Selasa, 03 Desember 2013

TWILINGHT

Stephenie Meyer



PROLOG
AKU tak pernah terlalu memikirkan bagaimana aku
akan mati—meskipun aku punya cukup alasan beberapa
bulan terakhir ini—tapi kalaupun memiliki alasan, aku tak
pernah membayangkan akan seperti ini.
Aku menatap ruangan panjang itu tanpa bernapas, ke
dalam mata gelap sang pemburu, dan ia balas menatapku
senang.
Tentunya ini cara yang bagus untuk mati, menggantikan
orang lain, orang yang kucintai. Bahkan mulia. Mestinya
itu berarti sesuatu.
Aku tahu jika aku tak pernah pergi ke Forks, aku takkan
berhadapan dengan kematian sekarang. Tapi seperti yang
kutakutkan, aku tak menyesali keputusan itu. Ketika hidup
menawarkan mimpi yang jauh melebihi harapanmu, tidak
masuk akal untuk menyesalinya bila impian itu berakhir.
Sang pemburu tersenyum bersahabat saat ia melangkah
untuk membunuhku.

1. PANDANGAN PERTAMA
IBUKU mengantar ke bandara, jendela mobil yang kami
tumpangi dibiarkan terbuka. Suhu kota Phoenix 23° C
langit cerah, biru tanpa awan. Aku mengenakan kaus
favoritku—tanpa lengan, berenda putih; aku
mengenakannya sebagai lambang perpisahan. Benda yang
kubawa-bawa adalah sepotong parka.
Di Semenanjung Olympic di barat laut Washington,
sebuah kota kecil bernama Forks berdiri di bawah langit
yang nyaris selalu tertutup awan. Di kota terpencil ini hujan
turun lebih sering dibandingkan tempat lainnya di Amerika
Serikat. Dari kota inilah, dan dari bayangannya yang kelam
dan kental, ibuku melarikan diri bersamaku ketika aku baru
berusia beberapa bulan. Di kota inilah aku telah dipaksa
menghabiskan satu bulan setiap musim panas sampai aku
berusia empat belas tahun. Ketika itulah aku akhirnya
mengambil keputusan tegas; dan sebagai gantinya selama
tiga musim panas terakhir ini, ayahku, Charlie, berlibur
bersamaku di California selama dua minggu.
Ke kota Forks-lah sekarang aku mengasingkan diri –
keputusan yang kuambil dengan ketakutan yang amat
sangat. Aku benci Forks.
Aku mencintai Phoenix. Aku mencintai matahari dan
panasnya yang menyengat. Aku mencintai kotanya yang
dahsyat dan megah.
"Bella," ibuku berkata—untuk terakhir kali dari ribuan
kali ia mengatakannya—sebelum aku naik pesawat. "Kau
tidak perlu melakukan ini.”
Ibuku mirip aku, kecuali rambut pendek dan garis usia di
sekeliling bibir dan matanya. Aku merasa sedikit panik saat
menatap mata kekanak-kanakannya yang lebar. Bagaimana
aku bisa meninggalkan ibuku yang penuh kasih, labil, dan
konyol ini sendirian? Tentu saja sekarang ia bersama Phil,
jadi ada yang membayar tagihan-tagihannya, akan ada
makanan di kulkas, mobilnya takkan kehabisan bahan
bakar, dan ada orang yang bisa diteleponnya bila ia tersesat,
tapi tetap saja...
"Aku ingin pergi," aku berbohong. Aku tak pernah
pandai berbohong tapi aku telah mengatakan kebohongan
ini begitu sering hingga sekarang nyaris terdengar
meyakinkan.
"Sampaikan salamku buat Charlie."
"Akan kusampaikan."
"Sampai ketemu lagi," ibuku berkeras. "Kau bisa pulang
kapan pun kau mau—aku akan segera datang begitu kau
membutuhkanku."
Tapi di matanya bisa kulihat pengorbanan di balik janji
itu.
"Jangan khawatirkan aku," pintaku. "Semua akan baikbaik
saja. Aku sayang padamu, Mom."
Ibuku memelukku erat-erat beberapa menit, kemudian
aku naik ke pesawat, dan ia pun pergi.
Makan waktu empat jam untuk terbang dari Phoenix ke
Seattle, satu jam lagi menumpang pesawat kecil menuju
Port Angeles, lalu saru jam perjalanan darat menuju Forks.
Perjalanan udara tidak mengusikku; tapi satu jam dalam
mobil bersama Charlie-lah yang agak kukhawatirkan.
Secara keseluruhan Charlie lumayan baik. Perasaan
senangnya sepertinya tulus, ketika untuk pertama kali aku
datang dan tinggal bersamanya entah selama berapa lama.
Ia sudah mendaftarkan aku ke SMA dan akan membantuku
mendapatkan kendaraan pribadi.
Tapi tentu saja saat-saat bersama Charlie terasa
canggung. Kami sama-sama bukan tipe yang suka bicara,
dan aku juga tak tahu harus bilang apa. Aku tahu ia agak
bingung karena keputusanku—sebab seperti ibuku, aku juga
tidak menyembunyikan ketidaksukaanku pada Forks.
Ketika aku mendarat di Port Angeles, hujan turun. Aku
tidak melihatnya sebagai pertanda—hanya sesuatu yang tak
terelakkan. Lagi pula aku telah mengucapkan selamat
tinggal pada matahari.
Charlie menungguku di mobil patrolinya. Yang ini pun
sudah kuduga. Charlie adalah Kepala Polisi Swan bagi
orang-orang baik di Forks. Tujuan utamaku di balik
membeli mobil, meskipun tabunganku kurang, adalah
karena aku menolak diantar berkeliling kota dengan mobil
yang ada lampu merah-biru di atasnya. Tak ada yang
membuat laju mobil berkurang selain polisi.
Charlie memelukku canggung dengan satu lengan ketika
aku menuruni pesawat.
"Senang bisa ketemu denganmu, Bells," katanya,
tersenyum ketika spontan menangkap dan
menyeimbangkan tubuhku. "Kau tak banyak berubah.
Bagaimana Renee?"
"Mom baik-baik saja. Aku juga senang ketemu kau,
Dad." Aku tidak diizinkan memanggilnya Charlie bila
bertemu muka.
Aku hanya membawa beberapa tas. Kebanyakan pakaian
Arizona-ku tidak cocok untuk dipakai di Washington.
Ibuku dan aku telah mengumpulkan apa saja yang kami
miliki untuk melengkapi pakaian musim dinginku, tapi
tetap saja ke-lewat sedikit. Barang bawaanku muat begitu
saja di bagasi mobil patroli Dad.
"Aku menemukan mobil yang bagus buatmu, benarbenar
murah," ujarnya ketika kami sudah berada di mobil.
"Mobil jenis apa?" Aku curiga dengan caranya
mengatakan "mobil bagus buatmu", seolah itu tidak sekadar
"mobil bagus".
"Well, sebenarnya truk, sebuah Chevy."
"Di mana kau mendapatkannya?"
"Kauingat Billy Black di La Push?" La Push adalah
reservasi Indian kecil di pantai.
"Tidak."
"Dulu dia suka pergi memancing bersama kita di musim
panas," Charlie menambahkan.
Pantas saja aku tidak ingat. Aku mahir menyingkirkan
hal-hal tidak penting dan menyakitkan dari ingatanku.
"Sekarang dia menggunakan kursi roda," Charlie
melanjutkan ketika aku diam saja, "jadi dia tak bisa
mengemudi lagi dan menawarkan truknya padaku dengan
harga murah."
"Keluaran tahun berapa?" Dari perubahan ekspresinya
aku tahu ia berharap aku tidak pernah melontarkan
pertanyaan ini.
“Well, Billy sudah merawat mesinnya dengan baik—
umurnya baru beberapa tahun kok, sungguh."
Kuharap Dad tidak menyepelekan aku dan berharap aku
memercayai kata-katanya dengan mudah. "Kapan dia
membelinya?"
"Rasanya tahun 1984."
"Apa waktu dibeli masih baru?"
"Well, tidak. Kurasa mobil itu keluaran awal '60-an—
atau setidaknya akhir '50-an," Dad mengakui malu-malu.
"Ch—Dad, aku tidak tahu apa-apa tentang mobil. Aku
tidak akan bisa memperbaikinya kalau ada yang rusak, dan
aku tidak sanggup membayar montir..."
"Sungguh, Bella, benda itu hebat. Model seperti itu tidak
ada lagi sekarang."
Benda itu, pikirku... sebutan itu bisa dipakai—paling jelek
sebagai nama panggilan.
"Seberapa murah yang Dad maksud?" Bagaimanapun
aku tidak bisa berkompromi soal yang satu ini.
"Well, Sayang aku sebenarnya sudah membelikannya
untukmu. Sebagai hadiah selamat datang." Charlie
melirikku dengan ekspresi penuh harap.
Wow. Gratis.
"Kau tak perlu melakukannya, Dad. Aku berencana
membeli sendiri mobilku."
"Aku tidak keberatan kok. Aku ingin kau senang di sini."
Ia memandang lurus ke jalan saat mengatakannya. Charlie
merasa tak nyaman mengekspresikan emosinya. Aku
mewarisi hal itu darinya. Jadi aku memandang lurus ke
depan ketika menjawab.
"Asyik, Dad. Trims. Aku sangat menghargainya." Tak
perlu kutambahkan bahwa aku tak mungkin bahagia di
Forks. Dad tidak perlu ikut menderita bersamaku. Dan aku
tak pernah meminta truk gratis—atau mesin.
"Well. sama-sama kalau begitu," gumamnya, tersipu oleh
ucapan terima kasihku.
Kami masih bicara tentang cuaca yang lembab, dan
itulah sebagian besar topik percakapan kami. Selebihnya
kami memandang ke luar jendela dalam diam.
Tentu saja pemandangannya indah; aku tak bisa
menyangkalnya. Semua hijau: pepohonan dengan batangbatang
tertutup lumut, kanopi di antara cabang-cabangnya,
tanahnya tertutup daun yang berguguran. Bahkan udaranya
tersaring di antara dedaunannya yang hijau.
Terlalu hijau—sebuah planet yang asing. Akhirnya kami
tiba di rumah Charlie. Ia masih tinggal di rumah kecil
dengan dua kamar tidur, yang dibelinya bersama ibuku
pada awal pernikahan mereka. Hanya itu hari-hari
pernikahan yang mereka miliki—masa-masa awal. Di sana,
terparkir di jalanan di depan rumah yang tak pernah
berubah, tampak truk baruku—Well, baru buatku. Truk itu
berwarna merah kusam, dengan bemper dan kap yang
melekuk dan besar. Yang membuatku amat terkejut, aku
menyukainya. Aku tak tahu apakah benda itu bisa jalan,
tapi bisa kubayangkan diriku berada di dalamnya.
Ditambah lagi, kendaraan itu jenis sangat kokoh yang tidak
bakal rusak—jenis yang bakal kautemukan di lokasi
kecelakaan dengan cat tak tergores dan dikelilingi serpihan
mobil yang telah dihantamnya.
"Wow, Dad, aku suka! Trims!" Sekarang hari-hari
menakutkan yang akan menjelang takkan menakutkan lagi.
Aku takkan dihadapkan pada pilihan berjalan dua mil ke
sekolah hujan-hujan ataukah menumpang mobil patroli
polisi.
"Aku senang kau menyukainya," kata Charlie parau,
sekali lagi merasa malu.
Cuma butuh sekali angkut untuk membawa barangbarangku
ke atas. Aku mendapat kamar tidur di sebelah
barat yang menghadap ke halaman depan. Kamar itu sangat
familier, itu kamarku sejak aku dilahirkan. Lantai kayu,
dinding biru cerah, langit-langit lancip, tirai berenda
kekuningan yang membingkai jendela—semua ini bagian
masa kecilku. Satu-satunya pembahan yang dibuat Charlie
adalah mengganti tempat tidur bayi menjadi tempat tidur
sungguhan dan menambahkan meja seiring
pertumbuhanku. Di meja itu sekarang ada komputer bekas,
dengan modem tersambung pada kabel telepon yang
menempel sepanjang lantai hingga colokan telepon
terdekat. Ini permintaan ibuku, supaya kami gampang
berkomunikasi. Kursi goyang dari masa bayiku masih ada
di sudut.
Hanya ada satu kamar mandi kecil di lantai atas, dan aku
harus memakainya dengan Charlie. Aku berusaha tidak
terlalu memikirkan keadaan itu.
Salah satu hal terbaik tentang Charlie adalah, ia tidak
pernah membuntutiku. Ia meninggalkanku sendirian untuk
membongkar dan merapikan bawaanku, perilaku yang tak
mungkin kudapatkan dari ibuku. Rasanya menyenangkan
bisa sendirian, tidak harus tersenyum dan tampak gembira;
lega bisa memandang murung ke luar jendela, memandangi
hujan lebat dan membiarkan kesedihanku mengalir. Aku
tidak sedang mood untuk menangis habis-habisan. Aku
akan menyimpannya sampai saat tidur nanti, ketika aku
harus memikirkan esok pagi.
Total SMA Forks hanya memiliki sangat sedikit murid
yaitu 357—sekarang 358; sementara murid SMP di tempat
asalku dulu ada lebih dari tujuh ratus orang. Semua murid
di sini tumbuh bersama-sama—kakek-nenek mereka
menghabiskan masa kecil bersama. Aku akan jadi anak
perempuan baru dari kota besar, mengundang penasaran,
orang aneh.
Barangkali takkan begitu jadinya bila aku berpenampilan
seperti layaknya anak perempuan dari Phoenix. Tapi secara
fisik aku tak pernah cocok berada di mana pun. Aku harus
berkulit cokelat, sporty, pirang—pemain voli, atau pemandu
sorak mungkin—segala sesuatu yang cocok dengan
kehidupan di lembah matahari.
