saat
genting seperti ini.
Tapi pertanyaan itu menghentikannya.
"Ya," jawab Laurent, ragu-ragu melangkah.
"Sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk
membantunya." Ia mengernyit. "Dia tidak akan
senang kalau tahu hal ini."
"Tahu apa?" tanyaku bersemangat,
mengundangnya untuk terus bicara. Laurent
memandang garang ke arah pepohonan, jauh
dariku. Aku memanfaatkan kelengahannya itu
dengan mundur satu langkah.
Laurent kembali memandangku dan
tersenyum—ekspresinya membuatnya terlihat
seperti malaikat berambut hitam.
"Kalau dia tahu aku membunuhmu," jawabnya
sambil mendengkur merayu.
Aku terhuyung-huyung mundur. Geraman panik
di kepalaku membuatnya semakin sulit didengar.
"Dia ingin melakukannya sendiri,” Laurent
melanjutkan senang. "Dia agak... kesal denganmu.
Bella."
"Aku?" pekikku.
Laurent menggeleng dan terkekeh. "Aku tahu,
menurutku sepertinya itu juga agak sedikit bodoh.
Tapi James pasangannya, dan Edward-mu
membunuhnya."
Bahkan di sini, di ambang maut, namanya
masih merobek lukaku yang masih basah bagaikan
pisau bergerigi tajam.
Laurent tidak menyadari reaksiku. "Menurutnya
lebih tepat membunuhmu daripada membunuh
Edward—itu baru adil, pasangan untuk pasangan.
Dia memintaku memetakan arah untuknya,
katakanlah begitu. Tak kukira kau begitu mudah
ditemukan. Jadi mungkin rencana Victoria tidak
sempurna—ternyata kau bukanlah sasaran balas
dendam seperti yang dia bayangkan, karena kau
pasti tidak berarti banyak bagi Edward bila dia
meninggalkanmu sendiri di sini tanpa
perlindungan."
Pukulan lain, sayatan lain ke dadaku.
Laurent bergerak sedikit, dan aku terseok
mundur selangkah.
Kening Laurent berkerut. "Kurasa dia bakal
marah, bagaimanapun juga."
“Kalau begitu mengapa tidak kautunggu saja
dia?" bujukku dengan suara tercekik.
Seringaian licik membelah wajahnya. "Well, kau
bertemu denganku di saat yang tidak tepat, Bella.
Kedatanganku ke sini bukan untuk menjalankan
misi Victoria—aku sedang berburu. Aku sangat
haus, dan baumu... sungguh menerbitkan air liur."
Laurent menatapku dengan sikap setuju, seolaholah
perkataan itu dimaksudkan sebagai pujian.
"Ancam dia," delusi indah itu memerintahkan,
suaranya terdistorsi oleh kengerian.
"Dia pasti tahu kau yang melakukannya,"
bisikku, mematuhi perintah suara itu. "Kau tidak
akan bisa lolos."
"Mengapa tidak?" Senyum Laurent melebar. Ia
memandang ke sekeliling padang terbuka kecil
yang dikitari pepohonan itu. "Baumu akan tersapu
hujan berikutnya. Tak ada yang akan menemukan
mayatmu—kau hanya akan dinyatakan hilang,
seperti banyak, banyak sekali manusia lain. Tidak
ada alasan bagi Edward untuk mengira itu
perbuatanku, kalau dia cukup peduli untuk
menyelidiki. Yakinlah, tidak ada masalah pribadi
dalam hal ini, Bella. Hanya karena aku haus."
"Memohonlah," halusinasiku memohon.
"Please?” pintaku.
Laurent menggeleng, wajahnya ramah, "Anggap
saja begini, Bella. Kau sangat beruntung karena
akulah yang menemukanmu."
"Benarkah begitu?" tanyaku, mencuri
kesempatan untuk mundur satu langkah lagi.
Laurent mengikuti, gesit dan anggun.
"Ya," ia meyakinkanku. "Aku akan sangat cepat.
Kau tidak akan merasakan apa-apa, aku janji. Oh,
aku akan berbohong pada Victoria mengenainya
nanti, tentu saja, hanya untuk menenangkan
hatinya. Tapi kalau kau tahu apa yang dia
rencanakan untukmu, Bella..." Laurent menggeleng
dengan gerak lamban, seakan-akan nyaris jijik.
"Berani sumpah, kau pasti akan berterima kasih
padaku untuk ini."
Kutatap ia dengan ngeri.
Laurent mengendusi angin yang menerbangkan
helai-helai rambutku ke arahnya. "Menerbitkan air
liur," ia mengulangi kata-katanya, menghirup
dalam-dalam.
Tubuhku mengejang, bersiap lari, mataku
menyipit saat aku mengkeret ngeri,dan raungan
marah Edward bergema di kejauhan, di bagian
belakang kepalaku. Namanya menembus semua
dinding yang kubangun untuk menahannya.
Edward, Edward, Edward. Aku akan mati. Tidak
apa-apa bila aku memikirkan dia sekarang.
Edward, aku cinta padamu.
Melalui mataku yang menyapit, kulihat Laurent
berhenti mengendus udara dan memalingkan
kepala secepat kilat ke kiri. Aku tak berani
mengalihkan pandanganku darinya, mengikuti
matanya meski ia tak perlu mengalihkan perhatian
ataupun trik lain untuk mengalahkanku. Aku
terlalu takjub untuk merasa lega ketika ia pelanpelan
mulai mundur menjauhiku.
"Aku tak percaya," ucapnya, suaranya begitu
pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.
Barulah saat itu aku menoleh. Mataku menyapu
padang rumput, mencari interupsi yang
memperpanjang hidupku.
Awalnya aku tidak melihat apa-apa, dan mataku
secepat kilat kembali ke Laurent. Ia mundur lebih
cepat lagi sekarang, matanya menatap tajam ke
dalam hutan.
Lalu aku melihatnya; sesosok makhluk hitam
besar muncul dari sela-sela pepohonan, tenang
seperti bayangan, dan berjalan mantap
menghampiri si vampir. Tubuhnya besar sekali—
setinggi kuda, tapi lebih gemuk, jauh lebih berotot.
Moncongnya yang panjang meringis, memamerkan
sederet taring setajam belati. Geraman liar
meluncur dari sela-sela giginya, menggelegar
melintasi ruang terbuka seperti suara petir
menyambar.
Beruang itu. Hanya saja, ternyata hewan itu
bukan beruang. Namun tetap saja, pasti monster
hitam raksasa inilah makhluk yang menggegerkan
warga itu. Dari jauh orang akan mengira itu
beruang. Hewan apa lagi yang badannya bisa
sebesar dan sekekar itu?
Aku berharap akan beruntung dan bisa
melihatnya dari jauh. Tapi yang terjadi malah
hewan itu melangkah tanpa suara melintasi
rerumputan, hanya tiga meter dari tempatku
berdiri.
"Jangan bergerak sedikit pun," suara Edward
berbisik
Kupandangi makhluk mengerikan itu, pikiranku
kacau saat aku berusaha menemukan nama
hewan itu. Bentuknya jelas mirip anjing, begitu
juga caranya bergerak. Aku hanya bisa memikirkan
satu kemungkinan, terpaku dalam kengerian yang
amat sangat. Namun tak pernah terbayangkan
olehku serigala bisa sebesar itu.
Lagi-lagi hewan itu menggeram, dan aku bergidik
ngeri mendengarnya.
Laurent mundur ke pinggir pepohonan, dan,
meski membeku ketakutan, pikiranku dilanda
kebingungan. Mengapa Laurent mundur? Memang
serigala itu sangat besar, tapi makhluk itu tetap
hanya binatang. Mengapa vampir takut pada
binatang? Dan Laurent sangat ketakutan. Matanya
membelalak ngeri, sama seperti aku.
Seperti menjawab pertanyaanku, tiba-tiba saja
serigala raksasa itu tidak sendirian. Mengapit di
sisi kiri dan kanannya, ada dua hewan raksasa lain
melenggang diam memasuki padang rumput. Yang
satu berbulu abu-abu gelap, satunya lagi cokelat,
namun keduanya tidak setinggi serigala pertama.
Serigala abu-abu muncul dari balik pepohonan
hanya beberapa meter dariku, matanya terpaku
pada Laurent.
Belum lagi aku sempat bereaksi, dua serigala
lain menyusul, membentuk huruf V, seperti
kawanan burung yang bermigrasi ke selatan. Itu
berarti monster cokelat kemerahan yang
merangsck menembus semak belukar berada
cukup dekat denganku hingga aku bisa
menyentuhnya.
Tanpa sengaja aku terkesiap dan melompat
mundur – tindakan paling tolol yang bisa
kulakukan. Lagi-lagi aku membeku, menunggu
serigala-serigala itu berbalik menyerangku, mangsa
yang lebih lemah. Sempat terlintas dalam benakku
semoga Laurent segera beraksi dan melumat
gerombolan serigala itu-itu mudah saja baginya.
Kurasa di antara dua pilihan di depanku, di
mangsa sekawanan serigala hampir bisa dibilang
pilihan yang lebih buruk.
Serigala yang paling dekat denganku, yang
berbulu cokelat kemerahan, memalingkan kepala
sedikit begitu mendengarku terkesiap.
Mata serigala itu gelap, nyaris hitam. Hewan itu
menatapku sepersekian detik, matanya yang gelap
terkesan terlalu cerdas untuk hewan liar.
Sementara hewan itu memandangiku, mendadak
aku teringat pada Jacob—lagi-lagi dengan perasaan
bersyukur. Setidaknya aku datang ke sini
sendirian, ke padang rumput negeri dongeng yang
penuh monster-monster mengerikan ini.
Setidaknya Jacob tidak akan ikut mati. Setidaknya
aku tidak bertanggung jawab atas kematiannya.
Geraman rendah yang sekali lagi keluar dari
moncong pemimpin gerombolan membuat serigala
cokelat-merah itu memalingkan kepala secepat
kilat, kembali kepada Laurent.
Laurent menatap gerombolan monster serigala
itu dengan perasaan shock dan takut yang tak bisa
ditutup-tutupi. Perasaan pertama bisa kupahami.
Tapi aku terperangah waktu, tanpa aba-aba lebih
dulu, ia berbalik dan menghilang di balik
pepohonan.
Dia kabur.
Detik itu juga kawanan serigala itu langsung
mengejarnya, berlari cepat melintasi padang
rumput terbuka dengan langkah-langkah
bertenaga, menggeram dan mengatup-ngatupkan
moncong dengan keras dan nyaring. Kedua
tanganku serta-merta terangkat ke atas, secara
naluriah menutup telinga. Suara itu menghilang
dengan sangat cepat begitu gerombolan serigala
lenyap di balik hutan.
Kemudian aku sendirian lagi.
Lututku terkulai, tak sanggup menopang berat
tubuhku, dan aku terjatuh dengan posisi tangan
bertumpu di tanah, isak tangis memenuhi
kerongkonganku.
Aku tahu aku harus segera pergi, sekarang juga.
Berapa lama serigala-serigala itu akan mengejar
Laurent sebelum berbalik dan mengejarku? Atau
akankah Laurent melawan mereka? Mungkinkah ia
yang nanti akan kembali mencariku?
Awalnya aku tak bisa bergerak; lengan dan
kakiku gemetaran, dan aku tak tahu bagaimana
bisa kembali berdiri.
Pikiranku tak bisa menghalau ketakutan,
kengerian, ataupun kebingungan yang kurasakan.
Aku tidak memahami apa yang baru saja
kusaksikan.
Vampir tak seharusnya kabur dari sekawanan
anjing raksasa seperti itu. Apa gunanya gigi yang
tajam dan kulit mereka yang sekeras granit?
Dan serigala-serigala seharusnya tidak
mengganggu Laurent. Walaupun ukuran mereka
yang luar biasa itu mengajar mereka untuk tidak
takut pada apa pun, tetap saja tak masuk akal
mengapa mereka mengejarnya. Aku ragu kulit
Laurent yang sedingin marmer memancarkan bau
yang menyerupai makanan. Mengapa mereka
malah mengabaikan makhluk berdarah panas dan
lemah seperti aku dan justru mengejar Laurent?
Aku tidak mengerti sama sekali.
Angin dingin menyapu padang rumput,
mengayunkan rumput-rumput seolah ada sesuatu
yang menggerakkannya.
Aku cepat-cepat berdiri, mundur walaupun
angin menerpaku tanpa mencederai. Tersandungsandung
panik, aku berbalik dan langsung lari
menerobos pepohonan.
Beberapa jam berikutnya sungguh mengerikan.
Butuh waktu tiga kali lebih lama untuk meloloskan
diri dari pepohonan daripada untuk mencapai
padang. Awalnya aku tidak memerhatikan ke mana
aku melangkah, pikiranku hanya terfokus pada
melarikan diri. Setelah cukup tenang untuk ingat
bahwa aku punya kompas, aku sudah jauh di
pelosok hutan yang asing dan menakutkan. Kedua
tanganku gemetar sangat hebat sehingga aku
harus meletakkan kompas di tanah berlumpur
untuk bisa membacanya. Beberapa menit sekali
aku harus berhenti untuk meletakkan kompas dan
mengecek bahwa aku masih berjalan ke barat laut,
mendengarkan—bila suara-suara itu tidak
tersembunyi di balik langkah-langkah kakiku yang
panik—bisikan pelan berbagai hal yang tak
kelihatan di sela-sela dedaunan.
Pekikan burung jaybird membuatku terlompat
ke belakang dan jatuh menimpa pohon cemara
muda berdaun lebat. Akibatnya lenganku tergoresgores
dan rambutku terbelit daun-daun cemara.
Tupai yang mendadak berkelebat lewat membuatku
menjerit begitu keras hingga menyakitkan bahkan
telingaku sendiri.
Akhirnya pohon-pohon mulai renggang. Aku
muncul dijalan kosong kira-kira satu setengah
kilometer dari tempatku meninggalkan truk tadi.
Meskipun didera kelelahan yang amat sangat, aku
berlari-lari kecil menyusuri jalan sampai
menemukan trukku. Sesampai di dalamnya
tangisku kembali meledak. Kukunci pintu truk
rapat-rapat sebelum merogoh kantong untuk
mengeluarkan kuncinya. Raungan suara mesin
terasa melegakan dan waras. Suara itu
membantuku menahan air mata sementara aku
memacu trukku secepatnya menuju jalan utama.
Sesampainya di rumah, kondisiku sudah lebih
tenang, tapi masih kacau-balau. Mobil polisi
Charlie sudah terparkir di halaman—aku bahkan
tidak menyadari hari sudah malam. Langit sudah
menggelap.
"Bella?" seru Charlie begitu aku membanting
pintu depan dan cepat-cepat memutar kunci.
"Yeah, ini aku." Suaraku lemah.
"Dari mana saja kau?" tanyanya menggelegar,
muncul dari ambang pintu dapur dengan wajah
garang.
Aku ragu-ragu. Ayahku mungkin sudah
menelepon keluarga Stanley. Sebaiknya aku
menceritakan hal yang sebenarnya saja.
"Aku pergi hiking," aku mengaku.
Mata Charlie kaku. "Mengapa tidak jadi pergi ke
rumah Jessica?"
"Aku sedang malas belajar Kalkulus hari ini."
Charlie bersedekap. "Kan sudah kubilang untuk
menjauhi hutan."
"Yeah, aku tahu. Jangan khawatir, aku tidak
akan melakukannya lagi," Aku bergidik.
Sepertinya baru saat itulah Charlie benar-benar
memerhatikan keadaanku. Aku ingat tadi aku
sempat meringkuk di tanah hutan; jadi pastilah
keadaanku benar-benar berantakan.
"Apa yang terjadi?" desak Charlie.
Lagi, aku memutuskan mengatakan hal yang
sebenarnya, setidaknya sebagian, adalah pilihan
terbaik. Aku terlalu terguncang untuk berpurapura
aku tadi menikmati hari yang tenang dengan
flora dan fauna hutan.
"Aku melihat beruang itu." Aku berusaha
mengatakannya dengan tenang, tapi suaraku tinggi
dan gemetar. "Ternyata bukan beruang— tapi
sejenis serigala. Dan jumlahnya ada lima. Ada yang
berbulu hitam besar, abu-abu, cokelat
kemerahan..."
Mata Charlie membelalak ngeri. Ia bergegas
menghampiriku dan menyambar bagian atas
lenganku.
“Kau tidak apa-apa?"
Kepalaku mengangguk-angguk lemah.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi."
"Mereka tidak menggubrisku. Tapi setelah
mereka pergi, aku lari dan terjatuh-jatuh."
Charlie melepaskan bahuku dan memelukku
erat-erat. Selama beberapa saat ia tidak
mengatakan apa-apa.
“Serigala," gumamnya.
"Apa?"
"Menurut polisi hutan, jejak-jejaknya bukan
jejak beruang— tapi serigala tidak sebesar itu..."
"Mereka ini raksasa"
"Berapa banyak katamu tadi?"
“Lima.”
Charlie menggeleng, keningnya berkerut cemas.
Akhirnya ia bicara dengan nada yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi. "Tidak boleh hiking lagi."
"Pasti," aku berjanji dengan patuh.
Charlie menelepon ke kantor untuk melaporkan
apa yang kulihat. Aku berbohong sedikit saat
mengatakan di mana persisnya aku melihat
serigala-serigala itu—kubilang saja aku sedang
menyusuri jalan setapak yang mengarah ke utara.
Aku tak ingin ayahku tahu seberapa jauh aku telah
masuk ke dalam hutan, melanggar larangannya,
dan, yang lebih penting lagi, aku tidak mau orang
lain berkeliaran di dekat tempat Laurent mungkin
mencariku. Pikiran itu membuatku mual.
"Kau lapar?" tanya Charlie setelah menutup
telepon.
Aku menggeleng, meskipun seharusnya perutku
keroncongan. Aku belum makan seharian.
"Capek saja," jawabku. Aku berbalik menuju
tangga.
"Hei," seru Charlie, suaranya mendadak berubah
curiga lagi. "Bukankah kau tadi bilang Jacob pergi
seharian?"
"Kata Billy begitu," jawabku, bingung mendengar
pertanyaannya.
Charlie mengamati ekspresiku sebentar, dan
tampaknya puas dengan apa yang dilihatnya di
sana.
"Hah."
"Kenapa?" tuntutku. Kedengarannya Charlie
seolah menuduhku telah berbohong padanya tadi
pagi. Mengenai hal lain selain belajar dengan
Jessica.
"Well, hanya saja waktu aku menjemput Harry
tadi, aku melihat Jacob di depan toko yang ada di
sana bersama teman-temannya. Aku melambai
menyapanya, tapi dia... Well aku tak yakin dia
melihatku. Sepertinya dia sedang berdebat dengan
teman-temannya. Dia tampak aneh, seperti kesal
mengenai sesuatu. Dan... berbeda. Seolah-olah kau
bisa melihat anak itu bertumbuh! Setiap kali
melihatnya, sepertinya dia semakin bertambah
besar."
"Kata Billy, Jake dan teman-temannya pergi ke
Port Angeles untuk nonton film. Mungkin mereka
sedang menunggu teman di sana."
"Oh." Charlie mengangguk dan berjalan ke
dapur.
Aku berdiri di ruang depan, berpikir tentang
Jacob yang berdebat dengan teman-temannya. Aku
penasaran apakah ia mengonfrontir Embry rentang
kedekatannya dengan Sam. Mungkin itulah
sebabnya ia meninggalkanku hari ini—kalau itu
berarti ia bisa menuntaskan masalahnya dengan
Embry aku ikut senang.
Aku berhenti sebentar untuk memastikan pintu
masih terkunci rapat sebelum masuk ke kamar.
Tindakan konyol sebenarnya. Apa gunanya kunci
bagi monster-monster yang kulihat siang tadi?
Asumsiku, gagang pintu saja sudah cukup untuk
menghalangi masuknya serigala, karena mereka
tidak memiliki ibu jari untuk memegang. Dan
kalau Laurent datang ke sini...
Atau... Victoria.
Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tubuhku
bergetar begini hebat hingga aku susah tidur. Aku
meringkuk rapat-rapat di bawah selimut, dan
menghadapi fakta-fakta mengerikan.
Tidak ada yang bisa kulakukan. Tidak ada
pencegahan yang bisa kuambil. Tidak ada tempat
untuk bersembunyi. Tidak ada orang yang bisa
menolongku.
Aku sadar, dengan perut melilit mual, bahwa
situasinya sekarang lebih buruk daripada itu.
Karena semua fakta itu juga mengacu pada
Charlie. Ayahku, tidur di kamar yang bersebelahan
dengan kamarku, hanya terpisah sedikit saja dari
inti sasaran yang terpusat padaku. Bau tubuhku
akan menggiring mereka ke sini, tak peduli aku
ada di sini atau tidak.
Tremor itu mengguncang-guncang tubuhku
sampai gigi-gigiku gemeletukan.
Untuk menenangkan diri aku membayangkan
hal yang tidak mungkin: aku membayangkan
serigala-serigala besar itu berhasil menangkap
Laurent di hutan dan membantai makhluk yang
tidak bisa mati dan tidak bisa dihancurkan itu,
seperti mereka memangsa habis manusia normal
lainnya. Meski absurd, bayangan itu membuatku
tenang. Kalau serigala-serigala itu berhasil
menangkapnya, ia tidak bisa mengatakan pada
Victoria bahwa aku sendirian di sini. Bila ia tidak
kembali, mungkin Victoria mengira keluarga Cullen
masih melindungiku. Seandainya kawanan serigala
itu bisa memenangkan pertarungan...
Vampir-vampir baikku takkan pernah kembali;
betapa melegakan membayangkan vampir jenis lain
juga bisa menghilang.
Kupejamkan mataku rapat-rapat dan menunggu
datangnya ketidaksadaran—hampir tidak sabar
lagi menunggu mimpi burukku dimulai. Lebih baik
bermimpi buruk daripada melihat seraut wajah
tampan yang pucat tersenyum padaku sekarang
dari balik kelopak mataku.
Dalam imajinasiku, mata Victoria hitam oleh
dahaga, cemerlang oleh antisipasi, dan bibirnya
menekuk, menampilkan gigi-giginya yang berkilau
dalam kegembiraan. Rambut merahnya terang
laksana api; berkibar-kibar kusut mengitari
wajahnya yang liar.
Kata-kata Laurent tadi terngiang-ngiang dalam
benakku. Kalau kau tahu apa yang dia rencanakan
untukmu...
Aku menempelkan tinjuku kuat-kuat ke mulut
agar tidak menjerit.
11. SEKTE
SETIAP kali aku membuka mata dan melihat
cahaya matahari, menyadari aku telah selamat
melewati satu malam lagi, merupakan kejutan
bagiku. Setelah pulih dari keterkejutan, jantungku
mulai berdetak kencang dan telapak tanganku
berkeringat; aku baru bisa bernapas lega setelah
turun dari tempat tidur dan memastikan Charlie
juga selamat.
Kentara sekah ia khawatir—melihatku meloncat
kaget setiap kah mendengar suara keras, atau
wajahku tiba-tiba memucat tanpa alasan jelas.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang sesekali
diajukannya, Charlie sepertinya menyalahkan
ketidakhadiran Jacob sebagai penyebabnya.
Ketakutan yang selalu menghantui pikiranku
biasanya mengalihkan perhatianku dari fakta
bahwa satu minggu lagi telah berlalu, tapi Jacob
masih belum meneleponku. Tapi kalau aku bisa
berkonsentasi pada kehidupan normal—kalau
hidupku bisa dibilang normal—hal ini membuatku
gelisah.
Aku sangat kehilangan dia.
Rasanya sudah cukup parah ditinggal sendiri
sebelum aku ketakutan setengah mati begini.
Sekarang, lebih dari sebelumnya aku rindu tawa
lepasnya yang riang dan cengirannya yang menular
itu. Aku membutuhkan perasaan aman dan waras
yang bisa kuperoleh dengan nongkrong di
garasinya serta tangan hangatnya menggenggam
jari-jariku yang dingin.
Aku separo berharap ia bakal meneleponku hari
Senin. Misalnya ada kemajuan soal Embry,
bukankah ia ingin melaporkannya? Aku ingin
memastikan kecemasan terhadap temannyalah
yang menyita seluruh waktunya, bukan karena ia
tak mau lagi berteman denganku.
Aku meneleponnya Selasa, tapi tidak ada yang
menjawab. Apakah saluran teleponnya rusak lagi?
Atau Billy sekarang memasang caller ID?
Hari Rabu aku menelepon setiap setengah jam
sekali sampai jam sebelas malam, putus asa ingin
mendengar kehangatan suara Jacob.
Hari Kamis aku duduk di dalam truk di depan
rumah—dengan kedua pintu terkunci rapat—kunci
truk di tangan, selama satu jam penuh. Aku
berdebat dengan diriku sendiri, berusaha
membenarkan keinginan untuk pergi sebentar ke
La Push, tapi tak sanggup melakukannya.
Aku tahu Laurent pasti sudah kembali ke
Victoria sekarang. Kalau aku pergi ke La Push,
bisa-bisa aku menuntun salah seorang dari mereka
ke sana. Bagaimana kalau mereka menangkapku
ketika Jake di dekatku? Meski sangat menyakitkan
bagiku, aku tahu lebih baik bagi Jacob bila ia
menghindariku. Lebih aman untuknya.