Sebaliknya aku malah berkulit kekuningan, bahkan tanpa
mata biru atau rambut merah, meskipun sering terpapar
sinar matahari. Tubuhku selalu langsing tapi lembek, jelas
bukan atlet; aku tak memiliki kemampuan koordinasi
antara tangan dan mata untuk berolahraga tanpa
mempermalukan diri sendiri—dan melukai diriku serta
siapa pun di dekatku.
Ketika aku selesai memasukkan pakaian ke lemari tua
dari kayu cemara, aku mengambil tas keperluan mandiku
dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah
perjalanan sehari. Aku memandang wajahku di cermin
sambil menyisir rambutku yang lembab dan kusut.
Barangkali tipuan cahaya, tapi aku terlihat pucat, tidak
sehat. Kulitku bisa saja cantik—bening nyaris transparan—
tapi semua itu tergantung warna. Di sini aku tidak memiliki
warna.
Memandang pantulan wajah pucatku di cermin, aku
terpaksa mengakui sedang membohongi diri sendiri. Bukan
secara fisik saja aku tak pernah cocok. Dan kalau aku tak
bisa menemukan tempat di sekolah berpopulasi tiga ratus
orang kesempatan apa yang kupunya di sini?
Hubunganku dengan orang-orang sebayaku tidak bagus.
Barangkali sebenarnya hubunganku dengan orang-orang tak
pernah bagus, titik. Bahkan ibuku, orang terdekat denganku
dibandingkan siapa pun di dunia ini, tak pernah selaras
denganku, tak pernah benar-benar sepaham. Kadangkadang
aku membayangkan apakah aku melihat hal yang
sama seperti yang dilihat orang lain di dunia ini. Mungkin
ada masalah dengan otakku.
Tapi penyebabnya tidak penting. Yang penting adalah
akibatnya. Dan esok baru permulaannya.
Tidurku gelisah malam itu, bahkan setelah aku selesai
menangis. Hujan terus menderu dan angin yang menyapu
atap tak lenyap juga dari kesadaranku. Aku menarik selimut
tua itu menutupi kepala, kemudian menambahkan bantalbantal.
Tapi lepas tengah malam barulah aku tertidur,
ketika hujan akhirnya berubah jadi gerimis.
Paginya hanya kabut tebal yang bisa kulihat dari jendela
kamarku, dan bisa kurasakan klaustrofobia merayapi
tubuhku. Di sini kau tak pernah bisa melihat langit, seperti
di kandang.
Sarapan bersama Charlie berlangsung hening. Ia
mendoakan supaya aku berhasil di sekolah. Aku berterima
kasih padanya, meski tahu doanya sia-sia. Keberuntungan
selalu menjauhiku. Charlie berangkat duluan, menuju
kantor polisi yang menjadi istri dan keluarganya. Setelah ia
pergi aku duduk di meja kayu ek persegi tua itu, di salah
satu dari tiga kursi yang tak serasi, mengamati dapur
kecilnya, dengan dinding panelnya yang gelap, rak-rak
kuning terang serta lantai linoleumnya yang putih. Tak ada
yang berubah. Delapan belas tahun yang lalu ibuku
mengecat rak-rak itu dengan harapan bisa membawa sedikit
kecerahan di rumah. Di atas perapian bersebelahan dengan
ruang keluarga yang mungil, tampak berderet foto-foto.
Yang pertama foto pernikahan Charlie dan ibuku di Las
Vegas, kemudian foto kami di rumah sakit setelah aku lahir
yang diambil oleh seorang perawat, diikuti rangkaian fotoku
semasa sekolah hingga tahun lalu. Aku malu melihatnya—
aku harus mencari cara supaya Charlie mau
memindahkannya ke tempat lain. setidaknya selama aku
tinggal di sini.
Rasanya mustahil berada di rumah ini, dan tidak
menyadari bahwa Charlie belum bisa melupakan ibuku. Itu
membuatku tidak nyaman.
Aku tak mau terburu-buru ke sekolah, tapi aku tak bisa
tinggal di rumah lebih lama lagi. Aku mengenakan
jaketku— yang rasanya seperti pakaian antiradiasi—dan
menerobos hujan.
Hujan masih gerimis, tapi tak sampai membuatku basah
kuyup ketika meraih kunci rumah yang selalu
disembunyikan di bawah daun pintu, dan menguncinya.
Suara decitan sepatu bot antiairku yang baru membuatku
takut. Aku merindukan bunyi keretakan kerikil saat aku
berjalan. Aku tak bisa berhenti dan mengagumi trukku lagi
seperti yang kuinginkan; aku sedang terburu-buru keluar
dari kabut lembab yang menyelubungi kepalaku dan
hinggap di rambutku di balik tudung jaket.
Di dalam truk nyaman dan kering. Entah Billy atau
Charlie pasti telah membersihkannya, tapi dari jok berlapis
kulit cokelat itu samar-samar masih tercium bau tembakau,
bensin, dan peppermint. Mesinnya langsung menyala, dan
aku lega dibuatnya, tapi derunya keras sekali. Yah, truk
setua ini pasti memiliki kekurangan. Radio antiknya masih
berfungsi, nilai tambah yang tak terduga.
Menemukan letak sekolah tidaklah sulit, meskipun aku
belum pernah ke sana. Bangunan sekolah, seperti
kebanyakan bangunan lainnya, letaknya tak jauh dari jalan
raya. Tidak langsung ketahuan itu sekolah sih; hanya papan
namanya yang menyatakan bangunan itu sebagai SMA
Forks, yang membuatku berhenti. Bangunannya seperti
sekumpulan rumah serasi, dibangun dengan batu bata
warna marun. Ada banyak sekali pohon dan semak-semak
sehingga awalnya aku tak bisa mengira-ngira luasnya. Di
mana aura institusinya? Aku membayangkan sambil
bernostalgia. Di mana pagar-pagar berantai dan pendeteksi
logamnya?
Aku parkir di depan bangunan pertama yang memiliki
papan tanda kecil di atas pintu, bunyinya TATA USAHA.
Tak ada yang parkir di sana, sehingga aku yakin itu daerah
parkir khusus. Tapi aku memutuskan akan bertanya di
dalam, daripada berputar-putar di bawah guyuran hujan
seperti orang tolol. Dengan enggan aku melangkah keluar
dari trukku yang nyaman dan hangat, menyusuri jalan
setapak dari bebatuan kecil berpagar warna gelap. Sebelum
membuka pintu aku menghirup napas dalam-dalam.
Di dalam keadaan cukup terang dan lebih hangat dari
yang kuharap. Kantornya kecil, ruang tunggunya dilengkapi
kursi lipat berjok, karpet bersemburat Jingga,
pemberitahuan dan penghargaan bergantungan di dinding
sebuah jam dinding besar berdetak keras. Tanaman ada di
mana-mana dalam pot plastik besar, seolah-olah pepohonan
yang tumbuh rimbun di luar masih belum cukup. Ruangan
itu dibagi dua oleh konter panjang berantakan karena
keranjang-keranjang kawat penuh kertas. Pamflet-pamflet
warna terang direkatkan di depannya. Ada tiga meja di
balik konter, salah satunya dihuni wanita bertubuh besar
berambut merah yang mengenakan kacamata. Ia
mengenakan T-shirt ungu, yang membuatku merasa
pakaianku berlebihan.
Wanita berambut merah itu mendongak. "Bisa kubantu?"
“Aku Isabella Swan," kataku. Kulihat matanya berkilat
terkejut. Tak diragukan lagi, aku akan segera menjadi topik
gosip. Putri mantan istri Kepala Polisi yang bertingkah
akhirnya pulang.
“Tentu saja," katanya. Ia mengaduk-aduk tumpukan
dokumen di mejanya hingga menemukan yang dicarinya.
“Ini jadwal pelajaranmu, dan peta sekolah." Ia membawa
beberapa lembar ke meja konter dan memperlihatkannya
padaku.
Kemudian ia menjelaskan kelas-kelas yang harus
kuambil, menerangkan rute terbaik menuju masing-masing
kelas pada peta, dan menyerahkan lembaran kertas yang
harus ditandatangani masing-masing guru. Pada akhir jam
pelajaran nanti aku harus menyerahkannya kembali. Ia
tersenyum dan berharap, seperti Charlie, aku senang berada
di sini di Forks. Aku balas tersenyum meyakinkan sebisaku.
Ketika aku keluar lagi menuju truk, murid-murid lain
berdatangan. Aku mengemudi mengelilingi sekolah,
mengikuti barisan mobil-mobil lain. Aku senang mobilmobil
lainnya juga sama tuanya seperti trukku, tak ada yang
bagus. Di tempat asalku, aku tinggal di permukiman kelas
bawah di distrik Paradise Valley. Melihat Mercedes baru
atau Porsche di parkiran murid sudah biasa bagiku. Di sini,
mobil terbagus adalah Volvo yang bersih mengilap, dan
jelas mencolok. Tetap saja aku mematikan mesin begitu
mendapatkan tempat parkir, sehingga suaranya yang keras
tidak menarik perhatian.
Aku mempelajari petanya di dalam truk, berusaha
mengingatnya; berharap aku tak perlu berjalan sambil terus
memeganginya seharian. Aku memasukkan semua ke tas,
dan menyandangkan talinya di bahu, dan menarik napas
panjang. Aku bisa melakukannya, aku setengah
membohongi diriku. Tak ada yang bakal menggigitku.
Akhirnya aku mengembuskan napas dan melangkah keluar
truk.
Kubiarkan wajahku tersamarkan tudung jaket ketika
berjalan melintasi trotoar yang dipenuhi remaja. Jaket
hitam polosku tidak mencolok, aku menyadarinya dengan
perasaan lega.
Begitu sampai di kafetaria, gedung tiga dengan mudah
kutemukan. Angka "3" hitam besar dicat di kotak persegi
putih di pojok sebelah timur. Aku mendapati napasku
pelan-pelan berubah terengah-engah begitu mendekati
pintunya. Aku berusaha menahan napas ketika mengikuti
dua orang yang mengenakan jas hujan uniseks melewati
pintu.
Kelasnya kecil. Orang-orang di depanku berhenti tepat di
muka pintu untuk menggantungkan jas hujan mereka di
tiang gantungan yang panjang. Aku mencontoh mereka.
Mereka dua orang gadis, yang satu berambut pirang yang
lain juga berkulit pucat, rambutnya cokelat muda.
Setidaknya warna kulitku tidak bakal mencolok di sini.
Aku menyerahkan lembaran tadi pada seorang guru,
laki-laki tinggi botak yang di mejanya terdapat papan nama
bertuliskan Mr. Mason. Ia melongo menatapku ketika
melihat namaku—bukan respons yang membangun—dan
tentu saja wajahku memerah seperti tomat. Tapi setidaknya
ia menyuruhku duduk di meja kosong di belakang tanpa
memperkenalkanku pada teman-teman sekelas. Sulit bagi
teman-teman baruku untuk menatapku di belakang tapi
entah bagaimana mereka bisa melakukannya. Aku terus
menunduk, memandangi daftar bacaan yang diberikan
guruku. Bacaan dasar: Bronte, Shakespeare, Chaucer,
Faulkner. Aku sudah pernah membaca semuanya.
Menyenangkan... dan membosankan. Aku membayangkan
apakah ibuku mau mengirimkan folder esai-esai lamaku
atau apakah menurut dia itu sama dengan menyontek. Aku
berdebat dengannya dalam benakku sementara guru terus
bicara.
Ketika bel berbunyi, suaranya berupa gumaman sengau
Seorang cowok ceking dengan kulit bermasalah dan rambut
hitam licin bagai oli bersandar di lorong dan berbicara
padaku.
"Kau Isabella Swan, kan?" Ia kelihatan seperti orang
yang kelewat suka menolong, tipe anggota klub catur.
"Bella." aku meralatnya. Semua orang dalam jarak tiga
kursi berbalik menghadapku.
"Habis ini kau masuk kelas apa?" tanyanya.
Aku harus memeriksa dulu di dalam tasku. "Mmm,
Pemerintahan, dengan Jefferson, di gedung enam."
Aku tak bisa melihat ke mana pun tanpa beradu pandang
dengan mata-mata penasaran.
"Aku akan ke gedung empat, aku bisa menunjukkannya
padamu..." Jelas tipe kelewat suka menolong. "Aku Eric,"
tambahnya.
Aku tersenyum hati-hati. "Terima kasih."
Kami mengambil jaket dan menerobos hujan, yang
sudah reda. Aku berani bersumpah beberapa orang di
belakang kami berjalan cukup dekat supaya bisa
menguping. Kuharap aku tidak menjadi paranoid.
“Jadi, ini sangat berbeda dengan Phoenix heh?"
tanyanya.
"Sangat".
"Di sana tidak sering hujan, kan?"
"Tiga atau empat kali setahun."
“Wow, seperti apa rasanya?" Ia membayangkan.
"Cerah," ujarku.
"Kulitmu tidak terlalu cokelat."
"Ibuku setengah albino."
Ia mengamati wajahku dengan waswas, dan aku
mendesah. Kelihatannya awan dan selera humor tidak
pernah selaras. Beberapa bulan saja di tempat ini, aku pasti
sudah lupa bagaimana caranya bersikap sinis.
Kami berjalan lagi mengitari kafetaria, ke gedung-gedung
di sebelah selatan dekat gimnasium. Eric mengantarku
sampai ke pintu, meskipun papan tandanya jelas.
"Semoga berhasil," katanya ketika aku meraih gagang
pintu. "Barangkali kita akan bertemu di kelas lain." Ia
terdengar berharap.
Aku tersenyum samar dan masuk.
Sisa pagi itu berlalu kurang-lebih sama. Guru
Trigonometriku, Mr. Varner, yang toh bakal kubenci juga
karena mata pelajaran yang diajarkannya, adalah satusatunya
yang menyuruhku berdiri di depan kelas dan
memperkenalkan diri. Aku tergagap, wajahku merah
padam, dan tersandung sepatu botku sendiri ketika menuju
kursiku.
Setelah dua pelajaran, aku mulai mengenali beberapa
wajah di masing-masing kelas. Selalu ada yang lebih berani
dari yang lain, yang memperkenalkan diri dan bertanya
mengapa aku menyukai Forks. Aku mencoba berdiplomasi,
tapi secara keseluruhan aku hanya berbohong. Setidaknya
aku tidak pernah membutuhkan peta.
Seorang gadis duduk di sebelahku baik di kelas Trigono
dan bahasa Spanyol, dan ia berjalan menemaniku menuju
kafetaria saat makan siang. Tubuhnya mungil, lebih pendek
daripada aku yang 160 senti, tapi rambut gelapnya yang
sangat ikal berhasil menyamarkan perbedaan tinggi kami.
Aku tak ingat namanya, jadi aku tersenyum dan
mengangguk ketika ia mengoceh tentang guru-guru dan
pelajarannya. Aku tak berusaha memerhatikannya.
Kami duduk di ujung meja yang dipenuhi beberapa
temannya. Ia memperkenalkanku pada mereka. Aku
langsung lupa nama-nama mereka begitu ia mulai
mengobrol dengan mereka. Mereka tampak kagum dengan
keberaniannya berbicara denganku. Cowok dari kelas
bahasa Inggris, Eric, melambai padaku dari seberang
ruangan.
Di sanalah, duduk di ruang makan siang berusaha
memulai pembicaraan dengan tujuh orang asing yang
penasaran, ketika aku pertama kali melihat mereka.
Mereka duduk di sudut kafetaria, sejauh mungkin dari
tempat dudukku. Mereka berlima. Mereka tidak bicara, juga
tidak makan, meskipun di depan mereka masing-masing
ada satu nampan makanan yang tak tersentuh. Mereka
tidak terpana menatapku, tidak seperti kebanyakan murid
lainnya, jadi rasanya aman memandangi mereka tanpa
takut bakal beradu pandang dengan sepasang mata yang
kelewat penasaran. Tapi bukan ini yang menarik
perhatianku.
Mereka tidak terlihat seperti yang lain. Dari tiga cowok
yang saru bertubuh besar—berotot seperti atlet angkat besi
profesional, rambutnya gelap ikal. Yang lain lebih tinggi,
lebih langsing tapi juga berotot dan rambutnya pirang
keemasan. Yang terakhir kurus dengan rambut berwarna
perunggu yang berantakan. Ia lebih kekanakan daripada
yang dua lagi, yang kelihatannya sudah kuliah, atau bahkan
bisa jadi guru di sini dan bukannya murid.
Yang cewek-cewek kebalikannya. Yang jangkung
tatapannya dingin. Tubuhnya indah, seperti yang kalian
lihat di sampul Sports Illustrated edisi pakaian renang, sosok
yang membuat setiap cewek di dekatnya tidak percaya diri
hanya dengan berada di ruangan yang sama. Rambutnya
keemasan, tergerai lembut di punggung. Gadis yang
bertubuh pendek seperti peri. sangat kurus, perawakannya
mungil. Rambutnya hitam kelam, dipotong pendek dan
lancip-lancip.
Namun toh mereka sama persis. Mereka pucat pasi,
paling pucat dari semua murid yang hidup di kota tanpa
matahari ini. Lebih pucat daripada aku, si albino. Mata
mereka sangat gelap, begitu kontras dengan warna rambut
mereka. Mereka juga memiliki kantong mata—keunguan,
memar seperti bayangan. Seolah-olah mereka melewati
malam panjang tanpa bisa tidur, atau baru saja hampir
sembuh dari patah hidung. Terlepas dari hidung mereka,
semua garis tubuh mereka lurus, sempurna, kaku.
Tapi bukan semua itu yang membuatku tak bisa
berpaling.
Aku memandangi mereka karena wajah mereka begitu
berbeda, namun sangat mirip, semuanya luar biasa,
keindahan yang memancarkan kekejaman. Mereka wajahwajah
yang tak pernah kauharapkan bakal kaulihat kecuali
di halaman majalah fashion. Atau dilukis seorang pelukis
ahli sebagai wajah malaikat. Sulit memutuskan siapa yang
paling indah—mungkin cewek berambut pirang yang
sempurna itu, atau si cowok berambut perunggu.
Mereka semua mengalihkan pandangan—dari satu sama
lain, dari murid-murid lain, dari segala sesuatu sejauh yang
kulihat. Ketika aku memerhatikan, si cewek mungil bangkit
membawa nampan—kaleng sodanya belum dibuka, apelnya
masih utuh—dan berlalu sambil melompat cepat dan indah.
Gerakan yang bisa dilakukan di landas pacu. Aku terus
mengawasinya, mengagumi langkah luwesnya yang bagai
penari, sampai ia menaruh nampannya di tempat nampan
kotor dan melayang lewat pintu belakang lebih cepat dari
yang kupikir mungkin dilakukannya. Mataku tertuju
kembali ke yang lain, yang sama sekali tak beranjak.
“Siapa mereka?” aku bertanya pada cewek dari kelas
bahasa Spanyol-ku, yang aku lupa namanya.
Ketika ia mendongak untuk melihat siapa yang
kumaksud—meskipun dari nada suaraku barangkali ia
sudah tahu—tiba-tiba salah satu cowok dari kelompok itu
memandang ke arahnya, cowok yang bertubuh kurus dan
berwajah kekanakan, mungkin yang paling muda. Ia
melihat ke cewek di sebelahku hanya beberapa detik, lalu
matanya yang gelap mengerjap ke arahku.
Ia berpaling dengan cepat, lebih cepat dari yang bisa
kulakukan, meskipun karena malu aku langsung menunduk
saat itu juga. Sekilas tadi wajahnya sama sekali tidak
menunjukkan ketertarikan—seolah temanku telah
menyebut namanya, dan ia memandang sebagai reaksi
spontan, telah memutuskan untuk tidak menjawab.
Gadis di sebelahku tertawa tersipu, menunduk
memandangi meja seperti aku.
"Itu Edward dan Emmett Cullen, serta Rosalie dan
Jasper Hale. Yang baru saja pergi namanya Alice Cullen;
mereka tinggal bersama dr. Cullen dan istrinya." Ia
mengatakannya dengan berbisik.
Aku melirik cowok tampan itu, yang sekarang sedang
memandangi nampannya, mencubit-cubit bagelnya dengan
jari-jari panjangnya yang pucat. Mulutnya bergerak sangat
cepat, bibirnya yang sempurna nyaris tidak terbuka. Yang
tiga lagi masih membuang muka, namun aku merasa ia
berbicara diam-diam pada mereka.
Nama-nama aneh yang tidak populer, pikirku. Namanama
yang dimiliki generasi kakek-nenek. Tapi barangkali
di sini nama-nama itu populer—khas nama-nama kota
kecil? Aku akhirnya ingat cewek di sebelahku bernama
Jessica, nama yang sangat umum. Di kelas Sejarah di
sekolah tempat asalku, ada dua cewek bernama Jessica.
"Mereka... sangat tampan dan cantik." Dengan susah
payah aku menyatakan komentar yang mencolok itu.
"Benar!" Jessica setuju seraya terkekeh lagi. "Dan mereka
selalu bersama-sama—Emmett dan Rosalie, dan Jasper dan
Alice, maksudku. Dan mereka tinggal bersama-sama."
Suaranya mewakili keterkejutan dan ketidaksetujuan kota
kecil ini, pikirku kritis. Tapi kalau mencoba jujur, harus
kuakui bahkan di Phoenix pun hal seperti itu akan
menimbulkan gunjingan.
"Yang mana di antara mereka yang bermarga Cullen?"
tanyaku. "Mereka tidak kelihatan seperti satu keluarga..."
"Oh, memang tidak. Dr. Cullen masih sangat muda, kirakira
dua puluhan atau awal tiga puluhan. Mereka semua
anak adopsi. Yang bermarga Hale adalah sepasang
kembaran laki-laki dan perempuan—yang pirang—mereka
anak angkat."
"Mereka kelihatannya agak terlalu tua untuk menjadi
anak angkat."
"Sekarang memang. Jasper dan Rosalie umurnya
delapan belas, tapi mereka sudah hidup bersama-sama Mrs.
Cullen sejak masih delapan tahun. Mrs. Cullen bibi mereka
atau seperti itulah."
"Mereka baik sekali—mau memelihara semua anak-anak
itu, ketika mereka masih kecil dan segalanya."
"Kurasa begitu," ujar Jessica enggan, dan aku mendapat
kesan ia tidak menyukai sang dokter dan istrinya untuk
alasan tertentu. Dari caranya memandang anak-anak adopsi
itu, aku menduga alasannya adalah iri. "Kurasa Mrs. Cullen
tidak bisa punya anak," Jessica menambahkan, seolah-olah
komentarnya mengurangi kebaikan hati mereka.
Sepanjang percakapan mataku mengerjap lagi dan lagi ke
meja tempat keluarga aneh itu duduk. Mereka terus
memandang dinding dan tidak makan.
"Apa mereka sejak dulu tinggal di Forks?" tanyaku Aku
yakin pernah melihat mereka di salah satu kunjungan
musim panasku di sini.
"Tidak," kata Jessica, nadanya mengindikasikan bahwa
itu seharusnya sudah jelas, bahkan bagi pendatang baru
seperti aku. "Mereka baru saja pindah ke sini dua tahun
yang lalu dari sekitar Alaska."
Aku merasakan sebersit rasa iba, sekaligus lega. Iba
karena betapapun cantik dan tampannya mereka, mereka
adalah pendatang jelas tidak diterima. Dan lega karena aku
bukan satu-satunya pendatang baru di sini, dan sudah pasti
bukan yang paling menarik bila dilihat dari standar apa
pun.
Saat aku mengamati mereka, yang paling muda, salah
satu yang bermarga Cullen, mendongak dan beradu
pandang denganku, kali ini ekspresinya memancarkan rasa
penasaran yang nyata. Ketika aku pelan-pelan mengalihkan
pandangan, tampak olehku bahwa tatapannya
mencerminkan semacam harapan yang tak terpuaskan.
"Cowok berambut cokelat kemerahan itu siapa?"
tanyaku. Aku mengintip ke arahnya lewat sudut mata, dan
ia masih menatapku, tapi tidak melongo seperti muridmurid
lain seharian ini—ekspresinya sedikit gelisah. Aku
kembali menunduk.
"Itu Edward. Dia tampan tentu saja, tapi jangan buangbuang
waktu. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak satu
pun cewek di sini cukup cantik baginya." Jessica
mendengus, sikapnya jelas pahit. Aku membayangkan
kapan Edward menampiknya.
Aku menggigit bibir untuk menyembunyikan senyumku.
Lalu aku kembali memandang Edward. Ia sudah
memalingkan wajah, tapi rasanya pipinya seperti tertarik,
seolah-olah ia juga tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka berempat
meninggalkan meja bersama-sama. Tak diragukan lagi
mereka sangat anggun—bahkan yang bertubuh besar dan
berotot. Aku kecewa menyaksikan kepergian mereka. Yang
bernama Edward tidak menoleh ke arahku lagi.
Aku duduk di meja bersama Jessica dan teman-temannya
lebih lama daripada kalau aku duduk sendirian. Aku tak
ingin terlambat tiba di kelas pada hari pertamaku di
sekolah. Salah satu kenalan baruku, yang dengan baik hati
mau mengingatkan lagi bahwa namanya Angela, juga
mengambil kelas Biologi II bersamaku pada jam berikutnya.
Kami berjalan ke kelas bersama-sama tanpa bicara. Ia juga
pemalu.
Ketika kami memasuki kelas, Angela duduk di meja lab
yang bagian atasnya berwarna hitam, persis yang dulu
sering kutempati. Ia sudah punya teman sebangku. Malah
sebenarnya semua meja telah terisi, kecuali satu yang masih
kosong. Di sisi gang tengah, aku mengenali Edward Cullen
dari rambutnya yang tidak biasa, duduk di sebelah kursi
yang kosong.
Saat aku menyusuri gang untuk memperkenalkan diri
kepada guru dan memintanya menandatangani kertasku,
aku diam-diam memerhatikan Edward. Ketika aku
melewatinya, tiba-tiba duduknya jadi kaku. Ia menatapku
lagi, mataku bertemu pandang dengan sepasang mata
dengan ekspresi paling aneh—tidak bersahabat, gusar.
Bergegas aku memalingkan wajah, terkejut, wajahku merah
padam. Aku tersandung buku dan nyaris terjerembab
hingga tanganku meraih ujung meja. Cewek yang duduk di
situ terkekeh.
Saat itulah aku memerhatikan bahwa matanya berwarna
hitam—hitam legam.
Mr. Banner menandatangani kertasku dan menyerahkan
sebuah buku tanpa berbasa-basi tentang perkenalan. Bisa
kukatakan kami bakal cocok. Tentu saja dia tak punya
pilihan kecuali menyuruhku menempati kursi yang kosong
di tengah kelas. Aku terus menunduk ketika menempatkan
diriku di sisinya, bingung oleh tatapan antagonis yang
dilemparkannya padaku.
Tanpa mengangkat wajah, kuatur bukuku di meja lalu
duduk, tapi dari sudut mata bisa kulihat posturnya berubah.