Sudah cukup buruk aku tidak bisa menemukan
jalan untuk mengamankan Charlie. Kemungkinan
besar mereka akan datang mencariku pada malam
hari, dan alasan apa yang bisa kuutarakan untuk
membuat Charlie keluar dari rumah? Bisa saja aku
menceritakan hal sebenarmu, capi ini akan
membuatnya mengurungku di ruangan tertutup
rapat. Aku rela-rela saja menjalani semua itu—
menerima dengan tangan terbuka, malah—bila itu
bisa membuat Charlie aman. Tapi Victoria tetap
akan datang ke rumah Charlie lebih dulu,
mencariku. Mungkin, bila ia menemukan aku di
sini, itu sudah cukup baginya. Mungkin ia akan
langsung pergi setelah selesai berurusan
denganku.
Jadi aku tidak bisa lari. Kalaupun bisa, mau
pergi ke mana? Ke Renee? Aku bergidik
membayangkan diriku membawa bayangan
mematikan itu ke dunia ibuku yang aman dan
bermandikan matahari. Aku tidak akan pernah
membahayakan nyawanya seperti itu.
Kekhawatiran itu meninggalkan lubang besar di
perutku. Tak lama lagi aku akan punya dua lubang
yang sama persis.
Malam itu Charlie kembali berbuat baik dan
meneleponkan Harry untukku, mencari tahu
apakah keluarga Black sedang ke luar kota. Harry
melaporkan bahwa Billy menghadiri rapat dewan
Rabu malam kemarin, dan tidak menyebut-nyebut
bakal pergi ke mana pun. Charlie mewanti-wantiku
untuk tidak mengganggu mereka—Jacob pasti
akan menelepon kalau sudah punya waktu.
Jumat siang, saat mengendarai truk sepulang
sekolah, pikiran itu sekonyong-konyong
menghantamku.
Aku tidak sedang memerhatikan jalan yang
sudah sangat kukenal, membiarkan suara mesin
menumpulkan otak dan membungkam
kekhawatiranku, saat alam bawah sadarku
menyampaikan keputusan yang selama ini pasti
disimpulkan dalam pikiranku tanpa aku sendiri
mengetahuinya.
Begitu hal tersebut terpikirkan olehku, aku
merasa diriku benar-benar tolol karena tidak sejak
dulu teringat hal itu. M' mang sih, aku sedang
banyak pikiran—vampir yang terobsesi ingin
membalas dendam, serigala mutan raksasa, lubang
yang masih basah di pusat dada—tapi setelah aku
menjajarkan semua bukti yang ada, sungguh
memalukan bahwa kesimpulan ini begitu jelas.
Jacob sengaja menghindariku. Kata Charlie, ia
tampak aneh, kesal... jawaban-jawaban Billy yang
samar dan tidak membantu.
Astaga, aku tahu persis apa yang terjadi pada
Jacob.
Pasti gara-gara Sam Uley. Bahkan mimpi
burukku pun berusaha memberi tahuku. Sam
berhasil mendapatkan Jacob. Apa pun yang terjadi
pada cowok-cowok lain di reservasi telah terjadi
juga pada temanku dan mereka mencurinya
dariku. Ia diisap masuk ke sekte Sam.
Bukan karena Jacob tak mau lagi berteman
denganku, aku menyadari dengan perasaan
terharu yang tiba-tiba menyerbu.
Kubiarkan trukku berhenti dengan mesin
menyala di depan rumahku. Apa yang sebaiknya
kulakukan? Aku menimbang-nimbang bahaya dari
setiap pilihan yang akan kuambil.
Kalau aku pergi mencari Jacob, bisa-bisa aku
menuntun Victoria atau Laurent ke rumahnya.
Kalau aku tidak pergi menemuinya, Sam akan
menariknya lebih dalam lagi ke gengnya yang
mengerikan itu. Mungkin akan terlambat kalau
aku tidak segera bertindak.
Seminggu telah berlalu, dan belum ada vampir
yang datang mencariku. Seminggu sudah lebih dari
cukup bagi mereka untuk kembali, jadi aku pasti
bukan prioritas. Besar kemungkinan, seperti yang
sudah kuputuskan sebelumnya, mereka akan
datang mencariku pada malam hari. Peluang
mereka mengikutiku ke La Push jauh lebih kecil
daripada peluang kehilangan Jacob karena
terpengaruh Sam.
Bahaya menyusuri jalanan hutan yang terpencil
sepadan dengan tujuanku. Ini bukan kunjungan
iseng untuk mengetahui apa "yang terjadi. Aku
sudah tahu apa yang terjadi. Ini misi
penyelamatan. Aku akan berbicara dengan Jacob—
menculiknya kalau perlu. Aku pernah melihat
tayangan di PBS tentang memprogram ulang
orang-orang yang sudah dicuci otak. Pasti ada cara
untuk memulihkannya.
Kuputuskan untuk menelepon Charlie lebih
dulu. Mungkin apa pun yang sedang terjadi di La
Push saat ini memerlukan keterlibatan polisi. Aku
menghambur masuk, tidak sabar lagi ingin segera
berangkat.
Charlie sendiri yang mengangkat telepon.
"Kepala Polisi Swan."
"Dad, ini Bella.”
"Ada apa?"
Kali ini aku tidak bisa membantah asumsinya
bahwa kalau aku menelepon pasti ada yang tidak
beres. Suaraku gemetar. "Aku mengkhawatirkan
Jacob."
"Kenapa?" tanya Charlie, terkejut oleh topik yang
tidak terduga-duga itu.
“Kupikir... kupikir sesuatu yang aneh sedang
terjadi di reservasi. Jacob pernah cerita tentang
hal-hal aneh yang terjadi pada cowok-cowok lain
sepantarnya. Sekarang, dia bertingkah sama
seperti mereka dan aku takut."
"Hal-hal seperti apa?" Charlie berbicara dengan
nada profesional khas polisi. Itu bagus; berarti ia
menanggapi keluhanku dengan serius.
“Mula-mula dia ketakutan, lalu dia
menghindariku, dan sekarang... aku takut dia
sudah bergabung dengan geng aneh di sana,
gengnya Sam. Gengnya Sam Uley."
“Sam Uley?" ulang Charlie, terkejut lagi
"Ya."
Suara Charlie terdengar lebih rileks waktu ia
menjawab. "Kurasa kau keliru, Bells. Sam Uley itu
anak baik. Well, sekarang dia sudah dewasa.
Pemuda baik. Coba saja kaudengar komentar Billy
mengenai dia. Sam melakukan hal-hal positif
dengan para pemuda di reservasi. Dia itu yang—"
Charlie tak melanjutkan kata-katanya, dan
menurutku ia tadi pasti hendak mengatakan
sesuatu tentang malam saat aku tersesat di hutan.
Aku buru-buru meneruskan kata-kataku.
"Dad, bukan begitu. Jacob takut padanya."
"Kau sudah bicara pada Billy tentang hal ini?"
Charlie berusaha menenangkanku sekarang. Aku
langsung kehilangan perhatiannya begitu
menyebut nama Sam tadi.
"Billy tidak merasa khawatir."
"Well, Bella, kalau begitu aku yakin semua beres.
Jacob kan, masih anak-anak; dia mungkin cuma
berulah. Aku yakin dia baik-baik saja.
Bagaimanapun, dia toh tidak bisa bersamamu
terus setiap saat."
"Ini tidak ada kaitannya denganku," aku
bersikeras, tapi percuma saja, aku sudah kalah.
"Menurutku, kau tidak perlu khawatir soal ini.
Biarkan Billy yang mengurus Jacob."
"Charlie..." Suaraku mulai merengek.
"Bells, urusanku banyak sekali sekarang. Dua
turis hilang dari jalan setapak di luar danau sabit."
Suaranya terdengar gelisah. "Masalah dengan
serigala ini jadi semakin tak terkendali."
Sejenak perhatianku teralih—terperangah, lebih
tepatnya— oleh kabar itu. Tak mungkin serigalaserigala
itu sela menghadapi Laurent...
"Dad yakin itu yang terjadi pada mereka?" tanya
“Itulah yang kutakutkan. Sayang. Ada—" Charlie
ragu-ragu sejenak. “Di sana ada jejak-jejak lagi.
dan... bercak darah juga kali ini"
“Oh! Kalau begini pasti tidak terjadi konfrontasi.
Laurent pasti berhasil lari dari kejaran serigalaserigala
itu, tapi mengapa? Apa yang kulihat di
padang rumput waktu itu semakin lama semakin
aneh—semakin mustahil untuk dipahami.
“Dengar, aku benar-benar harus pergi. Jangan
khawatirkan Jake, Bella. Aku yakin semuanya
beres."
“Baiklah," sergahku pendek, frustrasi karena
kata-katanya mengingatkanku pada krisis lebih
mendesak yang kuhadapi. "Bye." Kututup telepon.
Kupandangi pesawat telepon lama sekali. Masa
bodohlah, aku memutuskan.
Billy menjawab setelah dua deringan.
"Halo?"
"Hai, Billy," sapaku, nyaris menggeram. Aku
berusaha terdengar lebih ramah saat meneruskan
kata-kataku. "Bisa bicara dengan Jacob?”
"Jake pergi."
Sangat mengejutkan. "Anda tahu dia ke mana?"
"Pergi dengan teman-temannya." Suara Billy
hati-hati.
"Oh ya? Ada yang kukenal? Quil?" Kentara sekali
kata-kata itu tidak terlontar dengan sikap biasabiasa
saja seperti yang sebenarnya kumaksudkan.
"Bukan," jawab Billy lambat-lambat. "Kurasa dia
tidak pergi bersama Quil hari ini."
Aku tahu lebih baik aku tidak menyebut nama
Sam. "Embry?" tanyaku.
Billy terkesan lebih gembira karena bisa
menjawab pertanyaan yang satu ini. "Yeah, dengan
Embry."
Itu sudah cukup bagiku. Embry termasuk geng
mereka. "Well, bisa tolong suruh dia meneleponku
kalau sudah pulang nanti, ya?"
"Tentu, tentu. Tidak masalah." Klik.
"Sampai ketemu lagi, Billy," gerutuku di telepon
yang sudah mati.
Aku mengendarai trukku ke La Push, bertekad
hendak menunggu. Aku akan duduk di depan
rumahnya semalaman kalau perlu. Aku akan bolos
sekolah. Cepat atau lambat anak itu pasti pulang,
dan kalau itu terjadi, ia harus bicara denganku.
Otakku begitu sibuk memikirkan perjalanan
yang selama ini begitu takut kulakukan hingga
rasanya hanya butuh beberapa detik saja untuk
sampai ke sana. Tahu-tahu saja hutan sudah
mulai menipis, dan aku tahu sebentar lagi aku
akan bisa melihat rumah-rumah kecil pertama di
reservasi.
Berjalan menjauh, di sisi kiri jalan, tampak
cowok jangkung bertopi bisbol.
Napasku sempat tercekat sesaat di
tenggorokkan, berharap keberuntungan
memihakku sekali itu, dan aku tanpa sengaja
bertemu Jacob tanpa perlu bersusah-payah. Tapi
pemuda itu badannya terlalu lebar, dan rambut di
bawah topinya pendek. Bahkan dari belakang pun
aku yakin itu Quil, meski ia tampak lebih besar
daripada waktu aku terakhir kali melihatnya. Ada
apa dengan pemuda-pemuda Quileute ini? Apakah
mereka dicekoki hormon pertumbuhan hasil
eksperimen?
Aku meminggirkan trukku ke sisi jalan yang
berlawanan arah dan berhenti di sebelahnya. Quil
mendongak saat mendengar raungan mesin trukku
mendekat.
Ekspresi Quil lebih membuatku takut daripada
terkejut. Wajahnya muram, suntuk, dan dahinya
berlipat-lipat khawatir.
"Oh, hai, Bella," ia menyapaku muram.
"Hai, Quil... kau baik-baik saja?"
Quil menatapku sedih. "Baik.
"Mungkin aku bisa mengantarmu ke suatu
tempat?" aku menawarkan.
“Tentu kurasa," gumamnya. Ia berjalan tersaruksaruk
mengitari bagian depan truk dan membuka
pintu penumpang lalu naik.
“Ke mana."
"Rumahku di sisi utara, di belakang toko,"
katanya.
“Kau sudah bertemu Jacob hari ini?" Pertanyaan
itu terlontar dari mulutku bahkan sebelum Quil
selesai bicara.
Kutatap Quil penuh semangat, menunggu
jawabannya. Tapi Quil hanya memandang ke luar
kaca depan beberapa saat sebelum menjawab.
"Dari jauh," jawab Quil akhirnya.
"Dari jauh?" ulangku.
“Aku berusaha mengikuti mereka—dia bersama
Embry." Suara Quil rendah, sulit didengar di selasela
suara mesin. Aku mencondongkan tubuh lebih
dekat. "Aku tahu mereka melihatku. Tapi mereka
malah berbelok dan menghilang di balik
pepohonan. Kurasa mereka tidak sendirian—
kurasa Sam dan anggota gengnya ada bersama
mereka.
“Aku sudah satu jam berkeliaran di hutan,
memanggil-manggil mereka. Aku baru saja keluar
ke jalan lagi waktu kau datang.”
"Jadi Sam berhasil mendapatkannya." Kata-kata
itu tidak begitu jelas terdengar—gigiku terkatup
rapat.
Quil memandangiku. "Jadi kau tahu soal itu?”
Aku mengangguk. "Jake pernah bercerita
padaku... sebelum ini.”
"Sebelum ini," ulang Quil, dan mendesah.
"Jadi Jacob sekarang sama parahnya dengan
yang lain-lain?"
"Tidak pernah meninggalkan Sam sedetik pun."
Quil membuang muka dan meludah dari jendela
yang terbuka.
"Dan sebelum itu—apakah dia menghindari
semua orang? Tingkahnya aneh?"
Suara Quil rendah dan kasar. "Tidak selama
yang lain-lain. Mungkin hanya satu hari. Lalu Sam
menemuinya."
"Menurutmu, apa penyebabnya? Narkoba atau
sebangsanya?”
"Aku tak bisa membayangkan Jacob atau Embry
terlibat hal-hal kayak begitu... tapi aku tahu apa?
Apa lagi kalau bukan itu? Dan mengapa orangorang
tua tidak khawatir?" Quil menggelenggelengkan
kepala, dan rasa takut kini terpancar
dari matanya. "Jacob tak ingin menjadi bagian...
sekte ini. Aku tidak mengerti apa yang bisa
mengubahnya." Quil memandangiku, wajahnya
ketakutan. "Aku tidak ingin menjadi yang
berikutnya."
Mataku membayangkan ketakutan yang sama.
Ini kedua kalinya aku mendengarnya digambarkan
sebagai sekte. Tubuhku bergidik. "Orangtuamu
menanggapi ketakutanmu?"
Quil meringis. "Yang benar saja. Kakekku duduk
di dewan suku, sama seperti ayah Jacob. Sam Uley
itu pemuda terbaik yang pernah ada di sini, begitu
menurut kakekku."
Kami berpandangan beberapa saat. Kami sudah
sampai di La Push sekarang, dan trukku nyaris
merangkak di jalan yang lengang. Tampak olehku
satu-satunya toko di desa itu, tak jauh di depan.
“Aku turun saja sekarang." kata Quil. "Rumahku
di sana.” Ia menuding rumah petak kayu di
belakang toko. Kutepikan trukku, dan ia melompat
turun.
“Aku akan menunggu Jacob," kataku kaku.
Semoga beruntung." Quil membanting pintu dan
tersaruk-saruk menyusuri jalanan, kepala
tertunduk, bahu terkulai.
Wajah Quil menghantuiku saat aku memutar
truk, kembali ke rumah keluarga Black. Ia takut
menjadi yang berikutnya. Apa sebenarnya yang
terjadi di sini?
Aku berhenti di depan rumah Jacob, mematikan
mesin, dan menurunkan kaca jendela. Hari panas
terik, angin tidak bertiup. Kurumpangkan kedua
kakiku di dasbor, siap menunggu.
Sebuah gerakan berkelebat di sudut mataku—
aku menoleh dan melihat Billy memandangiku dari
balik jendela depan dengan mimik bingung. Aku
melambai dan menyunggingkan senyum kaku. tapi
tetap di tempatku.
Mata Billy menyipit; ia membiarkan tirai terjatuh
menutupi kaca jendela.
Aku siap menunggu selama mungkin, tapi aku
berharap ada yang bisa kulakukan. Kukeluarkan
bolpoin dari dasar ransel, serta selembar kertas
ulangan lama. Aku mulai mencoret-coret bagian
belakang kertas itu.
Aku baru sempat menggambar sebaris bentuk
belah ketupat waktu mendadak ada yang
menggedor pintu trukku.
Aku terlonjak, mendongak, mengira akan
melihat Billy.
"Sedang apa kau di sini, Bella?" geram Jacob.
Kupandangi dia, terperangah takjub.
Jacob berubah drastis selama beberapa minggu
aku tidak melihatnya. Hal pertama yang menarik
perhatianku adalah rambutnya—rambutnya yang
indah sudah lenyap, dipangkas pendek, menutupi
kepalanya bagaikan satin hitam mengilap. GarisTiraikasih
garis wajahnya tampak mengeras, lebih kaku...
menua. Leher dan bahunya juga berbeda, tampak
lebih padat. Tangannya, yang mencengkeram
bingkai jendela, tampak besar sekali, dengan otototot
tendon dan pembuluh darah menonjol di balik
kulitnya yang cokelat kemerahan. Tapi perubahan
fisik itu tidak penting.
Ekspresinyalah yang membuatnya nyaris tak
bisa dikenali lagi. Senyum terbuka dan ramah itu
kini lenyap, sama seperti rambutnya, sorot hangat
di matanya yang gelap berganti dengan sorot tidak
suka yang langsung terasa mengganggu. Ada
kegelapan dalam diri Jacob sekarang. Seolah-olah
matahariku telah meledak.
"Jacob?" bisikku.
Jacob hanya menatapku, matanya tegang dan
marah.
Sadarlah aku kami tidak sendirian. Di
belakangnya berdiri empat cowok lain; semuanya
jangkung dan berkulit cokelat kemerahan, rambut
hitam dipangkas pendek seperti rambut Jacob.
Mereka bisa disangka kakak-beradik—aku bahkan
tak bisa menentukan yang mana Embry di antara
kelompok itu. Kemiripan mereka semakin
dipertegas dengan sorot tidak suka yang samasama
terpancar dari setiap pasang mata.
Setiap pasang kecuali satu. Paling tua dengan
jarak beberapa tahun, Sam berdiri paling belakang,
wajahnya tenang dan yakin. Aku harus menelan
kembali kebencian yang merayap naik di
kerongkonganku. Ingin benar kuhajar dia. Tidak,
aku ingin melakukan lebih daripada itu. Lebih dari
segalanya, aku ingin tampak garang dan
mematikan, menjadi seseorang yang membuat
orang lain tak berani macam-macam. Seseorang
yang bakal membuat Sam Uley ketakutan setengah
mati.
Aku ingin menjadi vampir.
Keinginan bengis itu membuatku terpana dan
terkejut. Itu keinginan yang paling terlarang dari
semuanya—bahkan saat aku menginginkannya
hanya untuk alasan kejam seperti ini untuk
mengalahkan musuh—karena itulah yang paling
menyakitkan. Masa depan itu sudah hilang untuk
selama-lamanya, tidak pernah benar-benar berada
dalam jangkauanku. Aku berusaha mengendalikan
diriku lagi sementara lubang di dadaku berdenyutdenyut
hampa.
“Kau mau apa?" tuntut Jacob, ekspresinya
makin terlihat tidak suka sementara ia
menyaksikan berbagai emosi campur aduk di
wajahku.
“Aku ingin bicara denganmu," kataku dengan
suara lemah. Aku berusaha fokus tapi aku masih
kesal karena membiarkan impian tabuku tadi lepas
kendali.
"Silakan," desisnya dari sela-sela gigi yang
terkatup rapat. Sorot matanya garang. Belum
pernah aku melihatnya menatap siapa pun seperti
itu, apalagi aku. Hatiku sakit sekali—sakitnya
nyata, seperti tusukan di kepalaku.
"Sendirian!" desisku, dan suaraku lebih kuat.
Jacob menoleh ke belakang, dan aku tahu ke mana
matanya mengarah. Setiap pasang mata tertuju
pada Sam untuk mengetahui reaksinya.
Sam mengangguk satu kali, wajahnya sama
sekali tak tampak gelisah. Ia melontarkan
komentar pendek dalam bahasa yang mengalun
dan tidak kukenal—aku hanya tahu itu bukan
bahasa Prancis ataupun Spanyol, tapi dugaanku,
itu bahasa Quileute. Ia berbalik dan berjalan
masuk ke rumah Jacob. Yang lain-lain, Paul,
Jared, dan Embry, seperti kuduga, mengikutinya
masuk.
"Oke." Jacob tampaknya tidak terlalu marah lagi
setelah yang lain-lain pergi. Wajahnya kini sedikit
lebih tenang, tapi juga lebih tidak berdaya. Sudutsudut
mulutnya seperti tertarik ke bawah secara
permanen.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Kau tahu apa
yang ingin kuketahui."
Jacob tidak menjawab. Ia hanya menatapku
getir.
Aku balas menatapnya dan kesunyian berlanjut.
Kepedihan di wajahnya membuat nyaliku lenyap.
Aku merasa kerongkonganku tercekat.
"Bisakah kita jalan-jalan?" tanyaku, mumpung
masih bisa bicara.
Jacob tidak menyahut; wajahnya tidak berubah.
Aku turun dari truk, merasakan mata-mata yang
tidak kelihatan menatapku dari balik jendela, lalu
mulai berjalan menuju pepohonan di utara. Kakiku
menginjak rerumputan lembab dan lumpur di
samping jalan, dengan suara berdecit, dan, karena
hanya itu satu-satunya suara yang terdengar,
awalnya aku mengira Jacob tidak mengikutiku.
Tapi waktu aku menoleh, ia sudah berjalan di
sisiku, entah bagaimana kakinya menemukan
pijakan yang tidak menimbulkan suara.
Aku merasa lebih tenang saat mencapai tepi
hutan, karena Sam tak mungkin bisa melihatku.
Sementara kami berjalan aku memeras otak,
memikirkan hal yang tepat untuk diutarakan, tapi
nihil. Sebaliknya aku malah semakin marah
karena Jacob tersedot semakin dalam... karena
Billy membiarkan ini terjadi... karena Sam bisabisanya
berdiri di sana dengan sikap tenang dan
penuh percaya diri...
Jacob tiba-tiba mempercepat langkah, berjalan
melewatiku dengan mudah dengan kedua kakinya
yang panjang, kemudian berbalik menghadapiku,
berdiri tepat di tengah jalan setapak sehingga aku
terpaksa berhenti juga.
Pikiranku sempat beralih sejenak ke gerakgeriknya
yang anggun dan mantap. Padahal selama
ini Jacob hampir sama kikuknya denganku
berkaitan dengan pertumbuhan badannya yang tak
pernah berakhir. Kapan itu berubah?
Tapi Jacob tidak memberiku kesempatan sama
sekali untuk memikirkannya.
"Mari kita tuntaskan,” katanya, suaranya keras
dan parau.
Aku menunggu. Ia tahu apa yang kuinginkan.
"Itu tidak seperti yang kaukira." Suaranya
sekonyong-konyong terdengar letih. "Ternyata tidak
seperti yang kukira—aku salah besar."
"Jadi apa, kalau begitu?"
Jacob mengamati wajahku lama sekali,
menimbang-nimbang. Amarah tak sepenuhnya
enyah dari matanya. "Aku tak bisa memberi
tahumu," katanya akhirnya.
Rahangku mengeras, dan aku berbicara dari
sela-sela gigiku yang terkatup rapat. "Kusangka
kita berteman."
"Dulu kita memang berteman." Ada sedikit
penekanan pada kata dulu.
"Tapi kau tidak membutuhkan teman lagi,"
tukasku masam. "Kau punya Sam. Bagus sekali,
bukan—sejak dulu kau memang kagum padanya."
"Aku tidak memahaminya sebelum ini."
"Dan sekarang kau sudah melihat kebenaran.
Haleluya"
“Ternyata itu tidak seperti yang kukira. Ini
bukan salah Sam. Dia membantuku sebisa
mungkin." Suara Jacob berubah rapuh, dan ia
memandang melampaui kepalaku, melewatiku,
amarah membara di matanya.
“Dia membantumu," aku mengulangi dengan
sikap ragu. "Jelas."
Tapi Jacob sepertinya tidak mendengarkan. Ia
menarik napas panjang dalam-dalam, berusaha
menenangkan diri. Ia sangat marah sampai-sampai
tangannya gemetar.
"Jacob, please,” bisikku. “Bisakah kauceritakan
saja padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin
aku bisa membantu."
"Tidak ada yang bisa membantuku sekarang."
Kata-kata itu meluncur dalam bentuk erangan
pelan; suaranya pecah.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tuntutku, air
mataku merebak. Aku mengulurkan tangan
padanya, seperti pernah kulakukan sebelumnya,
maju selangkah dengan kedua lengan terbuka
lebar.
Kali ini Jacob mengelak, mengangkat kedua
tangannya dengan sikap defensif. "Jangan sentuh
aku," bisiknya.