Ia menjauh dariku, duduk di ujung kursi, memalingkan
wajah seolah-olah mencium aroma yang tidak enak. Diamdiam
aku mengendus rambutku. Aromanya seperti stroberi,
aroma sampo kesukaanku. Sepertinya baunya cukup enak.
Kubiarkan rambutku tergerai di bahu kanan, sebagai
penghalang di antara kami, dan mencoba berkonsentrasi
pada pelajaran.
Tapi sialnya pelajaran saat itu mengenai anatomi seluler,
sesuatu yang sudah pernah kupelajari. Meski begitu aku
tetap mencatat dengan teliti, dan selalu menunduk.
Aku tak bisa menahan diri dan sesekali mengintip lewat
celah rambutku ke cowok aneh di sebelahku. Sepanjang
pelajaran ia tak pernah duduk santai di ujung kursinya,
sejauh mungkin dariku. Aku bisa melihat tangannya yang
mengepal diletakkan di paha kiri, otot-ototnya menyembul
di balik kulit pucatnya. Untuk yang satu ini, ia juga tak
pernah santai. Lengan panjang kaus putihnya digulung
sampai siku, dan mengejutkan karena lengannya kekar dan
berotot di balik kulitnya yang pucat. Ia tidak kelihatan
sekurus itu ketika berdampingan dengan kakaknya yang
berperawakan gagah dan besar.
Pelajaran kali ini kelihatannya lebih lama daripada yang
lain. Apa itu karena sekolah sudah hampir usai, atau karena
aku sedang menunggu kepalan tangannya mengendur?
Tangannya terus terkepal, ia duduk bergeming sampaisampai
ia seolah-olah tidak bernapas. Apa yang salah
dengannya? Apakah ini perilaku normalnya? Aku
mempertanyakan penilaian Jessica yang ketus saat makan
siang tadi. Barangkali cewek itu tidak sebenci yang kupikir.
Tak mungkin ada hubungannya denganku. Ia sama
sekali tak mengenalku.
Sekali lagi aku mengintip, dan menyesalinya. Ia sedang
menatapku, matanya yang hitam penuh rasa jijik. Ketika
aku mengalihkan pandang, menciut di kursiku, tiba-tiba
frase bila rupa bisa membunuh melintas di benakku.
Bel berbunyi keras, membuatku terperanjat. Edward
Cullen bangkit dari duduk. Dengan luwes ia berdiri—ia
lebih tinggi daripada yang kukira—memunggungiku, dan ia
sudah keluar dari pintu sebelum yang lain beranjak dari
kursi mereka.
Aku duduk membeku, menatapnya tak berkedip. Ia jahat
sekali. Ini tidak adil. Perlahan-lahan aku mulai
membereskan barang-barangku, mencoba mengenyahkan
kemarahan yang menyelimutiku, sebab khawatir air mataku
bakal menggenang. Untuk beberapa alasan emosiku
melekat erat dengan saluran air mataku. Kalau marah aku
biasanya menangis, kebiasaan memalukan.
“Apa kau Isabella Swan?" terdengar suara cowok
bertanya.
Aku mengangkat kepala dan melihat seorang cowok
bertampang imut dan tampan, rambutnya yang pirang
pucat di-gel membentuk spike yang teratur. Ia tersenyum
ramah. Ia jelas tidak menganggap bauku tidak enak.
“Bella," ralatku tersenyum.
"Aku Mike."
"Hai. Mike."
“Kau butuh bantuan mencari kelasmu selanjutnya?"
"Sebenarnya aku mau ke gimnasium. Kurasa aku bisa
menemukannya."
“Itu juga kelasku berikutnya." Ia tampak senang
meskipun itu bukan kebetulan yang luar biasa di sekolah
sekecil ini.
Kami berjalan bareng ke gimnasium; ia ternyata cowok
yang senang mengobrol—kebanyakan topik pembicaraan
kami berasal darinya, memudahkan segalanya buatku. Ia
tinggal di California sampai umur sepuluh tahun, jadi ia
tahu bagaimana perasaanku tentang matahari. Dari
pembicaraan kami, aku jadi tahu ia juga sekelas denganku
di bahasa Inggris. Ia orang paling ramah yang kutemui hari
ini.
Tapi ketika kami memasuki gimnasium, ia bertanya,
"Jadi, kau menusuk Edward Cullen dengan pensil atau apa?
Aku tak pernah melihatnya bersikap seperti itu."
Aku menciut Jadi, aku bukan satu-satunya yang
memerhatikan hal ini. Dan rupanya itu bukan perilaku
Edward yang biasanya. Aku memutuskan untuk berpurapura
tidak tahu.
"Maksudmu cowok yang duduk di sebelahku di kelas
Biologi?" tanyaku polos.
"Ya," katanya. "Dia kelihatan kesakitan atau apa."
"Aku tidak tahu," timpalku. "Aku tak pernah bicara
dengannya."
"Dia aneh." Bukannya menuju kamar ganti, Mike malah
terus bersamaku. "Kalau aku cukup beruntung bisa duduk
denganmu, aku bakal mengobrol denganmu."
Aku tersenyum padanya sebelum melangkah ke kamar
ganti cewek. Ia cukup bersahabat dan memesona. Tapi itu
tak cukup mengobati sakit hatiku.
Guru senam kami. Pelatih Clapp, memberikan seragam
buatku. Ia tidak menyuruhku mengganti pakaian dengan
seragamku untuk kelas hari ini. Di tempat asalku, pelajaran
olahraga hanya selama dua tahun. Di sini pelajaran
olahraga wajib selama empat tahun. Secara harfiah, Forks
bagiku adalah neraka di bumi.
Berturut-turut aku menyaksikan empat pertandingan
voli. Mengingat jumlah cedera yang telah menimpaku—dan
yang kutimbulkan—ketika bermain voli aku merasa agak
mual.
Akhirnya bel terakhir berbunyi. Aku berjalan pelan ke
kantor Tata Usaha untuk mengembalikan kertas-kertas yang
sudah ditandatangani. Hujan sudah reda, tapi angin bertiup
kencang dan lebih dingin. Aku memeluk diriku sendiri.
Ketika melangkah ke ruang Tata Usaha yang hangat, aku
nyaris langsung berbalik dan melarikan diri.
Edward Cullen berdiri di meja di depanku. Aku
mengenali rambut berwarna perunggu yang berantakan itu.
Sepertinya ia tidak memerhatikan kedatanganku. Aku
berdiri merapat ke dinding belakang menunggu petugas
resepsionis selesai.
Edward sedang berdebat dengannya, nada suaranya
rendah dan indah. Dengan cepat aku menangkap inti
perdebatan mereka. Ia sedang berusaha menukar pelajaran
Biologi dari jam keenam ke jam lain—jam mana saja.
Aku sama sekali tak percaya keinginannya
memindahkan kelas Biologi-nya ada hubungannya
denganku. Pasti sesuatu yang lain, sesuatu yang terjadi
sebelum aku memasuki kelas itu. Raut wajahnya tadi pasti
karena ia sedang jengkel semata. Tak mungkin orang asing
ini bisa tiba-tiba sangat tidak menyukaiku.
Pintunya terbuka lagi, dan angin dingin tiba-tiba
berembus ke dalam ruangan, meniup kertas-kertas di meja,
meniup rambutku hingga menutupi wajah. Cewek yang
masuk langsung melangkah ke meja, meletakkan catatan di
keranjang kawat, lalu keluar lagi. Tapi punggung Edward
Cullen menegang dan perlahan ia berbalik menatapku—
wajahnya luar biasa tampan—tatapannya menghunjam dan
sarat kebencian. Seketika aku merasakan ketakutan yang
amat sangat, hingga bulu kuduk di tanganku meremang.
Tatapannya hanya sedetik, tapi membuatku membeku lebih
dari angin yang dingin. Ia berbalik lagi ke resepsionis.
"Kalau begitu lupakan saja," katanya terburu-buru
dengan nada selembut beledu. "Aku mengerti ini tidak
mungkin. Terima kasih banyak atas bantuan Anda." Dan ia
berbalik tanpa memandangku lagi, lalu lenyap di balik
pintu.
Aku berjalan pelan ke meja, wajahku pucat dan
bukannya memerah. Kuserahkan kertas yang sudah
ditandatangani.
"Bagaimana hari pertamamu, Nak?" tanya resepsionis
lembut.
"Baik," aku berbohong, suaraku lemah. Ia kelihatan tidak
percaya.
Ketika tiba di lapangan parkir, hanya tinggal beberapa
mobil di sana. Truk itu rasanya seperti tempat
perlindungan, nyaris mirip rumah yang kumiliki di lubang
hijau yang lembab ini. Aku duduk sebentar di dalamnya,
hanya menerawang ke luar kaca depan. Tapi ketika aku
kedinginan dan membutuhkan kehangatan, kuselipkan
kuncinya dan mesin pun menyala. Aku pulang ke rumah
Charlie sambil menahan air mata sepanjang perjalanan ke
sana.
2. BUKU YANG TERBUKA
KEESOKAN harinya lebih baik... tapi juga lebih buruk.
Lebih baik karena hujan belum turun, meski langit sudah
tebal oleh mendung. Itu lebih mudah karena aku jadi tahu
apa yang kuharapkan. Mike duduk bersamaku di kelas
bahasa Inggris, dan mengantarku ke kelasku berikut. Eric si
anggota Klub Catur memelototinya sepanjang waktu;
membuatku tersanjung. Orang-orang tidak memandangiku
seperti kemarin. Aku duduk dalam kelompok besar saat
makan siang bersama Mike, Eric, Jessica, dan beberapa
anak lainnya yang nama dan wajahnya bisa kuingat
sekarang. Aku mulai merasa seperti air yang mengalir
tenang bukan tenggelam.
Lebih buruk karena aku lelah. Aku masih tak bisa tidur
karena angin yang terus bergema di sekeliling rumah. Lebih
buruk karena Mr. Varner memanggilku di pelajaran
Trigono padahal aku tidak mengacungkan tangan dan
jawabanku salah. Menyedihkan karena aku harus main
voli, dan sekalinya tidak terhantam bola, aku malah
melemparkannya ke teman sereguku. Dan lebih buruk
karena Edward Cullen sama sekali tak terlihat di sekolah.
Sepagian aku sangat mengkhawatirkan saat makan siang
waswas terhadap tatapan anehnya. Sebagian diriku ingin
mengonfrontasinya dan menuntut ingin mengetahui apa
masalahnya. Ketika terbaring nyalang di ranjang aku
bahkan membayangkan apa yang bakal kukatakan. Tapi
aku mengenal diriku terlalu baik, tak mungkin aku punya
nyali melakukannya. Aku membuat Singa Pengecut terlihat
seperti sang pemusnah.
Tapi ketika aku berjalan ke kafetaria bersama Jessica—
mencoba menjaga mataku agar tidak nanar mencari sosok
Edward dan gagal total—aku melihat keempat saudaranya
duduk bareng di meja yang sama, tapi ia sendiri tak ada.
Mike menghadang dan mengajak kami ke mejanya.
Jessica sepertinya senang dengan perhatian Mike, dan
teman-teman Jessica langsung bergabung dengan kami.
Tapi sementara aku berusaha mendengarkan obrolan santai
mereka, aku merasa sangat tidak nyaman, gelisah
menantikan kedatangan Edward. Aku berharap ia akan
mengabaikan aku kalau muncul nanti, dan membuktikan
kecurigaanku keliru.
Ia tidak datang, dan dengan berlalunya waktu, aku pun
semakin tegang.
Aku menuju kelas Biologi dengan lebih percaya diri.
Sampai waktu makan siang berakhir tadi, Edward masih
belum muncul juga. Mike, yang mirip Golden Retriever,
melangkah setia di sisiku menuju kelas. Sesampainya di
pintu aku menahan napas, tapi Edward Cullen juga tidak
ada di sana. Aku mengembuskan napas dan pergi ke kursi.
Mike mengikuti sambil terus membicarakan rencana jalanjalan
ke pantai. Ia tetap di mejaku sampai bel berbunyi.
Lalu ia tersenyum sedih dan beranjak duduk dengan cewek
berkawat gigi yang rambutnya keriting dan jelek. Sepertinya
aku harus melakukan sesuatu tentang cowok itu, dan ini
takkan mudah. Di kota seperti ini, tempat orang-orang
selalu ingin tahu apa yang terjadi atas orang lain, diplomasi
sangatlah penting. Aku tak pernah pandai berdiplomasi;
aku tak pernah berpengalaman menghadapi teman cowok
yang kelewat ramah.
Aku lega karena bisa menempati meja itu sendirian,
berhubung Edward tidak masuk. Aku terus-menerus
mengingatkan diriku, tapi aku tak bisa mengenyahkan
kecurigaan bahwa akulah alasan ketidakhadirannya. Betapa
konyol dan narsis mengira diriku bisa memengaruhi orang
seperti itu. Tidak mungkin. Tapi toh aku tak bisa berhenti
mengkhawatirkan bahwa itu benar.
Ketika sekolah akhirnya usai, dan rona di pipiku akibat
kecelakaan waktu main voli tadi mulai memudar, aku buruburu
mengenakan kembali jins dan sweter biru tentaraku.
Aku bergegas meninggalkan kamar ganti cewek, senang
karena untuk sementara berhasil melepaskan diri dari
temanku yang suka mengekor. Aku berjalan cepat menuju
parkiran. Tempat itu dipenuhi murid yang lalu-lalang. Aku
masuk ke truk dan mengaduk-aduk tas, memastikan semua
ada di situ.
Semalam aku mengetahui Charlie tak bisa memasak
kecuali membuat telur goreng dan bacon. Jadi aku meminta
diberi tugas memasak selama tinggal bersamanya. Charlie
dengan senang hari menyerahkan urusan itu kepadaku. Aku
juga mendapati Charlie tidak menyimpan makanan apa pun
di rumah. Jadi aku membuat daftar belanjaan, lalu
mengambil uang dari stoples bertuliskan UANG
MAKANAN yang disimpan di lemari, dan sekarang akan
menuju Thrifrway.
Aku menyalakan mesin truk yang menggelegar,
mengabaikan kepala-kepala yang menengok, dan mundur
pelan menuju barisan mobil yang mengantre keluar dari
parkiran. Ketika aku menunggu, mencoba berpura-pura
bahwa deru yang memekakkan telinga ini berasal dari mobil
orang lain, aku melihat Cullen bersaudara, dan si kembar
Hale masuk ke mobil mereka. Volvo baru yang mengilap.
Tentu saja. Sebelumnya aku tidak memerhatikan pakaian
mereka—aku kelewat terpesona dengan rupa mereka.
Karena sekarang aku memerhatikan, jelas sekali mereka
berpakaian sangat bagus: simpel, namun bermerek. Dengan
rupa mereka yang luar biasa keren, gaya mereka, mereka
bisa saja memakai lap tangan dan tetap kelihatan keren.
Rasanya berlebihan sekali memiliki keduanya: wajah
rupawan dan uang. Tapi sejauh yang kutahu, hidup
memang lebih sering seperti itu. Dan sepertinya kenyataan
itu tak lantas membuat mereka diterima di sini.
Tidak, aku tak percaya sepenuhnya. Mereka memang
suka menyendiri; tak bisa kubayangkan tak ada yang tidak
mau menyambut ketampanan dan kecantikan seperti itu.
Mereka memandang trukku yang berisik ketika aku
melewati mereka, sama seperti yang lain. Pandanganku
tetap terarah ke muka dan aku merasa lega ketika akhirnya
keluar dari lahan sekolah.
The Thriftway tak jauh dari sekolah, hanya beberapa
blok ke selatan, selepas jalan raya. Rasanya menyenangkan
bisa berada di dalam supermarket; rasanya normal. Di
tempat asalku akulah yang berbelanja, dan aku
menyukainya. Supermarket itu cukup luas sehingga aku tak
dapat mendengar tetesan air hujan di atap yang
mengingatkan keberadaanku sekarang.
Sesampai di rumah aku mengeluarkan semua barang
belanjaan, lalu menyumpalkannya di mana-mana. Kuharap
Charlie tidak keberatan. Kubungkus kentang dengan
aluminium dan kumasukkan ke oven lalu memanggangnya,
melapisi steik dengan saus marinade, dan meletakkannya di
atas sekarton telur di kulkas.
Selesai melakukannya, aku membawa tas sekolahku ke
atas. Sebelum mengerjakan PR, aku mengganti pakaian
dengan yang kering mengikat rambutku yang lembab jadi
kucir kuda, dan memeriksa e-mail-ku untuk pertama kali.
Aku mendapat tiga pesan.
"Bella," tulis ibuku...
Kirimi aku kabar begitu kau sampai. Ceritakan bagaimana
penerbanganmu. Apakah hujan? Aku sudah merindukanmu. Aku
hampir selesai mengepak untuk ke Florida, tapi aku tak bisa
menemukan blus pinkku. Kau tahu di mana aku meletakkannya?
Phil kirim salam. Mom.
Aku mendengus dan membaca pesan berikutnya. Pesan
itu dikirim delapan jam setelah pesan pertama.
"Bella," tulisnya...
Kenapa kau belum kirim e-mail? Apa sih yang kautunggu?
Mom.
Yang terakhir dikirim pagi ini.
Isabella,
Kalau sampai jam setengah enam sore ini aku belum juga
mendengar kabar darimu, aku akan menelepon Charlie.
Aku melihat jam. Aku masih punya waktu satu jam, t.
ibuku sangat terkenal suka meledak-ledak.
Mom,
Tenang saja. Aku sedang menulis sekarang. Jangan konyol.
Bella.
Aku mengirimnya dan memulai lagi.
Mom,
Semua baik-baik saja. Tentu saja di sini hujan. Aku menunggu
sampai punya cerita yang bisa kubagikan. Sekolahku tidak jelek,
hanya sedikit mengulang pelajaran. Aku bertemu beberapa anak
yang baik yang makan siang bersamaku.
Blus pinkmu ada di dry clean-kau harus mengambilnya hari
Jumat.
Charlie membelikan aku truk, kau percaya? Aku menyukainya.
Mobil tua, tapi benar-benar "bandel", yang berarti bagus, kau
tahu kan, buatku.
Aku juga rindu padamu. Aku akan menulis lagi nanti, tapi aku
takkan mengecek e-mail-ku setiap lima menit sekali. Tenang, tarik
napas. Aku sayang Mom.
Bella.
Kuputuskan untuk membaca Wuthering Heights – novel
yang sedang kami pelajari di kelas bahasa Inggris-demi
kesenangan, dan itulah yang kulakukan ketika Charlie
pulang, bergegas turun mengeluarkan kentang dari oven
serta memanggang steiknya.
"Bella?" panggil ayahku ketika mendengar aku menuruni
tangga.
Memangnya ada orang lain? pikirku.
"Hei, Dad, sudah pulang?"
"Ya." Ia menggantungkan sabuk senjatanya dan
melepaskan botnya sementara aku sibuk di dapur.
Setahuku, ia tak pernah menembakkan senjatanya selama
bertugas. Tapi senjatanya itu selalu siaga. Waktu aku
datang ke sini, ketika masih kanak-kanak, Dad selalu
mengosongkan pelurunya begitu ia masuk ke rumah.
Kurasa sekarang ia sudah menganggapku cukup dewasa
sehingga tidak akan dengan sengaja menembak diriku
sendiri, dan tidak depresi sehingga mencoba bunuh diri.
"Kita makan malam apa?" tanya Dad hati-hati. Ibuku
juru masak imajinatif, dan percobaannya tak selalu aman
untuk dimakan.
"Steik dan kentang" jawabku, dan Dad tampak lega.
Sepertinya ia merasa salah tingkah berada di dapur tanpa
melakukan apa-apa; jadi ia pergi ke ruang tamu dengan
langkah diseret lalu menonton TV sementara aku bekerja di
dapur. Ini lebih nyaman buat kami berdua. Aku membuat
salad sementara steiknya sedang dipanggang kemudian
menyiapkan meja makan.
Aku memanggil ayahku ketika makan malam sudah siap,
dan ia mengendus nikmat sambil menuju ruang makan.
"Aromanya lezat, Bell."
"Terima kasih."
Selama beberapa menit kami makan dalam diam.
Namun diam yang nyaman. Tak satu pun dari kami terusik
keheningan itu. Dalam beberapa hal, kami sangat cocok
hidup bersama.
"Jadi. bagaimana sekolahmu? Apa kau sudah dapat
teman baru?" Dad berkata setelah mengulur waktu.
"Well, aku mengambil beberapa kelas bersama cewek
bernama Jessica. Saat makan siang, aku duduk bersama
teman-temannya. Lalu ada cowok, Mike, yang sangat
bersahabat. Semuanya kelihatan lumayan baik." Dengan
satu pengecualian mencolok.
"Itu pasti Mike Newton. Anak baik—keluarganya baik.
Ayahnya memiliki toko perlengkapan olahraga di luar kota.
Karena banyak backpaeker yang datang ke sini, dia cukup
berhasil."
"Apa kau mengenal keluarga Cullen?" tanyaku raguragu.
"Keluarga dr. Cullen? Tentu. Dr. Cullen orang hebat."
"Mereka... anak-anaknya... agak berbeda. Sepertinya
mereka tidak bisa beradaptasi dengan baik di sekolah."
Charlie mengejutkanku karena ekspresinya tampak
marah.
"Orang-orang di kota ini," gumamnya. "Dr. Cullen ahli
bedah genius dan dia bisa saja memilih bekerja di rumah
sakit mana pun di dunia ini, dengan gaji sepuluh kali lipat
daripada yang didapatnya di sini," lanjutnya, suaranya
makin keras. “Kita beruntung memilikinya—beruntung
istrinya mau tinggal di kota kecil. Dia aset bagi komunitas
kita, dan perilaku anak-anak mereka baik dan sopan. Aku
memang pernah ragu ketika mereka pertama pindah ke sini,
dengan anak-anak remaja adopsi itu. Kupikir mereka akan
menimbulkan masalah. Tapi mereka sangat dewasa—aku
belum mendapat satu masalah pun dari mereka. Sesuatu
yang belum pernah dilakukan anak-anak yang orangtuanya
telah tinggal di sini selama beberapa generasi. Dan keluarga
itu hidup seperti keluarga biasa—pergi kemping setiap dua
akhir pekan sekali... Tapi hanya karena mereka pendatang
baru, lalu orang-orang menggunjingkan mereka."
Itu ucapan terpanjang yang pernah kudengar dari
Charlie. Ia pasti tidak menyukai apa pun yang dikatakan
orang-orang.
Aku mundur sedikit. "Bagiku mereka sepertinya cukup
ramah. Hanya saja kulihat mereka sepertinya menyendiri.
Mereka sangat menarik," tambahku.
"Kau harus bertemu dr. Cullen," kata Charlie tertawa.
"Untunglah pernikahannya bahagia. Banyak perawat di
rumah sakit sulit berkonsentrasi bila dia berada di sekitar
mereka."
Kami kembali terdiam ketika selesai makan. Charlie
membersihkan meja sementara aku mencuci piring. Ia
kembali menonton TV, dan setelah selesai mencuci piring—
di sini tidak ada mesin pencuci piring—dengan enggan aku
naik untuk mengerjakan PR matematika-ku. Aku bisa
merasakan sebuah tradisi ketika mengerjakannya.
Malam itu suasana tenang. Aku tertidur dengan cepat,
kelelahan.
Sisa minggu itu berlangsung membosankan. Aku terbiasa
dengan rutinitas kelasku. Pada hari Jumat aku sudah bisa
mengenali wajah, kalaupun bukan nama, hampir semua
murid di sekolah. Di gimnasium anak-anak di timku sudah
paham untuk tidak mengoper bola padaku dan tidak buruburu
melangkah di depanku kalau tim lain mencoba
memanfaatkan kelemahanku. Dengan senang hati aku
menyingkir dari mereka.
Edward Cullen tidak kembali ke sekolah.
Setiap hari, dengan waswas aku memerhatikan sampai
seluruh keluarga Cullen memasuki kafetaria tanpanya.
Setelah itu baru aku bisa santai dan ikut nimbrung dalam
pembicaraan makan siang. Sering kali obrolan kami adalah
mengenai perjalanan menuju La Push Ocean Park dua
minggu mendatang yang diprakarsai Mike. Aku diajak, dan
telah setuju untuk ikut. Bukan karena ingin, tapi lebih
karena tidak enak menolaknya. Pantai seharusnya panas
dan kering.
Hari Jumat dengan nyaman aku memasuki kelas
Biologiku, tak lagi mengkhawatirkan Edward. Yang
kutahu, ia telah meninggalkan sekolah. Aku berusaha tidak
memikirkannya, tapi aku tak bisa benar-benar menekan
kekhawatiran bahwa akulah yang bertanggung jawab atas
absennya Edward. Memang konyol sih.
Akhir pekan pertamaku di Forks berlalu tanpa insiden.
Charlie, yang tidak terbiasa menghabiskan waktu di rumah
yang biasanya kosong memilih bekerja sepanjang akhir
pekan. Aku membersihkan rumah, mengerjakan PR, dan
menulis e-mail yang lebih ceria untuk ibuku. Hari Sabtu aku
pergi ke perpustakaan, tapi berhubung koleksinya sangat
sedikit, aku tidak jadi membuat kartu anggota; aku harus
membuat jadwal untuk segera mengunjungi Olympia atau
Seattle dan menemukan toko buku yang bagus di sana.
Iseng aku membayangkan seberapa jauh jarak tempuh truk
ini... dan bergidik memikirkannya.
Sepanjang akhir pekan hujan gerimis, tenang sehingga
aku bisa tidur nyenyak.
Hari Senin orang-orang menyapaku di parkiran. Aku
tidak tahu nama mereka masing-masing tapi aku balas
melambai dan tersenyum pada semuanya. Pagi ini cuaca
lebih dingin, tapi untungnya tidak hujan. Di kelas bahasa
Inggris, seperti biasa Mike duduk di sebelahku. Ada
ulangan mendadak mengenai Wuthering Heights. Sejujurnya,
ulangan itu sangat mudah.
Secara keseluruhan aku merasa jauh lebih nyaman
daripada yang kusangka bakal kurasakan pada titik ini.
Lebih nyaman dari yang pernah kuperkirakan.
Ketika kami berjalan keluar kelas, udara dipenuhi
butiran putih yang berputar-putar. Aku bisa mendengar
orang-orang berteriak kesenangan. Angin menerpa pipi dan
hidungku.
"Wow," kata Mike. "Salju."
Aku memandang butiran kapas kecil yang mulai
menggunung di sepanjang jalan setapak dan berputar-putar
di wajahku.
"Uuuh." Salju. Hilang sudah hari baikku.
Mike tampak terkejut. "Tidakkah kau suka salju?"
"Tidak. Itu berarti terlalu dingin untuk hujan." Jelas.
"Selain itu, kupikir seharusnya salju turun dalam
kepingan—tahu kan, masing-masing bentuknya unik dan
sebagainya. Ini sih hanya kelihatan seperti ujung cotton bud"
"Kau pernah melihat salju tidak sih?" tanyanya heran.
"Tentu saja pernah." Aku terdiam. "Di TV.”