"Apakah Sam menular?" gumamku. Air mata
konyol itu lolos dari sudut-sudut mataku. Aku
menyekanya dengan punggung tangan, dan melipat
kedua lenganku di dada.
"Berhentilah menyalahkan Sam." Kata-kata itu
terlontar cepat, seperti refleks. Kedua tangan Jacob
terangkat ke atas, hendak memilin rambut yang
sudah tidak ada lagi, kemudian terkulai lemas ke
sisi tubuhnya.
"Kalau begitu aku harus menyalahkan siapa?"
sergahku.
Jacob menyunggingkan senyum separo; hal yang
muram dan aneh.
"Kau tidak ingin mendengar jawabannya."
"Siapa bilang tidak ingin!" sergahku. "Aku ingin
tahu, dan aku ingin tahu sekarang."
"Kau keliru," Jacob balas membentak.
"Jangan berani-berani mengatakan aku keliru—
bukan aku yang dicuci otak! Katakan padaku
sekarang siapa yang bersalah dalam hal ini, kalau
bukan Sam-mu yang berharga itu!"
"Kau sendiri yang minta," Jacob menggeram
padaku, matanya berkilat-kilat. "Kalau kau ingin
menyalahkan seseorang, mengapa tidak
kauarahkan saja jarimu pada makhluk-makhluk
pengisap darah kotor dan berbau busuk yang
sangat kaucintai itu?”
Mulutku ternganga dan napasku mengeluarkan
suara terkesiap kaget. Aku membeku di tempat,
tertusuk oleh kata-katanya yang setajam pisau.
Kepedihan mengoyak tubuhku dalam pola familier,
lubang basah itu terkoyak dari bagian dalam ke
luar, tapi itu belum apa-apa dibandingkan berbagai
pikiran kalut yang berkecamuk dalam benakku.
Aku tak yakin pendengaranku benar. Tidak sedikit
pun tampak tanda-tanda keraguan di wajahnya.
Hanya amarah.
Mulutku masih terus menganga lebar.
"Sudah kubilang kau pasti tidak ingin
mendengarnya," tukas Jacob.
"Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,"
bisikku.
Jacob mengangkat sebelah alis dengan sikap tak
percaya. "Menurutku kau justru sangat mengerti
siapa yang kumaksud. Kau tidak menyuruhku
mengucapkan namanya, kan? Aku tidak mau
menyakitimu."
“Aku tidak mengerti siapa yang kaumaksud,"
ulangku seperti robot.
"Keluarga Cullen,” jawabnya lambat-lambat,
mengulur-ulur kata itu, mengamati wajahku saat
mengucapkannya. "Aku tahu itu—aku bisa melihat
di matamu apa akibatnya bila aku menyebut nama
mereka."
Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha
menyangkal sekaligus menjernihkan pikiran pada
saat bersamaan. Bagaimana ia bisa mengetahui hal
ini? Dan apa hubungan semua itu dengan sekte
Sam? Apakah mereka sekelompok pembenci
vampir? Apa gunanya membentuk kelompok
semacam itu bila tidak ada lagi vampir yang tinggal
di Forks? Mengapa Jacob justru mulai memercayai
cerita-cerita tentang keluarga Cullen sekarang,
setelah bukti kehadiran mereka sudah lama
lenyap, tidak akan pernah kembali lagi?
Lama sekali baru aku menemukan jawaban yang
tepat. "Jangan katakan sekarang kau percaya pada
cerita-cerita takhayul Billy," kataku dengan sikap
mengejek yang tidak terlalu meyakinkan.
"Ternyata dia lebih banyak tahu daripada yang
kukira."
"Bersikaplah serius, Jacob."
Jacob menatapku garang, sorot matanya
mengkritik.
"Terlepas dari soal takhayul," sergahku buruburu.
"Aku tetap tidak mengerti mengapa kau
menuduh keluarga..."—meringis—"Cullen. Mereka
pindah lebih dari setengah tahun lalu. Bagaimana
mungkin kau menyalahkan mereka atas apa yang
dilakukan Sam sekarang?"
"Sam tidak melakukan apa-apa, Bella. Dan aku
tahu mereka sudah pindah. Tapi terkadang... halhal
tertentu terjadi, dan semuanya sudah
terlambat."
"Hal-hal tertentu apa? Apa yang terlambat? Kau
menyalahkan mereka karena apa?"
Jacob tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke
wajahku, amarah berkobar-kobar di matanya.
"Karena mereka ada," desisnya.
Aku terkejut dan perhatianku tiba-tiba teralih
karena mendadak muncul kata-kata peringatan di
benakku dalam suara Edward, padahal saat itu
aku bahkan tidak sedang merasa takut.
"Diamlah sekarang, Bella. Jangan desak dia,"
Edward memperingatkan di telingaku.
Sejak nama Edward menerobos keluar dari
dinding pertahanan tempatnya terkubur selama
ini, aku tak bisa lagi menguncinya rapat-rapat.
Nama itu tak lagi menyakitkan hatiku – tidak
selama detik-detik berharga saat aku bisa
mendengar suaranya.
Jacob marah sekali di hadapanku, sekujur
tubuhnya gemetar oleh amarah.
Aku tidak mengerti mengapa delusi Edward
muncul tak terduga-duga dalam benakku. Jacob
memang marah, tapi ia tetap Jacob. Tidak ada
adrenalin, tidak ada bahaya.
"Beri dia kesempatan untuk menenangkan diri,"
suara Edward berkeras.
Aku menggelengkan kepala bingung. "Sikapmu
konyol," kataku pada mereka berdua.
“Terserah," sergah Jacob, kembali menarik
napas dalam-dalam. "Aku tidak mau berdebat
denganmu. Itu toh tidak penting lagi, karena sudah
telanjur."
"Apanya yang sudah telanjur?"
Jacob tidak kaget sedikit pun saat aku
meneriakkan kata-kata itu di wajahnya.
"Ayo kita kembali. Tidak ada lagi yang perlu
dibicarakan."
Aku ternganga. "Tentu saja masih ada! Kau
belum menjelaskan apa-apa!'
Jacob berjalan melewatiku, melangkah kembali
ke rumah.
"Aku bertemu Quil hari ini," teriakku. Jacob
menghentikan langkah, tapi tidak berbalik. "Kau
masih ingat temanmu, Quil? Yeah, dia ketakutan."
Jacob berbalik menghadapiku. Wajahnya sedih.
"Quil," hanya itu yang ia ucapkan
“Dia juga mengkhawatirkanmu. Dia sangat
ketakutan." Tatapan Jacob menerawang
melewatiku dengan sorot putus asa.
Aku semakin bersemangat mengomporinya. "Dia
takut ikan menjadi yang berikutnya."
Jacob berpegangan pada sebatang pohon,
wajahnya berubah kehijauan di bawah kulitnya
yang merah kecokelatan. "Dia takkan menjadi yang
berikutnya," gumam Jacob pada diri sendiri. "Tak
mungkin. Sekarang semua sudah selesai.
Seharusnya ini semua tidak terjadi lagi. Kenapa?
Kenapa?" Ia meninju pohon. Pohon itu tidak besar,
namun ramping dan kira-kira hanya semeter lebih
tinggi daripada Jacob. Tapi aku tetap terkejut saat
pohon itu roboh dengan bunyi keras.
Jacob menatap pohon itu dengan terkejut, lalu
pandangannya berubah ngeri.
"Aku harus kembali." Ia berbalik dan berjalan
pergi sangat cepat hingga aku harus berlari-lari
kecil untuk menyamai langkahnya.
"Kembali kepada Sam!"
"Bisa dibilang begitu," kedengarannya persis
seperti maksud Jacob. Ia bergumam dan tak mau
memandangku.
Aku mengejarnya sampai ke truk. "Tunggu!" aku
berteriak memanggil saat Jacob mengarah ke
rumahnya.
Ia berbalik menghadapku, dan kulihat
tangannya gemetaran lagi.
"Pulanglah, Bella. Aku tak bisa berteman
denganmu lagi" Kepedihan yang kurasakan,
meskipun sepertinya konyol dan tak penting,
benar-benar kuat. Air mata menggenangi mataku
lagi. "Apakah kau... mencampakkan aku?" Katakata
yang keluar salah, tapi itulah cara terbaik
yang bisa kupikirkan untuk bertanya padanya.
Bagaimanapun juga, apa yang Jake dan aku miliki
lebih dari sekadar cinta monyet. Ini lebih kuat
daripada itu.
Ia tertawa pahit. "Tidak. Jika aku
mencampakkanmu, aku akan bilang 'Kita lebih
baik berteman.' Tapi sekarang, aku bahkan tak
bisa mengatakan itu."
"Jacob... kenapa Sam tidak membolehkanmu
punya teman lain? Please, Jake. Kau sudah janji.
Aku membutuhkanmu!" Kehampaan hidupku
sebelum ini—sebelum Jacob membawa sedikit
alasan untuk hidup lagi ke dalam hidupku—
seakan bersiap menghadangku. Kesepian mencekik
tenggorokanku.
"Maafkan aku, Bella." Jacob mengucapkan setiap
kata perlahan-lahan dengan suara dingin yang
sepertinya bukan miliknya.
Aku tak percaya itu yang sebenarnya ingin
diucapkan Jacob. Sepertinya ada hal lain yang
berusaha ia katakan lewat sorot matanya yang
marah, tapi aku tak bisa memahami pesan itu.
Mungkin ini sama sekali bukan tentang Sam.
Mungkin ini juga tak ada hubungannya dengan
keluarga Cullen. Mungkin Jacob hanya berusaha
keluar dari situasi yang tak mungkin berubah, tak
ada harapan. Mungkin seharusnya aku
membiarkan ia melakukan itu, jika itu yang terbaik
untuknya. Aku harus melakukan itu. Itu hal yang
benar.
Tapi aku mendengar suaraku berbisik.
"Aku minta maaf tak bisa... sebelum... kuharap
aku bisa mengubah perasaanku terhadapmu,
Jacob." Aku putus asa, berusaha menggapai,
mengulur kebenaran begitu jauhnya hingga katakataku
nyaris melengkung menjadi kebohongan.
"Mungkin... mungkin aku bisa berubah," aku
berbisik. "Mungkin, kalau kau memberiku sedikit
waktu... Tapi jangan menyerah terhadapku
sekarang, Jake. Aku takkan bisa bertahan."
Wajahnya berubah dari marah menjadi sedih
dalam sedetik. Satu tangannya yang masih
gemetaran terulur menggapaiku.
"Tidak. Jangan berpikir begitu, Bella, please.
Jangan salahkan dirimu, jangan pikir ini salahmu.
Ini semua salahku. Sumpah, ini sama sekali bukan
salahmu.”
"Bukan salahmu, tapi salahku," aku berbisik.
"Pasti sudah ada yang baru untukmu."
"Aku sungguh-sungguh, Bella. Aku tidak..."
Jacob berjuang menyelesaikan kalimatnya,
suaranya semakin serak saat ia berusaha
mengendalikan emosi. Sorot matanya tersiksa.
"Aku tidak cukup baik untuk menjadi temanmu
lagi, atau apa pun. Aku tidak seperti dulu lagi. Aku
tidak baik."
"Apa?" Kupandangi dia, bingung dan heran. "Kau
ini bicara apa? Kau jauh lebih baik daripada aku,
Jake. Kau baik! Siapa yang mengatakan kau tidak
baik? Sam? Itu kebohongan yang keji, Jacob!
Jangan biarkan dia berkata begitu padamu!" aku
tiba-tiba berteriak lagi.
Wajah Jacob keras dan datar. "Tidak ada yang
memberi tahuku. Aku tahu siapa diriku."
"Kau temanku, itulah kau! Jake—jangan!"
Jacob mundur menjauhi ku.
"Maafkan aku, Bella," katanya lagi; kali ini hanya
berupa gumaman lirih. Ia berbalik dan hampirhampir
berlari memasuki rumah.
Aku tak sanggup bergerak dari tempatku berdiri.
Kupandangi rumah kecil itu; tampaknya rumah itu
terlalu kecil untuk menampung empat cowok
berbadan besar dan dua pria yang bahkan lebih
besar lagi. Tidak ada reaksi apa pun di dalam.
Tidak ada kibasan pada tirai jendela, tidak ada
suara-suara ataupun gerakan. Rumah itu
menatapku kosong.
Hujan mulai turun rintik-rintik, menusuk
kulitku di sana-sini. Aku tak mampu mengalihkan
pandangan dari rumah itu. Jacob akan keluar lagi.
Pasti.
Hujan turun semakin deras, angin juga bertiup
semakin kencang. Tetesan air tak lagi jatuh dari
atas; air hujan kini menyamping dari barat.
Tercium olehku bau garam dan lautan. Rambutku
menampari wajah, menempel di bagian-bagian
yang basah dan menjerat bulu mataku. Aku
menunggu.
Akhirnya pintu terbuka, dan dengan lega aku
maju selangkah.
Billy menggelindingkan kursi rodanya ke
ambang pintu. Aku tidak melihat siapa-siapa di
belakangnya.
“Charlie baru saja menelepon, Bella. Kukatakan
padanya kau sudah dalam perjalanan pulang."
Matanya menyorotkan rasa iba.
Sorot iba itulah yang menggerakkanku. Aku
tidak berkomentar. Aku hanya berbalik seperti
robot dan naik ke truk. Aku tadi membiarkan kacakaca
jendela terbuka, jadi jok mobilku kan dan
basah. Tidak apa-apa. Aku toh sudah kepalang
basah kuyup.
Ini bukan apa-apa! Ini bukan apa-apa! pikiranku
berusaha menghiburku. Itu benar. Im memang
bukan apa-apa. Ini bukan akhir dunia, tidak lagi.
Ini hanyalah akhir dari secuil kedamaian yang
tertinggal. Hanya itu.
Ini bukan apa-apa, aku sependapat, lalu
menambahkan, tapi ini cukup menyakitkan.
Kusangka selama ini Jake memulihkan lubang
dalam diriku—atau setidaknya menambalnya,
menjaganya agar tidak terlalu menyakitiku.
Ternyata aku salah. Ternyata selama ini ia
memahat lubangnya sendiri, sehingga sekarang
hatiku bolong-bolong seperti keju Swiss. Dalam
hati aku bertanya-tanya mengapa aku tidak
hancur berkeping-keping.
Charlie sudah menunggu di teras. Begitu trukku
berhenti, ia menghampiriku.
"Billy menelepon. Katanya kau bertengkar
dengan Jake-katanya kau sangat kalut,” ia
menjelaskan sambil membukakan pintu untukku.
Lalu ia memandang wajahku. Ekspresi
mengenali yang penuh kengerian tergambar di
wajahnya. Aku berusaha merasakan wajahku dari
dalam, untuk mencari tahu apa yang dilihatnya.
Wajahku kosong dan dingin, dan sadarlah aku
wajahku ini mengingatkan Charlie pada apa.
"Kejadiannya tidak seperti itu," gumamku.
Charlie merangkulku dan membantuku turun
dari truk. Ia tidak mengomentari bajuku yang
basah kuyup.
"Kalau begitu apa yang terjadi?" tanyanya
sesampainya di dalam. Ditariknya selimut yang
tersampir di punggung sofa dan dililitkannya di
bahuku. Sadarlah aku sekujur tubuhku masih
gemetaran.
Suaraku hampa tak bernyawa. "Kata Sam Uley,
Jacob tidak boleh berteman lagi denganku."
Charlie melayangkan pandangan aneh ke
arahku. "Siapa yang bilang begitu?"
"Jacob," jawabku, meski tidak persis begitu yang
ia katakan. Tapi itu tetap benar.
Alis Charlie bertaut. "Kau benar-benar merasa
ada yang tidak beres dengan pemuda Uley ini?"
"Aku yakin. Tapi Jacob tidak mau memberi tahu
apa itu." Aku bisa mendengar air menetes-netes
dari bajuku ke lantai dan menciprat di linoleum.
"Aku mau ganti baju dulu."
Charlie tenggelam dalam pikirannya. "Oke,"
sahutnya sambil lalu.
Aku memutuskan untuk mandi karena merasa
sangat kedinginan, tapi air panas ternyata tidak
bisa memengaruhi suhu kulitku. Aku masih
kedinginan ketika akhirnya aku menyerah dan
mematikan air. Dalam suasana yang mendadak
hening, aku bisa mendengar Charlie berbicara
dengan seseorang di bawah. Aku membungkus
rubuhku dengan handuk, lalu membuka pintu
kamar mandi secelah.
Suara Charlie terdengar marah. “Aku tidak
percaya. Itu tidak masuk akal."
Kemudian suasana sepi, dan barulah aku sadar
Charlie sedang berbicara di telepon. Saru menit
berlalu.
"Jangan menyalahkan Bella!" Charlie tiba-tiba
berteriak. Aku terlonjak. Ketika ia bicara lagi,
suaranya hati-hati dan lebih rendah. "Selama ini
Bella dengan jelas menyatakan dia dan Jacob
hanya berteman... Well, kalau memang begitu,
mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal?
Tidak, Billy menurutku dia benar dalam hal ini...
Karena aku tahu bagaimana anak perempuanku,
dan kalau menurutnya Jacob ketakutan sebelum
ini—" Charlie berhenti bicara, dan waktu
menjawab, ia nyaris berteriak lagi.
“Apa maksudmu aku tidak kenal anak
perempuanku sebaik yang kukira!" Ia
mendengarkan sebentar, dan responsnya sangat
pelan hingga nyaris tak bisa kutangkap. "Kalau
kaupikir aku akan mengingatkannya tentang hal
itu, sebaiknya kau berpikir lagi. Dia baru mulai
bisa melupakannya, dan sebagian besar karena
Jacob, kurasa. Kalau apa pun yang dilakukan
Jacob dengan si Sam ini membuat Bella kembali
terpuruk dalam depresi, maka Jacob harus
berurusan denganku. Kau memang temanku, Billy,
tapi ini menyakiti keluargaku." Charlie kembali
terdiam saat Billy menjawab.
“Kau benar—sekali saja anak-anak itu
melanggar aturan, aku pasti akan tahu
mengenainya. Kami akan mengawasi situasi ini,
kau boleh yakin akan hal itu." Ia bukan lagi
Charlie; sekarang ia Kepala Polisi Swan.
“Baik. Yeah. Bye." Telepon dibanting keraskeras.
Aku berjingkat-jingkat cepat melintasi lorong
dan masuk ke kamarku. Charlie menggerutu
marah di dapur.
Jadi Billy hendak menyalahkan aku. Aku
memberi harapan pada Jacob dan akhirnya ia
muak.
Sungguh aneh, karena itu juga yang
kutakutkan, tapi setelah mendengar perkataan
Jacob sore tadi, aku tidak percaya lagi bahwa
itulah yang menjadi penyebabnya. Ada hai lain
selain cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan
sungguh mengagetkan bila Billy sampai harus
menggunakan itu sebagai alasan. Itu membuatku
berpikir bahwa rahasia apa pun yang mereka
simpan pastilah lebih besar daripada yang selama
ini kubayangkan. Setidaknya Charlie memihakku
sekarang.
Aku memakai piama lalu merangkak naik ke
tempat tidur. Hidup saat ini sudah terasa cukup
gelap hingga kubiarkan diriku melanggar janjiku
sendiri. Lubang itu—sekarang ada lebih dari satu
lubang—toh sudah terasa menyakitkan, jadi
mengapa tidak? Kutarik keluar kenanganku—
bukan kenangan sesungguhnya yang pasti akan
terlalu menyakiti, tapi kenangan palsu tentang
suara Edward dalam benakku sore tadi—dan
memutarnya berulang kali di kepalaku sampai aku
tertidur dengan air mata masih menuruni wajahku
yang kosong.
Mimpiku baru malam ini. Hujan turun dan
Jacob berjalan tanpa suara di sampingku, meski di
bawah kakiku tanah yang kuinjak bergemeretak
seperti kerikil kering. Tapi ia bukan Jacob-ku; ia
Jacob yang baru, masam, dan anggun. Gaya
berjalannya yang anggun dan mantap
mengingatkanku pada seseorang yang lain, dan,
saat kuperhatikan, garis-garis wajahnya berubah.
Kulitnya yang cokelat kemerahan memudar,
meninggalkan seraut wajah putih pucat bagai
tulang. Matanya berubah warna menjadi emas.
kemudian merah, lalu emas lagi. Rambutnya yang
dipangkas pendek acak-acakan tertiup angin,
berubah warna menjadi tembaga begitu angin
menyentuhnya. Dan wajahnya berubah sangat
tampan hingga membuat hatiku hancur berkepingkeping.
Aku mengulurkan tangan ke arahnya, tapi
ia mundur selangkah, mengangkat kedua tangan
seperti tameng. Kemudian Edward menghilang.
Aku tak yakin, waktu aku terbangun di
kegelapan, apakah aku baru mulai menangis,
ataukah air mataku mengalir saat aku tidur dan
terus mengalir sampai sekarang. Kutatap langitlah
kamar yang gelap. Aku bisa merasakan sekarang
sudah tengah malam – aku masih separo tertidur,
mungkin malah masih tidur. Kupejamkan mataku
dengan letih, berdoa semoga tidurku tidak
diganggu mimpi lagi.
Saat itulah aku mendengar suara yang
membuatku terbangun tadi. Suara sesuatu yang
tajam menggesek permukaan jendela dan
menimbulkan bunyi berderit yang melengking
tinggi, seperti suara kuku menggores kaca.
12. PENYUSUP
KEDUA mataku membelalak ngeri, padahal aku
sangat kelelahan dan bingung sampai-sampai tak
yakin apakah aku sudah bangun atau masih tidur.
Sesuatu menggaruk-garuk kaca jendelaku lagi
dengan suara melengking tinggi yang sama.
Bingung dan kikuk karena mengantuk, aku
tersaruk-saruk turun dari tempat tidur dan
melangkah ke jendela, mengerjap-ngerjapkan air
mata yang masih menggenang di mataku.
Sosok hitam besar bergelantungan goyah di sisi
luar kaca jendela, menerjang ke arahku seperti
hendak menabrak kaca. Aku terhuyung-huyung
mundur, ngeri, kerongkonganku tercekat hendak
menjerit.
Victoria.
Ia datang mencariku.
Mati aku.
Jangan Charlie juga!
Kutelan lagi jeritan yang sudah menggumpal di
tenggorokanku Aku tak boleh bersuara. Entah
bagaimana caranya. Pokoknya jangan sampai
Charlie datang memeriksa...
Kemudian suara parau yang sudah sangat
kukenal keluar dari sosok gelap itu.
“Bella!” sosok itu mendesis. "Aduh! Brengsek,
buka jendelanya! ADUH!”
Butuh dua detik untuk mengenyahkan rasa
takut sebelum aku bisa bergerak, tapi kemudian
aku bergegas ke jendela dan mendorong kacanya.
Awan-awan diterangi cahaya remang di baliknya
cukup untuk membuatku bisa mengenal, sosok
itu.
"Sedang apa kau?" aku terkesiap.
Jacob bergelayut goyah di pucuk tanaman yang
tumbuh di tengah-tengah halaman kecil Charlie.
Bobot tubuhnya membuat pohon itu merunduk ke
arah rumah dan sekarang ia berayun—kalanya
bergelantungan enam meter di atas tanah—tak
sampai semeter dariku. Ranting-ranting kurus di
pucuk pohon menggaruk-garuk dinding rumah lagi
dengan suaranya yang berderit-derit.
“Aku mencoba menepati"—Jacob terengahengah,
memindahkan berat badannya saat puncak
pohon memantulkannya— janjiku!"
Aku mengerjapkan pandanganku yang kabur,
mendadak yakin aku tengah bermimpi.
“Kapan kau pernah berjanji untuk bunuh diri
dengan jatuh dari pohon Charlie?”
Jacob mendengus, menganggap gurauanku tidak
lucu, mengayunkan kaki agar bisa lebih seimbang.
"Minggir," perintahnya.
"Apa?"
Jacob mengayunkan kalanya lagi, ke belakang
dan ke depan, meningkatkan momentum. Sadarlah
aku apa yang hendak dilakukannya.
"Jangan. Jake!"
Tapi aku merunduk juga ke samping, karena
sudah terlambat. Sambil menggeram Jacob
menerjang ke jendela kamarku yang terbuka.
Jeritan lain siap terlontar dari kerongkonganku
saat menunggu Jacob terjatuh dan mati—atau
paling tidak cedera membentur papan kayu. Tapi
aku benar-benar shock waktu ia dengan tangkas
mengayun masuk ke dalam kamar, mendarat
dengan tumit mencium lantai dan suara berdebum
pelan.
Tatapan kami otomatis mengarah ke pintu,
menahan napas, menunggu apakah suara tadi
membangunkan Charlie. Kesunyian berlalu
beberapa detik, kemudian kami mendengar suara
dengkur tertahan Charlie.
Cengiran lebar lambat-lambat merekah di wajah
Jacob; tampaknya ia sangat puas pada diri sendiri.
Itu bukan cengiran seperti yang selama ini kukenal
dan kusukai—tapi cengiran baru, yang seolah
mengejek keluguannya dulu, di wajah baru yang
kini menjadi milik Sam.
Itu agak keterlaluan bagiku.
Aku menangisi cowok ini sampai ketiduran.
Penolakan kasarnya tadi meninggalkan lubang
baru yang menyakitkan di dadaku. Ia
meninggalkan mimpi buruk yang baru, seperti
infeksi pada luka—penghinaan setelah perlakuan
buruk. Dan sekarang ia datang ke kamarku,
tersenyum mengejek seolah-olah semua itu tak
pernah terjadi. Dan lebih parahnya lagi, walaupun
kedatangannya berisik dan canggung, ulahnya
mengingatkanku pada Edward ketika dulu ia
sering menyusup masuk lewat jendela malammalam,
dan kenangan itu semakin memedihkan
luka hatiku yang belum sembuh.
Semua ini, ditambah fakta bahwa aku sangat
kelelahan, membuat suasana hatiku jadi buruk.
"Keluar!" desisku, sebisa mungkin membuat
bisikanku terdengar ketus.
Jacob mengerjapkan mata, wajahnya berubah
kosong karena terkejut.
"Tidak," protesnya. "Aku datang untuk meminta
maaf."
"Aku tidak terima!”
Aku berusaha mendorongnya kembali ke luar
jendela—bagaimanapun juga, kalau ini mimpi, ia
tidak akan cedera apa-apa. Tapi ternyata tak ada
gunanya. Aku tak sanggup menggerakkan
tubuhnya sedikit pun. Cepat-cepat kujatuhkan
tanganku, lalu mundur menjauhinya.
Ia tidak mengenakan pakaian, walaupun angin
yang bertiup masuk dari jendela cukup dingin
untuk membuatku gemetar, dan aku merasa tak
nyaman memegang dadanya yang telanjang.
Kulitnya panas membara, seperti kepalanya waktu
aku terakhir kali menyentuhnya dulu. Seolah-olah
ia masih demam tinggi.
Ia tidak kelihatan sakit. Ia terlihat besar. Jacob
mencondongkan tubuh ke arahku, besar sekali
hingga menutupi jendela, bingung melihat reaksiku
yang sengit.
Sekonyong-konyong aku tak sanggup
menanggungnya lagi—rasanya seolah-olah semua
akibat dari kurang tidur yang kualami sekian lama
menerjangku sekaligus. Aku capek sekali hingga
rasanya ingin ambruk ke lantai saat itu juga.
Tubuhku limbung, dan aku berjuang keras
menjaga mataku tetap terbuka.
"Bella?" bisik Jacob waswas. Diraihnya sikuku
waktu aku limbung lagi, lalu digiringnya aku ke
tempat tidur. Kakiku lunglai begitu aku sampai di
pinggir tempat tidur, dan kujatuhkan kepalaku
yang lemas ke kasur.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Jacob, perasaan
waswas membuat keningnya berkerut.
Aku menengadah memandanginya, air mata di
pipiku belum sepenuhnya kering. "Bagaimana aku
bisa baik-baik saja, Jacob?"
Kesedihan menggantikan sebagian kepahitan di
wajahnya. "Benar," Jacob sependapat, lalu
menghela napas dalam-dalam. "Brengsek. Well,
aku—aku minta maaf, Bella" Permintaan maaf itu
tulus, tak diragukan lagi, meski masih ada kerutkerut
marah di wajahnya.
"Mengapa kau datang ke sini? Aku tidak
menginginkan permintaan maaf darimu, Jake."
"Aku tahu," bisiknya. "Tapi aku tak bisa
membiarkan kita berpisah seperti sore tadi. Benarbenar
tidak menyenangkan. Maafkan aku."
Aku menggeleng letih. "Aku tidak mengerti sama
sekali."
“Aku tahu. Aku ingin menjelaskan—" Mendadak
Jacob berhenti bicara, mulutnya ternganga, hampir
seolah-olah ada sesuatu yang memutus aliran
udaranya. Lalu ia menghirup napas dalam-dalam.
"Tapi aku tak bisa menjelaskan," katanya, masih
marah. "Kalau saja aku bisa."
Kubiarkan kepalaku jatuh ke tangan.
Pertanyaanku terbenam oleh lenganku. "Kenapa?"
Jacob terdiam sesaat. Kuputar wajahku ke satu
sisi—terlalu letih untuk menegakkannya—untuk
melihat ekspresinya. Wajahnya membuatku
terkejut. Matanya menyipit, giginya terkatup rapat,
dahinya berkerut-kerut seolah sedang mengerah
kan segenap kekuatan.
"Ada apa?" tanyaku.
Jacob mengembuskan napas berat, dan aku
sadar selama ini ia juga menahan napas. "Aku
tidak bisa melakukannya," gumamnya, frustrasi.
“Melakukan apa?”
Jacob mengabaikan pertanyaanku. "Dengar,
Bella, pernahkah kau punya rahasia yang tidak
bisa kauceritakan pada siapa-siapa?"
Ia menatapku dengan sorot mengerti, dan
pikiranku langsung melompat ke keluarga Cullen.
Mudah-mudahan saja ekspresiku tidak terlihat
bersalah.
"Sesuatu yang tidak bisa kauberitahukan pada
Charlie, pada ibumu?" desaknya. "Sesuatu yang
bahkan tak bisa kaubicarakan denganku? Bahkan
sekarang pun tidak?"
Aku merasakan tatapanku mengeras. Aku tidak
menjawab pertanyaannya, meski tahu ia akan
mengartikan itu sebagai pembenaran.
"Bisakah kau mengerti bahwa... situasiku saat
ini juga kurang-lebih sama?" Ia kembali terbatabata,
seolah berusaha mencari kata-kata yang
tepat. "Terkadang loyalitas menghalangimu
melakukan hal yang kauinginkan. Terkadang kau
tidak bisa menceritakan rahasia itu karena tidak
berhak menceritakannya."
Aku tak bisa membantah. Ia benar sekali—aku
menyimpan rahasia yang tak berhak kuceritakan,
namun yang wajib kulindungi. Rahasia yang, tibatiba,
seolah-olah ia tahu mengenainya.
Aku masih belum memahami hubungan antara
rahasia ini dengan dia, atau Sam, atau Billy. Apa
hubungannya semua ini dengan mereka, apalagi
sekarang keluarga Cullen sudah pergi?
"Aku tak tahu mengapa kau datang ke sini,
Jacob, kalau tujuanmu hanya untuk berteka-teki
denganku, bukannya memberi jawaban."
"Maafkan aku" bisiknya. "Ini benar-benar
membuatku frustrasi."
Beberapa saat kami berpandangan di kamar
yang gelap, wajah kami sama-sama tidak memiliki
harapan.
"Bagian yang paling menyakitiku," kata Jacob
sekonyong-konyong, "adalah bahwa kau
sebenarnya sudah tahu. Aku sudah menceritakan
semuanya padamu!"
"Apa maksudmu?"
Jacob terkesiap kaget, kemudian
mencondongkan tubuhnya ke arahku, wajahnya
berubah dari tidak memiliki harapan ke penuh
semangat meluap-luap hanya dalam hitungan
detik. Ia menatap mataku berapi-api, wajahnya
antusias dan penuh semangat. Ia mengucapkan
kata-kata itu tepat di mukaku; embusan napasnya
sepanas kulitnya.
"Kurasa aku tahu bagaimana mengakalinya—
karena sebenarnya kau sudah tahu, Bella! Aku
tidak boleh menceritakannya padamu, tapi lain
halnya kalau kau bisa menebaknya! Aku tidak bisa
dibilang membocorkan rahasia!"
"Kau mau aku menebak? Menebak apa?"
"Rahasiaku! Kau pasti bisa—kau sudah tahu
jawabannya!"
Aku mengerjap dua kali, mencoba menjernihkan
pikiran. Aku lelah sekali. Tak satu pun perkataan
Jacob masuk akal bagiku.
Jacob melihat ekspresiku yang kosong,
kemudian wajahnya kembali mengeras,
mengerahkan segenap kekuatan. "Tunggu, aku
akan memberimu sedikit bantuan" katanya. Apa
pun yang coba ia lakukan, itu sangat sulit karena
napasnya sampai terengah-engah.
"Bantuan?" tanyaku, berusaha mengikuti
pembicaraannya.
Kelopak mataku terasa berat, tapi kupaksa
mataku agar tetap terbuka.
"Yeah," ujarnya, napasnya berat. "Seperti
petunjuk, misalnya.”
Jacob merengkuh wajahku dengan tangannya
yang besar dan kelewat panas, memegangnya
hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Ditatapnya mataku dalam-dalam sementara ia
berbisik, seolah-olah berusaha memberi tahukan
sesuatu di balik kata-kata yang ia ucapkan.
"Kau masih ingat waktu kita pertama kali
bertemu—di tepi pantai di La Push?"
"Tentu saja masih."
"Ceritakan padaku mengenainya."
Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba
berkonsentrasi. "Kau menanyakan trukku..."
Jacob mengangguk, mendorongku untuk
melanjutkan. "Kita mengobrol tentang Rabbit..."
"Teruskan."
"Kita berjalan-jalan di tepi pantai..." Pipiku mulai
panas di bawah telapak tangan Jacob saat
pikiranku melayang ke hari itu, tapi Jacob tidak
menyadarinya, karena kulitnya sendiri panas.
Waktu itu aku mengajaknya jalan-jalan,
menggodanya dengan maksud ingin menggali
informasi darinya.
Jacob mengangguk, cemas menunggu
kelanjutannya.
Suaraku nyaris tak terdengar. "Kau
menceritakan kisah- kisah menyeramkan... legenda
suku Quileute."
Jacob memejamkan mata dan membukanya lagi.
"Ya." Kata itu terucap dengan tegang, bersungguh sungguh,
seolah-olah ia sedang berada di tepi
sesuatu yang vital. Ia berbicara lambat-lambat,
setiap kata diucapkan dengan jelas. "Kau ingat apa
yang kuceritakan waktu itu?"
Bahkan dalam gelap, ia pasti bisa melihat
perubahan rona wajahku. Bagaimana aku bisa
melupakannya? Tanpa menyadari apa yang ia
lakukan, Jacob memberi tahu apa yang perlu
kuketahui hari itu—bahwa Edward adalah vampir.
Jacob menatapku dengan mata yang tahu terlalu
banyak. "Pikirkan baik-baik" katanya.
"Ya, aku ingat," desahku.
Jacob menghela napas dalam-dalam, berusaha
keras mengendalikan perasaannya. "Apa kau ingat
semua cerita—" Ia tak mampu menyelesaikan
pertanyaan. Mulutnya ternganga seakan-akan
sesuatu mengganjal kerongkongannya.
"Semua ceritanya?" tanyaku.
Jacob mengangguk bisu.
Kepalaku seperti diaduk-aduk. Hanya satu cerita
yang benar-benar penting. Aku tahu Jacob juga
menceritakan hal-hal lain, tapi aku tak bisa
mengingat cerita pendahuluannya yang tidak
penting, apalagi otakku saat ini rasanya tumpul
saking lelahnya. Aku mulai menggeleng-gelengkan
kepala.
Jacob mengerang dan melompat turun dari
tempat tidur. Ia menekankan tinjunya ke kening
dan bernapas dengan cepat dan marah. "Kau
sudah tahu, kau sudah tahu," gerutunya pada diri
sendiri.
"Jake? Jake, please, aku lelah sekali. Aku tidak
bisa berpikir sekarang. Mungkin besok..."
Jacob menarik napas untuk menenangkan diri
dan mengangguk. "Mungkin nanti kau akan ingat.
Kurasa aku mengerti mengapa kau hanya ingat
satu cerita saja," imbuhnya dengan nada menyindir
dan getir. "Kau keberatan, tidak, kalau aku
bertanya sesuatu tentang hal itu?" tanyanya,
nadanya masih sinis. "Sudah sejak lama aku ingin
tahu.”
“Tentang apa?” tanyaku waswas.
"Tentang cerita vampir yang kuceritakan
padamu."
Kupandangi dia dengan sorot waspada, tak
mampu menjawab. Tanpa menunggu
persetujuanku, Jacob tetap mengajukan
pertanyaannya.
"Benarkah waktu itu kau memang tidak tahu?"
tanyanya, suaranya berubah parau. "Benarkah aku
yang pertama kali memberi tahumu siapa dia
sesungguhnya?"
Bagaimana ia bisa mengetahuinya? Mengapa ia
memutuskan untuk percaya, mengapa baru
sekarang? Gigiku mengatup rapat. Kubalas
tatapannya, tak berniat menjawab. Jacob
menyadarinya.
"Kau mengerti kan, apa yang kumaksud dengan
loyalitas?" gumamnya, suaranya semakin parau.
"Hal yang sama juga terjadi padaku, tapi lebih
parah. Kau tak bisa membayangkan betapa
kuatnya aku terikat..."
Aku tidak suka itu—tidak suka melihatnya
memejamkan mata seolah-olah kesakitan saat
mengatakan dirinya terikat tadi. Lebih dari sekadar
tidak suka—aku sadar bahwa aku benci, membenci
apa pun yang menyakitinya. Sangat benci.
Wajah Sam memenuhi pikiranku.
Bagiku, ini semua intinya adalah sesuatu yang
secara sukarela dilakukan. Aku menjaga rahasia
keluarga Cullen karena cinta: tidak berbalas, tapi
sejati. Bagi Jacob, tidak harus menjadi seperti itu.
"Apakah kau tak bisa membebaskan diri?"
bisikku, menyentuh pinggiran kasar di bagian
belakang rambutnya yang pendek
Tangan Jacob mulai gemetar, tapi ia tidak
membuka mata. "Tidak. Aku terikat di dalamnya
seumur hidup. Seperti hukuman penjara seumur
hidup." Tawa sinis. "Lebih lama daripada itu,
mungkin."
"Tidak, Jake," erangku. "Bagaimana kalau kita
kabur? Hanya kau dan aku. Bagaimana kalau kita
lari dari rumah, dan meninggalkan Sam?"
"Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan
dengan kabur dari rumah, Bella," bisik Jacob. "Aku
mau saja kabur bersamamu, tapi... seandainya
bisa." Bahunya kini ikut gemetar. Ia menghela
napas dalam-dalam. "Sudahlah, aku harus pergi."
"Kenapa?"
"Pertama, sepertinya kau nyaris ambruk setiap
saat. Kau butuh tidur—aku ingin kau sehat dan
bugar sehingga bisa berpikir jernih. Kau harus bisa
menyimpulkannya, kau harus bisa"
"Lalu kenapa lagi?"
Kening Jacob berkerut. "Aku harus menyelinap
pergi diam-diam—seharusnya aku tak boleh
menemuimu. Mereka pasti bertanya-tanya di mana
aku sekarang." Mulutnya berkerut. "Kurasa aku
harus tetap menceritakannya pada mereka."
"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa pada
mereka" desisku.
"Bagaimanapun, aku akan tetap
mengatakannya."
Amarah berkobar dalam dadaku. "Aku benci
mereka!"
Jacob menatapku dengan mata membelalak
lebar, terkejut. "Tidak, Bella. Jangan benci mereka.
Ini bukan salah Sam ataupun salah satu dari
mereka. Seperti sudah kukatakan padamu
sebelumnya—ini salahku. Sesungguhnya Sam itu...
Well, luar biasa baik. Jared dan Paul juga baik,
walaupun Paul agak sedikit... Dan Embry temanku
sejak dulu. Tidak ada yang berubah dalam hal
itu—satu-satunya yang belum berubah. Aku benarbenar
merasa tak enak hati kalau ingar bagaimana
dulu aku punya pandangan jelek terhadap Sam...”
Sam luar biasa baik? Kupandangi Jacob dengan
sikap tidak percaya, tapi tak kutanggapi.
"Kalau begitu, mengapa kau tidak boleh
menemuiku?" tuntutku.
"Karena tidak aman," gumam Jacob, menunduk.
Kata-katanya membuatku bergidik ngeri. Jadi ia
juga tahu itu? Tak ada orang lain yang tahu
kecuali aku. Tapi ia benar—sekarang ini tengah
malam, waktu yang tepat untuk berburu. Jacob
tak seharusnya berada di kamarku. Kalau ada
yang datang mencariku, aku harus sendirian.
"Kalau aku menganggapnya terlalu... terlalu
berisiko," bisiknya, "aku tidak mungkin datang.
Tapi, Bella," ia menatapku lagi, "aku pernah
berjanji padamu. Aku tidak menyangka janji itu
akan begitu sulit ditepati, tapi bukan berarti aku
tidak akan berusaha."
Jacob melihat ekspresi tak mengerti di wajahku.
"Setelah nonton film konyol waktu itu," ia
mengingatkan aku. "Aku berjanji padamu, aku
tidak akan pernah menyakitimu... Aku benar-benar
melanggar janjiku sendiri sore tadi, ya?"
"Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya,
Jake. Tidak apa-apa."
“Trims, Bella." Jacob meraih tanganku. "Aku
akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan
agar bisa berada di sisimu, sesuai janjiku." Tibatiba
ia nyengir. Bukan cengiranku, bukan cengiran
Sam, tapi kombinasi aneh keduanya. "Akan sangat
membantu bila kau bisa menyimpulkannya sendiri,
Bella. Cobalah untuk benar-benar berusaha."
Aku meringis lemah. "Akan kucoba."
“Dan aku akan berusaha menemuimu lagi
nanti," Jacob mendesah. "Dan mereka pasti akan
berusaha mencegahku melakukannya."
"Jangan dengarkan mereka."
"Akan kucoba," Jacob menggeleng, seolah
meragukan dirinya sendiri. "Begitu kau bisa
menebaknya, segeralah datang dan beritahu aku."
Mendadak ia teringat sesuatu, sesuatu yang
membuat kedua tangannya gemetar. "Kalau kau...
kalau kau masih mau menemuiku."
"Mengapa aku tidak mau menemuimu?"
Wajah Jacob berubah keras dan pahit, wajah
yang seratus persen milik Sam. "Oh, ada saja
alasannya, pasti" tukasnya kasar. "Dengar, aku
benar-benar harus pergi. Bisakah kau melakukan
sesuatu untukku?"
Aku hanya mengangguk, takut melihat
perubahan dalam dirinya.
"Paling tidak telepon aku—kalau kau tidak mau
menemuiku lagi. Beritahu aku kalau memang
begitu."
"Itu tidak akan terjadi—"
Jacob mengangkat sebelah tangan,
menghentikan kata-kataku. "Pokoknya beritahu
aku."
Ia berdiri dan berjalan ke jendela.
"Jangan tolol, Jake," tukasku. "Bisa-bisa kakimu
patah nanti. Lewat pintu saja. Charlie tidak akan
memergokimu."
"Aku tidak akan kenapa-kenapa," tukasnya, tapi
berbalik menuju pintu juga. Ia ragu-ragu waktu
melewatiku, menatapku dengan ekspresi seolaholah
sesuatu menusuknya. Ia mengulurkan
sebelah tangan, memohon.
Aku menerima uluran tangannya, dan tiba-tiba
ia menyentakku—kasar sekali—hingga aku tertarik
turun dari tempat tidur dan menabrak dadanya.
"Siapa tahu aku tak bisa bertemu lagi
denganmu," bisiknya di rambutku, memelukku
sangat erat hingga tulang-tulangku terasa seperti
mau remuk.
"Tidak bisa—bernapas!" aku megap-megap.
Jacob langsung melepas pelukannya, sebelah
tangannya memegang pinggangku agar aku tidak
terjatuh. Ia mendorongku, kali ini lebih lembut,
kembali ke tempat tidur.
"Tidurlah, Bells. Kau harus bisa berpikir jernih.
Aku tahu kau pasti bisa melakukannya. Aku ingin
kau mengerti. Aku tak ingin kehilangan kau, Bella.
Tidak karena masalah ini."
Jacob mencapai pintu hanya dalam sekali
melangkah, membukanya pelan-pelan, kemudian
lenyap di baliknya. Aku mencoba mendengar suara
langkah-langkah kakinya menuruni tangga, tapi
tidak terdengar apa-apa.
Aku berbaring lagi di tempat tidur, benakku
berputar. Aku terlalu bingung, terlalu letih.
Kupejamkan mata, berusaha mencerna semuanya,
tapi detik berikutnya ketidaksadaran menelanku
begitu cepat hingga terasa membingungkan.
Bukan tidur damai tanpa mimpi seperti
dambaanku yang kudapatkan—tentu saja bukan.
Lagi-lagi aku melihat diriku di hutan, dan mulai
berkeliaran seperti yang selalu kulakukan.
Dengan cepat aku menyadari ini bukan mimpi
yang sama seperti biasa. Pertama, karena aku
tidak merasakan dorongan untuk berjalan tak
tentu arah atau melakukan pencarian; aku hanya
sekadar berkeliaran karena kebiasaan, karena
memang itulah yang biasanya kulakukan di sini.
Sebenarnya, ini bahkan bukan hutan yang sama.
Aromanya berbeda, begitu juga cahayanya. Hutan
ini tidak berbau tanah lembab, melainkan berbau
asin air laut. Aku tak bisa melihat langit; meski
begitu, matahari pasti bersinar—dedaunan di
atasku berwarna hijau zambrud.
Ini hutan di sekitar La Push—dekat pantai di
sana, aku yakin. Aku tahu bila aku menemukan
pantai, aku pasti bisa melihat matahari. Maka aku
mempercepat langkah, mengikuti suara debur
ombak yang samar-samar terdengar di kejauhan.
Dan mendadak muncul Jacob, Ia menyambar
tanganku, menarikku kembali ke bagian hutan
paling gelap.
"Jacob, ada apa?" tanyaku. Wajahnya ketakutan
seperti anak kecil, dan rambutnya kembali indah,
diikat ke belakang membentuk ekor kuda yang
tergerai di pangkal leher. Ia menarikku sekuat
tenaga, tapi aku menolak; aku tak ingin masuk ke
kegelapan.
"Lari, Bella, kau harus lari!" bisiknya, ketakutan.
Serbuan gelombang deja vu yang sekonyongkonyong
datang begitu kuat hingga nyaris
membangunkanku.
Sekarang aku tahu mengapa aku mengenali
tempat ini. Karena aku pernah berada di sana
sebelumnya, di mimpi yang lain. Sejuta tahun yang
lalu, bagian dari kehidupan yang sama sekali
berbeda. Ini mimpi yang pernah kudapat pada
malam setelah aku berjalan-jalan dengan Jacob di
pantai, malam pertama aku tahu Edward itu
vampir. Mengenang kembali hari itu bersama
Jacob pastilah yang memicu timbulnya mimpi ini
dari kenanganku yang terkubur.
Terpisah dari mimpi itu sekarang, aku
menunggu mimpi itu berlanjut. Cahaya
menghampiriku dari pantai. Beberapa saat lagi
Edward akan keluar dari pepohonan, kulitnya
berkilau redup, matanya hitam dan berbahaya. Ia
akan melambai ke arahku, dan tersenyum.
Wajahnya setampan malaikat, giginya runcingruncing
dan tajam...
Tapi aku terlampau cepat. Ada hal lain yang
harusnya terjadi lebih dulu.
Jacob menjatuhkan tanganku dan menjerit.
Gemetar dan mengentak-entak, ia terjatuh ke
tanah dekat kakiku.
“Jacob!” jeritku, rapi ia sudah lenyap.
Sebagai gantinya kini tampak serigala berbulu
merah-cokelat dengan mata gelap dan cerdas.
Mimpiku melenceng jauh, seperti kereta api yang
keluar dari rel.
Ini bukan serigala yang sama seperti yang
pernah kuimpikan di kehidupan lain. Ini serigala
besar berbulu cokelat kemerahan yang berdiri
dekat sekali denganku di padang rumput,
seminggu yang lalu. Serigala raksasa yang sangat
besar, lebih besar daripada beruang.
Serigala itu menatapku saksama, berusaha
menyampaikan sesuatu yang penting dengan
matanya yang cerdas. Mata hitam-cokelat yang
familier, seperti mata Jacob Black. Aku terbangun
sambil menjerit sekeras-kerasnya. Aku nyaris
berharap Charlie akan datang untuk mengecek
keadaanku kali ini. Ini bukan jeritanku yang biasa.
Kubenamkan kepalaku di bantal dan berusaha
meredam jeritan histeris yang hendak keluar dari
kerongkonganku. Kutekan bantal kuat-kuat ke
wajahku, bertanya-tanya dalam hati apakah aku
juga bisa membungkam fakta yang baru saja
berhasil kuhubungkan.
Tapi Charlie tidak datang, dan akhirnya aku bisa
juga meredam jeritan aneh yang keluar dari
tenggorokanku.
Aku ingat semuanya sekarang—setiap kata yang
keluar dari mulut Jacob pada hari itu di pantai,
bahkan bagian sebelum ia sampai ke cerita tentang
para vampir, atau "yang berdarah dingin" menurut
istilahnya. Terutama bagian pertama.
“Apakah kau tahu tentang legenda kamu tentang
asal-muasal kami-maksudku suku Quikute?”
tanyanya.
“Tidak juga," aku mengakui.
“Well ada banyak legenda, sebagian bahkan
dipercaya sudah ada sejak Zaman Air Bah—konon,
suku Quileute kuno mengikat kano mereka di pucukpucuk
pohon tertinggi di pegunungan untuk bisa
selamat, seperti Nabi Nuh dan bahteranya!” Ia
tersenyum, untuk menunjukkan ia sendiri tidak
begitu memercayai cerita-cerita sejarah. "Legenda
lain mengatakan kami keturunan serigala—dan
bahwa sampai sekarang serigala masih berkerabat
dengan kami. Hukum adat melarang kami
membunuh mereka.