Mike tertawa. Lalu bola salju besar dan lembut
menghantam bagian belakang kepalanya. Kami berbalik
untuk melihat dari mana asalnya. Aku curiga itu perbuatan
Eric, yang berjalan menjauh memunggungi kami—dan
bukannya menuju kelasnya. Sepertinya Mike memiliki
dugaan yang sama. Ia membungkuk dan mulai membentuk
bola putih.
"Kita ketemu lagi saat makan siang oke?" aku berkata
sambil terus berjalan. "Begitu orang-orang mulai
melemparkan bola-bola basah itu, aku langsung masuk."
Mike hanya mengangguk, matanya tertuju pada sosok
Eric yang semakin menjauh.
Sepagian itu semua orang membicarakan salju dengan
perasaan senang; rupanya ini salju pertama di tahun baru.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja lebih kering
daripada hujan—sampai saljunya mencair di kaus kakimu.
Aku berjalan waspada menuju kafetaria bersama Jessica
seusai kelas bahasa Spanyol. Bola-bola salju melesat di
mana-mana. Aku memegang binder di tanganku, siap
menggunakannya sebagai pelindung bila diperlukan. Jessica
menganggapku konyol, tapi sesuatu pada ekspresiku
menahannya untuk tidak melemparkan bola salju ke
arahku.
Mike menghampiri ketika kami sampai ke pintu. Ia
tertawa, gumpalan es meleleh di rambutnya. Ia dan Jessica
bicara penuh semangat tentang perang salju ketika kami
antre membeli makanan. Di luar kebiasaan aku
memandang sekilas ke meja di pojok. Lalu aku berdiri
mematung. Ada lima orang di meja itu. Jessica menarik
lenganku.
"Halo? Bella? Kau mau apa?"
Aku menunduk; telingaku panas. Aku tak punya alasan
untuk merasa malu, aku mengingatkan diriku sendiri. Aku
tidak melakukan sesuatu yang salah.
"Bella kenapa sih?" Mike bertanya pada Jessica.
"Tidak apa-apa," jawabku. "Hari ini aku minum soda
saja.” Aku berjalan pelan ke ujung antrean.
"Kau tidak lapar?" tanya Jessica.
"Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak enak badan,”
kataku, mataku masih tertuju ke lantai.
Aku menunggu Mike dan Jessica mengambil makanan
mereka, lalu mengikuti mereka ke meja, mataku menatap
ke bawah.
Aku menghirup sodaku pelan-pelan, perutku
keroncongan. Dua kali Mike menanyakan keadaanku,
dengan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu.
Kukatakan aku baik-baik saja, tapi dalam hati berpikir
apakah sebaiknya aku bersandiwara saja dan
menyembunyikan diri di UKS selama satu jam ke depan.
Konyol. Aku seharusnya tak perlu melarikan diri.
Aku memutuskan untuk melirik sekali lagi ke meja
tempat keluarga Cullen berada. Kalau ia menatapku, aku
akan bolos kelas Biologi, seperti pengecut.
Aku terus menunduk dan mengintip sekilas dari balik
bulu mataku. Tak satu pun dari mereka melihat ke arahku.
Aku sedikit mengangkat kepala.
Mereka sedang tertawa. Edward, Jasper, dan Emmett,
rambut mereka berlumur salju yang meleleh. Alice dan
Rosalie menjauhkan diri ketika Emmett mengibaskan
rambutnya yang basah ke arah mereka. Mereka menikmati
hari bersalju, seperti anak-anak lainnya—hanya saja mereka
lebih mirip adegan film ketimbang kami.
Tapi terlepas dari tawa dan keceriaan itu, ada sesuatu
yang berbeda, dan aku tak dapat mengatakan dengan pasti
apa itu. Aku mengamati Edward dengan sangat saksama.
Warna kulitnya sudah tidak terlalu pucat—barangkali
memerah akibat perang-perangan salju—lingkaran di bawah
matanya juga sudah tidak terlalu kentara. Tapi ada sesuatu.
Aku memikirkannya lagi sambil memandangi mereka,
berusaha menemukan perubahan itu.
“Kau sedang menatap apa, Bella?" Jessica membuyarkan
lamunanku, matanya mengikuti arah pandanganku.
Pada saat bersamaan mata Edward bersirobok dengan
mataku.
Aku menunduk, kubiarkan rambutku terurai menutupi
wajah. Meski begitu aku yakin, saat sekilas mata kami
beradu pandang itu, ia tidak terlihat kasar atau tak
bersahabat seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Ia
hanya kelihatan penasaran, seperti tidak puas.
"Edward Cullen menatapmu," Jessica berbisik di
telingaku sambil cekikikan.
"Dia tidak kelihatan marah, ya kan?" Aku tak bisa
menahan diri.
"Tidak," kata Jessica, terdengar bingung dengan
pertanyaanku. "Apakah seharusnya dia marah?"
"Sepertinya dia tidak suka padaku," kataku jujur. Aku
masih gelisah. Kutelungkupkan kepalaku di tangan.
"Keluarga Cullen tidak menyukai siapa pun... Well,
mereka memang tidak memedulikan siapa-siapa. Tapi dia
masih memandangimu."
"Sudah, jangan dilihat lagi," desisku.
Jessica mendengus, tapi ia toh mengalihkan pandangan.
Kuangkat kepalaku sedikit untuk memastikan, dan
bermaksud mengancamnya kalau ia menolak.
Lalu Mike menyela kami—ia merencanakan perang salju
di lapangan parkir seusai jam sekolah dan ingin kami
bergabung. Dengan penuh semangat Jessica menyetujuinya.
Dari caranya menatap Mike, aku ragu ia akan menolak apa
pun yang disarankan cowok itu. Aku diam saja. Aku harus
bersembunyi di gimnasium sampai lapangan parkir sepi.
Selama sisa waktu makan siang dengan sangat hati-hati
kuarahkan pandanganku ke mejaku sendiri. Kuputuskan
untuk melaksanakan ideku tadi. Berhubung ia tidak
kelihatan marah, aku akan ikut pelajaran Biologi. Perutku
sedikit mulas ketika membayangkan akan duduk
bersebelahan lagi dengannya.
Aku benar-benar tak ingin berjalan ke kelas bareng Mike
seperti biasa—sepertinya ia sasaran empuk para pelempar
bola salju—tapi ketika kami berjalan menuju kelas, semua
orang kecuali aku serempak mengeluh. Hujan turun,
membuat salju di sepanjang jalan setapak mencair. Aku
menaikkan tudung jaket, menyembunyikan perasaan
senangku. Artinya aku bebas, bisa langsung pulang setelah
kelas Olahraga.
Mike terus mencerocos, dan mengeluh sepanjang
perjalanan menuju gedung empat.
Begitu tiba di kelas, aku lega karena mejaku masih
kosong. Mr. Banner sedang berjalan mengelilingi kelas,
membagikan mikroskop dan sekotak slide untuk masingmasing
meja. Selama beberapa menit pelajaran belum juga
dimulai, dan ruangan langsung bergema dengan anak-anak
yang mengobrol. Aku terus menjauhkan pandangan dari
pintu, iseng-iseng menggambari sampul buku catatanku.
Aku mendengar sangat jelas ketika kursi di sebelahku
bergeser, tapi mataku tetap terarah pada gambarku.
"Halo," kudengar suara merdu dan tenang.
Aku mendongak, terkejut karena Edward-lah yang
sedang berbicara padaku. Ia duduk sejauh mungkin hingga
ke ujung meja, tapi kursinya diarahkan padaku. Air menetes
dari rambutnya, berantakan—meski begitu ia terlihat seperti
baru saja selesai syuting iklan gel rambut. Wajahnya yang
memesona tampak bersahabat, senyum tipis mengembang
di bibirnya yang sempurna. Tapi matanya tampak hati-hati.
"Namaku Edward Cullen," lanjutnya. "Aku tidak sempat
memperkenalkan diri minggu lalu. Kau pasti Bella Swan."
Saking bingungnya, kepalaku sampai pusing. Apakah
aku selama ini berkhayal? Sekarang ia sangat sopan. Aku
harus bicara; ia menunggu. Tapi aku tak bisa mengatakan
apa pun yang wajar.
“B-bagaimana kau tahu namaku?" tanyaku terbata-bata.
Ia tertawa lembut, tawa yang menyenangkan.
"Oh, kurasa semua orang tahu namamu. Seluruh kota
telah menanti-nantikan kedatanganmu.”
Aku nyengir. Sudah kuduga jawabannya akan seperti ini.
"Tidak" bantahku bodoh. "Maksudku, kenapa kau
memanggilku Bella?"
Ia tampak bingung. "Kau mau dipanggil Isabella?"
"Tidak, aku lebih suka Bella," kataku. "Tapi kupikir
Charlie—maksudku ayahku—pasti memanggilku Isabella di
belakangku—pasti itulah yang diketahui orang-orang di
sini," aku mencoba menjelaskan, benar-benar merasa seperti
orang bodoh.
"Oh." Ia tidak meneruskan. Aku memalingkan wajah
malu-malu.
Untungnya Mr. Banner memulai pelajaran saat itu juga.
Aku mencoba berkonsentrasi mendengarkan saat ia
menjelaskan tentang percobaan yang akan kami lakukan
hari ini. Slide di kotak tak dapat digunakan. Bersama
partner masing-masing, kami harus memisahkan slide akar
bawang merah menjadi tahapan mitosis yang mereka
representasikan dan memberi label sesuai identitas mereka.
Kami tidak diperbolehkan membaca buku. Dalam dua
puluh menit ia akan berkeliling untuk melihat siapa yang
melakukannya dengan benar.
"Mulai," perintahnya.
"Kau duluan, partner?" tanya Edward. Aku mengangkat
kepala dan kulihat ia tersenyum lebar begitu menawannya
sampai-sampai aku hanya memandanginya seperti orang
idiot.
"Atau aku bisa memulainya kalau kau mau." Senyum itu
memudar; jelas ia mengira aku tidak kompeten
melakukannya.
"Tidak," kataku, wajahku merah padam. "Aku akan
memulainya."
Aku memamerkan kemampuanku, hanya sedikit. Aku
pernah melakukan percobaan ini, dan tahu apa yang kucari.
Seharusnya mudah. Aku menaruh slide pertama di bawah
mikroskop dan langsung menyesuaikan pembesarannya
menjadi 40X. Kupelajari slide-nya sebentar.
Aku yakin dengan pengamatanku. "Profase."
"Boleh aku melihatnya?" pintanya ketika aku mulai
memindahkan slide-nya. Edward mencoba
menghentikannya dengan memegang tanganku. Jari-jarinya
dingin bagai es, seolah ia baru saja menggenggam
tumpukan salju sebelum kelas dimulai. Tapi bukan itu yang
membuatku buru-buru menarik tangan. Ketika ia
menyentuhku, jarinya menyengatku bagai aliran listrik.
"Maaf," gumamnya pelan, langsung menarik tangannya.
Bagaimanapun, ia tetap meraih mikroskop. Meski masih
kaget, aku memerhatikannya mengamati slide lebih cepat
daripada yang kulakukan tadi.
"Profase," ia setuju, dan menuliskannya dengan rapi
pada halaman pertama lembar kerja kami. Ia langsung
mengganti slide pertama dengan yang kedua, lalu
melihatnya sepintas lalu.
“Anafase," gumamnya, sambil menulis.
Aku berusaha terdengar tak peduli. "Boleh kulihat?"
Ia tertawa mengejek, dan mendorong mikroskop ke
arahku.
 Aku mengamati lewat lubang mikroskop dengan
penasaran, dan merasa kecewa karena dugaanku salah. Sial,
ia benar.
“Slide tiga?" Kuulurkan tanganku tanpa memandangnya.
Ia menyerahkannya padaku; sepertinya berhati-hati agar
tidak menyentuhku lagi.
Aku berusaha mengenalinya secepat aku bisa.
“Interfase." Aku mengoper mikroskop sebelum ia
memintanya. Ia mengintip sebentar, lalu menuliskannya.
Aku bisa saja menuliskannya ketika ia sedang mengamati,
tapi tulisannya yang jelas dan rapi membuatku minder. Aku
tak ingin merusak lembar kerja kami dengan tulisan cakar
ayamku.
Kami selesai duluan. Aku bisa melihat Mike dan
partnernya membandingkan dua slide lagi dan lagi, dan
kelompok lain membuka buku di bawah meja.
Aku tak punya pilihan lain kecuali memandangnya. Aku
mendongak, dan ia sedang menatapku, pandangan frustrasi
dan misterius yang sama. Tiba-tiba aku menemukan
perbedaan yang tak terkatakan selama ini di wajahnya.
"Kau memakai lensa kontak, ya?" kataku tanpa berpikir.
Ia tampak bingung dengan pertanyaanku yang tak
terduga itu. "Tidak."
"Oh," gumamku. "Kupikir ada yang berbeda dengan
matamu.”
Ia mengangkat bahu dan memalingkan wajah.
Sebenarnya aku yakin ada sesuatu yang berbeda. Aku
ingat jelas warna hitam kelam matanya ketika terakhir kali
melihatnya—warna itu sangat kontras dengan kulit pucat
dan rambutnya yang cokelat kemerahan. Hari ini warna
matanya benar-benar berbeda: cokelat kekuningan yang
aneh, lebih gelap dari mentega, tapi dengan nuansa
keemasan yang sama. Aku tidak mengerti kenapa bisa
begitu, kecuali ia berbohong tentang lensa kontaknya. Atau
barangkali Forks membuatku sinting dalam artian
sebenarnya.
Aku menunduk. Tangannya mengepal lagi.
Lalu Mr. Banner menghampiri meja kami, untuk melihat
mengapa kami tak melakukan apa-apa. Ia melihat dari balik
bahu, menatap percobaan yang sudah selesai, lalu melihat
lebih serius untuk memeriksa jawaban kami.