"Lalu ada cerita-cerita tentang yang berdarah
dingin." Suara Jacob terdengar sedikit lebih rendah.
"Yang berdarah dingin?"
"Ya. Ada cerita-cerita tentang yang berdarah
dingin, cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda
serigala, dan ada juga yang masih cukup baru.
Menurut legenda, kakek buyutku sendiri mengenal
sebagian dari mereka. Dialah yang membuat
kesepakatan untuk menghalau mereka dari tanah
kami." Jacob memutar bola matanya.
"Kakek buyutmu?"
"Beliau itu tetua suku, seperti ayahku. Begini,
yang berdarah dingin itu musuh alami serigala—
Well, bukan serigala sungguhan, tapi serigala yang
menjelma menjadi manusia, seperti leluhur kami.
Kau bisa menyebutnya werewolf."
"Werewolf punya musuh?"
"Hanya satu."
Sesuatu menyumbat kerongkonganku,
mencekikku. Aku berusaha menelannya, tapi
benda itu tersangkut di sana. tak bergerak. Aku
berusaha meludahkannya.
"Werewolf,” aku terkesiap.
Ya, kata itulah yang tadi menyumbat
tenggorokanku.
Dunia seolah jungkir balik, miring pada
porosnya.
Tempat macam apakah ini? Benarkah ada dunia
di mana legenda-legenda kuno berkeliaran di
sepanjang perbatasan kota-kota kecil, berhadapan
dengan monster-monster mistis? Apakah itu berarti
setiap kisah dongeng didasarkan pada sesuatu
yang benar-benar nyata? Adakah hal yang waras
atau normal sama sekak, atau semuanya hanya
magis dan kisah-kisah hantu?
Kucengkeram kepalaku kuat-kuat, menjaganya
agar tidak meledak.
Sebuah suara kecil garing dalam benakku
bertanya mengapa aku begitu kalut. Bukankah aku
sudah menerima keberadaan vampir sejak dulu—
dan tanpa histeris sama sekali?
Benar sekali, aku ingin balas meneriaki suara
itu. Tidakkah saru mitos sudah cukup untuk siapa
pun, cukup untuk seumur hidup?
Lagi pula, sebelumnya tidak ada satu momen
pun di mana aku tak sepenuhnya menyadari
bahwa Edward Cullen bukan manusia biasa. Jadi
bukan hal mengagetkan waktu aku tahu siapa ia
sebenarnya—karena jelas sekali ia itu berbeda.
Tapi Jacob? Jacob, yang hanyalah Jacob, dan
tidak lebih daripada itu? Jacob, temanku? Jacob,
satu-satunya manusia yang bisa memahamiku...
Dan ia bahkan bukan manusia.
Kulawan dorongan untuk menjerit lagi.
Jadi, apa arti semua itu bagiku?
Aku tahu jawaban pertanyaan itu. Berarti ada
yang benar-benar tidak beres denganku.
Bagaimana bisa hidupku dipenuhi karakterkarakter
dari film horor? Bagaimana mungkin aku
bisa begitu peduli pada mereka sehingga hatiku
terasa seperti direnggutkan dan dadaku setiap kali
mereka pergi mengikuti jalan hidup mistis mereka?
Di kepalaku segalanya berputar dan bergerak,
berubah posisi sehingga hal-hal yang tadinya
berarti sesuatu, sekarang memiliki arti berbeda.
Berarti tidak ada sekte. Tidak pernah ada sekte,
tidak pernah ada geng. Tidak, ternyata bahkan
lebih buruk daripada itu. Yang ada ternyata adalah
kawanan.
Kawanan yang terdiri atas lima werewolf raksasa
aneka warna yang waktu itu berjalan melewatiku di
padang rumput Edward...
Mendadak, aku merasa harus bergegas. Mataku
melirik jam—masih terlalu pagi, tapi aku tak
peduli. Aku harus pergi ke La Push sekarang. Aku
harus menemui Jacob supaya ia bisa memberi
tahuku bahwa aku tidak hilang ingatan.
Kusambar baju bersih pertama yang bisa
kutemukan, tak peduli apakah serasi atau tidak,
lalu berlari menuruni tangga, melompati dua anak
tangga sekaligus. Nyaris saja aku bertabrakan
dengan Charlie saat menghambur di lorong,
menuju ke pintu.
"Mau ke mana kau?" tanyanya, terkejut
melihatku, sama seperti aku terkejut melihatnya.
"Kau tahu sekarang jam berapa?"
"Yeah. Aku harus menemui Jacob."
"Kusangka urusan dengan Sam—"
"Itu tidak penting, aku harus bicara dengannya
sekarang juga."
"Sekarang masih terlalu pagi." Kening Charlie
berkerut ketika ekspresiku tidak berubah. "Tidak
mau sarapan dulu?"
"Tidak lapar." Kata-kata meluncur cepat dari
bibirku. Charlie menghalangi jalanku. Aku
menimbang-nimbang untuk merunduk
mengitarinya dan kabur secepat-cepatnya, tapi aku
tahu aku harus memberi penjelasan nanti.
"Sebentar lagi aku kembali, oke?"
Charlie mengerutkan kening. "Langsung ke
rumah Jacob, kan? Tidak mampir-mampir dulu?"
Tentu saja tidak. mau mampir ke mana? Katakataku
berkejaran, karena aku begitu terburuburu.
"Entahlah," Charlie mengakui. “Hanya saja...
Well, terjadi penyerangan lagi – serigala-serigala itu
lagi. Dekat sekali dengan pemukiman penduduk di
sumber air panas sana—kali ini ada saksi mata
yang menyaksikan. Korban hanya beberapa meter
dari jalan saat menghilang. Istrinya melihat
serigala abu-abu besar beberapa menit kemudian,
waktu dia sedang mencari suaminya, lalu lari
mencari bantuan."
Perutku langsung mulas mendengarnya. "Orang
itu diterkam serigala?"
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang itu—
yang ada hanya bercak darah" Wajah Charlie
tampak galau. "Para polisi hutan menyisir hutan
dengan bersenjata lengkap, membawa sukarelawan
yang juga bersenjata. Banyak pemburu yang ingin
terlibat—tersedia hadiah bagi yang bisa menembak
mati serigala. Itu berarti akan banyak tembakmenembak
di hutan, dan itu membuatku
khawatir." Charlie menggeleng. "Kalau orang-orang
terlalu bersemangat, bisa terjadi banyak
kecelakaan..."
“Mereka akan menembaki serigala-serigala itu?"
Suaraku naik tiga oktaf.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan? Ada apa?"
tanya Charlie, matanya yang tegang menelisik
wajahku. Rasanya aku seperti mau pingsan;
wajahku pasti lebih pucat daripada biasanya, toh
bukan aktivis lingkungan hidup, kan?" ku tak
mampu menjawab.
Seandainya Charlie tidak sedang
memandangiku, aku pasti sudah menyurukkan
kepalaku antara lutut. Aku lupa pada para hiker
yang hilang itu, juga jejak-jejak berdarah... aku
tidak menghubungkan fakta-fakta itu dengan
kesadaran pertamaku.
"Dengar, Sayang, ini tidak perlu membuatmu
ketakutan. Asalkan kau tetap di kota atau dijalan
raya—tidak berhenti-berhenti—oke?"
"Oke," sahutku lemah.
"Pergi dulu ya."
Kutatap Charlie lekat-lekat untuk pertama kali,
dan kulihat ia melilitkan sarung pistolnya ke
pinggang dan memakai sepatu hiking.
"Kau tidak akan ikut terjun mencari serigalaserigala
itu kan, Dad?"
"Aku harus membantu, Bells. Banyak orang
menghilang."
Suaraku naik lagi, nyaris histeris sekarang.
"Jangan! Jangan, jangan pergi. Terlalu berbahaya!"
"Aku harus melakukan tugasku, Nak. Jangan
pesimis begitu—aku akan baik-baik saja" Charlie
berbalik ke pintu, membukanya dan
memeganginya. "Kau mau pergi?"
Aku ragu-ragu, perutku masih seperti diadukaduk.
Apa yang bisa kukatakan untuk
menghentikannya? Kepalaku pusing sekali, tak
mampu berpikir apa-apa.
"Bells?"
"Mungkin sekarang memang masih terlalu pagi
untuk pergi ke La Push," bisikku.
"Aku setuju," kata Charlie, lalu melangkah
keluar ke tengah hujan, menutup pintu di
belakangnya.
Begitu Charlie lenyap dari pandangan, aku
merosot lemas ke lantai dan menyurukkan
kepalaku di antara lutut.
Haruskah aku menyusul Charlie? Apa yang bisa
kukatakan?
Dan bagaimana dengan Jacob? Jacob
sahabatku; aku harus memperingatkan dia. Kalau
dia benar-benar – aku meringis dan memaksa
diriku memikirkan istilah itu – werewolf (dan aku
tahu itu benar, aku bisa merasakannya), itu berarti
orang-orang akan menembaki dia! Aku harus
memberitahu Jacob dan teman-temannya bahwa
orang-orang akan berusaha membunuh mereka
bila mereka berkeliaran sebagai serigala raksasa.
Aku harus membentahu mereka supaya berhenti.
Mereka harus berhenti! Charlie ada di hutan.
Pedulikah mereka pada hal itu? Aku penasaran...
Hingga saat ini, hanya orang-orang asing yang
hilang. Apakah itu berarti sesuatu, atau hanya
kebetulan?
Aku harus percaya bahwa Jacob, paling tidak,
peduli pada hal itu.
Bagaimanapun, aku harus mengingatkan dia.
Atau... perlukah aku?
Jacob sahabatku, tapi benarkah ia juga
monster? Monster sungguhan? Monster jahat?
Haruskah aku mengingatkan dia, padahal dia dan
teman-temannya... pembunuh? Padahal mereka
begitu tega membantai para hiker yang tidak
berdosa? Seandainya mereka benar-benar makhluk
jahat seperti yang ada di film-film horor, salahkah
bila aku melindungi mereka?
Mau tak mau aku jadi membandingkan Jacob
dan teman-temannya dengan keluarga Cullen.
Kudekap tubuhku erat-erat. melawan lubang itu,
saat aku memikirkan mereka.
Aku tidak tahu apa-apa tentang werewolf, itu
sudah jelas. Paling-paling aku membayangkan
mereka mendekati sosok seperti yang sering
digambarkan di film-film – makhluk setengah
manusia berbadan besar dan berbulu lebat atau
semacam itu – itu pun kalau aku membayangkan
mereka. Jadi aku tak tahu apa yang membuat
mereka berburu, apakah karena kelaparan atau
kehausan atau hanya dorongan untuk membunuh.
Sulit menilainya, karena aku tidak tahu apa-apa.
Tapi pasti tidak lebih sulit daripada yang dialami
keluarga Cullen dalam upaya mereka menjadi
makhluk yang baik. Ingatanku melayang kepada
Esme—air mataku merebak saat membayangkan
wajahnya yang teduh dan baik—serta bagaimana,
meski sikapnya begitu keibuan dan penuh kasih
sayang, ia terpaksa menahan napas, merasa malu
sekali, dan lari menjauhiku waktu aku berdarah.
Tak mungkin lebih sulit daripada itu. Aku juga
teringat pada Carlisle, yang selama berabad-abad
berjuang mengajari dirinya sendiri untuk
mengabaikan darah, sehingga ia bisa
menyelamatkan nyawa manusia sebagai dokter.
Tidak ada yang lebih sulit daripada itu.
Para werewolf memilih jalan berbeda.
Sekarang, apa yang seharusnya aku pilih?
13. PEMBUNUH
KALAU saja itu orang lain dan bukan Jacob,
pikirku pada diri sendiri, menggeleng-gelengkan
kepala saat melaju melintasi jalan raya yang
membelah hutan menuju La Push.
Aku masih belum yakin aku melakukan hal yang
benar, tapi aku sudah berkompromi dengan diriku
sendiri.
Aku tak bisa memaafkan apa yang Jacob dan
teman-temannya, kawanannya, lakukan. Sekarang
aku mengerti maksud perkataannya semalam—
bahwa aku mungkin tidak ingin menemuinya lagi—
dan bahwa aku bisa meneleponnya seperti yang ia
usulkan, tapi rasanya itu pengecut. Setidaknya,
aku harus bicara empat mata dengannya. Akan
kukatakan dengan tegas padanya bahwa aku tak
mungkin mengabaikan apa yang sedang terjadi.
Aku tak mungkin berteman dengan pembunuh
tanpa mengatakan apa-apa, membiarkan
pembunuhan itu terus berlanjut... Itu berarti aku
sama jahatnya dengan mereka.
Tapi aku tak bisa tidak mengingatkan dia juga.
Aku harus berbuat sebisaku untuk melindunginya.
Kuhentikan trukku di depan rumah keluarga
Black dengan bibir terkatup rapat. Cukup sudah
keterkejutanku menghadapi kenyataan sahabatku
werewolf. Haruskah ia menjadi monster juga?
Rumah itu gelap gulita, tak tampak cahaya
lampu di jendela-jendelanya, tapi aku tak peduli
kalaupun aku membangunkan mereka. Tinjuku
menggedor-gedor pintu depan dengan marah;
gedorannya mengguncang dinding-dinding.
"Silakan masuk,” kudengar Billy berseru sejurus
kemudian, dan sebuah lampu menyala.
Kuputar kenop pintu; ternyata tidak terkunci.
Billy bersandar di pintu dekat dapur yang kecil, di
bahunya tersampir mantel mandi, ia belum duduk
di kursi rodanya. Begitu melihat siapa yang datang
matanya melebar sedikit, kemudian wajahnya
berubah kaku.
"Well, selamat pagi, Bella. Mengapa kau datang
pagi-pagi buta begini?"
"Hai, Billy. Aku perlu bicara dengan Jake—di
mana dia?"
"Ehm... kurang tahu ya," dusta Billy, wajahnya
tetap datar.
"Tahukah kau apa yang dilakukan Charlie pagi
ini?" tuntutku, muak melihatnya mengulur-ulur
waktu.
"Haruskah aku tahu?"
"Dia dan setengah isi kota turun ke hutan
membawa senapan, memburu serigala-serigala
raksasa."
Ekspresi Billy berubah, tapi kemudian datar lagi.
"Jadi aku ingin bicara dengan Jake mengenai hal
itu. kalau kau tidak keberatan," lanjutku.
Billy mengerucutkan bibirnya yang tebal. "Aku
berani bertaruh Jake pasti masih tidur," kata Billy
akhirnya, mengangguk ke lorong kecil di sebelah
kamar depan. "Belakangan dia sering pulang larut
malam. Anak itu buruh istirahat—mungkin
sebaiknya kau tidak membangunkan dia.”
"Sekarang giliranku," gumamku pelan sambil
berjalan menuju lorong. Billy mendesah.
Kamar Jacob yang kecil, yang sebenarnya lebih
mirip ruang penyimpanan baju, adalah satusatunya
pintu di lorong yang panjangnya tak
sampai satu meter. Aku tidak repot-repot
mengetuk. Aku langsung membuka pintunya;
pintu itu membentur dinding dengan suara keras.
Jacob—masih mengenakan celana olahraga
hitam yang dipotong pendek seperti semalam—
berbaring diagonal di ranjang dobel yang mengisi
seluruh ruangan dan hanya menyisakan beberapa
sentimeter saja di sisi-sisinya. Bahkan dalam posisi
miring tempat tidur itu masih kurang panjang;
kaki Jacob tergantung di satu sisi dan kepalanya di
sisi lain. Ia tidur nyenyak, mendengkur pelan
dengan mulut terbuka. Bahkan suara pintu
membentur dinding tidak membuatnya tersentak.
Wajahnya damai dalam tidur yang nyenyak,
semua garis-garis amarah lenyap. Ada lingkaran di
bawah mata yang tidak kusadari sebelumnya.
Meski ukuran tubuhnya sangat besar, ia kini
tampak sangat muda, dan sangat letih. Perasaan
iba mengguncang hatiku.
Aku keluar lagi dan menutup pintu dengan
suara pelan.
Billy memandangiku dengan sorot ingin tahu
dan waspada saat aku berjalan lambat-lambat
kembali ke ruang depan.
"Sebaiknya kubiarkan saja dia tidur sebentar."
Billy mengangguk, kemudian kami
berpandangan beberapa saat. Aku ingin sekali
menanyakan apa pendapat Billy tentang hal ini.
Apa pendapatnya tentang perubahan yang dialami
putranya? Tapi aku tahu ia mendukung Sam sejak
awal, jadi Kupikir pembunuhan-pembunuhan itu
pasti tidak berarti apa-apa baginya. Bagaimana ia
membenarkan hal ku pada dirinya sendiri, aku tak
bisa membayangkan.
Aku juga melihat banyak pertanyaan
berkecamuk di matanya yang gelap, tapi ia juga
tidak menyuarakannya.
"Begini saja," kataku, memecah keheningan yang
sangat terasa. “Aku akan pergi ke pantai sebentar.
Kalau dia bangun, tolong katakan padanya aku
menunggunya, oke?"
"Tentu, tentu," Billy menyanggupi.
Aku ragu apakah Billy benar-benar akan
menyampaikan pesanku. Well, kalaupun tidak, aku
sudah berusaha, kan?
Aku mengendarai trukku ke First Beach dan
memarkirnya di lapangan tanah yang kosong. Hari
masih gelap—subuh muram menjelang pagi yang
berawan—dan waktu mematikan lampu truk aku
nyaris tak bisa melihat apa-apa. Aku harus
membiasakan mataku dulu sebelum bisa
menemukan jalan setapak yang membelah ilalang
tinggi. Udara di sini lebih dingin, angin bertiup
menerpa air yang hitam, dan kujejalkan kedua
tanganku dalam-dalam ke saku jaket musim
dinginku. Setidaknya hujan sudah berhenti.
Aku berjalan menyusuri tepi pantai ke arah
tembok laut sebelah utara. Tidak tampak Pulau St.
James maupun pulau-pulau lain, hanya bentukTiraikasih
bentuk samar nun jauh di sana. Aku berjalan hatihati
meniti karang, mewaspadai driftwood yang
mungkin bisa membuatku tersandung.
Aku menemukan apa yang kucari sebelum
menyadari aku mencarinya. Benda itu muncul dari
kegelapan setelah jaraknya hanya tinggal beberapa
meter: sebatang driftwood panjang seputih tulang
yang terdampar jauh ke karang. Akar-akarnya
terpilin ke atas dan mengarah ke lautan, bagaikan
ratusan tentakel rapuh. Aku tak yakin apakah itu
pohon yang sama tempat Jacob dan aku mengobrol
untuk pertama kalinya—obrolan yang mengawali
begitu banyak benang kusut dalam hidupku—tapi
sepertinya lokasinya sama. Aku duduk di tempatku
duduk dulu, dan memandang lautan yang tak
kelihatan.
Melihat Jacob seperti itu—lugu dan rapuh dalam
tidurnya—telah mengenyahkan semua perasaan
jijikku, melenyapkan semua amarahku. Aku masih
tetap tak bisa menutup mata pada apa yang
terjadi, seperti yang tampaknya dilakukan Billy
tapi aku juga tak bisa menghakimi Jacob atas
perbuatannya itu. Itulah yang namanya sayang.
Saat kau menyayangi seseorang mustahil bersikap
logis mengenai mereka. Jacob tetap temanku,
terlepas dari apakah ia membunuh orang atau
tidak. Dan aku tak tahu harus bagaimana
menghadapi hal itu.
Saat membayangkan Jacob tidur begitu damai,
aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk
melindunginya. Sungguh tidak logis.
Logis atau tidak aku terus saja membayangkan
wajahnya yang damai, berusaha menemukan
jawaban, mencari cara untuk melindunginya,
sementara langit perlahan-lahan berubah warna
menjadi kelabu.
"Hai, Bella."
Suara Jacob datang dari kegelapan dan
membuatku kaget. Suaranya lirih, nyaris malumalu,
tapi karena aku mengira bakal mendengar
kedatangannya dari suara batu-batu yang terinjak,
tetap saja suara itu membuatku kaget. Tampak
olehku siluetnya membelakangi matahari terbit—
kelihatannya besar sekali.
"Jake?"
Jacob berdiri beberapa langkah jauhnya,
bergerak-gerak gelisah.
“Kata Billy kau datang mencariku—tidak butuh
waktu lama, kan? Sudah kukira kau pasti bisa
menebaknya."
"Yeah, aku ingat ceritanya sekarang," bisikku.
Lama tidak terdengar apa-apa dan, walaupun
masih terlalu gelap untuk bisa melihat jelas,
kulitku bagai tergelitik seolah-olah mata Jacob
mengamati wajahku lekat-lekat. Pastilah sudah
cukup terang bagi Jacob untuk melihat ekspresiku,
karena waktu ia bicara lagi, suaranya mendadak
berubah sinis.
"Kau toh bisa menelepon saja," sergahnya kasar.
Aku mengangguk. "Memang."
Jacob mulai mondar-mandir di atas bebatuan.
Kalau kubuka telingaku lebar-lebar, aku bisa
mendengar suara langkah kakinya menginjak
bebatuan di balik debur ombak. Batu-batu
berderak seperti kastanyet di telingaku.
"Mengapa kau datang?" tuntutnya, tak
menghentikan langkah-langkahnya yang marah.
"Kupikir lebih baik kita bertemu langsung."
Jacob mendengus. "Oh, jauh lebih baik."
"Jacob, aku harus memperingatkanmu—"
"Tentang para polisi hutan dan pemburu?
Jangan khawatir. Kami sudah tahu."
"Jangan khawatir?" tuntutku tak percaya. "Jake,
mereka membawa senapan! Mereka juga
memasang perangkap dan menawarkan hadiah
uang dan—"
"Kami bisa menjaga diri," geramnya, masih terus
mondar-mandir. "Mereka takkan bisa menangkap
apa-apa. Mereka hanya membuat keadaan lebih
sulit—sebentar lagi mereka juga akan menghilang."
"Jake!" desisku.
“Apa? Memang kenyataannya begitu kok."
Wajahku pucat saking jijiknya. "Bisa-bisanya
kau... merasa seperti itu? Kau kenal orang-orang
ini. Charlie juga ikut!” Pikiran itu membuat
perutku mulas.
Langkah Jacob langsung berhenti. "Apa lagi yang
bisa kami lakukan?” semburnya.
Matahari mengubah awan-awan menjadi merah
muda keperakan di atas kami. Aku bisa melihat
ekspresinya sekarang; wajahnya marah, frustrasi,
merasa dikhianati.
“Bisakah kau..., Well berusaha untuk tidak
menjadi... werewolf?” aku menyarankan sambil
berbisik.
Jacob melontarkan kedua tangannya ke udara.
"Kayak aku punya pilihan saja!" teriaknya. "Dan
apa gunanya itu, kalau kau justru khawatir orangorang
akan menghilang?"
“Aku tidak mengerti."
Jacob menatapku garang, matanya menyipit dan
mulutnya terpilin membentuk seringai. "Tahukah
kau apa yang membuatku sangat marah?”
Aku terkejut melihat ekspresinya yang garang.
Jacob sepertinya menunggu jawaban, maka aku
pun menggeleng.
"Kau ini benar-benar munafik, Bella—lihat saja,
kau duduk di sana, takut padaku! Apakah itu
adil?" Kedua tangannya gemetar oleh amarah.
"Munafik? Mengapa takut pada monster berarti
aku munafik?"
“Ugh!” erang Jacob, menekankan tinjunya yang
gemetar ke pelipis dan memejamkan mata rapatrapat.
"Coba dengar omonganmu sendiri!"
"Apa?"
Jacob berjalan dua langkah mendekatiku,
mencondongkan tubuh di atasku dan menatapku
berapi-api. "Well, aku menyesal aku tidak bisa
menjadi monster yang tepat untukmu, Bella.
Kurasa aku tidak sehebat si pengisap darah itu,
bukan?''
Aku melompat berdiri dan balas memandangnya
dengan sorot berapi-api juga. "Tidak, memang
tidak!" teriakku. "Masalahnya bukan siapa kau,
tolol, tapi apa yang kaulakukan!"
"Apa artinya itu?" raung Jacob, sekujur
tubuhnya gemetar menahan marah.
Aku kaget bukan kepalang waktu mendadak
terdengar suara Edward mewanti-wantiku.
"Berhati-hatilah, Bella," suaranya yang selembut
beledu mengingatkan. "Jangan paksa dia. Kau
harus menenangkannya."
Bahkan suara di kepalaku bersikap tidak masuk
akal hari ini.
Tapi aku tetap menurutinya. Aku rela
melakukan apa saja demi suara itu.
"Jacob," aku memohon, mengubah nada
suaraku jadi lembut dan datar. "Apakah benarbenar
perlu membunuh orang, Jacob? Apakah
tidak ada cara lain? Maksudku, kalau vampir bisa
mencari jalan lain untuk bertahan tanpa
membunuh orang, masa kalian tidak bisa
mencobanya juga?"
Jacob tertegak kaget, seolah-olah kata-kataku
tadi menyetrum sekujur tubuhnya. Alisnya
terangkat dan matanya membelalak lebar.
"Membunuh orang?" tuntutnya.
"Memangnya kaupikir kita sedang
membicarakan apa?"
Tubuh Jacob sudah tidak gemetar lagi. Kini ia
menatapku dengan sikap tak percaya bercampur
harap-harap cemas. "Kusangka kita sedang
berbicara tentang perasaan jijikmu terhadap
werewolf!”
"Tidak, Jake, bukan. Masalahnya bukan karena
kau... werewolf. Itu bukan masalah,” aku berjanji
padanya, dan aku tahu saat mengucapkan katakata
itu bahwa aku bersungguh-sungguh. Aku
benar-benar tak peduli bila ia berubah menjadi
werewolf—dia tetap Jacob. "Kalau kau bisa
mencari jalan untuk tidak melukai orang-orang...
hanya itu yang aku tidak suka Mereka tidak
berdosa Jake, orang-orang seperti Charlie, dan aku
tak mungkin menutup mata sementara kau—"
"Hanya itu? Sungguh?” Jacob menyela katakataku,
senyumnya merekah. “Kau takut karena
aku ini pembunuh? Hanya itu alasanmu?"
"Apakah itu belum cukup?"
Tawa Jacob meledak.
"Jacob Black, ini sangat tidak lucu!"
"Memang, memang," Jacob sependapat, masih
terus terbahak bahak.
Ia melangkah lebar-lebar dan meraup tubuhku,
memelukku erat-erat.
"Kau benar-benar sungguh-sungguh, tidak
keberatan kalau aku bermetamorfosis menjadi
anjing raksasa?" tanyanya, suaranya terdengar
bahagia di telingaku.
"Tidak," aku terkesiap. "Tidak—bisa—napas—
Jake!"
Jacob melepaskan pelukannya, tapi meraih
kedua tanganku. "Aku bukan pembunuh, Bella."
Kutatap wajahnya dengan saksama, dan tampak
jelas itu benar. Perasaan lega meliputiku.
"Sungguh?" tanyaku.
"Sungguh," janji Jacob dengan sikap khidmat.
Kuangkat kedua lenganku dan kupeluk dia.
Mengingatkanku pada hari pertama kami menjajal
motor—tapi tubuhnya lebih besar sekarang, dan
aku merasa lebih seperti kanak-kanak.
Seperti waktu itu juga, ia membelai rambutku.
“Maaf aku mengataimu munafik," Jacob
meminta maaf.
"Maaf aku mengataimu pembunuh."
Jacob tertawa.
Sesuatu melintas dalam pikiranku saat itu, dan
aku melepas pelukanku supaya bisa menatap
wajahnya. Alisku bertaut cemas. "Bagaimana
dengan Sam? Dan yang lain-lain?"
Jacob menggeleng, tersenyum seakan-akan
beban berat terangkat dari bahunya. "Tentu saja
tidak. Tidak ingatkah kau bagaimana kami
menyebut diri kami?"
Ingatan itu sangat jelas—itu baru terpikir olehku
hari ini, "Pelindung?"
"Tepat."
"Tapi aku tidak mengerti. Apa yang terjadi di
hutan? Para hiker yang hilang, bercak darah?"
Wajah Jacob langsung berubah serius dan
khawatir. "Kami berusaha melakukan tugas kami,
Bella. Kami berusaha melindungi mereka, tapi
kami selalu sedikit terlambat."
"Melindungi mereka dari apa? Jadi benar-benar
ada beruang di luar sana?"
"Bella, Sayang, kami hanya melindungi orangorang
dari satu hal—dari satu-satunya musuh
kami. Itu sebabnya kami ada—karena mereka juga
ada."
Kutatap Jacob dengan pandangan kosong
selama satu detik sebelum akhirnya mengerti.
Darah langsung surut dari wajahku dan pekikan
pelan tanpa kata terlontar dari bibirku.
Jacob mengangguk. "Sudah kuduga kau pasti
bisa menyadari apa yang sebenarnya terjadi."
"Laurent," bisikku. "Dia masih di sana."
Jacob mengerjapkan mata dua kali, dan
menelengkan kepala ke satu sisi. "Siapa Laurent?"
Aku berusaha menyortir berbagai pikiran yang
berkecamuk di kepalaku agar bisa menjawab. "Kau
tahu—kau melihatnya di padang rumput. Kau kan
ada di sana..." Kata-kata itu terlontar dengan nada
takjub saat semuanya jadi jelas. “Kau ada di sana,
karena itu dia tidak jadi membunuhku...”
“Oh si lintah berambut hitam itu?" Jacob
menyeringai, Seringaiannya kaku dan garang. “Jadi
itukah namanya?"
Aku bergidik. “Nekat benar kau?” bisikku. "Dia
bisa membunuhmu! Jake, tidak sadarkah kau
betapa berbahaya—"
Lagi-lagi Jacob memotong perkataanku dengan
tertawa. "Bella, satu vampir bukan masalah besar
bagi sekawanan werewolf sebesar kami. Begitu
mudahnya sampai malah tidak terasa asyik lagi!”
"Apanya yang mudah?”
"Membunuh si pengisap darah yang akan
membunuhmu. Tapi itu bukan berarti kami bisa
digolongkan sebagai pembunuh," Jacob buru-buru
menambahkan. "Vampir kan bukan manusia."
Aku hanya dapat menggerak-gerakkan mulut
tanpa suara. "Kau... membunuh... Laurent?"
Jacob mengangguk. “Well, kami melakukannya
bersama-sama," ia membenarkan.
“Jadi Laurent sudah mati?" bisikku.
Ekspresinya berubah. "Kau tidak marah, kan?
Dia kan akan membunuhmu—dia memang berniat
membunuh, Bella, kami yakin itu sebelum kami
menyerang. Kau juga tahu itu, kan?"
"Aku tahu itu. Tidak, aku tidak marah—aku..."
Aku merasa harus duduk. Aku mundur goyah
selangkah sampai tungkaiku menyentuh driftwood,
lalu mengenyakkan tubuhku di sana. "Laurent
sudah mati. Dia tidak akan kembali mencariku."
"Kau tidak marah, kan? Dia bukan temanmu
atau bagaimana, kan?”
“Temanku?" Aku mendongak menatapnya,
bingung dan pusing saking leganya. Aku mulai
mengoceh, mataku basah. "Tidak, Jake. Aku malah
sangat... sangat lega. Kusangka dia akan
menemukanku—setiap malam aku ketakutan
menunggunya datang, berharap dia cukup puas
denganku dan tidak mengganggu Charlie. Aku
sangat ketakutan, Jacob... Tapi bagaimana? Dia
kan vampir! Bagaimana kalian bisa
membunuhnya? Dia kan sangat kuat, sangat
keras, seperti marmer..."
Jacob duduk di sebelahku, lengannya yang besar
merengkuhku dengan sikap menenangkan.
"Karena itulah kami diciptakan, Bells. Kami juga
kuat. Kalau saja kau memberi tahuku bahwa kau
sangat ketakutan. Kau tak perlu takut."
"Kau kan tidak ada," gumamku, pikiranku
menerawang.
"Oh, benar."
"Tunggu, Jake—tapi kusangka kau sudah tahu.
Semalam katamu tidak aman jika kau berada di
kamarku. Kusangka itu karena kau tahu ada
vampir yang akan datang. Itu kan yang
maksudmu?"
Jacob tampak bingung sebentar, kemudian
menunduk. "Tidak, bukan itu maksudku."
"Kalau begitu kenapa menurutmu tidak aman
bila kau berada di kamarku?"
Jacob menatapku dengan mata penuh
penyesalan. "Maksudku bukannya tidak aman
bagiku. Aku justru memikirkan keselamatanmu."
"Apa maksudmu?"
Jacob menunduk dan menendang sebutir batu.
"Ada lebih dari satu alasan kenapa aku tak
seharusnya berada di dekatmu, Bella. Aku tidak
boleh membocorkan rahasia kami padamu, itu
salah satunya, tapi alasan lain adalah karena ini
tidak aman bagimu. Kalau aku sangat marah... dan
emosiku tersulut... bisa-bisa kau terluka."
Aku memikirkan penjelasannya baik-baik.
"Waktu kau marah sebelumnya... waktu aku
meneriakimu... dan tubuhmu gemetar...?"
“Yeah.” Jacob tertunduk semakin dalam. "Tolol
benar aku. Aku harus lebih bisa menahan diri. Aku
sudah bersumpah untuk tidak marah, apa pun
yang kaukatakan padaku. Tapi... aku sangat
marah karena kupikir aku akan kehilangan kau...
bahwa kau tak bisa menerima keadaanku yang
sebenarnya..."
"Apa yang akan terjadi... bila kau sangat
marah?" bisikku.
"Aku akan berubah menjadi serigala." Jacob
balas berbisik.
"Tidak perlu menunggu bulan purnama?"
Jacob memutar bola matanya. "Versi Hollywood
itu tak sepenuhnya benar." Lalu ia mendesah, dan
kembali serius. "Kau tidak perlu merasa terlalu
takut. Bells. Kami akan membereskan masalah ini.
Dan kami akan menjaga Charlie serta yang lainlain
secara khusus—kami tidak akan
membiarkannya celaka. Percayalah padaku."
Sesuatu yang amat sangat jelas, yang
seharusnya langsung bisa kutangkap—tapi karena
selama ini pikiranku sibuk membayangkan Jacob
dan teman-temannya berkelahi melawan Laurent,
hal itu benar-benar tak terpikir olehku—baru
muncul dalam pikiranku saat itu, ketika Jacob
mulai berbicara dalam konteks sekarang.
Kami akan membereskan masalah ini.
Jadi ini belum berakhir.
"Laurent sudah tewas," aku terkesiap, sekujur
tubuhku dingin seperti es.
“Bella?” tanya Jacob waswas, menyentuh pipiku
yang kelabu
“Kalau Laurent sudah tewas... seminggu yang
lalu... berarti ada orang lain yang membunuh
orang-orang itu sekarang."
Jacob mengangguk; rahangnya terkatup rapat,
dan ia berbicara dari sela-selanya. "Mereka berdua.
Kami menyangka pasangannya pasti ingin
melawan kami—dalam kisah-kisah kami, mereka
biasanya sangat marah kalau kau membunuh
pasangan mereka—tapi dia terus-menerus lari
menjauh, tapi lalu kembali lagi. Kalau saja kami
tahu apa yang diincarnya, akan lebih mudah
melumpuhkannya. Tapi sikapnya tak masuk akal.
Dia terus saja menari-nari di pinggir, seperti
menguji pertahanan kami, mencari jalan masuk—
tapi masuk ke mana? Dia ingin pergi ke mana?
Menurut Sam, dia berusaha memisahkan kami,
supaya kesempatannya lebih besar..."
Suara Jacob berangsur-angsur menghilang
sampai kedengarannya seperti berasal dari ujung
terowongan yang panjang; aku tak lagi bisa
menangkap kata demi kata. Dahiku berkeringat
dan perutku seperti diaduk-aduk, seperti waktu
aku flu perut dulu. Persis seperti waktu aku flu
perut.
Aku cepat-cepat berpaling darinya, dan
membungkuk di atas driftwood. Tubuhku
terguncang, perutku yang kosong sangat mual,
walaupun tak ada apa-apa di dalamnya yang bisa
dimuntahkan.
Victoria ada di sini. Mencariku. Membunuhi
orang-orang asing di hutan. Hutan tempat Charlie
melakukan pencarian...
Kepalaku berputar cepat.
Jacob menyambar bahuku—mencegahku
ambruk dan mencium bebatuan. Aku bisa
merasakan embusan napasnya yang panas di
pipiku. "Bella! Ada apa?"
"Victoria," aku terkesiap segera setelah bisa
menarik napas di sela-sela serangan mual yang
melandaku.
Di kepalaku, Edward menggeram marah
mendengar nama itu.
Kubiarkan Jacob menarikku dari posisi dudukku
yang terkulai, ia meletakkanku dengan canggung di
pangkuannya, membaringkan kepalaku yang
lunglai ke bahunya. Ia berusaha keras
menyeimbangkanku, menjagaku agar tidak terkulai
lemas dan jatuh dari pangkuannya.
Disingkirkannya rambutku yang berkeringat dan
wajahku.
"Siapa?" tanya Jacob. "Kau bisa mendengarku,
Bella? Bella?"
"Dia bukan pasangan Laurent,” erangku di bahu
Jacob. "Mereka hanya teman lama...”
"Kau mau minum? Perlu dokter? Katakan
padaku aku harus bagaimana," tuntut Jacob,
bertubi-tubi.
"Aku bukan sakit—aku takut," aku menjelaskan
sambil berbisik. Istilah takut kedengarannya tidak
mencakup semua yang kurasakan.
Jacob menepuk-nepuk punggungku. "Takut
pada si Victoria ini?"
Aku mengangguk, bergidik.
"Victoria itu vampir wanita berambut merah?"
Aku gemetar lagi, dan merintih, "Ya."
"Bagaimana kau bisa tahu dia bukan
pasangannya?"
"Laurent memberi tahuku bahwa James-lah
pasangannya," aku menjelaskan, otomatis
melemaskan tanganku yang dihiasi bekas luka.
Jacob memalingkan wajahku, merengkuhnya
kuat-kuat dengan tangannya yang besar.
Ditatapnya mataku lekat-lekat. "Ada hal lain yang
dia ceritakan, Bella? Ini penting. Kau tahu vampir
wanita itu menginginkan apa?"
"Tentu saja," bisikku. "Victoria menginginkan
aku."
Mata Jacob membelalak lebar, lalu menyipit.
"Mengapa?" tuntutnya.
"Edward membunuh James,'' bisikku. Jacob
memegangiku sangat erat hingga aku tak perlu
mencengkeram lubang itu—pelukannya
membuatku tetap utuh. "Victoria memang...
marah. Tapi kata Laurent, Victoria menganggap
lebih adil membunuhku daripada Edward.
Pasangan sebagai ganti pasangan. Dia tidak tahu—
masih belum tahu, kurasa—bahwa... bahwa..." Aku
menelan ludah dengan susah payah. "Bahwa
hubungan kami sudah tidak seperti itu lagi. Tidak
bagi Edward, setidaknya."
Perhatian Jacob sempat beralih sebentar
mendengar perkataanku itu, ekspresinya campur
aduk. "Jadi itu yang terjadi? Mengapa keluarga
Cullen pindah?"
"Bagaimanapun, aku hanya manusia biasa.
Tidak ada yang istimewa," aku menjelaskan,
mengangkat bahu lemah.
Sesuatu yang kedengarannya seperti geraman—
bukan geraman sesungguhnya, hanya suara
manusia yang mencoba meniru—bergemuruh di
dada Jacob di bawah telingaku. "Kalau si pengisap
darah idiot itu benar-benar cukup tolol untuk—"
"Please? erangku. "Please. Jangan."
Jacob ragu-ragu, lalu mengangguk satu kali.
"Ini penting," katanya lagi, wajahnya kembali
serius sekarang. "Inilah tepatnya yang perlu kami
ketahui. Kita harus segera memberi tahu yang
lain."
Jacob berdiri, menarikku hingga ikut berdiri.
Kedua tangannya tetap memegangi pinggangku
sampai ia yakin aku tidak akan jatuh.
"Aku tidak apa-apa," dustaku.
Ia melepaskan sebelah tangannya dari
pinggangku dan ganti memegang tanganku. "Ayo
kita pergi."
Jacob menarikku kembali ke truk.
“Kita mau ke mana?" tanyaku.
“Aku belum yakin," Jacob mengakui. "Aku akan
minta diada kan pertemuan. Hei, tunggu dulu di
sini sebentar, oke?” Jacob menyandarkanku ke sisi
truk dan melepaskan tanganku.
“Kau mau ke mana?”
“Sebentar lagi aku kembali." janjinya. Lalu ia
berbalik dan berlari cepat melintasi lapangan
parkir, menyeberang jalan, dan masuk ke balik
hutan yang memagari tepi jalan. Ia lenyap di balik
pepohonan gesit dan cekatan bagai rusa.
"Jacob!' aku berteriak memanggilnya dengan
suara serak, tapi ia sudah lenyap.
Ini bukan saat yang tepat untuk ditinggal
sendirian. Beberapa detik setelah Jacob tidak
terlihat, aku sudah megap-megap kehabisan
napas. Kuseret kakiku ke dalam truk, dan
langsung mengunci pintu rapat-rapat. Namun aku
belum sepenuhnya merasa tenang.
Victoria sudah memburuku. Hanya
keberuntungan yang membuatnya belum
menemukanku sekarang—hanya keberuntungan
dan lima werewolf remaja. Aku mengembuskan
napas tajam. Tak peduli apa yang dikatakan Jacob,
membayangkan ia berada di dekat Victoria
sungguh mengerikan. Aku tak peduli ia bisa
berubah menjadi apa bila marah. Aku bisa melihat
Victoria dalam pikiranku, wajahnya liar,
rambutnya seperti api, mematikan, tak
terkalahkan...
Tapi, menurut cerita Jacob, Laurent sudah mati.
Apakah itu mungkin? Edward—otomatis aku
mencengkeram dadaku—pernah menjelaskan
padaku betapa sulitnya membunuh vampir. Hanya
vampir lain yang bisa melakukannya. Tapi kata
Jacob tadi karena itulah werewolf diciptakan...
Katanya ia akan mengawasi Charlie secara
khusus—bahwa sebaiknya aku memercayakan
keselamatan ayahku pada para werewolf
Bagaimana aku bisa memercayainya? Tak seorang
pun dari kami aman! Apalagi Jacob, bila ia
berusaha menempatkan diri di antara Victoria dan
Charlie... di antara Victoria dan aku.
Rasanya aku ingin muntah lagi.
Ketukan tajam di jendela membuatku memekik
ketakutan—tapi ternyata hanya Jacob, yang sudah
kembali. Kubuka kunci pintu dengan jari-jari
gemetar sekaligus bersyukur.
"Kau benar-benar ketakutan, ya?" tanyanya
sambil memanjat naik.
Aku mengangguk.
"Tidak perlu. Kami akan menjagamu—Charlie
juga. Aku janji."
"Rasanya lebih mengerikan membayangkan kau
menemukan Victoria daripada Victoria menemukan
aku," bisikku.
Jacob tertawa. "Kau harus lebih memercayai
kami. Kalau tidak, itu sama saja menghina."
Aku hanya menggeleng. Aku sudah terlalu sering
melihat vampir beraksi.
"Kau tadi ke mana?" tanyaku.
Jacob mengerucutkan bibir, dan tidak
mengatakan apa-apa.
"Apa? Apa itu rahasia?"
Jacob mengerutkan kening. "Tidak juga. Agak
aneh saja, tapi. Aku tidak ingin membuatmu
ngeri."
"Aku sudah agak terbiasa dengan hal-hal yang
aneh sekarang ini." Aku mencoba tersenyum meski
tak berhasil.
Jacob balas nyengir dengan enteng. "Kurasa
mau tidak mau kau harus terbiasa juga. Oke.
Begini, saat kami menjadi serigala, kami bisa...
saling mendengar."
Alisku bertaut bingung.
"Bukan mendengar suara-suara," sambung
Jacob, "tapi kami bisa mendengar... pikiran—
setidaknya pikiran masing-masing—tak peduli
betapa pun jauhnya kami. Itu sangat membantu
bila kami berburu, namun di luar itu, justru terasa
mengganggu. Memalukan – membuat kita jadi
tidak punya rahasia. Aneh, ya?”
“Jadi itu yang kaumaksud semalam, waktu
kauhilang kau akan memberitaku mereka bahwa
kau datang menemuiku, walaupun sebenarnya tak
ingin?”
“Cerdas juga kau.”
"Kau juga pandai sekali menghadapi hal-hal
aneh. Kusangka itu akan membuatmu merasa
terganggu."
“Itu tidak... kau bukan orang pertama yang
kukenal yang bisa melakukan hal seperti itu. Jadi
rasanya tidak aneh bagiku."
“Benarkah?... Tunggu—maksudmu para
pengisap darah itu?"
"Kuharap kau tidak menyebut mereka begitu."
Jacob tertawa.
"Terserah. Keluarga Cullen, kalau begitu?"
"Hanya... hanya Edward." Diam-diam
kulingkarkan sebelah tanganku ke tubuh.
Jacob tampak terkejut—terkejut yang tidak
senang. "Kusangka itu hanya dongeng. Aku
memang pernah mendengar legenda tentang
vampir yang bisa melakukan... hal-hal istimewa,
tapi kusangka itu hanya mitos."
"Apakah masih ada yang hanya mitos?" tanyaku
kecut.
Jacob merengut. "Kurasa tidak. Oke, kita akan
bertemu Sam dan yang lain-lain di tempat kita naik
motor dulu."
Aku menyalakan mesin dan menjalankan trukku
kembali di jalan.
“Jadi kau berubah jadi serigala tadi, agar bisa
berbicara pada Sam?" tanyaku, penasaran.
Jacob mengangguk, tampak malu-malu. "Hanya
sebentar – aku mencoba untuk tidak
memikirkanmu agar mereka tidak tahu apa yang
terjadi. Aku takut Sam akan menyuruhku untuk
tidak mengajakmu."
"Itu tidak akan menghentikanku." Aku tidak
dapat mengenyahkan persepsiku bahwa Sam jahat.
Aku selalu mengatupkan gigiku rapat-rapat setiap
kali mendengar namanya.
"Well, tapi itu akan menghentikan aku" kata
Jacob, berubah muram. "Ingat bagaimana aku tak
bisa menyelesaikan kalimatku semalam?
Bagaimana aku tak bisa menyampaikan ceritaku
secara utuh?"
"Yeah. Kau kelihatan seperti tercekik sesuatu."
Jacob berdecak garang. "Nyaris. Sam bilang, aku
tidak boleh memberi tahumu. Dia itu... ketua
kawanan, begitulah. Dia itu Alpha-nya. Bila dia
menyuruh kami melakukan sesuatu, atau tidak
melakukan sesuatu—bila dia bersungguh-sungguh
dengan ucapannya, Well, kita tidak bisa
mengabaikannya begitu saja."
"Aneh," gerutuku.
"Sangat," Jacob sependapat. "Itu semacam
kekhasan werewolf.”
"Hah" adalah respons terbaik yang terpikirkan
olehku.
"Yeah, hal semacam itu banyak sekali—hal-hal
yang khas werewolf. Aku tak bisa membayangkan
keadaan Sam, berusaha menghadapinya sendirian.
Bersama-sama sebagai kawanan saja sudah cukup
buruk, apalagi sendirian.
"Sam pernah sendirian?"
"Yeah,” Jacob merendahkan suaranya. "Waktu
aku... berubah, itu peristiwa paling... buruk
peristiwa paling mengerikan yang pernah
kualami—lebih buruk daripada yang bisa ku
bayangkan. Tapi aku tidak sendirian – ada suarasuara
di sana. dalam kepalaku, menjelaskan apa
yang terjadi dan apa yang harus kulakukan.
Dengan begitu aku bisa tetap mempertahankan
kewarasanku. kurasa. Tapi Sam...” Jacob
menggeleng-gelengkan kepala. “Sam tidak dapat
bantuan dan siapa pun."
Buruh waktu cukup lama untuk bisa menerima
semua ini. Saat Jacob menjelaskan seperti itu. sulit
untuk tidak merasa kasihan pada Sam. Aku
berulang kali harus mengingatkan diri sendiri
bahwa tak ada alasan untuk membencinya lagi.
“Apakah mereka akan marah melihatku datang
bersamamu?" tanyaku.
Jacob mengernyitkan muka. "Mungkin. Mungkin
sebaiknya aku—“
Tidak, tidak apa-apa.” Jacob menenangkanku.
"Kau tahu banyak hal yang bisa membantu kami.
Kau kan bukannya tidak tahu apa-apa. Kau
seperti... entahlah, mata-mata atau apa. Kau
pernah berada di belakang garis lawan."
Aku mengerutkan kening. Itukah yang
diinginkan Jacob dariku? Informasi dari "orang
dalam" yang bisa membantu mereka
menghancurkan musuh? Tapi aku bukan matamata.
Selama ini aku tidak mengumpulkan
informasi apa-apa. Belum-belum, perkataannya
tadi membuatku merasa seperti pengkhianat.
Tapi aku ingin ia menghentikan Victoria, kan?
Tidak.
Aku memang ingin Victoria dihentikan, kalau
bisa sebelum ia menyiksaku sampai mati atau
bertemu Charlie atau membunuh orang asing lagi.
Aku hanya tidak ingin Jacob menjadi orang yang
menghentikannya, atau yang mencoba
menghentikannya. Aku tidak ingin Jacob dekatdekat
dengannya.
“Seperti soal pengisap darah yang bisa membaca
pikiran,” sambung Jacob, tak menyadari
kebisuanku. "Itu salah satu hal yang perlu kami
ketahui. Sungguh menyebalkan bahwa ternyata
cerita-cerita itu benar. Semuanya jadi lebih rumit
Hei. menurutmu si Victoria ini juga punya
kemampuan khusus?"
"Kurasa tidak," jawabku ragu, kemudian
mendesah. "Kalau ada, dia pasti sudah
menceritakannya."
"Dia? Oh, maksudmu Edward—uupps, maaf.
Aku lupa. Kau tidak suka menyebut namanya.
Atau mendengarnya."
Kuremas perutku, berusaha mengabaikan
perasaan berdenyut-denyut di sekitar dadaku.