"Jadi, Edward, tidakkah kaupikir Isabella perlu diberi
kesempatan menggunakan mikroskop?" tanya Mr. Banner.
"Bella," Edward meralat ucapan Mr. Banner.
"Sebenarnya dia mengidentifikasi tiga dari lima slide itu."
Sekarang Mr. Banner menatapku; ekspresinya skeptis.
"Apa kau pernah melakukan percobaan ini sebelumnya?"
tanyanya.
Aku tersenyum malu-malu. "Tidak dengan akar bawang
merah."
"Whitefish blastula?”
"Yeah."
Mr. Banner mengangguk. "Apa kau masuk kelas khusus
di Phoenix?"
"Ya."
"Well" katanya setelah beberapa saat. "Kupikir kalian
cocok menjadi partner." Ia menggumamkan sesuatu lagi
sambil berlalu. Setelah ia pergi, aku mulai mencoret-coret
buku catatanku.
"Sayang sekali turun salju, ya kan?" Edward bertanya.
Aku punya perasaan ia terpaksa bercakap-cakap denganku.
Ketakutan kembali menyelimutiku. Seolah-olah ia telah
mendengar percakapanku dengan Jessica saat makan siang
tadi dan berusaha membuktikan aku salah.
“Tidak juga," jawabku jujur, dan bukannya berpura-pura
normal seperti yang lain. Aku masih berusaha
menyingkirkan kecurigaan yang tolol ini, dan aku tak bisa
berkonsentrasi.
“Kau tidak suka dingin." Itu bukan pertanyaan.
"Atau basah."
"Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu,"
ujarnya melamun.
"Kau tak tahu bagaimana rasanya." gumamku dingin.
Ia tampak terpesona oleh perkataanku, entah untuk
alasan apa, aku tak bisa membayangkannya. Wajahnya
tampak sangat putus asa hingga aku berusaha untuk tidak
memandangnya melebihi batas kesopanan seharusnya.
"Lalu kenapa kau datang ke sini?"
Tak seorang pun menanyakan itu padaku—tidak blakblakan
seperti dirinya, begitu menuntut jawaban.
"Jawabannya— rumit."
"Rasanya aku bisa mengerti," desaknya.
Lama aku diam, lalu membuat kesalahan dengan beradu
pandang dengannya. Mata keemasannya yang gelap
membuatku bingung dan aku menjawab tanpa berpikir.
"Ibuku menikah lagi," kataku.
"Itu tidak terdengar terlalu rumit," bantahnya, tapi tibatiba
ia terlihat bersimpati. "Kapan itu terjadi?"
“September lalu." Suaraku terdengar sedih, bahkan
untukku sendiri.
“Dan kau tak menyukainya," Edward mencoba
menebak, suaranya masih ramah.
"Tidak, Phil baik. Terlalu muda barangkali, tapi cukup
baik."
"Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?"
Aku tak bisa mengerti ketertarikannya, tapi ia terus
menatapku dengan pandangan menusuk, seolah kisah
hidupku yang membosankan entah mengapa sangat
penting.
"Phil sering bepergian. Dia pemain bola." Aku setengah
tersenyum.
"Apakah dia terkenal?" tanyanya, balas tersenyum.
"Barangkali tidak. Dia bukan pemain andal. Benar-benar
liga kecil. Dia sering berpindah-pindah."
"Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya dia bisa
bepergian dengannya." Lagi-lagi ia melontarkan dugaan,
bukan pertanyaan.
Dahiku mengerut. "Tidak, dia tidak mengirimku ke sini.
Aku sendiri yang mau."
Alisnya bertaut. "Aku tak mengerti," katanya, dan ia
tampak bingung tanpa sebab mendengar kenyataan ini.
Aku menghela napas. Kenapa aku menjelaskan semua
ini padanya? Ia terus menatapku penasaran.
"Mula-mula dia tinggal denganku, tapi dia merindukan
Phil. Ini membuatnya tidak bahagia... jadi kuputuskan
sudah waktunya menghabiskan waktu yang lebih
berkualitas bersama Charlie." Suaraku terdengar muram
ketika selesai bercerita.
"Tapi sekarang kau tidak bahagia," ujarnya.
"Terus?" tantangku.
"Itu tidak adil." Ia mengangkat bahu, namun tatapannya
masih tajam.
Aku tertawa sinis. "Tidakkah ada yang pernah
memberitahumu? Hidup tidak adil."
"Aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat
sebelum ini," timpalnya datar.
"Ya sudah, itu saja," kataku, bertanya-tanya kenapa ia
masih memandangiku seperti itu.
Tatapannya berubah menilai. "Kau pandai berpurapura,”
katanya pelan. "Tapi aku berani bertaruh kau lebih
menderita daripada yang kauperlihatkan pada orang lain."
Aku nyengir, menahan keinginan untuk menjulurkan
lidahku seperti anak lima tahun, lalu memalingkan wajah.
"Apa aku salah?"
Aku mencoba mengabaikannya.
"Kurasa tidak." gumamnya puas.
"Kenapa ini penting buatmu?" tanyaku jengkel. Aku
terus menghindari pandangannya, mengawasi Mr. Banner
yang sedang berkeliling.
"Pertanyaan yang sangat bagus,” ujarnya, teramat pelan
hingga kupikir ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Bagaimanapun setelah hening sebentar aku memutuskan itu
satu-satunya jawaban yang bisa kudapat.
Aku menghela napas, memandang marah ke papan tulis.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Edward. Ia terdengar
senang.
Aku memandangnya tanpa berpikir... dan sekali lagi
mengatakan yang sebenarnya. "Tidak juga. Aku lebih kesal
pada diriku sendiri. Ekspresiku sangat mudah ditebak—
ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka." Wajahku
merengut.
"Kebalikannya, aku malah sulit menebakmu." Terlepas
dari semua yang kukatakan dan diduganya, ia terdengar
bersungguh-sungguh.
“Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat
orang,” balasku.
"Biasanya." Ia tersenyum lebar, memamerkan sederet
gigi putih yang sempurna.
Mr. Banner menyuruh murid-murid tenang, dan aku
berbalik lega untuk mendengarkan. Aku tak percaya telah
menceritakan kehidupanku yang membosankan pada
cowok aneh namun tampan ini, yang mungkin membenciku
atau tidak. Ia tampak menikmati percakapan kami, tapi
sekarang bisa kulihat, dari sudut mataku, bahwa ia menjauh
lagi dariku, tangannya dengan tegang mencengkeram ujung
meja.
Aku berusaha terlihat menyimak ketika Mr. Banner
menjelaskan dengan menggunakan transparasi OHP,
tentang apa yang telah kulihat tanpa kesulitan lewat
mikroskop. Tapi aku tak bisa mengumpulkan pikiranku.
Ketika bel akhirnya berbunyi, Edward langsung
meninggal kan kelas dengan gerakan anggun seperti yang
dilakukannya Senin lalu. Dan seperti Senin lalu, aku
memandangi kepergiannya dengan terkagum-kagum.
Mike dengan cepat melompat ke sisiku dan merapikan
buku-bukuku. Aku membayangkannya dengan ekor
bergoyang-goyang.
"Itu buruk sekali," erangnya. "Semua isi slide itu mirip.
Kau beruntung berpasangan dengan Cullen."
"Gampang saja buatku," kataku, terkejut mendengar
ucapannya. Aku langsung menyesal. "Aku pernah
melakukan percobaan ini, itu saja," lanjutku sebelum
perasaannya terluka.
"Cullen tampak cukup ramah hari ini," ia berkomentar
ketika kami mengenakan jas hujan. Mike tidak tampak
senang.
Aku berusaha terdengar kasual. "Aku bertanya-tanya apa
yang terjadi padanya Senin lalu."
Aku tak sanggup menyimak celotehan Mike sepanjang
perjalanan menuju gimnasium, dan pelajaran Olahraga
tidak terlalu menarik perhatianku. Mike satu tim denganku
hari ini. Ia mau berbaik hati menggantikan posisiku
sekaligus menjalankan posisinya, sehingga lamunanku
hanya terusik ketika aku mendapat giliran melakukan serve.
Anggota timku dengan hati-hati menghindar setiap kali
giliranku tiba.
Hujan hanya rintik-rintik ketika aku berjalan ke lapangan
parkir, tapi aku merasa lebih gembira setelah berada di
trukku yang kering. Kunyalakan mesin penghangat, sekali
ini tak memedulikan suara mesin yang meraung-raung. Aku
membuka jaket, melepas tudungnya, dan menggeraikan
rambut lembabku agar mengering dalam perjalanan pulang.
Aku memandang sekelilingku memastikan tak ada siapasiapa.
Saat itulah aku menangkap sosok pucat yang diam
tak bergerak itu. Edward Cullen sedang bersandar di pintu
depan Volvo, yang jaraknya tiga mobil dariku, matanya
menatapku lekat-lekat. Aku langsung mengalihkan
pandangan dan memundurkan truk, begitu terburu-buru
hingga nyaris menabrak sebuah Toyota Corolla berkarat.
Toyota itu beruntung, aku menginjak rem tepat pada
waktunya. Trukku jenis penghancur. Aku menarik napas
panjang, masih melihat ke sisi lain mobil, dan berhati-hati
mundur lagi, kali ini lebih baik. Aku memandang lurus ke
depan ketika melewati Volvo itu, namun sekilas aku
bersumpah melihatnya tertawa.
3. FENOMENA
KETIKA paginya aku membuka mata, ada sesuatu yang
berbeda.
Ada cahaya. Masih cahaya hijau kelabu khas hari
mendung di hutan, tapi bagaimanapun juga lebih cerah.
Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku.
Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat ke luar,
lalu mengerang ngeri.
Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman,
melapisi atap trukku, dan membuat jalanan jadi putih. Tapi
bukan itu bagian terburuknya. Hujan yang turun kemarin
telah membeku—melapisi pepohonan membentuk jarum
dalam pola sangat indah, dan menjadikan jalan setapak
licin dan berbahaya. Aku sendiri sudah cukup kerepotan
agar tidak terpeleset saat jalanan kering; jadi mungkin lebih
aman kalau aku tidur lagi sekarang.
Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Dilihat dan
berbagai sisi, hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendi
dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukan
nya kesepian.
Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Aku
merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah, dan ini
membuatku takut. Aku tahu bukan lingkungan yang
menstimulasiku untuk belajar yang membuatku
bersemangat, ataupun bertemu teman-teman baruku. Kalau
mau jujur, semangatku pergi ke sekolah lebih karena akan
bertemu Edward Cullen. Dan itu sangat, sangat bodoh.
Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah
omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin.
Dan aku curiga padanya; kenapa ia harus berbohong
tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat
permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya,
dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat
wajahnya yang sempurna. Aku sangat sadar kelompokku
dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. Jadi tak
seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini.
Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan
selamat ke truk. Aku nyaris kehilangan keseimbangan
ketika akhirnya sampai di truk, tapi aku berhasil
berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Jelas
hari ini bakal jadi mimpi buruk
Sambil mengemudi ke sekolah, kualihkan ketakutanku
bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang
Edward Cullen, dengan memikirkan Mike dan Eric, dan
betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku di sini.
Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix
– barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah
menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap
kedewasaan yang membuat canggung dan masih
memandangku dengan cara itu. Mungkin karena aku masih
baru di sini, tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada.
Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukan
menyedihkan, membuatku kelihatan seperti cewek yang
sedang kesusahan. Apa pun alasannya, sikap Mike yang
seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya
sangat mengganggu. Aku tak yakin apakah aku tidak akan
memilih diabaikan saja.
Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang
melapisi jalanan. Meski begitu, aku mengemudi sangat
pelan, tak ingin tergelincir.
Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah, aku tahu
kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. Aku melihat
sesuatu berwarna perak, dan aku berjalan ke bagian
belakang truk—dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk
untuk menjaga keseimbangan—dan memeriksa banku. Ada
rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di
sekelilingnya. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk
mengikatkan rantai salju di trukku. Tenggorokanku tiba-tiba
tercekat. Aku tak terbiasa diurus, dan perhatian Charlie
yang diam-diam ini mengejutkanku.
Aku sedang berdiri di pojok belakang truk, berjuang
melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan
rantai salju itu, ketika mendengar suara aneh.
Itu suara lengkingan tinggi, yang segera berubah sangat
keras hingga menyakitkan telinga. Aku mendongak benarbenar
terkejut.
Aku melihat beberapa hal bersamaan. Tidak ada yang
bergerak lambat seperti di film-film. Sebaliknya semburan
adrenalin sepertinya membuat otakku bekerja lebih cepat,
dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara
serentak.
Edward Cullen berdiri empat mobil dariku,
memandangku ngeri. Wajahnya tampak mencolok di antara
lautan wajah di sana, semua membeku dengan ekspresi
terkejut yang sama. Tapi yang lebih mengerikan adalah van
biru gelap yang meluncur, bannya terkunci dan mengerem
hingga berdecit, berputar-putar tak terkendali di lapangan
parkir yang tertutup es. Mobil itu nyaris menabrak bagian
belakang trukku, dan aku berdiri di antara keduanya. Aku
bahkan tak sempat memejamkan mata.
Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van
di badan truk, sesuatu menerjangku, keras, tapi bukan dari
arah yang semula kuduga. Kepalaku membentur aspal yang
tertutup es, dan aku merasakan sesuatu yang padat dan
dingin menindihku ke tanah. Aku terbaring di trotoar di
belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Tapi
aku tak sempat memerhatikan yang lainnya, karena van itu
masih meluncur mendekat. Mobil itu berputar-putar
mengerikan di dekat belakang truk, masih berputar dan
meluncur, nyaris menabrakku lagu
Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang
bersamaku, dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu.
Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku,
dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari
wajahku, tangan-tangan besar itu untungnya pas dengan
rongga badan van.
Lalu tangan-tangannya bergerak sangat cepat hingga
tampak samar. Yang satu tiba-tiba mencengkeram bagian
bawah van, dan sesuatu menarikku, mengayun-ayunkan
kakiku seakan-akan aku boneka mainan, sampai kakiku
menabrak ban mobil cokelat itu. Suara gemuruh besi beradu
memekakkan telinga, dan van itu berhenti, lalu terdengar
suara gelas pecah, berhamburan ke jalanan—tepat di tempat
kakiku berada satu detik sebelumnya.
Benar-benar hening untuk waktu yang lama sebelum
terdengar jeritan. Dalam kekacauan yang tiba-tiba, aku bisa
mendengar lebih dari satu orang meneriakkan namaku.
Tapi lebih jelas lagi daripada semua teriakan itu, aku bisa
mendengar suara pelan dan waswas Edward Cullen di
telingaku.
"Bella? Kau baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa." Suaraku terdengar aneh. Aku
mencoba duduk dan menyadari ia memegangiku sangat erat
di satu sisi tubuhnya.
"Hati-hati," ia mengingatkan ketika aku menggeser
tubuhku. "Kurasa kepalamu terbentur cukup keras."
Aku menyadari rasa sakit yang amat sangat di atas
telinga kiriku.
"Aduh," kataku, terkejut.
"Itulah yang kupikirkan." Anehnya suara Edward
terdengar seperti menahan tawa.
"Bagaimana bisa..." suaraku perlahan menghilang. Aku
berusaha menjernihkan pikiran, mengumpulkan kekuatan.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini secepat itu?"
"Aku berdiri di sebelahmu. Bella," katanya, nada
suaranya kembali serius.
Aku mencoba duduk dan kali ini ia membiarkanku,
melepaskan pegangannya di pinggangku dan mundur
sejauh mungkin di ruang yang sempit itu. Aku memandang
wajahnya yang waswas dan polos, dan sekali lagi aku
merasa bingung karena kekuatan matanya yang berwarna
keemasan. Apa yang kutanyakan padanya tadi?
Lalu mereka menemukan kami, kerumunan orang
dengan air mata membasahi wajah mereka, saling berteriak,
berteriak pada kami.
"Jangan bergerak," seseorang memerintah.
"Keluarkan Tyler dari bawah van!" terdengar teriakan
Uin. Banyak sekali kesibukan di sekeliling kami. Aku
mencoba bangkit, tapi tangan Edward yang dingin
menahan bahuku.
"Sekarang jangan bergerak dulu."
"Tapi dingin," aku mengeluh. Aku terkejut ketika ia
tertawa kecil. Ada kegetiran dalam suaranya.
"Kau ada di sebelah sana," tiba-tiba aku ingat, dan tawa
kecilnya langsung terhenti. "Kau ada di sebelah mobilmu."
Ekspresinya berubah kaku. "Tidak."
"Aku melihatmu." Sekeliling kami kacau. Aku bisa
mendengar suara orang-orang dewasa yang lebih keras
mendekat. Tapi aku tetap bersikeras mendebatnya; aku
benar, dan ia akan mengakuinya.
"Bella, aku sedang berdiri bersamamu, dan aku
menarikmu dari sana." Ia menyalurkan kekuatan
pandangannya padaku, seolah berusaha memberitahu
sesuatu yang penting.
"Tidak." Rahangku mengeras.
Warna emas di matanya berkilat-kilat. "Kumohon,
Bella."
"Kenapa?" desakku.
“Percayalah padaku," ia memohon, suaranya yang
lembut menggodaku.
Aku bisa mendengar suara sirene sekarang. "Maukah kau
berjanji menceritakan semuanya nanti?"
“Ya,” tukasnya, tiba-tiba terdengar putus asa.
“Oke,” aku mengulanginya dengan nada marah. Butuh
enam petugas paramedis dan dua guru—Mr. Varner dan
Pelatih Clapp–untuk memindahkan van itu cukup jauh dari
kami sehingga tandunya bisa dibawa mendekat. Edward
dengan kasar menolak, dan aku berusaha melakukan yang
sama, tapi Edward si pengkhianat memberitahu mereka
kepalaku terbentur dan mungkin mengalami gegar otak.
Aku nyaris mati karena malu ketika mereka memasang
penyangga di leherku. Sepertinya seluruh sekolah ada di
sana, menyaksikan ketika mereka mengangkutku ke dalam
ambulans. Edward naik di depan. Menjengkelkan.
Yang membuat segalanya lebih parah, Kepala Polisi
Swan tiba sebelum mereka membawaku pergi dengan
selamat.
"Bella!" ia berteriak panik ketika menyadari aku ditandu.
"Aku baik-baik saja, Char—Dad," keluhku. "Aku tidak
apa-apa.”
Ia beralih ke petugas paramedis di dekatnya untuk
menanyakan keadaanku. Aku berusaha tidak
mendengarkan karena kepalaku sudah penuh dengan
berbagai pertanyaan. Ketika mereka mengangkatku
menjauh dari mobil, aku melihat lekukan dalam di bemper
mobil cokelat itu—lekukan sangat dalam yang sesuai
dengan kontur bahu Edward... seolah-olah ia telah
menahan mobil itu dengan tenaga yang bisa merusak
bingkai baja itu...
Keluarganya tampak di kejauhan, ekspresi mereka
beragam, mulai dari protes sampai marah tapi tak ada
sedikit pun kepedulian akan keselamatan saudara mereka.
Aku berusaha mencari solusi masuk akal yang bisa
menjelaskan apa yang baru saja kulihat—solusi yang
menghilangkan asumsi bahwa aku gila.
Tentu saja polisi mengawal ambulans itu menuju rumah
sakit wilayah. Aku merasa konyol ketika mereka
menurunkan aku. Yang membuatnya lebih buruk, Edward
bisa melewati pintu rumah sakit tanpa bantuan sama sekali.
Aku menggertakkan gigiku.
Mereka membawaku ke UGD, ruangan panjang dengan
barisan tempat tidur yang dipisahkan oleh tirai berpola
warna pastel. Seorang juru rawat meletakkan alat pemeriksa
tekanan darah di lenganku dan termometer di bawah lidah.
Karena tak ada yang bersedia menarik tirai agar aku
mendapatkan privasi, kuputuskan aku tak perlu lagi
mengenakan penyangga leher bodoh itu. Ketika juru rawat
pergi, aku cepat-cepat melepaskan Velcro itu dan
melemparnya ke kolong tempat tidur.
Lalu datang pasien lain, sebuah tandu diangkut ke
tempat tidur di sebelahku. Aku mengenali Tyler Crowley,
temanku di kelas Pemerintahan, balutan perban bernoda
darah tampak erat membungkus kepalanya. Tyler kelihatan
seratus kali lebih parah daripada yang kurasakan. Ia
menatapku waswas.
"Bella, maafkan aku!"
"Aku tidak apa-apa, Tyler—kau tampak buruk, apa kau
baik-baik saja?" Ketika kami bicara, para juru rawat mulai
melepaskan perban di kepalanya, memperlihatkan luka
gores yang jumlahnya banyak di sekujur kening dan pipi
kirinya.
Ia mengabaikanku. "Kupikir aku bakal membunuhmu!
Aku mengemudi terlalu cepat, dan mobilku selip..." Ia
meringis ketika salah seorang juru rawat mengelap
wajahnya.
"Jangan khawatirkan itu; kau tidak mengenaiku."
"Bagaimana kau bisa menyingkir secepat itu? Kau ada di
sana, lalu kau menghilang..."
"Mmm... Edward menarikku."
Ia terlihat bingung. "Siapa?"
"Edward Cullen—dia berdiri di sebelahku." Aku tak
pernah pandai berbohong; aku sama sekali tidak terdengar
meyakinkan.
"Cullen? Aku tidak melihatnya... wow, kurasa semuanya
berlangsung cepat sekali. Apa dia baik-baik saja?"
"Kurasa begitu. Dia ada di sini entah di mana, tapi
mereka tidak mengangkutnya dengan tandu."
Aku tahu aku tidak sinting. Apa yang terjadi? Tak ada
yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan.
Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda
untuk merontgen kepalaku. Kukatakan pada mereka aku
baik-baik saja, dan aku benar. Aku bahkan tidak mengalami
gegar otak. Aku bertanya apa aku bisa pergi, tapi juru rawat
bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Jadi, aku
terperangkap di UGD, menunggu, terganggu dengan Tyler
yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan
melakukan apa saja untukku. Tak peduli berapa kali aku
mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, ia terus
saja menyiksa dirinya sendiri. Akhirnya kupejamkan
mataku dan mengabaikannya. Ia terus menggumamkan
penyesalan.
"Apa dia tidur?" aku mendengar suara yang merdu
bertanya. Mataku langsung terbuka.
Edward berdiri di ujung tempat tidurku, nyengir. Aku
memandangnya. Tidak mudah—akan lebih wajar jika aku
mengerling padanya.
"Hei, Edward, aku sangat menyesal—" Tyler memulai.
Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Tidak ada darah, tidak seru," katanya, memamerkan
giginya yang sempurna. Ia beranjak dan duduk di ujung
tempat tidur Tyler, namun menghadap ke arahku. Ia
nyengir lagi.
"Jadi, apa kata mereka?" ia bertanya padaku.
"Aku baik-baik saja, tapi mereka tidak mengizinkanku
Pergi," aku mengeluh. "Bagaimana kau bisa tidak ditandu
seperti kami?"
"Itu cuma soal siapa yang kaukenal," jawabnya. "Tapi
jangan khawatir, aku datang untuk menyelamatkanmu."
Lalu seorang dokter menghampiri, dan mulutku
menganga melihatnya. Ia masih muda, pirang... dan lebih
tampan daripada bintang film mana pun yang pernah
kulihat. begitu ia pucat, tampak lelah, dengan lingkaran di
bawah matanya. Dari apa yang dideskripsikan Charlie, ini
pasti ayah Edward.
"Jadi, Miss Swan," dr. Cullen berkata dengan suara
sangat merdu, "bagaimana perasaanmu?”
"Aku baik-baik saja," kataku, mudah-mudahan untuk
terakhir kali.
Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di dinding di
atas kepalaku, dan menyalakannya.
"Hasil rontgenmu bagus," katanya. "Apa kepalamu sakit?
Kata Edward, kepalamu terbentur cukup keras."
"Tidak apa-apa," aku mengulangi sambil menghela
napas, lalu menatap Edward geram.
Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang
tengkorakku. Ia memerhatikan ketika aku meringis. "Sakit?"
tanyanya.
"Tidak juga." Aku pernah mengalami yang lebih parah.
Aku mendengar suara tawa, dan melihat Edward tersenyum
meremehkan. Mataku menyipit.
"Well, ayahmu ada di ruang tunggu—kau bisa pulang
dengannya sekarang. Tapi kembalilah kalau kau merasa
pusing atau mengalami masalah sekecil apa pun dengan
penglihatanmu
"Bisakah aku kembali ke sekolah?" tanyaku,
membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.
“Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini."
Aku menatap Edward. "Apakah dia boleh pergi ke
sekolah?”
"Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita
selamat," kata Edward pongah.
"Sebenarnya," dr. Cullen meralat, "sepertinya seluruh
penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini."
"Oh tidak," erangku, menutupi wajahku dengan tangan.
Alis dr. Cullen terangkat. "Kau mau tinggal di sini?"
"Tidak, tidak!" aku berkeras, menurunkan kakiku ke sisi
tempat tidur dan langsung melompat. Terlalu cepat—aku
terpeleset, dan dr. Cullen menangkapku. Ia tampak waswas.
"Aku baik-baik saja," aku meyakinkannya lagi. Tak perlu
memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada
hubungannya dengan kepalaku yang terbentur.
"Minum Tyfenol untuk mengurangi rasa sakitnya," ia
memberiku saran sambil memegangiku.
"Sakitnya tidak separah itu kok," aku berkeras.
"Kedengarannya kau sangat beruntung" kata dr. Cullen,
tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan
berlebihan.
"Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di
sebelahku," aku menekankan ucapanku dengan menatap
Edward lekat-lekat.
"Oh, Well, ya," ujar dr. Cullen, tiba-tiba menyibukkan
diri dengan kertas di depannya. Lalu ia berpaling
memandang Tyler, dan menghampiri tempat tidur sebelah.
Intuisiku tepat, sang dokter sedang memikirkannya.
"Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih
lama, ia berkata kepada Tyler, dan mulai memeriksa lukalukanya.
Begitu dokter memunggungiku. aku bergeser ke sisi
Edward.
"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" aku berbisik.
Ia mundur selangkah, rahangnya sekonyong-konyong
mengeras.
"Ayahmu sudah menunggumu," katanya sepelan
mungkin
Aku memandang dr. Cullen dan Tyler.
"Aku ingin bicara berdua saja denganmu, kalau kau tidak
keberatan," desakku.
Ia menatapku jengkel, lalu berbalik dan berjalan
menyusuri ruang panjang itu. Aku nyaris berlari agar bisa
mengejarnya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong
pendek, ia berbalik menghadapku.
"Kau mau apa sih?" tanyanya jengkel. Tatapannya
dingin.
Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. Katakataku
mengalir tak seketus yang kuinginkan. "Kau
berutang penjelasan padaku," aku mengingatkannya.
"Aku menyelamatkan hidupmu—aku tidak berutang apaapa
padamu."
Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. "Kau
sudah janji."
"Bella, kepalamu terbentur, kau tak tahu apa yang
kaubicarakan." Nada suaranya tajam.