"Tidak juga, tidak."
"Maaf."
"Bagaimana kau bisa begitu mengenalku, Jacob?
Terkadang seolah-olah kau bisa membaca
pikiranku."
"Ah, tidak. Aku hanya memerhatikan."
Kami sampai di jalan tanah kecil tempat Jacob
pertama kali mengajarku naik motor.
"Ini tidak apa-apa?" tanyaku.
“Tentu, tentu.”
Aku menepi dan mematikan mesin.
"Kau masih merasa tidak bahagia, ya?"
gumamnya.
Aku mengangguk, mataku menerawang ke hutan
yang muram.
“Apa menurutmu... mungkin... sekarang ini kau
jadi lebih baik tanpanya?"
Aku menghela napas lambat-lambat, kemudian
mengembuskannya. "Tidak."
“Karena dia bukan yang terbaik—"
"Please, Jacob," selaku, memohon sambil
berbisik. "Bisakah kita tidak membicarakan
masalah ini? Aku tidak tahan!”
"Oke." Jacob menarik napas dalam-dalam. "Maaf
kalau aku mengungkit soal itu."
"Jangan merasa tidak enak. Kalau saja
situasinya berbeda, justru menyenangkan akhirnya
bisa membicarakan hal ini dengan orang lain.
Jacob mengangguk. "Yeah, menyimpan rahasia
dirimu selama dua minggu saja rasanya sulit.
Pastilah berat sekali, tidak bisa membicarakannya
dengan siapa pun.”
“Berat sekali." aku membenarkan.
Jacob terkesiap. “Mereka datang. Ayo turun."
"Kau yakin? tanyaku sementara Jacob membuka
pintu truk. "Mungkin sebaiknya aku tidak berada
di sini."
“Mereka harus bisa menerimanya," kata Jacob,
kemudian nyengir. "Siapa sih yang takut pada
serigala besar yang jahat?”
"Ha ha," sergahku. Tapi aku turun juga dari
truk, bergegas mengitari bagian depan untuk
berdiri di samping Jacob. Aku masih ingat jelas
monster-monster raksasa yang kulihat di padang
rumput waktu itu. Kedua tanganku gemetar,
seperti tangan Jacob tadi, tapi lebih karena takut
ketimbang marah.
Jacob meraih tanganku dan meremasnya. "Itu
mereka."
14. KELUARGA
AKU mengkeret di samping Jacob, mataku
menyapu hutan, mencari werewolf lain. Ketika
mereka muncul, melangkah keluar dari sela-sela
pepohonan, penampilan mereka tak seperti yang
kuharapkan. Sejak tadi, yang ada dalam pikiranku
hanyalah bayangan para serigala. Tapi yang
kulihat ini adalah empat cowok setengah telanjang
bertubuh sangat besar.
Sekali lagi, mereka mengingatkanku pada
kakak-beradik, kembar empat. Dari cara mereka
berjalan yang nyaris sinkron satu sama lain,
berdiri di seberang jalan di depan kami, bagaimana
mereka semua memiliki otot-otot yang panjang dan
liat di bawah kulit yang sama-sama cokelat
kemerahan, rambut hitam mereka sama-sama
dipangkas pendek, serta bagaimana ekspresi
mereka mendadak berubah pada saat yang tepat
sama.
Awalnya mereka datang dengan sikap ingin tahu
dan hati-hati. Tapi begitu melihatku di sana,
separo tersembunyi di samping Jacob, amarah
mereka langsung meledak pada detik yang sama.
Sam masih yang paling besar, walaupun Jacob
sebentar lagi bakal menyainginya. Sam sudah tidak
bisa lagi disebut remaja. Wajahnya sudah lebih tua
– bukan berarti sudah keriput atau ada tandatanda
penuaan, tapi dalam hal kematangan, serta
ekspresi sabarnya.
“Apa yang kaulakukan, Jacob?” tuntutnya.
Salah seorang di antara mereka, yang tidak
kukenal—Jared atau Paul—merangsek melewati
Sam dan langsung menyemprot Jacob sebelum ia
bisa membela diri.
"Mengapa kau tidak bisa mengikuti aturan,
Jacob?" teriaknya, mengangkat kedua tangannya
ke udara. "Apa sih yang kaupikirkan? Apakah dia
lebih penting daripada segalanya—daripada
seluruh suku? Daripada orang-orang yang bakal
terbunuh?”
"Dia bisa membantu," jawab Jacob pelan.
"Membantu!" teriak cowok yang marah itu.
Kedua lengannya mulai gemetar. "Oh, mana
mungkin! Aku yakin si pencinta lintah itu setengah
mati ingin membantu kita!"
“Jangan bicara tentang dia seperti itu!" Jacob
balas berteriak, tersinggung mendengar sindiran
itu.
Sekujur tubuh cowok itu bergetar hebat, mulai
dari bahu hingga ke punggung.
"Paul! Tenang!" Sam memerintahkan.
Paul menggerakkan kepala ke belakang dan ke
depan, bukan membantah, tapi seolah-olah seperti
berusaha berkonsentrasi.
“Ya ampun, Paul," gerutu salah seorang di
antara mereka— mungkin Jared. "Kendalikan
dirimu."
Paul memuntir kepalanya ke arah Jared,
bibirnya menekuk ke belakang dengan sikap kesal.
Lalu ia beralih menatapku garang. Jacob maju
selangkah untuk menamengiku.
Tindakannya itu justru membuat amarah Paul
semakin menjadi-jadi.
"Betul sekali, lindungi dia!" raung Paul marah.
Tubuhnya kembali bergetar, berguncang hebat,
dan kepala sampai kaki Ia mengedikkan kepalanya,
geraman terlontar dari sela-sela giginya.
"Paul!" Sam dan Jacob berteriak berbarengan.
Paul seperti terjungkal ke depan, tubuhnya
bergetar dahsyat. Sebelum tubuhnya mencium
tanah, terdengar suara robekan keras, dan tubuh
cowok itu meledak.
Bulu-bulu perak gelap menyembur keluar dari
tubuhnya, mengubahnya menjadi makhluk yang
lima kali lebih besar daripada ukuran
sebenarnya—makhluk itu sangat besar dan berdiri
dengan sikap membungkuk, siap menerkam.
Moncong serigala itu tertarik ke belakang,
menampakkan gigi-giginya, dan sebuah geraman
lagi menggemuruh dari dadanya yang besar. Bola
matanya yang gelap dan berapi-api terpaku
padaku.
Detik itu juga Jacob berlari menyeberang jalan,
langsung menghampiri monster itu. "Jacob!"
jeritku.
Setengah jalan, sekujur tubuh Jacob bergetar
hebat. Ia melompat maju, menerjang dalam posisi
kepala lebih dulu ke udara yang kosong.
Diiringi suara robekan nyaring, Jacob juga
meledak. Ia meledak keluar dari kulitnya—cabikancabikan
kain hitam dan Putih terpental ke udara.
Kejadiannya begitu cepat hingga seandainya aku
berkedip, seluruh proses transformasi itu pasti
akan luput dari penglihatanku. Sedetik
sebelumnya Jacob melompat tinggi ke udara, derik
berikutnya ia sudah berubah menjadi serigala
cokelat kemerahan—sangat besar hingga rasanya
tak masuk akal bagiku bagaimana makhluk
sebesar itu bisa berada di dalam diri Jacob—
menerkam monster berbulu perak yang merunduk.
Jacob membungkam serangan si werewolf
dengan langsung menerkam kepalanya. Geramangeraman
marah bergema seperti halilintar
memantul di pepohonan.
Cabikan-cabikan kain hitam dan putih—sisasisa
pakaian Jacob jatuh ke tanah tempat ia
menghilang tadi.
“Jacob!" jeritku lagi, terhuyung-huyung maju.
"Tetaplah di tempatmu, Bella," Sam
memerintahkan. Sulit mendengar suaranya di
antara raungan dua serigala yang sedang
bertarung. Keduanya saling menggigit dan
merobek, gigi mereka yang tajam saling mengarah
ke tenggorokkan masing-masing. Serigala Jacob
tampaknya berada di atas angin—tubuhnya jelas
lebih besar daripada serigala yang lain, dan
kelihatannya juga lebih kuat. Ia memukulkan
bahunya berkali-kali ke tubuh si serigala abu-abu,
memukul mundur ke arah hutan.
"Bawa Bella ke rumah Emily," teriak Sam pada
yang lain, yang menonton pertarungan itu dengan
asyik. Jacob berhasil mendorong serigala kelabu
itu keluar dari jalan, dan mereka lenyap ke balik
hutan, walaupun geraman-geraman mereka masih
terdengar nyaring. Sam lari mengejar mereka,
menendang sepatunya hingga terlepas sambil
berlari. Saat melesat memasuki pepohonan,
sekujur tubuhnya bergetar dari kepala sampai
kaki.
Geraman dan suara moncong dikatupkan
dengan keras berangsur-angsur lenyap. Tiba-tiba
suara itu hilang sama sekali dan jalanan langsung
lengang.
Salah satu cowok itu tertawa.
Aku menoleh dan menatapnya–mataku yang
membelalak terasa membeku, seakan-akan aku tak
bisa mengerjapkan mata.
Cowok itu sepertinya menertawakan ekspresiku.
"Well, jarang-jarang kan, kau melihat yang seperti
itu," tawanya terkekeh-kekeh. Samar-samar aku
mengenali wajahnya—lebih kurus daripada yang
lain... Embry Call.
"Kalau aku sih sudah sering," sergah cowok yang
lain, Jared, menggerutu. "Setiap hari, malah."
"Ah, Paul kan tidak setiap hari lepas kendali
seperti tadi," sergah Embry tak setuju, sambil terus
nyengir. "Mungkin dua dalam tiga kali
kesempatan."
Jared berhenti untuk memungut sesuatu yang
berwarna putih dari tanah. Ia mengacungkannya
pada Embry; benda ini menggelantung lemas di
tangannya.
"Hancur sama sekali," kata Jared. "Padahal kata
Billy, ini sepatu terakhir yang bisa dibelinya—
kurasa mulai sekarang Jacob harus bertelanjang
kaki."
"Yang satu ini selamat," kata Embry,
mengacungkan kets putih. "Jadi Jake bisa
melompat-lompat," imbuhnya sambil tertawa.
Jared mulai mengumpulkan cabikan-cabikan
kain dari tanah. "Bisa tolong ambilkan sepatu
Sam? Yang lain-lain akan langsung dibuang ke
tong sampah."
Embry menyambar sepatu-sepatu itu, lalu
berlari-lari kecil ke tempat Sam menghilang tadi.
Sejurus kemudian ia muncul lagi dengan jins
dipotong pendek tersampir di lengan. Jared
mengumpulkan cabikan-cabikan pakaian Jacob
dan Paul. Mendadak ia seperti teringat padaku.
Ia memandangiku dengan saksama, menilai.
"Hei, kau tidak mau pingsan atau muntah atau
sebangsanya, kan?" desaknya.
“Rasanya tidak,” jawabku terkesiap.
“Kau kelihatan agak pucat. Mungkin sebaiknya
kau duduk.”
“Oke,” gumamku. Untuk kedua kalinya pagi itu,
aku menyurukkan kepalaku di antara lutut.
"Jake seharusnya memperingatkan kami," keluh
Embry.
“Seharusnya dia tidak mengajak ceweknya.
Memangnya apa yang dia harapkan bakal terjadi?”
“Well, ketahuan deh kalau kita serigala," desah
Embry. "Hebat, Jake."
Aku menengadahkan wajah dan memelototi
kedua cowok yang sepertinya menganggap semua
ini masalah kecil. "Kalian sama sekali tidak
khawatir memikirkan keselamatan mereka?"
tuntutku.
Embry mengerjapkan mata satu kali, terkejut.
"Khawatir? Mengapa?"
"Bisa-bisa mereka saling melukai!"
Embry dan Jared tertawa terbahak-bahak. "Aku
justru berharap Paul berhasil menggigitnya,"
sergah Jared. "Biar tahu rasa dia."
Aku langsung pucat.
"Hah, yang benar saja!" Embry tidak sependapat.
"Kau lihat tidak Jake tadi? Begitu dilihatnya Paul
lepas kendali, dia hanya butuh waktu, berapa,
setengah detik untuk menyerang? Anak itu benarbenar
berbakat."
"Paul sudah lebih lama bertarung. Taruhan
sepuluh dolar, dia pasti berhasil meninggalkan
bekas luka di tubuh Jake."
“Taruhan diterima. Jake sangat alami. Paul tidak
bakal punya kesempatan."
Mereka bersalaman, nyengir.
Aku berusaha menghibur diri melihat sikap
mereka yang seolah tak peduli, tapi aku tak
sanggup mengenyahkan bayangan brutal serigalaserigala
yang bertarung itu dari kepala ku. Perutku
mulas, perih dan kosong, kepalaku berdenyutdenyut
karena khawatir.
"Ayo kita ke rumah Emily. Dia pasti sudah
menyiapkan makanan." Embry menunduk
memandangiku. "Keberatan tidak mengantar kami
ke sana?"
"Tidak masalah," jawabku dengan suara
tercekik.
Jared mengangkat sebelah alis. "Mungkin
sebaiknya kau saja yang nyetir, Embry. Dia masih
kelihatan seperti mau muntah."
"Ide bagus. Mana kuncinya?" Embry bertanya
padaku.
"Masih di lubangnya."
Embry membuka pintu penumpang. "Naiklah,"
katanya dengan nada riang, mengangkatku dengan
sebelah tangan dan mendudukkanku di jok mobil.
Diamatinya ruang kosong yang tersisa di kabin
depan. "Kau terpaksa duduk di bak belakang"
katanya pada Jared.
"Tidak apa-apa. Soalnya aku gampang jijik. Aku
tidak mau berada di dalam sana kalau dia muntah
nanti."
"Aku berani bertaruh dia lebih kuat daripada itu.
Dia kan bergaul dengan vampir."
“Lima dolar?" tanya Jared.
"Beres. Aku jadi merasa tidak enak, mengambil
uangmu seperti ini."
Embry naik dan menyalakan mesin sementara
Jared melompat cekatan ke bak belakang. Begitu
pintu ditutup, Embry bergumam padaku, "Jangan
muntah, oke? Aku cuma punya sepuluh dolar, dan
kalau Paul menggigit Jacob..."
"Oke." bisikku
Embry menjalankan truk. mengantar kami
kembali ke perkampungan.
"Hei. bagaimana cara Jake mengakali aturan
itu?”
"'Mengakali... apa?"
"Eh, perintah itu. Kau tahu, untuk tidak
membocorkan rahasia. Bagaimana cara dia
memberi tahu hal ini padamu?"
"Oh, itu," kataku, ingat bagaimana Jacob
berusaha keras menahan keinginan untuk
membeberkan hal sebenarnya padaku semalam.
"Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa menebak
dengan benar."
Embry mengerucutkan bibir, tampak terkejut.
"Hmm. Kurasa boleh juga kalau begitu."
"Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Ke rumah Emily. Dia pacar Sam... bukan,
sekarang sudah tunangannya, kurasa. Mereka
akan menemui kami di sana setelah Sam berhasil
melerai mereka. Dan setelah Paul dan Jake
berhasil mendapat baju lagi, kalau masih ada baju
Paul yang tersisa."
"Apakah Emily tahu tentang...?"
“Yeah. Dan hei, jangan memandangi dia terus,
ya? Sam bakal marah."
Aku mengerutkan kening padanya. "Kenapa aku
ingin memandanginya terus?"
Embry tampak tidak enak hati. "Seperti yang
kaulihat barusan tadi, ada risikonya bergaul
dengan werewolf Ia buru-buru mengubah topik.
"Hei, kau tidak marah kan, soal si pengisap darah
berambut hitam yang di padang rumput itu?
Kelihatannya dia bukan temanmu, tapi..." Embry
mengangkat bahu.
"Tidak, dia bukan temanku."
"Baguslah. Kami tidak mau memulai sesuatu,
melanggar kesepakatan, kau tahu."
"Oh ya, Jake pernah bercerita tentang
kesepakatan itu, dulu sekali. Kenapa membunuh
Laurent berarti melanggar kesepakatan?”
"Laurent," Embry mengulangi, mendengus,
seolah-olah geli vampir itu memiliki nama. "Well,
teknisnya sih, kami membuat kesepakatan itu
dengan keluarga Cullen. Kami tidak boleh
menyerang salah seorang di antara mereka,
keluarga Cullen, setidaknya, di luar tanah kami—
kecuali mereka lebih dulu melanggar kesepakatan.
Kami tidak tahu si pengisap darah berambut hitam
itu kerabat mereka atau bukan. Kelihatannya kau
mengenalnya."
"Mereka melanggar kesepakatan kalau
melakukan apa?"
"Kalau mereka menggigit manusia. Jake tidak
mau menunggu sampai sejauh itu."
"Oh. Eh, trims. Aku senang kalian tidak
menunggu sampai dia menggigitku."
"Sama-sama." Embry terdengar seperti
bersungguh-sungguh.
Embry mengemudikan truk hingga melewati
rumah yang terletak paling timur di sisi jalan raya
sebelum berbelok memasuki sepotong jalan tanah
yang sempit, "Trukmu lamban,” komentarnya.
"Maaf."
Di ujung jalan tampak rumah mungil yang dulu
berwarna abu-abu. Hanya ada satu jendela sempit
di samping pintu biru yang sudah kusam dimakan
cuaca, tapi kotak jendela bawahnya penuh bunga
marigold jingga dan kuning cerah, memberi kesan
ceria pada rumah itu.
Embry membuka pintu mobil dan menghirup
udara dalam-dalam. “Mmmm, Emily sedang
memasak."
Jared melompat turun dan bak belakang dan
langsung menuju pintu, tapi Embry
menghentikannya dengan meletakkan tangan di
dadanya. Ia menatapku dengan penuh arti dan berdeham-
deham.
“Aku tidak bawa dompet," dalih Jared.
"Tidak apa-apa. Aku tidak akan lupa."
Mereka menaiki satu undakan dan masuk ke
rumah tanpa mengeruk pintu. Aku mengikuti
dengan malu-malu.
Ruang depan, seperti halnya rumah Billy,
sebagian besar berupa dapur. Seorang wanita
muda, berkulit sehalus satin berwarna tembaga
dan rambut lurus panjang berwarna hitam seperti
bulu gagak, berdiri di konter dekat bak cuci piring,
mengeluarkan kue-kue muffin dari loyang dan
menaruhnya di piring kertas. Sesaat aku sempat
mengira alasan Embry mengatakan padaku untuk
tidak memandanginya adalah karena gadis itu
sangat cantik.
Kemudian gadis itu bertanya, "Kalian lapar?"
dengan suara merdu mengalun, dan memalingkan
wajah sepenuhnya menghadap kami, senyum
tersungging di separuh bagian wajahnya.
Sisi kanan wajahnya dipenuhi bekas luka yang
memanjang dari batas rambut hingga ke dagu, tiga
garis merah panjang dan tebal, berwarna terang
meski luka itu sudah lama sembuh. Satu garis
menarik sisi bawah sudut matanya yang hitam dan
berbentuk kenan, garis yang lain memilin sisi
kanan mulutnya menjadi seringaian permanen.
Bersyukur karena sudah diperingatkan Embry,
aku buru-buru mengalihkan pandangan ke kueTiraikasih
kue muffin di tangannya. Baunya sangat lezat –
seperti blueberry segar.
"Oh," seru Emily, terkejut. "Siapa ini?"
Aku menengadah, berusaha memfokuskan
pandangan pada sisi kiri wajahnya.
"Bella Swan," Jared menjawab pertanyaannya
sambil mengangkat bahu. Rupanya, aku pernah
menjadi topik pembicaraan sebelum ini. "Siapa
lagi?"
"Bukan Jacob namanya kalau tidak bisa
mengakali perintah,” gumam Emily. Ia
memandangiku, dan tak satu pun dari dua bagian
wajah yang dulu cantik itu terlihat ramah. "Jadi,
kau ini si cewek vampir."
Aku mengejang. "Ya. Kalau kau cewek serigala?"
Emily tertawa, begitu pula Embry dan Jared. Sisi
kiri wajahnya berubah hangat. "Kurasa begitu." Ia
berpaling kepada Jared. "Mana Sam?"
"Bella, eh, membuat Paul kaget tadi pagi."
Emily memutar bola matanya yang tidak cacat.
"Ah, Paul," desahnya. "Kira-kira lama atau tidak?
Aku baru mau mulai memasak telur."
"Jangan khawatir," Embry menenangkan. "Kalau
mereka terlambat, kami tidak akan membiarkan
makanannya mubazir."
Emily terkekeh, lalu membuka lemari es. "Tidak
diragukan lagi," ujarnya sependapat. "Bella, kau
lapar? Silakan ambil muffin-nya."
"Trims." Aku mengambil satu dari piring dan
mulai menggigiti pinggirnya. Rasanya lezat, dan
terasa nyaman di perutku yang mual. Embry
meraih kue ketiga dan menjejalkannya ke mulut.
"Sisakan untuk saudara-saudaramu,” tegur
Emily memukul kepalanya dengan sendok kayu.
Istilah itu membuatku terajut, tapi yang lain-lain
sepertinya tidak menganggapnya aneh.
"Dasar rakus,” komentar Jared.
Aku bersandar di konter dan menonton mereka
bertiga salin, mengejek seperti keluarga. Dapur
Emily menyenangkan, cemerlang dengan rak-rak
dapur berwarna putih dan lantai papan dan kayu
berwarna pucat. Di atas meja bulat kecil, sebuah
teko porselen biru-putih yang sudah retak penuh
berisi bunga-bunga liar. Embry dan Jared terlihat
seperti di rumah sendiri di sini.
Emily mengocok telur dalam porsi sangat besar,
beberapa lusin sekaligus, di mangkuk kuning
besar. Ia menyingsingkan lengan bajunya yang
berwarna lembayung muda, dan aku bisa melihat
bekas-bekas luka membentang sepanjang lengan
hingga ke punggung tangan kanan. Bergaul dengan
werewolf memang benar-benar berisiko, tepat
seperti yang dikatakan Embry tadi.
Pintu depan terbuka, dan Sam melangkah
masuk.
"Emily," sapanya, nadanya penuh cinta hingga
aku merasa malu, sepera pengganggu, saat kulihat
Sam berjalan melintasi ruangan hanya dalam satu
langkah lebar dan merengkuh wajah Emily dengan
telapak tangannya yang lebar. Ia membungkuk dan
mengecup bekas luka gelap di pipi kanan Emily
sebelum mengecup bibirnya.
"Hei, jangan begitu dong," Jared protes. "Aku
sedang makan."
"Kalau begitu tutup mulut dan makan sajalah,"
usul Sam, mencium bibir Emily yang hancur itu
sekali lagi.
“Ugh," erang Embry.
Ini lebih parah daripada film romantis mana
pun; adegan itu begitu nyata mendendangkan
kebahagiaan, kehidupan, dan cinta sejati.
Kuletakkan muffin-ku dan kulipat kedua lenganku
di dadaku yang kosong. Kupandangi bunga-bunga
itu, berusaha mengabaikan momen intim mereka,
serta luka hatiku sendiri yang berdenyut-denyut
nyeri.
Aku bersyukur karena perhatianku kemudian
beralih pada Jacob dan Paul yang menerobos
masuk melalui pintu, shock berat karena mereka
tertawa-tawa. Kulihat Paul meninju bahu Jacob
dan Jacob membalas dengan menyikut
pinggangnya. Mereka tertawa lagi. Kelihatannya
mereka tidak kurang sesuatu apa pun.
Jacob memandang sekeliling ruangan, berhenti
begitu melihatku bersandar, canggung dan rikuh,
di konter di pojok dapur.
"Hei, Bells," ia menyapaku riang. Disambarnya
dua muffin ketika berjalan melewati meja lalu
berdiri di sampingku. "Maaf soal tadi,” gumamnya
pelan. "Bagaimana keadaanmu?"
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Muffinnya
enak" Kuambil lagi muffinya dan mulai
menggigitinya lagi. Dadaku langsung terasa lebih
enak begitu Jacob ada di sampingku.
"Oh, ya ampun!" raung Jared, menyela kami.
Aku menengadah, dan melihat Jared serta
Embry mengamati garis merah muda samar di
lengan atas Paul. Embry nyengir, girang.
"Lima belas dolar," soraknya.
"Itu gara-gara kau?" bisikku pada Jacob, teringat
taruhan mereka.
"Aku nyaris tidak menyentuhnya kok. Saat
matahari terbenam nanti lukanya pasti sudah
sembuh."
"Saat matahari terbenam?" Kupandangi garis di
lengan Paul. Aneh, tapi kelihatannya luka itu
seperti sudah berumur beberapa minggu.
“Khas werewolf,” bisik Jacob.
Aku mengangguk, berusaha untuk tidak terlihat
bingung.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Jacob
dengan suara pelan.
“Tergores pun tidak,” Ekspresinya puas.
“Hei, guys,” seru Sam dengan suara nyaring,
menyela obroli dalam ruangan kecil itu. Emily
sedang menghadap kompor mengaduk-aduk
adonan telur dalam wajan besar, tapi sebelah
tangan Sam masih memegang bagian atas
punggung Emily gerakan yang tidak disadarinya.
“Jacob punya informasi untuk kita."
Paul tidak tampak terkejut. Jacob pasti sudah
menjelaskan tentang ini padanya dan Sam. Atau...
mereka mendengar pikiran Jacob.
“Aku tahu apa yang diinginkan si rambut merah
itu." Jacob menujukan perkataannya pada Jared
dan Embry. "Itulah yang ingin kusampaikan pada
kalian sebelumnya." Ditendangnya kaki kursi yang
diduduki Paul.
"Lalu?" tanya Jared.
Wajah Jacob berubah serius. "Dia memang
berusaha membalas dendam atas kematian
pasangannya—tapi ternyata pasangannya
bukanlah si pengisap darah berambut hitam yang
kita bunuh. Keluarga Cullen membunuh
pasangannya tahun lalu, jadi sekarang dia
mengincar Bella."
Itu bukan berita baru bagiku, tapi tetap saja aku
bergidik ngeri mendengarnya.
Jared, Embry, dan Emily menatapku dengan
mulut ternganga kaget.
"Dia kan hanya gadis biasa," protes Embry.
"Aku tidak berkata itu masuk akal. Tapi itulah
sebabnya si pengisap darah berusaha menerobos
pertahanan kita. Dia berniat pergi ke Forks."
Mereka terus menatapku dengan mulut masih
terbuka lebar selama beberapa saat. Kutundukkan
kepalaku.
"Bagus sekali," kata Jared akhirnya, senyuman
mulai bermain di bibirnya. "Kita punya umpan."
Dengan kecepatan mengagumkan Jacob
menyambar pembuka kaleng dari konter dan
melemparkannya ke kepala Jared. Tangan Jared
terangkat lebih cepat daripada yang kupikir
mungkin terjadi, dan menangkapnya tepat sebelum
alat itu menghantam wajahnya.
"Bella bukan umpan."
"Kau tahu maksudku," tukas Jared, tidak
merasa malu.
"Jadi kita akan mengubah pola kita," kata Sam,
mengabaikan pertengkaran mereka. "Kita akan
mencoba meninggalkan beberapa lubang, dan
melihat apakah dia akan terperangkap di
dalamnya. Kita harus berpencar, dan aku tidak
suka itu. Tapi kalau dia memang benar-benar
mengincar Bella, dia mungkin tidak akan berusaha
memanfaatkan kekuatan kita yang terpecah."
“Quil harus segera bergabung dengan kita,"
gumam Embry. “Dengan begitu kita bisa berpencar
dalam jumlah sama besar.”
Semua menunduk. Aku melirik wajah Jacob,
dan ekspresinya tampak tak berdaya, seperti
kemarin sore, di depan rumahnya. Walaupun
sekarang mereka kelihatannya sudah bisa
menerima takdir mereka, di sini di dapur yang
ceria ini. tak seorang werewolf pun menginginkan
nasib yang sama menimpa teman mereka.
"Well, kita tidak boleh mengandalkan hal ini."
kata Sam pelan, kemudian melanjutkan kataTiraikasih
katanya dengan suara biasa. "Paul, Jared, dan
Embry akan bertugas di perimeter luar sementara
Jacob dan aku bertugas di bagian dalam. Kita akan
bersatu lagi setelah berhasil menjebaknya.”
Kulihat Emily tidak terlalu suka mendengar Sam
akan berada di kelompok yang lebih kecil.
Kekhawatirannya membuatku menengadah dan
menatap Jacob, ikut khawatir juga.
Sam menatap mataku. “Menurut Jacob,
sebaiknya kau lebih banyak menghabiskan waktu
di sini. di La Push. Dia takkan bisa menemukanmu
semudah itu. untuk berjaga-jaga."
"Bagaimana dengan Charlie?” tuntutku.
"March Madness masih berlangsung," kata
Jacob. "Kurasa Billy dan Harry bisa mengajak
Charlie ke sini bila tidak sedang bekerja."
"Tunggu.” sergah Sam. mengangkat sebelah
tangan. Ia melirik Emily sebentar, lalu melirikku.
"Menurut Jacob itulah yang terbaik, tapi kau harus
memutuskannya sendiri. Sebaiknya kau
pertimbangkan benar-benar risiko kedua pilihan
itu dengan sangat serius. Kaulihat sendiri tadi pagi
betapa mudahnya keadaan berubah menjadi
berbahaya di sini, betapa cepatnya situasi menjadi
tak terkendali. Jika kau memutuskan untuk
tinggal bersama kami, aku tak bisa menjamin
keselamatanmu."
"Aku tidak akan melukainya," gumam Jacob,
menunduk.
“Sam berlagak seolah-olah tidak mendengar
perkataannya. "Kalau ada tempat lain di mana kau
merasa aman..."
Aku menggigit bibir. Ke mana aku bisa pergi
yang tidak akan membahayakan keselamatan
orang lain? Aku bergidik ngeri membayangkan
diriku menyeret Renee ke dalam persoalan ini –
menariknya ke tengah lingkaran sasaran tembak
yang kukenakan... "Aku tidak ingin membawa
Victoria ke tempat lain,” bisikku.
Sam mengangguk. "Itu benar. Lebih baik
membawanya ke sini, tempat kita bisa
menghabisinya."
Aku tersentak. Aku tidak ingin Jacob ataupun
yang lain berusaha menghabisi Victoria. Kulirik
wajah Jacob; ekspresinya tenang, nyaris sama
seperti yang kuingat sebelum masalah serigala ini
mengemuka, dan tampak benar-benar tidak peduli
bila harus memburu vampir.
"Kau akan berhati-hati, kan?" tanyaku, menelan
ludah dengan suara keras.
Cowok-cowok terpekik karena geli. Semua
menertawakanku—kecuali Emily. Ia menatap
mataku, dan tiba-tiba aku bisa melihat
kesimetrisan di balik wajahnya yang cacat.
Wajahnya masih cantik, dan terlihat hidup dengan
keprihatinan yang bahkan lebih besar daripada
yang kurasakan. Aku terpaksa membuang muka,
sebelum cinta di balik keprihatinan itu bisa
membuat hatiku nyeri lagi.
"Makanan sudah siap," serunya kemudian, dan
pembicaraan strategis itu langsung berhenti.
Cowok-cowok itu bergegas mengitari meja—yang
tampak kecil dan terancam hancur berantakan
oleh ulah mereka—dan langsung menyikat habis
wajan ukuran prasmanan berisi telur yang
diletakkan Emily di tengah mereka dengan
kecepatan yang mampu memecahkan rekor. Emily
makan sambil bersandar di konter seperti aku—
menghindari hiruk-pikuk di meja makan—dan
mengawasi mereka dengan sorot sayang.
Ekspresinya jelas menyata kan bahwa inilah
keluarganya.
Intinya, bukan ini yang kuharapkan dari
sekawanan werewolf.
Aku menghabiskan hari itu di La Piish,
kebanyakan di rumah Billy. Ia meninggalkan pesan
di telepon Charlie dan di kantor polisi, dan saat
makan malam, Charta datang membawa dua pizza.
Untung juga ia membawa dua pizza ukuran besar;
satu dihabiskan sendiri oleh Jacob.
Kulihat Charlie mengawasi kami dengan sikap
curiga sepanjang malam, terutama Jacob yang
banyak berubah. Ia menanyakan rambutnya;
Jacob hanya mengangkat bahu dan menjawab
bahwa begini lebih nyaman.
Aku tahu begitu Charlie dan aku pulang nanti,
Jacob akan langsung berangkat—berlari-lari
sebagai serigala, seperti yang dilakukannya tanpa
henti sepanjang hari tadi. Ia dan saudarasaudaranya
melakukan semacam pengawasan
terus-menerus, mencari tanda-tanda kembalinya
Victoria. Tapi karena mereka mengejarnya dari
sumber air panas semalam—mengejarnya hingga
setengah perjalanan menuju Canada, menurut
Jacob— ia belum lagi menampakkan batang
hidungnya.
Aku sama sekali tak berharap ia bakal
menyerah. Aku tidak seberuntung itu.
Jacob mengantarku ke truk sehabis makan
malam dan berdiri terus dekat jendela, menunggu
Charlie menjalankan mobilnya lebih dulu.
"Jangan takut malam ini," pesan Jacob,
sementara Charlie pura-pura mengalami kesulitan
dengan sabuk pengamannya. "Kami ada di luar
sana, berjaga-jaga."
"Aku tidak akan mengkhawatirkan diriku
sendiri," janjiku.
"Konyol. Memburu vampir kan menyenangkan.
Ini justru bagian terbaik dari semua kekacauan
ini."
Aku menggeleng. "Kalau aku konyol, berarti kau
sinting."
Jacob terkekeh. "Istirahatlah, Bella, Sayang. Kau
kelihatan capek sekali.”
"Akan kucoba."
Charlie menekan klakson dengan sikap tidak
sabar.
“Sampai besok,” seru Jacob. “Datanglah pagipagi
sekali."
"Pasti."
Charlie mengikutiku pulang ke rumah. Aku tak
begitu memerhatikan lampu-lampu di kaca
spionku. Aku malah sibuk memikirkan di mana
Sam, Jared, Embry, dan Paul berada sekarang,
berlari-lari di kegelapan malam. Aku bertanyatanya
dalam hati apakah Jacob sudah bergabung
dengan mereka.
Sesampai di rumah, aku bergegas menuju
tangga, tapi Charlie membuntuti tepat di
belakangku.
"Sebenarnya ada apa, Bella?" tuntutnya sebelum
aku sempat meloloskan diri. "Kusangka Jacob
bergabung dengan geng dan kalian berselisih
paham."
"Kami sudah baikan."
"Dan gengnya?"
"Entahlah—siapa sih yang bisa mengerti cowokcowok
remaja? Mereka itu misterius. Tapi aku
sudah berkenalan dengan Sam Uley dan
tunangannya, Emily. Kelihatannya mereka ramah
kok." Aku mengangkat bahu. "Mungkin semua
hanya salah paham."
Wajah Charlie berubah. "Aku malah belum
dengar dia dan Emily sudah resmi bertunangan.
Baguslah kalau begitu. Gadis malang."
“Dad tahu apa yang terjadi padanya?"
"Diserang beruang, di kawasan utara sana, saat
musim salmon bertelur—kecelakaan tragis. Sudah
lebih dari setahun berlalu sejak saat itu. Dengardengar,
Sam sangat terpukul oleh kejadian itu."
"Sungguh tragis," aku menirukan. Lebih dari
setahun lalu. Aku berani bertaruh peristiwa itu
terjadi ketika baru ada satu werewolf di La Push.
Aku bergidik membayangkan perasaan Sam setiap
kali memandang wajah Emily.
Malam itu. lama sekali aku berbaring dengan
mata nyalang, mencoba memilah-milah kembali
berbagai peristiwa yang kualami seharian tadi.
Kuulangi lagi saat makan malam bersama Billy,
Jacob dan Charlie. hingga ke siang yang panjang di
rumah keluarga Black, harap-harap cemas
menunggu kabar dari Jacob, ke dapur Emily,
hingga ke kengerian yang kurasakan saat para
werewolf itu bertarung, juga saat berbicara dengan
Jacob di tepi pantai.
Aku memikirkan perkataan Jacob tadi pagi,
tentang kemunafikan. Lama sekali aku memikirkan
hal itu. Aku tidak suka menganggap diriku
munafik, tapi apa gunanya membohongi diri
sendiri?
Aku meringkuk rapat-rapat. Tidak, Edward
bukan pembunuh. Bahkan di masa lalunya yang
kelam, ia tidak pernah membunuh orang yang
tidak bersalah, paling tidak.
Tapi bagaimana kalau ia dulu pembunuh?
Bagaimana kalau, selama aku mengenalnya, ia
tidak berbeda dengan vampir-vampir lain?
Bagaimana bila saat itu banyak orang menghilang
dari hutan, seperti yang terjadi sekarang? Apakah
itu akan membuatku menjauhinya?
Aku menggeleng sedih. Cinta itu tak masuk akal,
aku mengingatkan diri sendiri. Semakin kau
mencintai seseorang, semakin pikiranmu menjadi
tidak rasional.
Aku berguling dan berusaha memikirkan hal
lain—lantas memikirkan Jacob serta saudarasaudaranya,
berlari-lari di luar sana dalam gelap.
Aku tertidur dengan benak dipenuhi bayangan
serigala, tak terlihat di malam hari, menjagaku dari
bahaya. Waktu bermimpi, aku berdiri lagi di hutan,
tapi aku tidak berkeliaran. Aku memegangi tangan
Emily yang cacat sementara kami menghadap ke
arah bayang-bayang dan dengan cemas menunggu
para werewolf kami kembali ke rumah.
15. TEKANAN
LIBURAN musim semi lagi di Forks. Saat
terbangun Senin pagi, aku berbaring di tempat
tidur beberapa detik, mencerna hal itu. Pada
liburan musim semi tahun lalu, aku juga diburu
vampir. Mudah-mudahan ini tak lantas menjadi
semacam tradisi.
Sebentar saja aku sudah terbiasa dengan pola
kehidupan di La Push. Kebanyakan aku
melewatkan hari Minggu di pantai, sementara
Charlie nongkrong dengan Billy di rumah keluarga
Black. Aku dikira sedang bersama Jacob, tapi
berhubung banyak yang harus dilakukan Jacob,
jadilah aku berkeliaran sendirian,
merahasiakannya dari Charlie.
Saat mampir untuk mengecek keadaanku, Jacob
meminta maaf karena sering meninggalkanku.
Menurutnya, jadwalnya tidak selalu segila ini. tapi
sampai Victoria bisa dihentikan, serigala-serigala
itu harus tetap waspada penuh.
Saat kami berjalan jalan menyusur tepi pantai
sekarang, Jacob selalu menggandeng tanganku.
Ini membuatku berpikir tentang komentar Jared
tempo hari, tentang Jacob yang melibatkan
“ceweknya". Kurasa memang begitulah yang
tampak dari luar. Selama Jake dan aku tahu
bagaimana status sebenarnya hubungan kami, tak
seharusnya aku membiarkan asumsi-asumsi
semacam itu mengganggu pikiranku. Dan mungkin
memang tidak akan mengganggu, kalau saja aku
tidak tahu Jacob akan sangat senang bila
hubungan kami menjadi seperti yang disangka
orang. Tapi berhubung gandengan tangannya
terasa menyenangkan karena membuat tanganku
hangat, aku pun tidak memprotes.
Aku bekerja pada hari Selasa sore—Jacob
mengikutiku dengan motornya untuk memastikan
aku sampai di sana dengan selamat—dan itu tak
luput dari perhatian Mike.
“Kau berkencan dengan cowok dari La Push itu,
ya? Yang kelas dua itu?" tanya Mike, tak mampu
menyembunyikan perasaan tak suka dalam nada
suaranya.
Aku mengangkat bahu. "Tidak dalam arti teknis.
Tapi aku memang menghabiskan sebagian besar
waktuku dengan Jacob. Dia sahabatku."
Mata Mike menyipit licik. "Jangan tipu dirimu
sendiri, Bella. Cowok itu tergila-gila padamu."
"Memang," aku mendesah. "Hidup memang
rumit."
"Dan cewek-cewek itu kejam," geram Mike pelan.
Kurasa mudah saja berasumsi demikian.
Malam itu Sam dan Emily bergabung dengan
Charlie dan aku, menikmati hidangan pencuci
mulut di rumah Billy. Emily membawa kue yang
sanggup meluluhkan hati lelaki mana pun yang
bahkan lebih keras daripada Charlie. Bisa kulihat,
melalui obrolan yang mengalir lancar mengenai
berbagai topik, bahwa kekhawatiran Charlie
tentang geng di La Push mulai mencair.
Jake dan aku menyingkir ke luar, agar lebih
leluasa mengobrol. Kami pergi ke garasinya dan
duduk di dalam Rabbit. Jacob menyandarkan
kepala, wajahnya lesu karena lelah.
"Kau butuh tidur, Jake."
"Nanti juga bisa."
Jacob mengulurkan tangan dan meraih
tanganku. Kulitnya terasa sangat panas di kulitku.
"Apakah itu juga salah satu kekhasanmu
sebagai werewolf?" tanyaku. "Tubuh yang panas,
maksudku."
"Yeah. Suhu tubuh kami memang sedikit lebih
panas daripada manusia normal. Sekitar 42-43
derajat. Aku tidak pernah kedinginan lagi. Aku bisa
tahan dalam kondisi begini"—ia mengibaskan
tangan, menunjukkan kondisinya yang
bertelanjang dada—"di tengah badai salju dan tidak
merasa apa-apa. Kepingan es langsung mencair
begitu mengenai tubuhku."
"Dan kalian semua pulih dengan cepat—itu juga
kekhasan kalian sebagai werewolf?"
"Yeah, mau lihat? Keren sekali lho." Mata Jacob
terbuka dan ia nyengir. Tangannya merogoh-rogoh
ke dalam laci mobil. Sejurus kemudian tangannya
keluar lagi, menggenggam pisau lipat.
"Tidak, aku tidak mau melihat!" teriakku begitu
menyadari apa yang ada di benak Jacob.
"Singkirkan benda itu!"
Jacob terkekeh, tapi mengembalikan pisau itu ke
tempat semula. "Baiklah. Untung juga kami cepat
pulih. Kau kan tidak bisa menemui dokter bila
suhu tubuhmu setinggi kami, karena manusia
normal pasti sudah mati.”
"Ya, benar juga." Aku memikirkan hal itu
sebentar. "Dan bertubuh sangat besar—itu juga
salah satu kekhasan kalian? Apakah karena itu
kalian semua mengkhawatirkan Quil?"
"Itu dan fakta bahwa kakek Quil mengatakan
anak itu bisa mengoreng telur di dahinya.” Wajah
Jacob memperlihatkan ekspresi tak berdaya.
Takkan lama lagi. Tidak ada batasan umur yang
tepat... pokoknya seseorang akan semakin besar
dan semakin besar lalu tiba-tiba—" Jacob
menghentikan kata-katanya dan sejurus kemudian
baru bisa bicara lagi. "Terkadang, kalau kau
merasa sangat marah atau sebangsanya, itu bisa
memicu perubahan lebih cepat. Padahal aku tidak
sedang marah mengenai sesuatu—aku malah
sedang bahagia!” Jacob tertawa getir. "Karena kau,
sebagian besar. Itulah sebabnya ini tidak terjadi
lebih cepat padaku. Malah semakin membesar
dalam diriku—membuatku jadi seperti bom waktu.
Tahukah kau apa yang memicuku jadi berubah?
Aku pulang dari nonton film dan kata Billy aku
terlihat aneh. Hanya itu, tapi aku langsung emosi.
Kemudian aku—aku meledak. Aku sampai nyaris
mengoyak-ngoyak wajahnya—ayahku sendiri!"
Jacob bergidik, wajahnya memucat.
"Separah itukah, Jake?" tanyaku waswas,
berharap aku bisa membantunya. "Apakah kau
merana?"
"Tidak, aku tidak merana," jawabnya. "Tidak lagi.
Tidak karena sekarang kau sudah tahu. Rasanya
berat sekali, sebelum ini," Ia mencondongkan
tubuhnya sehingga pipinya menempel di puncak
kepalaku.
Sejenak ia terdiam, dan aku bertanya-tanya
dalam hati apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin
aku tak ingin mengetahuinya.
"Apa bagian yang paling sulit?" bisikku, masih
berharap bisa membantu.
"Bagian tersulit adalah merasa... tidak memiliki
kendali," jawabnya lambat-lambat. "Merasa seolaholah
aku tak yakin pada diri sendiri – seperti
misalnya kau tidak seharusnya berdekatan
denganku, bahwa tak seorang pun seharusnya
berdekatan denganku. Seolah-olah aku ini monster
yang akan mencederai orang lain. Lihat saja Emily.
Sam tak bisa menguasai amarahnya satu detik
saja... dan saat itu Emily terlalu dekat dengannya.
Dan sekarang, tak ada yang bisa ia lakukan untuk
memperbaikinya. Aku bisa mendengar pikiranpikiran
Sam – aku tahu bagaimana rasanya...
"Siapa sih yang ingin menjadi mimpi buruk,
menjadi monster?
"Kemudian, melihat betapa mudahnya aku
melakukan semua itu, bahwa aku lebih hebat
daripada mereka semua—apakah itu berarti aku
kurang manusia dibandingkan Embry atau Sam?
Kadang-kadang aku takut kehilangan diri sendiri."
"Apakah itu sulit? Menemukan dirimu lagi?"
"Awalnya," jawab Jacob. "Butuh latihan untuk
bisa berubah-ubah. Tapi lebih mudah bagiku."
"Mengapa?" tanyaku heran.
"Karena Ephraim Black kakek ayahku, dan Quil
Ateara kakek ibuku."
"Quil?" tanyaku bingung.
"Kakek buyut Billy," Jacob menjelaskan. "Quil
yang kaukenal itu sepupu jauhku."
Tapi mengapa penting sekali siapa kakek
buyutmu?"
"Karena Ephraim dan Quil tergabung dalam
kawanan terakhir. Levi Uley anggota ketiga. Jadi
aku mewarisinya dari kedua pihak. Aku tidak
mungkin bisa berkelit. Begitu juga Quil."
Ekspresi Jacob muram.
"Bagian apa yang terbaik?" tanyaku, berharap
bisa membuatnya gembira.
"Bagian terbaik." ujarnya, tiba tiba tersenyum
lagi, "adalah kecepatannya."
"Lebih cepat daripada naik motor?"
Jacob mengangguk, antusias. "Tak ada
tandingannya."
"Seberapa cepat kau bisa...?"
"Berlari?" Jacob menyelesaikan pertanyaanku.
"Lumayan cepat. Aku bisa mengukurnya dengan
apa, ya? Kami berhasil menangkap... siapa
namanya? Laurent? Aku yakin kau pasti bisa lebih
memahami hal itu dibandingkan orang lain."
Itu benar. Aku tidak bisa membayangkan hal
itu—serigala berlari lebih cepat daripada vampir.
Kalau keluarga Cullen berlari, mereka semua jadi
tak terlihat saking cepatnya.
“Nah, sekarang giliranmu menjelaskan sesuatu
yang tidak aku ketahui," kata Jacob. "Sesuatu
tentang vampir. Bagaimana kau bisa tahan,
berdekatan dengan mereka? Apakah kau tidak
takut?"
"Tidak," jawabku tajam.
Nadaku membuatnya berpikir sebentar.
"Katakan, mengapa pengisap darahmu
membunuh si James itu?" tanyanya tiba-tiba.
"James mencoba membunuhku—dia
menganggapnya permainan. Dia kalah. Ingatkah
kau musim semi lalu waktu aku masuk rumah
sakit di Phoenix?"
Jacob terkesiap kaget. "Dia sudah sedekat itu?"
"Amat, sangat dekat." Kuelus bekas lukaku.
Jacob melihatnya, karena ia memegangi tangan
yang kugerakkan.
"Apa itu?" Ia mengganti tangan, mengamati
tangan kananku. "Ini bekas lukamu yang aneh itu,
yang dingin." Diamatinya bekas itu lebih dekat,
dengan pemahaman baru, dan terkesiap.
“Ya, dugaanmu tepat," kataku.
"James menggigitku." Mata Jacob membelalak,
dan wajahnya berubah jadi kekuningan di balik
permukaannya yang cokelat kemerahan.
Tampaknya ia nyaris muntah.
"Tapi kalau dia menggigitmu...? Bukankah
seharusnya kau menjadi...?" Ia tersedak.
"Edward menyelamatkanku dua kali," bisikku.
"Dia mengisap racun itu dari dalam tubuhku—kau
tahu kan, seperti mengisap bisa ular." Aku
mengejang saat kepedihan itu melesat menjalari
pinggir lubang.
Tapi bukan aku satu-satunya yang mengejang.
Aku bisa merasakan tubuh Jacob bergetar di
sampingku. Bahkan mobil pun sampai
berguncang-guncang.
"Hati-hati, Jake. Tenang. Tenangkan dirimu."
"Yeah," ia terengah-engah. "Tenang." Ia
menggoyangkan kepalanya ke depan dan ke
belakang dengan gerak cepat. Sejurus kemudian,
hanya tangannya yang bergoyang.
"Kau baik-baik saja?"
"Yeah, hampir. Ceritakan hal lain. Beri sesuatu
yang berbeda untuk dipikirkan."
"Apa yang ingin kauketahui?"
"Entahlah." Jacob memejamkan mata,
berkonsentrasi, "Tentang kelebihan-kelebihan
mereka. Apakah ada anggota keluarga Cullen lain
yang memiliki... bakat khusus? Misalnya membaca
pikiran?"
Sejenak aku ragu. Rasanya ini pertanyaan yang
akan ditanyakan Jacob pada mata-mata, bukan
temannya. Tapi apa gunanya menyembunyikan apa
yang kuketahui? Itu toh tidak berarti apa-apa lagi
sekarang, lagi pula itu bisa membantunya
mengendalikan diri.
Maka aku pun cepat-cepat berbicara, dengan
bayangan wajah rusak Emily menghantui pikiran,
dan bulu kudukku meremang di kedua lenganku.
Tak terbayangkan olehku bagaimana bila serigala
berbulu merah-cokelat itu mendadak muncul di
dalam Rabbit ini—bisa-bisa seluruh garasi ini
porak-poranda bila Jacob berubah wujud
sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar